Pembalasan seorang wanita yang telah mati di perk#sa oleh ketua genk mafia terkejam di negara ini. Tiba tiba dirinya terbangun dalam tubuh seorang gadis yang mati akibat kecelakaan.
" Tubuh siapa ini? Kenapa aku hidup lagi?"
" Savea, akhirnya kamu selamat? Kamu tidak jadi mati?" Pekik gadis di samping tubuh Savea.
" Oh namaku Savea."
Savea Andara akan mendekati Xaver dan membuat Xaver jatuh cinta padanya demi membalaskan dendamnya kepada ayah Xaver. Setelah berhasil membuat Xaver tergila gila padanya, Savea mengatakan yang sebenarnya dan memutuskan hubungan tepat di depan ayah Xaver.
" Yang aku inginkan kehancuranmu, kau putra kebanggaan ayahmu, hancurnya dirimu sama saja kehancuran dirinya."
Setelah di tinggalkan Savea, Xaver menjadi gila. Apalagi saat ia mendengar kabar pernikahan Savea dengan pria lain, ia datang dan dengan penuh emosi dengan pistol di tangannya.
" Jika aku tidak bisa memilikimu maka kau tidak bisa menjadi milik orang lain.
Dor... Dor... Dor..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon swetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGAR MAKAN TANAMAN
Pagi ini seperti biasa, Savea melakukan pekerjaan seorang ibu rumah tangga pada umumnya. Setelah mencuci baju dan piring kotor, ia pun memasak untuk sarapan mereka berdua. Hari ini ia memasak capcay kering dan rendang ayam.
Grep...
" Astaga!!!" Pekik Savea terkejut ketika Satya memeluknya dari belakang.
" Sepertinya istriku terlalu fokus pada pekerjaannya sampai sampai suaminya datang saja nggak tahu." Ujar Satya menempelkan dagunya pada pundak Savea.
" Iya maaf mas, aku memang nggak tahu. Aku ngejar waktu karena hari ini aku interview jam delapan." Sahut Savea. Ya, Savea melamar pekerjaan di sebuah perusahaan anak cabang terbesar di kota itu. Perusahaan tersebut mengelola berbagai jenis makanan dan minuman.
" Seharusnya kamu tidak perlu bekerja sayang, biar aku saja. Meskipun gajiku mepet, tapi aku yakin gajiku mampu untuk mencukupi kebutuhan kita setiap harinya." Ujar Satya. Satya bekerja di sebuah showroom mobil yang menjual dan menyewakan bahkan menyediakan jasa pariwisata kenalan ayah mertuanya.
Savea berbalik badan, ia menatap Satya lalu tersenyum.
" Aku jenuh mas kalau di rumah sendiri pas kamu kerja. Jadi aku juga pengin kerja, itung itung mencari kesibukan sambil mencari tambahan buat biaya hidup kita." Ujar Savea.
" Andai saja ada anak di antara kita." Satya menghembuskan kasar nafasnya.
" Maafkan aku mas! Aku belum siap." Ucap Savea merasa bersalah.
Bagaimana mau memiliki anak jika Savea saja belum siap untuk di sentuh sampai saat ini. Selalu itu alasan Savea, tidak siap, belum siap dan masih banyak yang lainnya. Tapi alasan yang sebenarnya Satya tidak tahu. Atau mungkin Savea tidak bisa mencintainya? Ada nama Xaver yang telah terlukis di dalam hatinya, entah lah. Satya tidak mau membahas hal itu lagi karena hanya akan menimbulkan keributan.
" Sudah lah tidak perlu di bahas, aku ke kamar dulu." Satya berlalu begitu saja. Savea menatapnya dengan rasa bersalah.
" Entah kenapa aku merasa hidupku terasa hampa. Pernikahan kami terasa hambar karena tidak adanya cinta di dalam hatiku untuk mas Satya. Aku sendiri tidak tahu, kenapa sangat sulit membuka hati untuknya padahal selama ini aku sudah mencoba, aku sudah mencoba untuk belajar mencintainya. Tapi aku selalu gagal. Sampai kapan aku akan membuat mas Satya kecewa? Sampai kapan semua ini akan bertahan? Apakah mas Satya akan selalu setia menunggu aku membalas cintanya? Atau justru dia... " Monolog Savea menggantung ucapannya. " Tidak... Itu tidak boleh terjadi. Meskipun aku belum mencintainya tapi aku tidak rela kalau mas Satya mengkhianati cinta pemilik tubuh ini. Aku harus membujuknya supaya dia tidak marah lagi padaku. Aku juga akan berusaha untuk terus mencintainya."
Karena perasaan bersalahnya, ia pun mematikan kompor dan segera menyusul Satya di kamarnya. Belum sampai di depan kamar, Savea mendengar suara Satya yang sepertinya sedang menerima telepon. Savea pun mengurungkan niatnya karena tidak mau mengganggu Satya. Ia berbalik badan ingin kembali ke dapur namun ucapan Satya berhasil menghentikannya.
