Bijaklah dalam memilih tulisan!!
Kisah seorang penulis online yang 'terkenal lugu' dan baik di sekitar teman-teman dan para pembaca setianya, namun punya sisi gelap dan tersembunyi—menguntit keluarga pebisnis besar di negaranya.
Apa yang akan di lakukan selanjutnya? Akankah dia berhasil, atau justru kalah oleh orang yang ia kendalikan?
Ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alensvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
...****************...
Pagi itu, mentari mengintip malu-malu dari balik tirai, menyinari kamar Aresya yang sepi dan dingin. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
Kamar itu masih sama seperti malam sebelumnya—hening dan sunyi. Tak ada suara langkah kaki, tak ada aroma kopi, dan tak ada ketukan lembut di pintu. Arion belum pulang.
Dengan napas panjang, Aresya duduk di tepi ranjang, menatap pintu yang tertutup rapat. Senyumnya tipis, namun bukan karena bahagia—melainkan karena rasa penasaran yang makin membara.
Dia sungguh menghindar.
Tangannya meraih ponsel di nakas. Ia membuka layar pesan, mengetik dengan hati-hati. Kali ini, tanpa nada manja, tanpa kesan pribadi. Formal. Dingin. Layaknya dua orang asing yang hanya terikat kontrak di atas kertas.
Aresya:
Arion, bolehkah aku ke kantormu hari ini? Aku sedang mengerjakan karya baru tentang dunia perkantoran dan perusahaan besar. Aku ingin meriset langsung tentang itu.
Namun jika kamu tidak nyaman aku berada di sana, tak apa. Terima kasih.
Dikirim.
Aresya meletakkan ponsel di pangkuannya, menatap kosong ke luar jendela. Wajahnya tenang, namun matanya penuh perhitungan.
Jika Arion terus menjauh, dia akan terus mendekat.
Bukan untuk cinta.
Tapi untuk memenangkan permainan.
Beberapa menit setelah pesan itu terkirim, ponsel Aresya bergetar pelan di pangkuannya.
Satu balasan masuk.
Arion:
Boleh. Tapi jangan ganggu pekerjaan siapa pun. Jangan membuat keributan. Aku akan beri tahu resepsionis.
Aresya tersenyum tipis.
Seformal itu, ya?
Ia tak membalas lagi. Tak perlu. Balasan Arion sudah cukup membuatnya melangkah ringan ke kamar mandi untuk bersiap.
Namun dalam hatinya, Aresya menyimpan banyak rencana. Hari ini bukan sekadar riset. Hari ini adalah langkah kecil untuk kembali menyusup ke dalam kehidupan Arion—perlahan tapi pasti.
Sementara di kantor…
Arion menatap layar laptopnya dengan tatapan kosong setelah mengirim balasan itu. Jari-jarinya mengepal pelan di atas meja. Entah kenapa, ia merasa seperti sedang membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup rapat.
"Bodoh," gumamnya lirih.
"Kenapa aku izinkan dia datang?"
Namun ia tahu jawabannya.
Dia hanya tak ingin mengakuinya.
...****************...
Pukul sebelas siang, pintu kaca lobi perusahaan terbuka. Seorang wanita berambut panjang dengan coat krem elegan dan tas kerja tipis di lengannya melangkah masuk. Aresya Camaro—dengan laptop di dalam tasnya dan ekspresi tenang yang menyimpan sejuta maksud.
Resepsionis yang sudah diberi instruksi sebelumnya langsung berdiri dan tersenyum.
“Silakan naik, Nona Aresya. Ruang CEO ada di lantai tiga puluh.”
“Terima kasih,” jawab Aresya dengan anggukan kecil, lalu melangkah menuju lift.
Di dalam lift, ia membuka ponselnya dan mengecek pesan terakhir dari Arion.
“Silakan datang. Jangan ganggu pekerjaan staf.”
Ia terkekeh kecil, menyelipkan ponselnya lagi.
“Tenang saja, yang ingin kuganggu hanya kau,” gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan licik pada dirinya sendiri.
Begitu sampai di lantai atas, kesunyian menyambutnya. Ruang luas, desain modern, dengan kaca-kaca tinggi dan warna netral. Dingin. Sama seperti Arion.
Ia mengetuk pintu kaca bertuliskan CEO – Arion Camaro, lalu menunggu.
“Masuk,” suara itu dalam dan datar.
Aresya membuka pintu dan melangkah masuk. Arion duduk tegap di balik meja kerjanya, matanya menatap layar komputer. Tak menoleh.
“Terima kasih sudah mengizinkan,” ucap Aresya sambil menurunkan laptop dari lengannya dan memeluknya ke dada.
“Duduklah di sofa. Jangan terlalu mencolok. Aku tak ingin ada rumor aneh beredar,” ucap Arion dengan suara datar, tetap menatap layar.
“Baik, Pak CEO,” sahut Aresya pelan, lalu berbalik ke arah sofa hitam dekat jendela besar.
