Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ethan dan Liana
Ethan terbangun dengan sisa pusing yang samar di pagi hari, suara gemericik air sedikit mengusik pendengarannya yang tak lain bersumber dari kamar mandi, Liana yang sedang membersihkan diri. Dari balik tirai memancarkan cahaya samar yang berusaha menyelinap ke dalam.
Ethan meregangkan tubuhnya yang menimbulkan beberapa bunyi khas dari tubuh kekar itu. Tak berselang lama, Liana keluar hanya dengan handuk yang membalut tubuhnya. Menyapa dengan senyum dan nada setengah manja.
Ethan masih enggan untuk bangkit dari pembaringan, meraba ke atas nakas namun tak menemukan yang dia cari. Ethan mengubah posisinya menjadi duduk dan menelisik disekitarnya, akhirnya menemukan yang dicari. Ponselnya tergeletak di lantai dangan kondisi padam.
"Kamu punya charger?, Ponselku mati total" Ethan sedikit jengkel karena mendapati ponselnya mati.
Liana bangkit dari duduk di tepi ranjang dan menghentikan kegiatannya menggunakan perawatan di wajahnya. Menari tas yang tergeletak di lantai lalu menyerahkan charger ke Ethan.
Ethan segera menggunakannya dan memberi jeda agar ponselnya dapat hidup kembali. Ethan lalu memutuskan untuk bergegas mandi. Mereka yang tidak punya persiapan, memakai kembali pakaian kemarin dan berniat akan kembali ke tempat masing-masing untuk mengganti pakaian formal dan berangkat ke kantor. Itu rencana awal yang terbesit kala pagi menjelang, demi hadir di kantor tepat waktu.
Ethan keluar dari kamar mandi dengan kondisi lebih segar, masih menggunakan handuk lalu kembali untuk meraih pakaiannya.
Kini mereka berdua sudah mengenakan pakaian dan bersiap untuk keluar dari kamar tersebut. Namun sebelum hal itu terjadi, Ethan mengaktifkan ponselnya dan begitu banyak panggilan tak terjawab dari kakak iparnya pada jam dini hari.
Dengan segala sisa kebingungan, mereka melangkah keluar dari hotel dan Ethan mengemudikan mobil menuju apartemen Liana.
Mobil melaju cepat hingga telah tiba di halaman rumah yang tampak sepi. Ethan keluar dari mobil dengan kunci rumah yang sudah dalam genggamannya. Dia terdiam sejenak karena saat mendorong pintu ternyata tidak terkunci.
Langkah berikutnya membuat bertambah heran karena kondisi rumah masih sama seperti kemarin saat ditinggalkan. Guci yang dibanting kemarin masih kacau berserakan.
Rumah terlihat sepi, tidak ada suara yang timbul dari dapur atau aroma masakan seperti disetiap paginya. Ethan melangkah menaiki anak tangga, dia berpacu dengan waktu untuk segera berangkat ke kantor.
Setibanya di kamar, kondisi sangat sepi. Memanggil nama Clarissa beberapa kali namun tidak ada sahutan. Ethan mencoba mencerna semua yang didapatinya sejak pagi ini.
Kakak ipar yang meneleponnya dan Clarissa yang tak terlihat batang hidungnya. Ethan pikir kaka iparnya menelepon karena Clarissa tidak menjawab panggilannya, biasanya Mamanya melakukan hal yang sama. Jika Clarissa tidak menjawab telepon maka akan segera menghubungi Ethan dan menitipkan pesan.
Namun kejanggalan yang timbul adalah kenapa kakak iparnya menelepon dini hari. Sementara di jam itu adalah waktu istirahat bagi semua orang, kecuali ada hal yang mendesak.
Ethan mencoba menghubungi Clarissa namun sayangnya tidak ada respon. Dia masih berpikit kalau Clarissa pergi ke supermarket market dan lupa mengunci rumah.
Namun untuk mengusir rasa penasarannya, dia menghubungi kakak iparnya. Hingga panggilan terhubung dan terdengar suara yang sangat datar.
"Hallo kak selamat pagi" Sapa Ethan ramah begitu mendengar suara panggilan terhubung.
