NovelToon NovelToon
Transmigrasi Petarung Ke Istri Yang Tidak Dianggap

Transmigrasi Petarung Ke Istri Yang Tidak Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Xaviena Avanzi seorang petarung bebas di Mexico tidak pernah tau siapa orang tua kandungnya.
Hidup seorang diri membuat Xaviena hanya peduli dengan dirinya saja. Tidak pernah berusaha mengetahui dunia luar, dan hanya fokus pada pekerjaannya sebagai petarung. Xaviena tertidur panjang karena diracuni oleh seorang pria yang tidak terima dikalahkan oleh gadis itu.

Saat membuka mata, dia terkejut karna terbangun di tubuh seorang wanita asal Spanyol yang sudah menikah. Bukan pernikahan yang bahagia tapi pernikahan yang hanya membawa kesakitan dan penolakan untuk sang wanita. Xaviera bertekat untuk membalas semua kesakitan dan perbuatan suaminya.
Bagaimana jika jiwa Xaviena, si petarung bebas yang bodoh amat, masuk ke dalam tubuh Xaviera, si istri yang sangat mencintai suaminya?
Dan apa yang terjadi pada tubuh Xaviena? ikuti kisah mereka.

Ayo mampir, dijamin ga bikin bosen!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter twenty nine

Hari ini dia tidak ada kegiatan mendesak. Karena merasa butuh udara segar dan sedikit me time setelah penerbangan panjang dari Peru yang cukup menguras energi, Xaviera memutuskan untuk bersiap-siap pergi ke sebuah kafe galeri seni seperti yang tadi dia sudah dia katakan pada Xaviero.

Setelah berganti pakaian dengan gaun terusan kasual yang elegan dan meraih tas tangannya, Xaviera melangkah keluar. Dua pengawal divisi satu yang sudah bersiaga di depan langsung membukakan pintu mobil untuknya.

Satu jam kemudian, Xaviera sudah duduk nyaman di salah satu meja sudut kafe yang terletak di lantai teratas gedung galeri tersebut. Suasananya sangat tenang, hanya ada alunan musik instrumental lembut sebagai latar belakang. Atas perintah Xaviero yang tentu saja tidak diketahui istrinya, setengah area kafe itu memang sudah dikosongkan untuk menjaga privasi sang istri.

Xaviera menyesap teh kamomil hangatnya perlahan, menikmati helai demi helai angin yang menerpa wajahnya. Ia baru saja akan membuka buku yang dibawanya ketika tiba-tiba pintu kaca kafe terdorong terbuka.

Xaviera reflek menoleh ke arah sumber suara. Di ambang pintu, muncul sosok Axelian. Meskipun langkah kakinya terlihat tergesa-gesa dan memancarkan aura kekesalan, Axel tetap tidak kehilangan pesona anggun dan femininnya sebagai seorang model papan atas. Cara jalannya tetap elegan, namun sepasang mata indahnya menatap tajam ke depan, dan bibir ranumnya tampak mengerucut kesal.

Penampilan Axel siang ini terlihat sangat cantik, namun ada satu detail yang langsung membuat Xaviera menahan senyum: Axel memakai kemeja kasual sutra hitam lengan panjang yang ukurannya jelas-jelas terlalu longgar dan kebesaran untuk tubuh rampingnya. Siluet kemeja mahal yang dipadukan dengan celana kulot putih itu sudah pasti diambil paksa dari lemari pakaian Xander.

Wajah cantik Axel tampak ditekuk sedemikian rupa, dengan kedua pipinya yang merona kemerahan karena menahan dongkol yang tampaknya sudah sampai ke ubun-ubun sejak dari penthouse.

Axel berjalan lurus ke arah meja Xaviera. Begitu sampai, ia meletakkan tas jinjing bermereknya ke atas meja dengan sedikit penekanan, lalu menduduki kursi di hadapan Xaviera dengan anggun namun diiringi helaian napas panjang yang terdengar sangat frustrasi.

Xaviera berkedip beberapa kali, menatap sahabatnya itu dari atas sampai bawah sebelum akhirnya meletakkan cangkir tehnya kembali ke tatakan.

"Baru datang wajahnya sudah ditekuk begitu, Axel," goda Xaviera dengan nada santai, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak terasa tegang. "Ada apa? Pengawal di depan tadi sampai bingung mau menyapamu atau tidak karena auramu menyeramkan sekali."

