Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 Rasa Penasaran Razna
Sepasang mata itu menyipit. Dengan sigap, Razna bersembunyi di balik sofa ruang keluarga.
"Apa sebenarnya yang sudah mereka rencanakan?" gumamnya pelan.
"Rahasia, harta kekayaan dan..." ia menggantung kalimatnya sendiri.
"Ah, tapi aku penasaran dengan kebaikan Mama Mila. Tanpa mengenalku sama sekali, beliau rela mengulurkan bantuan untuk memakamkan putriku..." Razna terdiam sejenak.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sejak bertemu pertama kali dengan wanita itu.
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus keluar sebentar dari sini untuk mengikuti mereka. Tapi gimana caranya?" lanjutnya sambil berpikir keras.
"Kalau aku memberi tahu Tuan Rendra sekarang, keburu pergi dua orang itu. Duh, aku harus bagaimana?" Razna menggigit bibir bawahnya, berusaha mencari jalan keluar.
Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalanya. Dia segera merogoh kantong gamisnya dan mengeluarkan ponsel.
"Surti, boleh minta tolong?" bisiknya pelan, matanya masih mengawasi pintu kamar Danara dengan penuh kewaspadaan.
"Tolong jaga Finza beberapa jam ke depan. Aku mendadak ada urusan."
"Siap, Mbak!" jawab Surti yang kebetulan sedang berada di dekat kamar Finza.
"Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku."
"Iya, Mbak. Tenang saja."
Klik.
Ponsel dimatikan. Razna menghembuskan napas lega. Setelah memastikan keadaan aman, ia melangkah pelan menuju pintu belakang. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Sesampainya di luar, ia melihat sebuah mobil hitam baru saja meninggalkan halaman rumah. Beruntung, Kendaraan itu belum terlalu jauh.
"Syukurlah, aku masih bisa mengejar mereka."
Tanpa membuang waktu, Razna segera menghampiri pangkalan ojek yang berada tidak jauh dari rumah majikannya.
"Pak, tolong ikuti mobil hitam itu, tapi jangan terlalu dekat."
Pengemudi itu sempat mengernyit bingung, namun akhirnya mengangguk.
"Siap, Mbak!" sambil memberikan helm pada Razna.
Perjalanan berlangsung hampir tiga puluh menit. Semakin jauh mereka melaju, semakin besar rasa penasaran yang menggerogoti hati Razna.
Hingga akhirnya mobil yang mereka ikuti memasuki sebuah rumah sakit jiwa yang terletak di pusat kota.
"Rumah sakit jiwa?" bisik Razna heran.
Dia turun dari motor lalu membayar ongkosnya.
"Terima kasih, Pak."
"Perlu saya tunggu?" tanya tukang ojek.
"Tidak perlu, Pak." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya.
Begitu ojek itu pergi, Razna segera mengikuti Mama Mila dan Danara dari kejauhan.
Rumah sakit jiwa adalah tempat yang tak asing baginya. Sebelum menikah dengan Ragil, dia sempat bertugas sebagai psikiater di rumah sakit ini selama dua tahun. Namun, semua kandas. Impiannya harus musnah saat Ragil tidak mengizinkannya untuk bekerja lagi.
Dari balik deretan pohon di halaman rumah sakit, ia melihat keduanya berjalan menuju seorang wanita cantik berambut panjang bergelombang yang sedang duduk di sebuah bangku taman sambil menggendong sebuah boneka perempuan.
Meskipun wanita itu mengenakan pakaian pasien, namun kecantikannya masih terpancar jelas. Wanita itu menatap tajam saat melihat kedatangan mereka. Dia memeluk boneka itu semakin erat seolah enggan untuk melepaskannya.
Erina mulai mengendap-endap mencari tempat yang memungkinkan dirinya mendengar percakapan mereka tanpa terlihat. Matanya bergerak waspada ke segala arah, khawatir ada orang yang mengenalinya. Setelah menemukan posisi yang aman, dia mulai memasang telinga, berusaha menguping setiap kata yang terucap.
Razna menahan napas saat berhasil bersembunyi di balik semak-semak yang tidak jauh dari bangku taman itu. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat ketiga orang itu dengan cukup jelas, meski tidak semua ucapan mereka terdengar sempurna.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya wanita itu dingin sambil memeluk bonekanya erat-erat.
Danara terkekeh pelan sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Kami hanya ingin menjenguk mu," katanya santai.
"Hanya ingin memastikan apakah kamu benar-benar sudah gila atau masih punya sedikit kewarasan," lanjutnya datar.
Tatapan wanita itu semakin tajam. Rahangnya mengeras, sementara jarinya mencengkeram boneka tersebut hingga memutih.
"Tapi sepertinya kondisimu memang makin parah," ujar Danara menyeringai. "'Lihat saja, kamu menggendong boneka dan menganggap nya sebagai anakmu. Padahal sudah jelas dan nyata anakmu memang sudah mati."
Danara berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan perkataan yang lebih menusuk.
"Kamu sudah gagal melindungi anakmu. Kamu sudah gagal menjadi ibu. Sejak awal kamu memang tidak pantas menjadi seorang ibu."
Tawa Danara pecah, menggema diantara pepohonan taman rumah sakit.
Wajah wanita itu memucat, tetapi sorot matanya tidak menunjukkan sedikit pun ketakutan.
"Kalian tidak akan pernah mendapatkan apa yang kalian inginkan," ucapnya tegas.
"Oh ya?" Danara mengangkat sebelah alisnya sambil menyeringai, "Tinggal selangkah lagi semuanya akan menjadi milik kami. Sementara kamu? Kamu akan tetap membusuk di rumah sakit ini sampai akhir hidupmu,"
Wanita itu perlahan bangkit dari bangku. Meski tubuhnya tampak lemah, namun masih ada keberanian yang tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
"Rencana kalian tidak akan bertahan lama," katanya dengan suara bergetar namun penuh keyakinan. "Cepat atau lambat, semua orang akan tahu kebenarannya."
Mendengar ucapan itu, senyum di wajah Mama Mila perlahan memudar. Tatapannya berubah dingin.
"Kebenaran?" ulangnya sinis,
Mama Mila melangkah mendekat, lalu menatap wanita itu dengan penuh penghinaan.
"Siapa yang akan percaya pada ucapan seorang pasien rumah sakit jiwa?"
Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis.
"Lagi pula di mata semua orang, kamu itu sudah mati,"lanjut Mama Mila dengan senyum tipis.
"Mereka tidak akan pernah tahu bahwa sebenarnya kamu masih hidup dan dikurung di tempat ini."
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meluap.
"Aku memang dikurung di sini, tapi aku tidak gila. Aku masih waras," ujarnya dengan bibir bergetar.
Mendengar ucapan itu Danara dan Mama Mila justru tertawa.
"Waras?" ulang Danara sambil terkekeh.
"Hey, putri papa yang tidak berguna. Kamu menggendong boneka setiap hari, menimangnya, bahkan berbicara dan tersenyum sendiri dengan boneka itu. Menurutmu itu tanda orang waras?"
Senyum mengejek terukir di bibir kedua wanita itu.
"Kamu itu sudah gila. Dan itulah alasan kenapa kamu kalah dariku,"
Danara melangkah lebih dekat, lalu menatap wanita itu dengan penuh kemenangan.
"Pantas saja suamimu lebih memilihku dari pada mempertahankan wanita yang sudah tidak berguna sepertimu,"
Dia mendengus pelan.
"Baginya, kamu sudah tidak berarti apa-apa lagi. Kamu sudah terhempas dari hatinya. Dan kini dia hanya akan menjadi milikku, selamanya,"
Deg.
Jantung Razna seolah berhenti sesaat. Dia berusaha mencerna setiap perkataan Danara barusan.
"Suami?" monolognya dalam hati, keningnya berkerut dalam.
"Siapa sebenarnya suami yang dimaksud Danara? Dan siapa wanita itu sebenarnya?"
Semakin lama mendengarkan percakapan mereka, semakin besar pula rasa curiga yang memenuhi benaknya.
Dia tetap berjongkok di balik semak-semak, memperhatikan setiap gerakan dan ekspresi mereka dengan seksama.
Namun tiba-tiba, sebuah tangan mendarat di bahunya...
jadi kalian berderama dengan memanfaatkan razna 🤔
Duhh siapa pula yg mergokin raz nihh🤔
bukanya razna🤣
patutt dia langsung knl ibu nyaa
Wahh siapa yg mendengar percakapan mereka🤔