Info novel ada di ig syifa_sifana
Kelanjutan dari novel Terpaksa Menikahi Mantan
Niat kembali ke tanah air untuk melanjutkan kuliah, namun malah menguakkan sebuah rahasia besar.
Pertemuan yang tak disengaja membuat mereka saling memusuhi karena sebuah kejadian yang memalukan. Bersumpah tak ingin mengenal malah terjerat sebuah ikatan.
Inilah lika liku sepasang kekasih yang mejilat air ludahnya sendiri.
Bila cinta sudah berbicara, seberapa hebat dan sombongnya kamu maka akan tunduk pada orang yang kamu cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Hujan tak kunjung reda. Melisa pun tak tega menyuruhnya untuk pulang. Akhirnya Melisa mengizinkan Raka untuk tidur di rumahnya, tapi ia hanya mengizinkan Raka untuk tidur di sofa. Tanpa membantah Raka pun mengikuti ucapannya.
Suasana menjadi sepi, Amel keluar dari kamarnya dan melihat Raka sedang berbaring di atas sofa dengan menatap ponsel di tangannya. Perlahan Amel jalan menghampirinya.
“Om, masih belum tidur?” Raka terkejut dan langsung duduk.
“Kamu kenapa belum tidur jam segini?” tanya Raka menatap Amel.
“Aku bangun karena kehausan. Oh ya, boleh aku duduk di samping Om?”
“Boleh, boleh, boleh. Ayo duduk di sini!” ucap Raka menepuk kursi di sampingnya. Amel tersenyum kecil, lalu duduk di sampingnya.
Amel masih terlihat kaku dan bingung harus memulai dari mana.
“Bagaimana kuliahmu?” tanya Raka mulai mencairkan suasana.
“Alhamdulillah lancar. Oh ya aku mau tanya sesuatu sama Om,” ucap Amel mulai serius.
“Mau tanya apa?”
“Sebenarnya aku ingin tau kenapa Om menyakiti Mommy? Apa kesalahannya?” tanya Amel menatapnya serius.
Raka menghirup dalam nafasnya dan mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Amel. (Novel Terpaksa Menikahi Mantan)
Amel mendengar dengan serius tanpa ingin melewati satu katapun yang disampaikan Raka padanya.
“Jadi itu yang sebenarnya yang terjadi. Hanya saja Papa belum sempat mengatakan yang sebenarnya pada Mommy,” ujar Raka.
“Jika memang Om tidak mencintai tante Marisa, kenapa Om mau tidur dan memiliki anak dengannya?” tanya Amel penasaran.
“Untuk saat ini kamu belum tau apa yang Papa rasakan saat itu. Tunggu setelah kamu menikah maka kamu akan mengetahui semuanya.”
“Kenapa? Bahkan Mommy saja bisa menahan dirinya dari lelaki bahkan 20 tahun, sedangkan Om, hanya beberapa bulan saja sudah langsung tidak bisa menahan diri.”
“Itulah perbedaannya, Nak. Kamu tau lelaki? Lelaki yang sudah pernah melakukan hubungan suami istri, jika melihat wanita seksi di depannya, maka dengan sendirinya nafsu itu akan muncul dan saat itu Papa gak bisa menahan semua itu,” jelas Raka memberi pengertian.
Amel tergeming dan mulai mencerna semua penjelasan Raka. “Terus sekarang Om sudah bahagia, kan? Pastinya Om tidak butuh kami lagi,” ucap Amel langsung to the point.
“Kebahagian Papa hanya terletak pada kalian. Papa sangat ingin kita berkumpul kembali seperti sebuah keluarga utuh,” ujar Raka tulus.
“Aku rasa itu tidak mungkin, Om. Kami sudah terbiasa hidup tanpa kehadiran sosok papa disisi kami. Jadi sebaiknya Om kembali pada keluarga baru Om, dan tolong jangan usik lagi kehidupan kami!” Amel mengakhiri ucapannya dan beranjak pergi.
Raka terdiam sambil menekuk wajahnya untuk menutupi tangisannya. Raka mengutuki dirinya sendiri atas semua yang telah tejadi. Ia mulai berandai-andai, tapi semuanya telah terjadi. Waktu tak dapat diputar kembali, tapi ia hanya bisa berharap suatu saat nanti ia masih diberi kesempatan untuk menebus semua kesalahannya dulu.