Axelian tidak langsung membalas. Ia mengangkat satu tangannya yang lentik dengan gerakan halus namun tidak sabar, memanggil pelayan yang berdiri tak jauh dari sana. "Permisi, es kopi latte satu. Tolong esnya yang banyak dan tolong agak cepat ya, aku butuh yang dingin-dingin sekarang," ujarnya, masih berusaha menjaga nada suaranya agar tetap terdengar anggun meskipun sedang emosi.

"Kenapa kau bisa tau aku disini?" Tanya Xaviera penasaran.

"Aku melihat orang-orang gila didepan tadi dan mengira pasti ada kau didalamnya" balas Axelian membuat Xaviera mengangguk.

Axelian langsung mencondongkan tubuhnya sedikit melewati meja, menatap Xaviera dengan mata indahnya yang berkilat kesal.

"Xera, demi Tuhan! Kakak pertamamu itu benar-benar membuatku gila. Aku bisa mati muda kalau begini terus!" cetus Axel dengan nada berbisik namun penuh penekanan, menumpahkan kalimat pertamanya tanpa rem sama sekali.

Xaviera menaikkan satu alisnya, menahan senyum geli yang mati-matian ia sembunyikan di balik telapak tangannya melihat ekspresi frustrasi Axel. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap kemeja kebesaran yang melekat di tubuh molek sahabatnya itu dengan pandangan penuh arti.

"Kak Xander? Kenapa lagi dengan lelaki itu? Dia membuat ulah sebelum berangkat ke kantor tadi pagi?" tanya Xaviera memancing, membiarkan Axel menumpahkan unek-uneknya.

Pelayan kafe datang dengan sigap, meletakkan segelas es kopi latte pesanan Axelian dengan sangat hati-hati, lalu buru-buru undur diri lagi setelah merasakan aura tegang di meja tersebut.

Axelian langsung meraih gelas itu, menyesapnya beberapa kali hingga kerongkongannya terasa dingin, mencoba meredakan gejolak kekesalan di dadanya. Setelah meletakkan gelasnya kembali, ia menatap Xaviera dengan tatapan memelas namun berapi-api.

"Bukan cuma tadi pagi, Xera! Tapi sejak kita mendarat dari Peru!" adu Axel, jemari lentiknya mengetuk-ngetuk meja dengan gemas. "Kamu tahu tidak? Kemarin sore aku cuma mau pergi ke supermarket di bawah penthouse untuk beli camilan.

Jaraknya bahkan tidak sampai lima puluh meter, dan aku sudah bilang akan ditemani pengawal. Tapi kakakmu itu dia langsung menahan pergelangan tanganku, menatapku dengan wajah datarnya yang sedingin es itu, lalu berkata: 'Kalau butuh sesuatu, biar pengawal yang ambil. Kamu tetap di sini.' Memangnya aku ini pajangan rumah?!"

Xaviera tidak bisa menahan tawa renyahnya lagi. Suara tawa halusnya terdengar merdu, membuat Axel semakin mengerucutkan bibirnya kesal.

"Jangan tertawa, Xera! Aku serius!" gerutu Axel, wajah cantiknya merona merah sempurna. "Lalu lihat kemeja ini! Tadi pagi aku sudah rapi, memakai gaun tanpa lengan yang baru kubeli minggu lalu karena memang ingin pergi ke mansion kalian untuk menemuimu. Begitu Kak Xander keluar dari ruang kerjanya dan melihatku, langkahnya langsung berhenti. Dia menatapku dari atas sampai bawah tanpa berkedip, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia masuk kembali ke kamar, mengambil kemeja sutra miliknya ini, dan langsung memakaikannya ke tubuhku!" Axel memperagakan bagaimana Xander mengancingkan kemeja itu satu per satu sampai ke atas dengan wajah kaku.

"Dia bilang, 'Jangan memancing perhatian pria lain di jalan, Axelian. Pakai ini atau kamu tidak boleh keluar rumah hari ini.' Pria lain siapa coba?! Aku kan naik mobil tertutup dan langsung keluar dan akhirnya bisa sampai kesini!" seru Axel frustrasi, meskipun di balik kekesalannya, ada kilat malu yang tak bisa disembunyikan saat mengingat bagaimana protektifnya pria itu padanya.

