Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gang dan lorong kota tua
Aveline masih menatap William sebentar setelah lirikan penuh arti itu diberikan. Sedangkan pria tersebut sama sekali tidak terlihat berniat membantu. William justru tetap berdiri santai sambil memperhatikan Clarissa yang sejak tadi terus berbicara tanpa henti di depan istrinya sendiri.
Clarissa bahkan masih memegang lengan Aveline sambil menatap wajah wanita itu terang-terangan.
“Dan gaunmu juga bagus,” ujarnya cepat. “Model seperti ini belum pernah kulihat sebelumnya.”
Tatapannya turun memperhatikan bagian bahu terbuka Aveline sebelum kembali naik dengan ekspresi benar-benar penasaran.
“Kau memilihnya sendiri?”
Aveline perlahan menarik lengannya dari genggaman Clarissa tanpa kasar. “Ya.”
“Aku tahu selera Wim buruk soal pakaian wanita,” lanjut Clarissa tanpa merasa ada yang salah. “Jadi pasti bukan dia yang memilihkannya.”
Bram langsung memejamkan mata pelan dari kejauhan.
“Selesai kita,” gumamnya lirih.
Kellan mengusap wajahnya sendiri dengan napas panjang. “Aku ingin pura-pura tidak mengenal mereka.”
Namun berbeda dari dua bawahannya yang sudah tegang sendiri, William justru terlihat tenang. Tatapannya masih sesekali bergerak memperhatikan Aveline sejak wanita itu datang tadi.
Sementara itu, Aveline sendiri tampak sudah mulai kehilangan minat berada lebih lama di sana. Ia menerima kotak pakaian berburu miliknya dari pelayan butik sebelum akhirnya menyerahkannya begitu saja ke tangan Ines.
“Bawa.”
Ines refleks menangkap kotak besar itu dengan wajah kaget. “Saya?”
“Aku tidak melihat ada orang lain di belakangku.”
“Tetapi ukurannya—”
“Ines.”
Kepala Pelayan wanita itu langsung terdiam.
Clarissa yang masih berdiri di sana tampak ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun sebelum gadis itu sempat membuka mulut, Aveline lebih dulu memalingkan tubuhnya.
“Kalau begitu aku permisi.”
Clarissa berkedip beberapa kali. “Eh? Kau mau pergi begitu saja?”
Aveline menoleh sedikit. “Haruskah aku tinggal?”
“Bukan begitu, hanya saja—”
“Selamat menikmati waktu kalian,” ujarnya dengan nada bicara yang tenang dan terukur. Tidak terdengar marah ataupun tersinggung. Justru karena terlalu tenang, Clarissa malah terlihat bingung harus bereaksi bagaimana.
Aveline kemudian berjalan pergi begitu saja melewati William tanpa berhenti sedikit pun. Bahkan wanita itu sama sekali tidak memperlihatkan tanda ingin berbicara lebih lama dengan suaminya sendiri. Tatapan William mengikuti langkah Aveline sampai wanita itu benar-benar menjauh menuju pintu butik.
Sedangkan Clarissa menoleh bergantian antara William dan Aveline dengan alis mengernyit.
“Aneh sekali,” gumamnya polos. “Bukankah biasanya istri marah kalau melihat suaminya bersama wanita lain?” Bram dan Kellan langsung tersedak bersamaan dari belakang.
William hanya menghembuskan napas pendek sambil tetap melihat ke arah pintu butik. Sementara itu, di luar gedung, udara sore terasa sedikit lebih dingin dibanding sebelumnya. Keramaian distrik bangsawan masih memenuhi jalan utama dengan kendaraan hitam mewah yang berlalu lalang tanpa henti.
Aveline melangkah turun dari anak tangga butik dengan wajah datar seperti biasa. Ines mengikuti di belakang sambil membawa tumpukan kotak belanja yang semakin lama terlihat semakin tidak manusiawi untuk dibawa satu orang.
“Nona ...,” keluhnya pelan. “Saya tidak bisa melihat jalan.”
