NovelToon NovelToon
Aji Toba

Aji Toba

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Misteri / Epik Petualangan / Horror Thriller-Horror / TimeTravel / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:312
Nilai: 5
Nama Author: IG @nuellubis

Masih kelanjutan dari PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN.

Petualangan Aji kali ini lebih kelam. Tidak ada Pretty, dkk. Hanya dirinya, Sari (adiknya), bidadari nyentrik bernama Nawang Wulan, Tumijan, Wijaya, dan beberapa teman barunya seperti Bonar dan Batubara.

Petualangan yang lebih kelam. Agak-agak horor. Penuh unsur thriller. Sungguh tak bisa ditebak.

Bagaimanakah dengan nasib Pretty, dkk? Oh, tenang, mereka masih memiliki porsi di serial ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IG @nuellubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba di Semenanjung Malaka

Setelah beberapa hari terlunta-lunta di atas Selat Malaka, dan coba menghindar dari gempuran Chola, rombongan Majapahit tiba di salah satu kota yang ada di Semenanjung Melayu. Selama beberapa hari, Aji mendadak merasa dirinya berguna. Ia sendiri bingung sejak kapan dan bagaimana dirinya bisa mengerti ilmu pengobatan. Padahal ia tak pernah belajar dari tabib atau empu mana pun.

Rekan sekamarnya, Gema, memukul lengannya, dan berkata, "Ada gunanya juga kau di kapal ini."

Aji hanya terkekeh.

Seorang kapten kapal segera memerintah mereka semua agar segera merapat ke dalam barisan masing-masing. Gajah Mada sepertinya hendak memberikan arahan. Berkaitan demam rencana penyerbuan.

Orang-orang di sekitarnya, yang sebagian merupakan etnis Melayu, sedikit bergidik melihat kumpulan orang-orang berseragam perang lengkap dengan senjatanya.

Kota itu tidak sepenuhnya asing, namun juga tidak ramah. Rumah-rumah panggung berdiri rapat di tepi pantai, perahu dagang berjejer dengan layar setengah diturunkan, dan aroma asin laut bercampur rempah menyeruak di udara. Orang-orang setempat, yang terdiri dari para pedagang, nelayan, dan perempuan yang menggendong anak, menatap rombongan Majapahit dengan mata waspada.

Kakinya Aji masih terasa goyah setelah berhari-hari diguncang ombak. Anehnya, di tengah kelelahan itu, ada perasaan lain yang tumbuh: perasaan berguna. Selama pelayaran, ia beberapa kali diminta membantu prajurit yang terluka. Ada yang terluka karena panah, sabetan pedang, hingga demam yang tak jelas sebabnya. Tangannya bergerak seperti tahu sendiri apa yang harus dilakukan. Daun apa yang diremas, bagian tubuh mana yang ditekan, doa apa yang terucap lirih tanpa ia sadari asalnya.

Aji masih mempertanyakan sejak kapan dan bagaimana dirinya bisa mengerti ilmu pengobatan. Padahal ia tak pernah berguru pada tabib atau empu mana pun. Wayan memang pernah mengajarinya dasar-dasar, tapi apa yang Aji lakukan terasa lebih dari sekadar ajaran. Seakan ada ingatan lama yang bangkit perlahan dari dalam tubuhnya.

Aji hanya terkekeh, menunduk sedikit, dan berkata pelan untuk membalas Gema, “Kalau gunanya cuma buat nambal luka, ya bagus, lah.”

Belum sempat mereka bercakap lebih jauh, seorang kapten kapal berteriak lantang.

“Semua pasukan! Segera merapat ke barisan masing-masing!”

Suara sang kapten menggema di dermaga. Riuh pelabuhan mendadak surut. Gajah Mada telah turun dari kapal utama, berdiri tegak dengan baju perang lengkap. Wajahnya keras, matanya menyapu seluruh pasukan.

Aji ikut berdiri di barisan belakang. Dari tempatnya, ia melihat orang-orang menahan napas. Ada yang menggenggam erat kain sarungnya, ada pula yang berbisik cepat. Pemandangan ratusan prajurit berseragam perang lengkap dengan lembing, perisai, dan pedang jelas bukan hal biasa bagi kota dagang yang terbiasa pada tawar-menawar, bukan peperangan.

