Cerita ini diangkat dari sudut pandang yang bebeda, dengan alur kehidupan sehari-hari.
Dan menyebabkan kebaperan. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini.
Amanda, gadis cantik dan lembut. Harus terikat hubungan terlarang dengan pria beristri yang bernama Satria. Berawal dari pertemuan tak sengaja dan hutang budi, akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menjalin hubungan yang tak semestinya.
Akankah mereka bersatu? Atau malah berpisah.
IG : nona_vie90
FB : Nevi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Hari ini aku sedikit tidak bersemangat, karena mengobrol dengan ayah sampai larut malam, aku menjadi kurang tidur, rasa kantuk masih setia menetap di mataku. Tapi aku harus tetap berangkat bekerja, begitu aku membuka pintu apartemen, netraku langsung menangkap sosok tampan Satria sedang tersenyum. Ya ampun, lelaki ini mengagetkanku saja!
"Selamat pagi, Amanda." Satria menyapaku dengan suara berat khas lelakinya yang selalu terdengar merdu ditelingaku.
"Satria ...? Kenapa berdiri disini?" Tanyaku bingung, ada-ada saja tingkah lelaki ini, kenapa tidak mengetuk pintu sih?
"Aku baru saja datang kok! Yuk, ke kantor!" Satria mengajakku. Tapi aku masih terdiam ditempatku.
"Sat, sebaiknya kita jangan sering terlihat bersama! Kau sendiri yang mengatakan aku harus bersikap layaknya bawahan dengan atasan, tapi jika kita terlihat datang dan pulang bersama, itu sama saja mengundang kecurigaan karyawan lain. Seperti kemarin, aku takut Shinta curiga. Bukankah kau tak inginkan ada gosip miring tentang kita di kantor?" Aku memperingati Satria. Untuk apa memintaku bersikap biasa saja kalau nyatanya dia sendiri tak bisa bersikap demikian.
"Kau benar juga! Tapi dengan siapa kau akan pergi dan pulang kerja?" Satria membenarkan kata-kataku. Tapi di detik berikutnya dia mencemaskan aku. Ya ampun Satria, memangnya di dunia ini tak ada alat transportasi apa? Aku masih bisa naik bus atau ojek online, jalan kaki juga aku sanggup. Kenapa mencemaskanku begitu sih?
"Jangan khawatir! Aku bisa naik kendaraan umum atau ojek online. Kau tenang saja!"
"Jangan ...! Jangan naik ojek online! Aku tidak suka kau berboncengan dengan lelaki lain! Naik bus saja!" Apa-apaan sih lelaki ini, memangnya kenapa kalau aku berboncengan dengan driver ojek online? Mereka juga tidak tertarik denganku yang burik ini. Terus kalau naik bus, aku juga bisa saja duduk bersebelahan dengan lelaki lain. Apa dia tidak berfikir kesitu?
"Ya sudah, naik bus saja!" Ucapku malas. Iyakan sajalah kata-katanya, dari pada makin panjang.
"Eh ... jika naik bus, bisa saja ada lelaki yang duduk disebelahmu. Kalau begitu jangan naik bus juga!" Akhirnya dia sadar juga! Benar-benar deh lelaki yang satu ini! Maunya apa sih?
" Satria ... cukup! Hentikan membahas hal yang tak berfaedah ini! Kita bisa telat!" Kesabaranku benar-benar habis mengahadapi kekonyolan Satria.
"Aku cuma ingin kau aman saja di jalan."
"Ya sudah aku naik taxy saja!" Puas ... puas ...? Bisa kupastikan gajiku habis untuk biaya ongkos taxy saja. Terserahlah, yang penting Satria berhenti membahas ini.
"Keputusan yang tepat! Yuk, aku akan menunggu sampai taxymu datang." Akhirnya aku bisa berangkat ke kantor juga. Dasar Satria, ada-ada saja ulah lelaki ini! Tapi jujur, aku merasa senang jika dia perhatian begini kepadaku, dia tak ingin aku dekat dengan lelaki lain, itu berarti dia cemburu kan?
Apa ini yang dinamakan hubungan tanpa status? Meskipun tak ada kepastian, dia memperlakukan aku dengan begitu spesial. Tapi apa semua ini akan bertahan lama? Bagaimana jika suatu saat dia pergi meninggalkanku begitu saja? Lalu aku harus menganggap dia apa?
***
Aku sudah tiba di gedung Wijaya Grup, tentunya dengan menaiki taxy. Dan Satria, dia sudah masuk ke ruangannya setelah memastikan aku sampai ke kantor dengan selamat sentosa.
"Selamat pagi, Amanda." Shinta menyapaku dengan senyum ramahnya saat aku tiba di meja kerjaku.
"Pagi, Shin." Jawabku tak bersemangat. Aku masih mengantuk sekali, mataku berat.