" Dia bukan Savea yang asli. Tubuhnya memang milik Savea tapi jiwanya milik orang lain."
...............
Deg...
Jantung Savea terasa berhenti berdetak, pada siapa Satya memberitahu hal ini? Bukan kah Satya berjanji tidak akan memberitahu siapa pun termasuk kedua orang tuanya? Lalu siapa orang yang Satya beritahu kali ini? Apakah dia orang spesial untuk Satya? Pikir Savea. Ia pun segera merapatkan tubuhnya pada daun pintu menguping pembicaraan Satya, meskipun ia hanya bisa mendengar suara Satya saja.
" Apa???? Yang benar saja kamu Satya. Bagaimana bisa ada cerita mustahil seperti ini di zaman sekarang ini?"
" Dia orang lain yang menetap di tubuh Savea. Entah itu masuk logika atau tidak tapi itulah kenyataannya Ana." Rupanya Satya teleponan dengan Ana.
" Pantas saja dia terlihat seperti orang asing. Apa kau mencintainya Sat?"
" Aku mencintainya, meskipun itu bukan jiwa Savea tapi aku tetap mencintainya karena aku tidak mau kehilangan dia. Entah karena aku tidak mau kehilangan Savea atau memang aku menyukai dirinya yang sekarang aku tidak tahu. Aku jadi ragu dengan perasaanku sekarang. Apalagi mengingat sikap Savea kepadaku selama ini. Sepertinya dia tidak akan pernah bisa mencintaiku seperti Savea mencintaiku dulu. Aku merasa hubungan kami monoton, tidak ada kemajuan sama sekali. Bahkan sampai sekarang aku belum pernah menyentuhnya. Dia enggan berdekatan denganku, Ana. Apa aku salah telah mempertahankannya?" Dada Savea berdenyut nyeri mengetahui kenyataan ini. Mengetahui jika Satya sudah mulai goyah. Ingin rasanya ia segera pergi dari sana namun ia ingin mengetahui tentang perasaan Satya lebih banyak lagi.
" Aku rasa dia memang tidak mencintaimu. Jangan jangan dia mencintai pria lain. Atau mungkin dia mencintai tuan Xaver, si ketua geng mafia itu? Tapi kamu tidak perlu khawatir Satya, aku mau kok kalau di minta untuk menggantikan Savea di dalam hatimu."
" Apa??? Apa maksud kamu mau menggantikan Savea, Ana?" Savea terkejut dengan ucapan Satya. Ana mau menggantikannya? Kenapa?
" Sejujurnya selama ini aku memendam perasaan padamu Sat. Seiring kebersamaan kita, aku menaruh hati padamu. Aku mencintaimu, tapi kamu lebih memilih Savea daripada aku. Aku bisa apa Sat? Cintaku bertepuk sebelah tangan."
" Aku tidak tahu kalau selama ini kamu mencintaiku Ana, aku pikir kamu hanya menganggapku sebagai teman biasa saja." Savea baru tahu kalau ternyata sahabatnya mengkhianatinya.
" Aku ingin mengobrol banyak denganmu. Kalau kamu tidak keberatan, kamu juga bisa curhat denganku. Besok weekend aku ingin pergi ke desamu. Apa kamu mau menemuiku di sana nanti?"
" Baiklah, kita akan bertemu nanti. Kalau kamu sudah sampai sini, telepon aku ya. Oh ya, jangan sampai Savea tahu akan hal ini. Aku tidak mau dia semakin menjauh dariku." Savea mengepalkan erat tangannya, apakah mereka berdua akan mengkhianatinya? Apakah Satya akan termakan rayuan Ana?
" Siap, aku akan merahasiakan ini baik dari Savea mau pun dari Meta dan Roni. Ini akan menjadi rahasia kita berdua saja."
" Ya sudah aku tutup teleponnya, bye. Sampai jumpa nanti."
" Oke bye Satya, i love you."
Tahu Satya telah mematikan teleponnya, Savea segera pergi dari tempat itu, ia kembali ke dapur untuk menyelesaikan acara masaknya. Tangannya sibuk menata makanan di atas meja namun pikirannya melayang entah kemana.
" Aku tidak pernah menyangka jika Ana bisa mengkhianati sahabatnya. Aku tidak peduli kalau Ana sudah tahu identitas ku yang sebenarnya. Mas Satya tetap milikku, tetap milik Savea. Aku akan melihat sampai mana Ana menggoda mas Satya. Kalau sampai dia melewati batas, maka aku akan bertindak. Aku tidak mau membuat kecewa Savea karena telah kehilangan mas Satya. Semoga mas Satya mampu menjaga kesetiaannya. Jika tidak, aku juga tidak bisa berbuat apa apa. Mungkin memang takdir mereka hanya sampai di sini." Monolog Savea. Tiba tiba ia teringat Xaver.
" Rupanya benar kata mas Satya, sampai sekarang aku belum bisa mencintainya karena ada nama Xaver di dalam hatiku."
TBC....