Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.
"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.
Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....
"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."
Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"
Ikuti Auhto di
FB " Tupar Nasir
WA 089520229628
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Jeny Pelakunya
Istri Pak Mayjend masih terlihat bingung, menurutnya tidak masuk akal ada orang yang ingin menghancurkan hubungan Kafeela dengan istrinya.
"Mbak, jangan menduga yang nggak-nggak. Kalau melihat kejadian vidio ini terjadi di rumah saya, otomatis dong Mbak mencurigai kalau yang merekam vidio itu dan kata Mbak sudah direkayasa oleh bantuan AI, lantas siapa orangnya di sini yang mau menghancurkan rumah tangga, Mbak?"
Semua termenung. Dan hal inilah yang ditakutkan Kafeela. Sanggahan yang diberikan Anata, meskipun vidio itu benar editan, tapi Anata harus bisa membuktikan siapa yang merekam dan mengedit vidio itu.
Anata ingin katakan kalau ini pasti kerjaan anaknya Pak Komandan, hanya karena ia melihat Kafeela mengantar pulang Jeny sampai rumah tempo hari.
Tapi, Anata kembali dilanda bingung, ia tidak bisa mengatakan sembarangan kalau Jenylah pelakunya.
"Saya memang tidak bisa membuktikan siapa sebenarnya yang sudah merekam keberadaan saya dan Pak Mayjend di dalam ruangan itu lalu dieditnya menjadi seperti dekat dan intim. Tapi, saya tegaskan bahwa saya tidak pernah melakukan adegan seperti yang terlihat di dalam vidio itu," tukas Anata, ia bingung sendiri apa yang bias menegaskan bahwa vidio itu direkam oleh Jeny.
Kecurigaannya hanya pada gadis itu.
"Begini Komandan dan Ibu, mohon maaf saya ikut menyela, sepertinya masalah ini sudah klir. Karena antara istri saya dan Komandan tidak melakukan hal yang seperti di vidio itu," sela Kafeela.
"Tapi, untuk meyakinkan aku mau vidio itu dicek oleh pakar IT sekarang juga. Bukankah tadi Abang bilang bahwa Abang mau minta tolong teman Abang untuk mengeceknya? Hal ini penting segera dilakukan, agar Ibu Komandan tidak salah paham terhadap saya dan mencurigai saya," jedanya mengatur napas yang mulai ngos-ngosan demi membela harga dirinya di depan Komandan dan istrinya.
"Kalau tahu bakal ada fitnah keji seperti ini, saya tidak mau diundang untuk datang langsung ke rumah klien. Menyesal saya," tukasnya sedih dan penuh emosi.
Bu Komandan melihat kesungguhan ini, dia mulai percaya bahwa apa yang dikatakan Anata benar dan sungguh-sungguh."
"Saya setuju. Dan memang harus sekarang juga vidio ini dicek kebenarannya. Benar atau rekayasa, saya mau orang-orang di dalamnya yang terlibat ditindak. Termasuk jika benar kalian melakukan hal itu," tegas Bu Komandan.
"Abang, apakah Abang bersedia memanggil teman Abang?" Anata beralih pada Kafeela yang tengah melamun.
"Baik.Abang siap."
Baru saja Kafeela mau menghubungi seseorang yang ahli IT. Pak Mayjend sudah mencegah Kafeela dengan mengangkat sebelah tangannya.
"Biar saya saja yang minta bantuan dari orang saya. Saya kenal salah seorang pakar IT yang tidak diragukan lagi kemampuan IT-nya."
"Tapi, Pak. Ada baiknya kita cek dari dua orang sekalian. Saya hanya ingin meyakinkan kalau vidio ini benar-benar editan."
Ucapan Anata diangguki Bu Komandan.
Kafeela langsung sigap menghubungi salah seorang rekannya yang paham IT.
Secara bersamaan baik Kafeela maupun Komandan, menghubungi orang yang dianggap bisa mengecek kebenaran vidio itu asli atau editan.
Dan keduanya berhasil menghubungi masing-masing rekannya yang pandai IT.
Kafeela mengirimkan vidio rekaman itu pada rekanya, Pak Mayjend juga.
Untuk beberapa saat, mereka harus menunggu hasil pengecekan vidio itu. Baik dari rekan Kafeela maupun rekan Pak Mayjend.
Ruang tamu itu hening, tidak ada yang bicara, karena mereka tengah fokus menunggu hasil pengecekan pakar IT tentang vidio itu.