Gajah Mada mengangkat tangan. Sunyi jatuh seketika.

“Kita bukan datang sebagai perampok,” kata Gajah Mada, dengan suara berat dan terukur. “Kita datang membawa kehendak Majapahit. Kota ini akan kita hormati, selama kehendak itu dihormati.”

Beberapa perwira mengangguk. Namun Aji bisa merasakan ketegangan yang berlapis. Ini bukan sekadar penaklukan. Ini tentang pengaruh, tentang siapa yang berhak menguasai jalur dagang dan laut. Tentang siapa yang akan berdiri dan siapa yang akan tersingkir.

Arahan demi arahan disampaikan. Penempatan pasukan, pengamanan pelabuhan, hingga larangan keras menyakiti warga tanpa perintah. Aji menangkap satu hal penting. Bahwa akan ada perundingan, tapi juga kesiapan untuk bertempur jika perundingan gagal.

Setelah barisan dibubarkan, pasukan bergerak ke barak sementara di pinggir kota. Aji duduk di tangga kayu, memandang laut yang tenang. Menurut dirinya, laut ini terlalu tenang untuk ukuran hari-hari terakhir. Di kejauhan, layar-layar kapal dagang tampak seperti burung laut yang bertengger.

Di sela kesunyian itu, bayangan Sari kembali datang. Adik bungsunya. Aji menggenggam tangannya sendiri, mengingat mimpi-mimpi buruk yang terus menghantuinya. Ia bertanya-tanya apakah jarak dan waktu akan mempertemukan mereka kembali, atau justru memisahkan untuk selamanya.

Malam turun cepat. Kota pelabuhan berubah. Lentera-lentera dinyalakan, suara seruling samar terdengar dari rumah-rumah panggung. Namun barak Majapahit tetap waspada. Aji dipanggil untuk memeriksa seorang prajurit yang demam tinggi. Ia bekerja dalam cahaya temaram, dibantu seorang pemuda setempat yang diam-diam memperhatikan setiap gerakannya.

“Kau tabib?” tanya pemuda itu ragu.

“Aku bukan,” jawab Aji jujur. “Aku hanya… coba membantu.”

Pemuda itu mengangguk, seolah jawaban itu cukup.

Kabar tentang kemampuan Aji menyebar cepat. Beberapa warga setempat mulai berani mendekat, meminta ramuan untuk anak yang panas atau orang tua yang nyeri sendi. Aji ragu. Ia tahu ini wilayah asing, dengan adat dan kepercayaan sendiri. Namun tatapan penuh harap itu sulit ditolak. Dengan izin perwira, ia membantu sebisanya.

Di situlah Aji mulai sadar keberadaannya di sini bukan kebetulan. Ia bukan sekadar prajurit tambahan. Ada jalur lain yang ia tempuh. Ada pula jalur yang tak tertulis dalam strategi perang. Jalur yang menghubungkan luka dan harapan, musuh dan manusia.

Di kejauhan, Gajah Mada mengamati dari balik bayangan. Ia melihat bagaimana seorang pemuda tanpa pangkat itu dikerumuni orang-orang yang biasanya takut pada pasukan bersenjata. Sang Mahapatih tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk pelan.

Malam semakin larut. Angin laut membawa kabar yang belum terucap. Tentang kerajaan-kerajaan lain di Semenanjung Melayu, tentang bayang-bayang Cola yang mungkin masih mengintai, tentang perang yang bisa meletus kapan saja.

Aji menutup mata sejenak setelah menyelesaikan pekerjaannya. Di dalam dadanya, ada ketakutan, ada rindu, tapi juga ada keyakinan baru. Entah bagaimana, ia merasa sedang berjalan menuju sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Sesuatu yang akan menuntut pilihan, keberanian, dan mungkin pengorbanan.

Di kota pelabuhan yang asing itu, di antara bau laut dan suara malam, Aji perlahan menyadari pula. Perjalanan ini bukan hanya tentang Majapahit menaklukkan dunia, melainkan tentang dirinya menemukan siapa dirinya sebenarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!