“Itu bukan masalahku.”
“Kalau saya jatuh bagaimana?”
“Berarti kau kurang hati-hati.”
Ines menatap kosong ke punggung Aveline beberapa detik sebelum akhirnya menyerah dan berjalan tertatih menuju mobil.
Liora yang sejak tadi menjaga mobil langsung membelalak melihat tumpukan barang di tangan Ines.
“Ya Tuhan ….” Liora melirik tumpukan kotak di tangan Ines. “Apakah Nona menyuruhmu membawa semuanya sendiri?” tanyanya dengan suaranya ringan, tapi jelas ada senyum tipis yang sengaja ditahan, seperti sedang menikmati situasi itu.
Ines berhenti sejenak. Rahangnya langsung mengeras pelan. Tangannya merapatkan pegangan kotak lebih kuat sampai terlihat jelas tekanan di jemarinya, seolah dia sedang menahan sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya.
“Ya,” jawabnya singkat. Liora mendecak pelan, masih dengan ekspresi santai yang terasa sengaja dibuat. “Lucu juga. Kepala pelayan Grimwald sekarang jadi porter pribadi.” Kalimat itu langsung membuat udara di sekitar mereka terasa berbeda. Tidak ada perubahan besar di wajah Ines, tapi bahunya sedikit kaku, dan caranya menarik napas menjadi lebih berat dari sebelumnya.
Dia kemudian menoleh pelan ke arah Liora. Tatapannya tidak lagi sekadar tidak suka—lebih seperti orang yang sudah menyimpan kesal sejak lama dan baru dipancing sekarang.
“Kau memang sengaja mencari masalah, ya,” gumamnya pelan, suaranya rendah tapi jelas ada tekanan di dalamnya.
Bukan marah yang meledak, tapi jenis kesal yang ditahan sampai terasa mengganjal di tenggorokan. Liora hanya tersenyum kecil, tidak membantah, tidak juga merasa tersunggung oleh ucapan itu. Ia justru membuka bagasi mobil dengan tenang, lalu menyingkir sedikit ke samping, memberi ruang tanpa benar-benar terlihat peduli.
Ines tidak menunggu jawaban apa pun. Begitu bagasi terbuka, dia langsung bergerak.
Kotak pertama dimasukkan sedikit terlalu keras, bunyinya lebih tegas dari yang seharusnya. Disusul kotak kedua, lalu ketiga, gerakannya cepat, rapi, tapi jelas tidak lagi halus seperti tadi. Ada ritme kasar di setiap tarikan tangannya, seperti dia melampiaskan sesuatu tanpa perlu kata-kata. Dan meskipun mulutnya sudah diam, caranya bekerja sudah cukup menjelaskan semuanya—kalau ucapan Liora tadi sudah berhasil menggesek batas kesabarannya.
Di sisi lain Aveline masih berdiri di samping mobil dan hendak membuka pintu samping kemudi. Namun gerakannya mendadak berhenti. Tatapannya terarah lurus ke depan. Di tengah keramaian orang-orang yang berlalu lalang, Aveline melihat sosok yang sangat familiar berjalan keluar dari sebuah toko kecil di ujung jalan.
Sabrina.
Gadis itu membawa beberapa kantong belanja sederhana di tangannya sambil berjalan santai bersama seorang pria di sampingnya.
Seolah sengaja tidak ingin dikenali siapa pun, pria itu terus melangkah tanpa sedikit pun menoleh ke arah sekitar. Topi yang ia kenakan menutupi sebagian besar wajahnya, membuat garis pandang Aveline tidak bisa menangkap detail apa pun dengan jelas, hanya siluet yang bergerak di antara keramaian jalan.
Tatapan Aveline perlahan menyipit.
Ada sesuatu yang terasa begitu familiar dari sosok itu. Bukan hanya dari wajah yang tidak terlihat, tetapi dari cara tubuh itu membawa diri saat berjalan. Bahunya, ritme langkahnya, dan satu sisi gerakan kaki yang sedikit lebih berat dibanding sisi lainnya, seolah menahan beban yang tidak sepenuhnya seimbang.