Xaviera meredakan tawanya, lalu meraih tangan Axel yang tergeletak di atas meja, mengusap punggung tangan sahabatnya itu dengan lembut. Sebagai adik, ia sangat paham bagaimana isi kepala kakaknya.

"Axel, dengar aku," ucap Xaviera dengan nada yang lebih lembut dan menenangkan.

"Kak Xander itu seumur hidupnya tidak pernah dekat dengan perempuan. Jangankan menjalin hubungan, disentuh perempuan lain selain aku, Xaviena, dan Ibu saja dia pasti langsung menghindar. Hidupnya selama ini hanya berisi angka, dokumen legal, dan urusan bisnis Keluarga Vargas. Dia kaku, dingin, dan sama sekali tidak tahu cara mengekspresikan perasaannya."

Axel terdiam, mendengarkan penjelasan Xaviera dengan saksama. Kekesalannya perlahan mulai sedikit mereda.

"Jadi, begitu dia menjatuhkan pilihan kepadamu begitu dia sadar kalau dia jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada seorang Axelian seluruh dunianya langsung berputar dan berpusat padamu," lanjut Xaviera dengan senyuman hangat.

"Caranya menjaga memang terasa ekstrem dan terlalu mengatur, karena dia sangat takut kehilanganmu. Sisi posesifnya yang gila itu muncul karena dia amatir dalam urusan cinta, Axel. Dia bingung bagaimana cara mengikatmu agar tetap di sisinya tanpa terlihat lemah."

Ia teringat kembali bagaimana tatapan mata Xander yang mendalam dan bisikan berat pria itu setiap kali mengklaim tubuh dan jiwanya di dalam kamar.

Axelian menyembunyikan wajahnya yang kini memerah sempurna di balik kedua telapak tangannya. Sifat elegannya mendadak berubah menjadi menggemaskan kalau sudah salah tingkah seperti ini.

"Kamu tahu. Suamiku, Xaviero, juga tidak kalah gila posesifnya," kekeh Xaviera, mengingat bagaimana ketatnya penjagaan suaminya sendiri.

Xaviera merogoh tas tangannya dan mengeluarkan ponsel pintar terbarunya."Ayo kita periksa korban berikutnya." Tanpa menunggu persetujuan Axel, Xaviera langsung menekan tombol panggilan video ke nomor Clara. Ponsel itu diletakkan di tengah meja, bersandar pada vas bunga kecil. Hanya butuh tiga kali nada sambung sebelum layar menampilkan wajah manis Clara.

Namun, pemandangan di layar langsung membuat Xaviera dan Axel terbelalak.

Clara muncul dengan rambut yang sedikit acak-acakan, sebuah pensil terselip di sanggulan rambutnya, dan wajah yang tampak sangat lelah. Di latar belakangnya, terlihat tumpukan tebal katalog gaun pengantin, sampel kain brokat, contoh undangan, hingga beberapa buket bunga tiruan yang berserakan di atas karpet.

"Belle ! Axel! Tolong aku."rengek Clara langsung, bahkan sebelum Xaviera sempat mengucapkan halo. Suaranya terdengar seperti orang yang baru saja melarikan diri dari kejaran badai.

"Clara, kamu kenapa? Itu kamar atau toko dekorasi pernikahan?" tanya Xaviera menahan tawa.

Clara mengarahkan kamera ponselnya memutar, memperlihatkan sudut ruangan yang dipenuhi paper bag dari desainer ternama. "Kakakmu Riccardo sialan itu! Dia benar-benar sudah tidak waras! Kalian tahu tidak? Jam tujuh pagi tadi, saat aku bahkan belum selesai cuci muka, dia sudah mendatangkan tiga tim wedding planner terbaik se-Spanyol ke mansion!"

Axel langsung mencondongkan tubuhnya ke layar, matanya berbinar penuh simpati sekaligus penasaran. "Jam tujuh pagi?! Untuk apa?"

"Dia bilang tanggal pernikahan bulan depan terlalu lama!" Clara berteriak frustrasi, kembali mengarahkan kamera ke wajahnya yang cemberut. "Pria songong itu mau pernikahan kami diadakan dua minggu lagi! Dua minggu, Belle! Dia pikir menyiapkan pernikahan itu seperti menyiapkan pesta ulang tahun anak balita? Ketika tim desainer menunjukkan draf gaun, dia langsung mencoret semua desain yang bagian punggung atau dadanya agak terbuka. Dia bilang: 'Nyonya Riccardo Pères tidak boleh kekurangan bahan kain.' Aku pusing!"