Tiba-tiba Anata bersuara. "Kalau saya ingat kronologisnya kenapa saya dan Pak Mayjend bisa berdua di dalam ruangan itu, tadi setelah dua teman saya minum sirop yang disajikan ART rumah ini, lima belas menit kemudian mereka kompak minta izin ke toilet karena sudah nggak kuat menahan beser, katanya," terang Anata tanpa sedikitpun ragu.
Kafeela menatap Anata dengan keseriusan cerita yang istrinya ungkapkan itu.
Sementara Bu Komandan, terlihat semakin dalam mendengar apa yang ingin dikatakan Anata lagi.
"Lantas setelah itu? Apakah Mbak mencurigai ART saya dalam kasus ini?" telisik Bu Komandan mulai penasaran.
"Bisa jadi iya, bisa jadi tidak sih, Bu. Kalau ART di sini pandai memainkan ponsel, bisa iya dan tidak kalau dia pelakunya. Tapi, bisa jadi orang lain yang melakukannya."
"Orang lain? Siapa maksud, Mbak? Di sini hanya adak kami, Mbok Sinten dan satu anak gadis saya," ujar Bu Komandan mencoba mengabsen siapa saja yang berada di rumah ini yang patut dicurigai.
"Saya belum bisa ambil kesimpulan, Bu. Saya juga masih tanda tanya siapa pelaku sebenarnya. Lebih baik kita tunggu berita dari pakar IT yang dihubungi suami saya dan Pak Mayjend," pungkas Anata, meredam rasa penasaran untuk sejenak di ruang tamu itu.
Setengah jam kemudian, berita itu muncul satu per satu. Dimulai dari orang suruhan Komandan. Setelah itu, HP Kafeela juga berbunyi menerima pesan WA dari rekannya.
"Benar, vidio ini hanya editan dan rekayasa. Vidio ini yang sebenarnya adalah seperti ini," ujar komandan seraya memperlihatkan ponselnya di atas meja.
Bu Komandan terlihat lega. Berita vidio itu hanya editan, memberi kejelasan bahwa suaminya dan istrinya Kafeela tidak terlibat hubungan di luar pekerjaan.
Lalu, kini hasil dari rekan Kafeela. Kafeela memperlihatkan ponselnya di atas meja dan memutar hasil vidio yang sebenarnya.
Secara kompak, kedua pakar itu menyimpulkan bahwa vidio itu memang editan dan rekayasa. Yang mengejutkan lagi, rekan Kafeela justru bisa melacak dari mana asal nomer itu pertama kali dikirim.
Di sana dinyatakan, bahwa nomor si pengirim radarnya terlacak berada di kediaman Komandan.
"Nomernya terlacak berada di rumah ini menurut rekan saya," ujar Kafeela.
Bu Komandan dan Pak Mayjend saling lempar tatap. Mereka mulai mencurigai antara Mbok Sinten dan Jeny putri mereka.
"Panggil mereka!" titah Pak Mayjend pada istrinya.
Bu komandan bangkit dan bergegas mencari Mbok Sinten dan putrinya.
Mbok Sinten yang sedang di dapur, terkejut melihat Nyonyanya memanggil dirinya yang bingung.
Lalu setelah berhasil memanggil Mbok Sinten, Bu Komandan langsung mencari Jeny. Namun, Jeny yang dicari, tidak ada di kamar maupun di ruangan lainnya.
Kecurigaan Bu komandan tertuju pada sang putri, Jeny. Sebab Jeny justru tidak ditemukan, padahal tadi putrinya itu masih berada di sekitar kamar.
Bu Komandan kembali ke kamar Jeny, ia mendekati jendela kamar yang sedikit terbuka.
"Jeny! Apa pelakunya Jeny? Tega banget anak itu. Kalau dia yang lakukan, lantas apa tujuannya? Apa Jeny menyukai Kafeela?" tebaknya. Hatinya jadi kalang kabut.
Bu Komandan berlari menuju ruang tamu dengan wajah panik.
"Papa, Jeny tidak ada di mana-mana, di kamarnya juga," lapor Bu Komandan.
Kecurigaan semua, lantas tertuju pada Jeny.
"Jeny? Ada apa dengan anak itu?" seru Pak Mayjend.
Anata tersenyum sinis dan dugaannya benar, ternyata Jenylah pelakunya.
Jangan lupa follow profil Author ya. Biar rame. Capek juga guys, satu bab juga habisin dua jam....tapi gpp demi kalian....
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu