Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debu, kenangan, dan si kembar tengil
"Tuan Bos! Lihat deh, aku nemu foto Papa waktu muda, rambutnya belah tengah kayak bintang film jadul!" teriak Violet sambil berlari di selasar rumah, menunjukkan sebuah bingkai foto berdebu pada Arden.
Arden yang sedang sibuk berkoordinasi dengan tim legal lewat ponselnya, hanya melirik sekilas. "Violet, fokus. Kita ke sini cari sertifikat dan catatan kakekmu, bukan buat bikin album nostalgia."
Di sisi lain, Evara tidak kalah berisik. Ia sedang mencoba menaiki tangga kayu menuju gudang atas sambil menarik-narik ujung kemeja Danantya.
"Kak Danan, ayo cepetan! Di atas pasti banyak harta karun. Siapa tahu ada surat cinta kakeknya Violet buat neneknya, bisa aku contek buat bikin Kakak baper," goda Evara dengan cengiran tengilnya.
Danantya menatap tangannya yang ditarik-tarik. "Evara, lepaskan. Tangga ini sudah tua, kalau kamu pecicilan begitu nanti kita berdua jatuh."
"Kalau jatuh ke pelukan Kakak sih aku mau-mau aja," balas Evara enteng, membuat Danantya berdehem keras dan memalingkan wajah yang mulai memerah.
Kontras yang Menenangkan
Berbeda dengan duo berisik itu, Avyana Hazel dan Lavanya Purnama bergerak lebih taktis. Avyana sudah menyiapkan masker dan sarung tangan medis agar mereka tidak sesak napas karena debu gudang, sementara Lavanya membawa catatan kecil untuk mendata apa saja yang mereka temukan.
Kenzo berjalan di samping Avyana. Ia merasa jauh lebih tenang berada di dekat gadis hazelnut ini daripada harus mendengar teriakan Violet dan Evara di lantai bawah.
"Kamu oke, Avyana? Di atas pasti banyak debu dan mungkin serangga," tanya Kenzo perhatian.
"Aku oke, Kak Kenzo. Lebih baik hadapi kecoa daripada hadapi teriakan Evara kalau dia lihat kecoa," jawab Avyana dengan senyum tipisnya yang menenangkan. Kenzo terkekeh, ia merasa selera humor Avyana sangat pas dengan kepribadiannya yang serius.
Rahasia di Balik Peti Kayu
Gudang rumah Aolani sangat luas dan dipenuhi barang antik. Setelah hampir satu jam mencari di tengah hawa pengap, Violet tiba-tiba berteriak kegirangan.
"TUAN BOS! KAK DANAN! SINI CEPETAN!"
Mereka semua berkumpul mengelilingi sebuah peti kayu jati berukir. Di dalamnya terdapat tumpukan map tua dan sebuah buku harian tebal bersampul kulit. Violet membukanya dengan hati-hati.
"Ini dia... catatan Kakek. 'Pembelian Tanah Bukit Uluwatu, 1974'," baca Violet. Suaranya yang tadi tengil mendadak berubah menjadi serius. "Di sini tertulis, kakek membeli tanah itu dari buyutnya Arjuna. Ada kuitansi aslinya, foto penyerahan uang, bahkan saksi-saksi yang masih hidup tertulis di sini."
Arden mengambil dokumen itu, matanya menajam. "Ini lebih dari cukup. Arjuna menggugat berdasarkan sertifikat tahun 1990, tapi dokumen ini membuktikan bahwa tanah itu sudah berpindah tangan secara sah jauh sebelumnya. Dia melakukan pemalsuan dokumen sejarah."
Tengil di Tengah Kemenangan
Setelah menemukan bukti itu, sifat asli Violet dan Evara kembali muncul. Mereka berdua melakukan high-five di tengah gudang yang berdebu.
"Wah, Arjuna bakal nangis di pojokan nih kalau tahu kita nemu ginian," ucap Evara sambil bergaya seolah sedang memegang piala.
"Tuan Bos, karena aku sudah berjasa besar, boleh ya nanti malam kita makan martabak spesial yang keju-susunya tumpah-tumpah?" tanya Violet sambil memeluk lengan Arden dan memberikan tatapan "mata kucing" andalannya.
Arden menutup buku harian itu dan menatap Violet. "Martabak? Setelah semua debu yang kamu hirup ini? Kamu harus mandi dan minum air putih yang banyak dulu."
"Ih, Tuan Bos mah nggak asyik! Masa pahlawan cuma dikasih air putih," protes Violet sambil memajukan bibirnya.
"Eh, Kak Danan juga ya! Aku kan yang nemuin kunci peti ini tadi di bawah meja," timpal Evara pada Danantya. "Hadiah buat aku apa?"
Danantya diam sejenak, lalu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk robot yang tadinya ingin ia berikan saat kencan kemarin tapi ragu. "Ini. Biar kamu ingat kalau kamu harus lebih teratur kayak robot, jangan kayak cacing kepanasan."
Evara menerima gantungan itu dengan mata berbinar-binar. "Wah! Kak Danan kasih aku kado! Vi, lihat! Kak Robotku sudah mulai punya perasaan!"
Bayang-Bayang di Luar Pagar
Saat mereka tertawa di dalam gudang, sebuah mobil hitam terparkir cukup jauh dari gerbang rumah Aolani. Seorang pria di dalam mobil itu sedang memegang teropong, mengawasi setiap gerak-gerik mereka.
Ia menekan tombol panggil di ponselnya. "Mereka menemukan sesuatu, Tuan Arjuna. Sepertinya sebuah peti tua."
"Jangan biarkan dokumen itu sampai ke tangan pengadilan," suara Arjuna terdengar parau dan penuh dendam. "Cari cara untuk melenyapkannya sebelum besok pagi. Dan kalau perlu... bawa Violet padaku. Aku yang akan memberinya 'pelajaran' soal sejarah keluarga kami."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...