"Hallo, kamu dimana Ethan?" suara dari seberang terdengar jelas tanpa basa-basi.
"Ini sedang di rumah kak, mau bersiap untuk pergi kerja" jawab Ethan sembari mencari pakaian kemeja di lemari.
"Dimana Clarissa?"
Benar dugaan Ethan bahwa kakak iparnya menelepon untuk mencari Clarissa karena mungkin saja Clarissa tidak menjawab panggilan dari ponselnya.
"Maaf, kemarin tidak menjawab telepon kak Elgar. Ada pesan apa biar nanti kusampaikan ke Clarissa" balas Ethan sembari memakai kemeja bersih.
"Dimana Clarissa?" Tanya Elgar ulang seolah ingin berbicara langsung.
"Clarissa sedang pergi keluar, mungkin ke supermarket terdekat" Sahut Ethan dengan santai namun terlihat yakin dengan dugaannya.
Elgar menghela nafas, menetralkan perasaannya yang bergemuruh. Tidak menyangka dengan jawaban konyol yang didapatnya dari suami adiknya.
"Ada pesan apa kak, biar nanti kusampaikan" ucap Ethan ulang tanpa merasa ada yang aneh.
"Tidak perlu" Balas Elgar lalu segera memutus panggilan mereka.
Ethan semakin bingung setelah melihat respon kakak iparnya. Waktu berjalan cepat, dia harus segera berangkat ke kantor. Dia berniat akan menelepon Clarissa setelah tiba di kantor.
...****************...
Ethan tiba di kantor tepat waktu, bersamaan dengan beberapa karyawan yang berjalan melalui lorong. Terlihat sapaan sopan karyawan ke atasan dan Ethan merespon baik. Meski dari jarak kejauhan terlihat beberapa mata yang mencuri pandang diselingi bisik-bisik yang masih terlihat.
Ethan paham bahwa kejadian kemarin tentu masih menjadi gosip hangat, namun akan pudar seiring berjalannya waktu.
Liana mencoba menebalkan mukanya untuk kembali bekerja, setidaknya hubungannya tidak benar-benar kandas dengan Ethan yang sangat dia cintai.
Liana sebagai sosok yang cerdas dan cantik tentu saja sangat paham dengan tindakan yang dilakukannya. Dia lulus dari universitas ternama dengan nilai terbaik sehingga membuka peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
Sebab itulah dia kini berada diperusahaan ini, memutuskan merantau ke luar kota dan merasakan hidup mandiri jauh dari orangtuanya. Semula berjalan dengan lancar, hingga dia sudah menuju dua tahun bekerja di perusahaan tersebut.
Awal mula hubungan mereka terjalin karena kerap menemui klien bersama, Liana yang berperan sebagai bagian konsultan perencanaan beberapa kali ikut dengan Ethan untuk menemui klien.
Liana memiliki kemampuan untuk meyakinkan klien untuk menjalin kerjasama dengan mereka. Tidak jarang Liana mendapat pujian dari atasannya.
Hingga hubungan mereka menjadi akrab, awalnya Ethan tidak menaruh perasaan apapun. Hanya sebatas hubungan kerja, namun lambat laun obrolan santai dan candaan mereka telah berhasil menghanyutkan ke jalan yang lebih dalam.
Bermula dari tempat kerja, sering bertemu hingga timbul rasa yang berbeda. Ethan merasa ada lonjakan adrenalin yang kembali didapatnya sama seperti awal mendekati wanita yang diincarnya. Sensasi yang sama dirasakan Liana, hormon dopamin yang memberikan eforia dalam dirinya. Ada rasa bahagia yang meluap didalam hatinya. Bahkan membuatnya semakin semangat untuk bekerja.
Semuanya menjadi berubah setelah pemikiran kedua yang berbeda, Ethan yang sudah menikah tentu memiliki cara untuk meluapkan adrenalin yang timbul, namun Liana dengan segala keluguan menganggap semuanya adalah bagian dari cinta.
Percintaan yang diawali dengan rayuan meski sempat ragu dan malu-malu namun berhasil membuatnya terperosok ke dalam candu yang mencoreng harga dirinya.