Mendengar aduan itu, kafe tersebut langsung dipenuhi oleh suara tawa renyah Xaviera dan Axelian. Beban frustrasi Axel yang tadi menggebu-gebu mendadak terasa lebih ringan karena ternyata ada yang nasibnya jauh lebih tragis hari ini.

"Lalu sekarang si Riccardo-nya di mana?"

Clara mengembuskan napas panjang, menjatuhkan tubuhnya ke tumpukan bantal di belakangnya. "Dia sedang bercinta dengan suami Belle membiarkan aku seperti orang gila"

"Sabar, Clara," timpal Axelian, kini posisinya berbalik menjadi pihak yang menenangkan, meskipun ia sendiri masih memakai kemeja kebesaran milik Xander.

"Setidaknya Riccardo memperjuangkan pernikahan kalian dengan saksama. Lihat aku, aku bahkan tidak boleh keluar kamar tanpa memakai kemeja raksasa milik Kak Xander ini. Dia mengurungku seharian kemarin."

Ketiga wanita itu akhirnya tertawa bersama di dalam sambungan telepon tersebut. Di tengah dominasi gila dan aturan ketat para pria penguasa itu, mereka setidaknya menemukan hiburan lewat sesi curhat massal yang membuat suasana itu terasa jauh lebih hangat.

Xaviera mendesah pelan, namun sebuah senyuman manis tak mampu disembunyikannya. Ia mendongak menatap Axelian, lalu kembali beralih ke arah ponsel yang masih tersambung panggilan video.

"Sepertinya cukup untuk sekarang. Kita harus bertemu nanti, aku dan Axel akan pergi ke Costa Tower. Selamat menikmati Lala" Ejek Xaviera.

"Mari pergi ke tempat mereka, Axel. Aku penasaran, apakah seperti di novel yang ada perempuan gatal atau tidak" ajak Xaviera.

Kedua wanita itu juga memesan makanan untuk lelaki mereka karena mereka yakin kedua orang itu tidak akan makan kalau tidak gemetar karena lapar.

1
Memyr 67
xaviera xaviero, kebolak balik namanta. dahlah babay
Memyr 67
episode membingungkan. mana yg xaviena mana yg xaviera, sepertinya othornya bingung. episode berikutnya nggak jelas mana xaviena mana xaviera aku babay
Memyr 67
xaviero masuk perangkap betmen
Memyr 67
visual xaviera benar benar cantik. siapa sih?
awesome moment
visual xavier yg gemoy mana? pake AI jg boleh
Osie
terkadang aku kurang suka inilah..udahlah disakiti sp mati eh gitubidup lagi typ aja bertahan jd istri..bego aja sih menurutku..apa g bisa dibuat xaviera lepas gitu dr xaviero..enek bgt
Osie
je jeeee aku mampir dimari nih sambil nunggu yg ono up..selalu suka cerita transmigrasi dgn sosok MC tangguh..smart..licik..gak menye menye n cantik..
Jennifer
nggak banyak yg suka ya, pdhl sdh sejauh ini🥲
Fitrian
woowwww😱
badassss🤣👍
Muft Smoker
kak terimakasih buat update an cerita ny ,,
duuuh kalo liat cara kerja mafia ,,
ngeri2 sedaaap🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
si kulkas raksasa udh ketemu pawang ny jugaa ,,
ayooooo qta lihaat masa2 Xander bucin ke axel 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
si dingin Jovan udh punya pawang ny yg luar biasa poloos 🤭🤭🤭
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski gx detail kak ,, tp bikin readers senyum malu2 kak🤭🤭🤭🤭
Kadek Muliarti
foto kurang jelas kak
Muft Smoker
😁😁😁😁 semua org udh menemukan kebahagiaan ny masing2 ,, cuma ad yg sadar ,, Dan ad beberapa yg gx sadar🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
awwwww ,, axel ,, jgn bilang km melon makan melon 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
waaaah kakak skrang rajin up ,,
sayang byk2 ,, 🫰🫰🫰🫰🫰
Muft Smoker
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
aaaa sweet km mereka ,,
mafia juga manusia kn ,, bisa sakit ,, bisa manja ,, bisa Nangis juga ,, 🤭🤭🤭🤭 ,,

semoga kalian selalu bahagia ,, 😁😁
lanjuuuut kak ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!