Pria itu tampak pincang, meski tidak cukup jelas untuk memastikan jika hanya dilihat sekilas di tengah keramaian.
Aveline tanpa sadar memperlambat langkahnya sendiri, matanya terus mengikuti arah gerak sosok itu. Perasaan tidak nyaman yang tadi hanya samar kini muncul kembali, lebih tegas, seperti kecurigaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya tertimbun dan sekarang kembali muncul ke permukaan tanpa alasan yang jelas.
“Nona, ada apa?” Suara Liora memotong fokusnya dari samping mobil.
“Nona jadi masuk atau tidak?”
Aveline tidak langsung menjawab. Ia masih menatap ke arah depan, memastikan posisi Sabrina dan pria bertopi itu tidak berubah arah.
Lalu, tanpa banyak penjelasan, ia melepaskan tangannya dari pintu mobil.
“Aku pergi sebentar.”
“Hah?” Liora terdengar jelas terkejut.
Belum sempat Liora menambahkan kata lain, Aveline sudah melangkah cepat meninggalkan sisi mobil, menyeberangi jalan tanpa ragu di antara lalu-lalang orang dan kendaraan yang melintas.
“Nona!” Panggilan itu terdengar dari belakang, lebih tegas, tetapi tidak mendapat respon.
Aveline tidak menoleh sedikit pun.
Langkahnya justru semakin cepat, matanya terkunci pada arah Sabrina dan pria bertopi itu yang mulai menjauh masuk ke jalur samping kawasan pertokoan. Keramaian perlahan bergeser menjadi lebih renggang, suara kota tertinggal di belakang, sementara gang-gang di depan mereka mulai terlihat lebih sempit dan lebih sunyi.
“Nona, tunggu dulu!” Teriakan Liora masih terdengar, tapi jaraknya sudah mulai tertinggal oleh langkah Aveline yang tidak melambat sama sekali.
Liora langsung turun dari sisi mobil sambil mencoba mengejar, namun dalam hitungan detik Aveline sudah menghilang di tengah kerumunan orang-orang.
Beberapa pelayan lewat sambil membawa gantungan pakaian besar. Kereta keluarga bangsawan melintas memotong jalan. Sekelompok wanita aristokrat memenuhi trotoar sambil berbicara ramai.
Dan ketika Liora berhasil menembus kerumunan itu ... Aveline sudah tidak terlihat lagi.
“Astaga!” gumamnya sedikit terkejut, pandangannya masih melihat sekitar. “Ke mana Nona pergi?”
.
Sementara itu, Aveline terus mengikuti Sabrina dari kejauhan. Ia menjaga jarak cukup jauh agar tidak menarik perhatian, tetapi matanya tidak pernah benar-benar lepas dari pria di samping gadis itu.
Sabrina masuk ke sebuah toko roti kecil di pinggir jalan. Dari luar kaca, Aveline bisa melihat gadis itu berbicara cukup lama dengan pemilik toko sebelum keluar membawa kantong kertas hangat. Setelah itu mereka berhenti di toko obat sederhana dekat persimpangan sempit. Sabrina menerima beberapa botol kecil dan gulungan kain sebelum kembali berjalan.
Pria bertopi itu hampir tidak pernah bicara. Ia hanya berdiri di dekat Sabrina sambil sesekali menoleh singkat ke sekitar jalan seperti memastikan sesuatu.
Dan semakin lama Aveline memperhatikan, semakin jelas langkah pincang pria itu terlihat, membuat Aveline semakin menajamkan penglihatannya.
Keramaian jalan utama perlahan tertinggal jauh di belakang. Sabrina dan pria itu mulai memasuki area kota lama yang lebih sempit dan padat. Bangunan batu kusam berdiri rapat di kanan kiri jalan. Jemuran pakaian menggantung rendah di atas kepala.