"Kau kenapa? Sakit ya?" Shinta mendadak cemas. Gadis ini meletakkan punggung tangannya di dahiku.
"Tidak, aku hanya kurang tidur tadi malam." Ucapku malas sambil meletakkan pipiku di atas meja.
"Kenapa, memikirkan pak Satria karena sudah mengantarkan pulang ya? Memang kalian kemana lagi?" Shinta meledekku. Aku sontak menegakkan kepalaku dan memandang ke arah gadis itu.
"Ssstt ... apaan sih kamu? Nanti ada yang dengar, jadi gosip loh!" Aku melotot ke arah Shinta. Dan gadis itu hanya terkekeh.
"Ih ... Amanda jangan melotot begitu! Seram tahu! Aku kan cuma bercanda." Shinta mendorong pipiku agar berpaling darinya. Gadis ini menggemaskan juga.
"Habisnya kamu bicara yang tidak-tidak! Kalau ada yang dengar kan bisa jadi gosip!" Aku mengomel. Aku tahu kedua orang wanita yang juga satu team dengan kami sedang menguping pembicaraan aku dan Shinta, mereka melirik sinis ke arahku. Entah apa yang ada difkkiran mereka.
"Eh ... tapi aneh juga deh, seumur-umur baru ini loh pak Satria mau mengantarkan karyawannya pulang. Trus dia bisa tahu nama kamu, padahal kamu kan anak baru. Sedangkan anak lama saja banyak yang dia tak tahu namanya. Anehkan?" Kali ini Shinta berbicara dengan berbisik ditelingaku. Itu kan benar kataku, Shinta menjadi curiga. Ini semua gara-gara Satria.
"Ehem ... ini tempat kerja! Bukan tempat bergosip!" Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan aku dan Shinta. Iya, siapa lagi kalau bukan sekretarisnya Satria yang sombong dengan wajah yang dibedaki tebal seperti kue mochi.
"Iya, bu ... maaf." Ucapku dan Shinta sambil tertunduk. Memangnya apa lagi yang bisa kami katakan selain itu?
Dan sekretaris Satria itu berlalu dengan gaya angkuhnya, baru juga jadi sekretaris sudah sombong, belum lagi jadi istri Satria. Dasar wanita berwajah dempulan!
"Manda, nanti kita pulang bareng ya, soalnya nanti aku di jemput sepupuku. Dia baru beli mobil baru, kan lumayan hemat ongkos." Shinta yang tak tobat masih berbisik kepadaku. Dan aku hanya mengangguk, malas menjawabnya.
Pekerjaan pun dimulai, semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, fokus dan serius ... itu yang dilakukan semua orang disini. Tak ada canda tawa saat jam kerja berlangsung, perusahaan ini sangat disiplin.
***
Berakhir juga hari melelahkan ini, tak terasa sudah sore dan saatnya pulang. Aku dan Shinta telah berada di parkiran gedung Wijaya Grup, kami sedang menunggu kedatangan sepupunya Shinta yang katanya akan menjemput. Sebenarnya aku sedikit sungkan menumpang di mobil sepupunya itu, tapi Shinta memaksaku, setelah aku fikir-fikir, lumayan juga buat hemat ongkos taxy.
Sebuah mobil sport keluaran terbaru berwarna merah berhenti tepat di depan aku dan Shinta, kelihatan sekali mobil ini masih baru, bodynya saja kilat sekali, aku sampai bisa bercermin disana. Lalu pintunya terbuka dan seorang pria yang sangat aku kenal keluar dari dalam mobil mewah itu.
"Evan ...?" Aku terperangah dengan mata yang membulat sempurna, aku tak menyangka jika pemilik mobil itu adalah Evan.
"Amanda ...? Kau bekerja disini juga? Kebetulan sekali." Evan segera melangkah mendekatiku dengan senyum yang mengembang.
"Loh, kalian sudah saling kenal?" Tanya Shinta bingung.
"Maksudnya?" Aku menautkan alisku menunggu jawaban Shinta.
"Evan ini sepupuku, Manda." Aku benar-benar terkejut bukan main mendengar kata-kata Shinta. Sempit sekali dunia ini, kenapa aku barus bertemu lelaki ini lagi?
"Benarkan apa kataku? Kita pasti bertemu lagi!" Evan tertawa girang.
"Kalian kenal dimana?" Shinta mulai penasaran.
"Dia mantanku dulu." Evan menjawab dengan cepat sebelum aku mengatakan apa-apa. Cihh ... bangga sekali dia menggelariku mantan.
Aku hanya menghela nafas, hilang nafsuku untuk berkata-kata lagi. Dan mendadak jantungku berdetak tak karuan saat melihat mobil Satria melintas di hadapan kami dan berlalu pergi begitu saja dari parkiran gedung Wijaya Grup, perasaanku kenapa jadi tak enak begini ya?
***
sukses
semangat
mksh