Ia meletakkan laptopnya di pangkuan, menyalakannya, lalu mulai mengetik beberapa hal di dokumen riset. Tatapannya tampak serius. Tapi sesekali matanya mengarah ke arah Arion. Mengamati. Memperhatikan. Menganalisis.
Sementara Arion, meskipun terlihat fokus dengan dokumen di layar, pikirannya melayang.
"Dia datang hanya untuk riset? Atau hanya untuk merusak sisa pertahananku yang masih utuh?"
Dan saat tak sengaja menoleh—mata mereka bertemu. Tatapan tajam itu mengiris ruang. Aresya tersenyum pelan, lalu kembali mengetik.
Arion buru-buru mengalihkan pandangan.
Menghela napas pelan.
Mencoba tenang.
"Perempuan ini... benar-benar menyebalkan." batinnya.
Tapi dadanya justru semakin sesak. Dan ruangan itu terasa lebih panas dari biasanya.
...****************...
Office girl itu melangkah masuk dengan nampan berisi dua gelas kopi dan sebotol air mineral. Penampilannya cukup mencolok untuk seseorang yang bekerja di balik dapur kantor. Kemeja putih ketat yang dikenakannya terbuka dua kancing atasnya, menampakkan lekuk dadanya dengan jelas. Rok span ketatnya juga sedikit terlalu pendek untuk ukuran lingkungan kerja profesional.
Aresya menoleh perlahan dari balik laptopnya, pandangannya naik turun menilai si gadis tanpa sedikit pun menyembunyikan rasa tak suka. Arion masih sibuk membaca dokumen, bahkan tak menyadari ketegangan kecil yang sedang terbentuk.
“Permisi, ini pesanannya, Pak Arion,” ucap si office girl dengan suara lembut dan senyum manis yang… agak terlalu manis.
Arion hanya menjawab tanpa mengangkat wajah.
“Taruh saja di meja.”
Gadis itu menuruti dengan anggukan, namun tatapannya melirik Aresya sejenak—entah sadar atau tidak bahwa ia sedang diperhatikan dengan sorotan tajam.
Aresya menutup laptopnya perlahan, lalu bersuara dengan nada datar yang penuh sindiran.
“Apa pakaian kamu memang seperti itu, atau sengaja menggoda suami orang?”
Gadis itu sontak menoleh dengan mata membulat, panik. “Maaf, Bu... saya tidak bermaksud—”
Aresya berdiri dari sofa, berjalan pelan ke arahnya. Wajahnya tetap tenang, namun caranya memandang membuat siapa pun akan ciut.
“Kamu office girl, bukan pramugari pribadi. Jaga penampilanmu. Ini kantor besar, bukan panggung audisi,” bisiknya tajam.
Gadis itu buru-buru membungkuk, meletakkan nampan dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu cepat-cepat keluar dari ruangan tanpa berani menoleh lagi.
Aresya menghela napas ringan, lalu kembali ke sofa dan membuka laptopnya.
“Perlu pelatihan etika kerja, sepertinya,” gumamnya, cukup lantang untuk didengar Arion.
Arion masih tak menoleh. Tapi rahangnya menegang. Dan, meskipun tak memperlihatkan apa pun… ada rasa aneh di dadanya. Seperti… bangga.
Arion akhirnya meletakkan dokumen di tangannya. Sorot matanya tajam saat menatap Aresya, tapi di balik nada suaranya yang dingin, ada sedikit rasa geli yang tak ia tampakkan. Senyum kecil nyaris terbit di ujung bibirnya, namun ia menahannya.
"Ini perusahaanku," katanya pelan, seolah menyelidik.
"Kenapa kamu ikut campur?"
Dalam hati, ia merasa anehnya senang. Aresya… cemburu? Setidaknya itulah yang terpikir olehnya. Wanita itu benar-benar sulit ditebak, tapi jika itu berarti dia mulai peduli, Arion menganggap itu sebagai awal yang baik.
Namun…
Aresya yang awalnya masih sibuk menatap layar laptopnya, perlahan menoleh. Matanya tajam dan senyumnya tipis, hampir seperti tak menganggap serius kalimat Arion barusan. Ia berdiri perlahan, lalu berjalan santai ke arah jendela besar.
"Ah… maaf," ucapnya dengan nada ringan namun sengaja menampar.
"Lain kali aku akan membiarkan orang lain menggodamu… dan aku juga akan melayani orang yang menggodaku."
Ia menoleh sebentar, menatap Arion dengan sorot tajam penuh permainan.
"Supaya adil, kan?"
Arion membeku. Wajahnya yang semula santai perlahan berubah. Senyum kecil yang tadi sempat ingin muncul kini sirna total.
Sial.
Ternyata rasa senangnya barusan malah berbalik jadi senjata makan tuan.
.
.
Next 👉🏻
gitu gak sih thor? salah satu tujuannya? 🤔