Aveline tetap mengikuti tanpa mengurangi langkahnya, menjaga jarak dari Sabrina dan pria bertopi hitam itu yang berjalan di depannya. Keduanya kemudian mulai bergerak lebih cepat, seolah ada tujuan yang membuat mereka tidak ingin lama-lama berada di jalan utama itu.
Mereka berbelok ke gang lain, lalu masuk ke lorong sempit berikutnya yang diapit bangunan tua dan dinding batu yang mulai lembap. Semakin jauh mereka masuk, suasana sekitar juga berubah, dari keramaian menjadi sunyi yang terasa semakin pekat.
Langkah Aveline ikut bertambah cepat tanpa ia benar-benar menyadarinya. Matanya terus terpaku pada pria bertopi hitam itu, memperhatikan hal-hal kecil yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Cara ia membawa tubuhnya saat berjalan, bahunya yang lebar, serta satu sisi langkah yang sedikit lebih berat dibanding sisi lainnya, seperti ada kaki yang tidak sepenuhnya bekerja dengan normal.
Semakin lama diperhatikan, rasa tidak nyaman itu semakin kuat muncul di dada Aveline, bercampur dengan kecurigaan yang sebenarnya sudah lama tersimpan tanpa ia sadari.
Sabrina kembali berbelok cepat di ujung gang, hampir tidak melambat. Aveline langsung menyusul tanpa berpikir panjang, menutup jarak di belakang mereka dengan cepat.
Namun ketika ia sampai di tikungan itu, keduanya sudah tidak ada lagi.
Langkah Aveline langsung terhenti. Gang di hadapannya kosong, tidak ada Sabrina, tidak ada pria bertopi hitam itu. Yang tersisa hanya lorong sempit dengan dinding batu tua yang lembap, beberapa peti kayu di sisi jalan, dan udara yang terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Aveline mengernyit pelan sambil menoleh ke kanan dan kiri. Pandangannya bergerak perlahan, memastikan apa yang dilihatnya benar-benar tidak berubah. Mustahil mereka bisa menghilang secepat itu, apalagi hanya dalam beberapa detik sejak ia masih melihat mereka di depan matanya.
Ia melangkah maju lagi dengan lebih hati-hati, menyapu sekitar dengan pandangan waspada. Namun tidak ada tanda-tanda arah ke mana mereka pergi. Tidak ada suara langkah kaki ataupun percakapan. Bahkan jejaknya pun tidak ada.
Suasana di lorong itu terasa sangat sunyi, seakan terputus dari dunia luar. Keramaian kota yang tadi masih terdengar samar kini hampir tidak ada sama sekali.
Aveline sebenarnya sejak awal berniat menyapa Sabrina, tetapi rasa penasaran terhadap pria di samping gadis itu membuatnya terus mengikuti tanpa pernah memanggil. Dan sekarang, keduanya benar-benar hilang tanpa jejak di depan matanya.
Ia berdiri diam beberapa saat, matanya masih menyisir lorong kosong itu dengan teliti.
Akan tetapi ... tubuhnya mendadak membeku.
Sesuatu yang dingin menyentuh sisi kepalanya dari belakang. Keras dan cukup menekan pelipisnya.
Ujung netra Aveline sempat menangkap gerakan kecil di sisi kirinya. Pria itu tidak langsung bereaksi, hanya berdiri sesaat dengan kepala sedikit menunduk di balik topi yang dikenakan, seolah benar-benar ingin menghilang di antara keramaian dan bayangan gang sempit itu. Namun dalam satu momen singkat yang hampir terlewatkan, sudut bibirnya terangkat perlahan membentuk senyum tipis yang tidak hangat, lebih seperti sindiran yang sengaja ditahan. Ketenangannya itu terasa lebih dari sekadar kebetulan. Seolah ada sesuatu yang memang sudah ia nantikan sejak awal.
Di saat itu juga, pikiran Aveline berhenti sejenak.
Darius?
.
.
.
Bersambung