Sesaat kemudian Raka bangun dan beranjak pergi. Tak peduli dengan seberapa derasnya hujan, tekadnya sudah kuat untuk meninggalkan rumah itu. Tuhan menjadi saksi atas rapuhnya perasaan ini.
Mendengar suara mobil, Amel langsung berdiri di depan jendela. “Maafkan aku Papa. Mungkin ini yang terbaik untuk kita semua. Aku tidak ingin melihat Mommy kembali bersedih dengan kehadiran Papa,” lirih Amel.
...****************...
Sejak saat itu, Raka tak lagi pergi menemui Melisa dan anak-anaknya, bahkan ia juga tidak pulang ke rumahnya. Raka memilih untuk menyendiri. Semua keluarganya menjadi panik, terutama Velly. Pikirannya sudah tertuju pada Melisa yang telah merebut Raka darinya. Tanpa sepengetahuan orang-orang rumah, Velly bergegas mendatangi rumah Melisa.
Hanya berbekal google map, kini Velly sudah tiba di rumah Melisa. Ia mengedarkan pandangan sambil berjalan ke arah pintu masuk.
Ting ... Tong ...
Suasana rumah yang sedang sepi, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi membuat Mera bingung, lalu berjalan membukakan pintu.
Krek ...
“Dimana papa gue?” tanya Velly meninggikan suaranya.
“Papamu? Siapa?” Mera bingung. Ia sama sekali tidak terlintas nama Raka di dalam pikirannya.
“Lo gak usah berlagak **** ya, dimana papa gue?” Velly menantapnya tajam.
“Di sini tidak menyediakan penginapan untuk lelaki. Jadi silakan kamu pergi dan cari papamu di tempat lain,” tegas Mera membalas dengan tatapan tajam.
“Minggir lo!” Velly mendorong Mera, lalu masuk ke dalam.
“Hei, dimana attitude-mu saat bertamu ke rumah orang?” tanya Mera meninggikan suaranya.
“Pa, papa!” teriak Velly memanggil-manggil papanya.
Mera mendengus kasar dan membiarkan Velly memanggil-manggil papanya. Ternyata Velly tidak hanya berteriak, bahkan ia ingin menggeledah rumah itu.
“Hei, kamu mau kemana?” tanya Mera menghalanginya.
“Gue mau cari papa gue,” jawabnya.
“Kamu ini gak ngerti bahasa atau bagaimana? Kan udah aku bilang di sini tidak ada papamu. Lagian kamu ini siapa sih? Bertindak seperti orang gila,” cerocos Mera kesal.
“Gue Velly anak papa Raka, kenapa?” ketusnya.
Mera terkejut. “Oh, jadi kamu Velly. Hmm ... pantesan gak ada akhlak. Bertamu ke rumah orang seperti orang gila,” ucap Mera menyelanya.
Plak ...
Emosi Velly mampu menghantarkan tamparan keras di pipi Mera. Mera semakin emosi dan membalas tamparan Velly. Tidak hanya itu, Mera juga menyeretnya keluar. Tak terima dengan perlakuan Mera, Velly langsung menarik hijab Mera.
“Kamu itu wanita ******, sama seperti ibumu yang sudah merebut papa dan kakak ku.” Kalimat hinaan terdengar di telinga Kiano, Melisa dan Kiara yang baru saja pulang dari rumah sakit. Kiano dengan penuh emosi datang menghampirinya.
“Lepaskan tangan kotormu itu!” ucap Kiano sambil menyingkirkan tangan Velly dari tangan Mera.
“Kakak,” ucap Velly tersenyum.
“Jangan pernah panggil aku kakak. Karena aku tidak memiliki adik sepertimu,” ucap Kiano meninggikan suaranya.
“Kakak! Kenapa Kakak ngomong seperti itu? Aku ini Velly, adik satu-satunya Kakak.”
“Pak Fandi, tolong usir dia dan jangan biarkan dia datang ke sini lagi!”
“Kakak, kakak, jangan seperti ini! Aku adik Kakak, bukan wanita ****** itu. Mereka telah menghancurkan keluarga kita, bahkan papa juga gak pernah pulang lagi ke rumah,” ujar Velly memohong.
Kiano menggertakkan giginya dengan menggepalkan tangannya seakan ia ingin melahap Velly. “Dengar ya! Wanita yang kamu anggap wanita ****** itu Mommy-ku dan juga adik-adikku.”
“Pak Fandi, cepat seret dia!” titah Kiano meninggikan suaranya.
“Baik, Den.” Pak Fandi langsung menjalankan tugasnya meskipun Velly meronta-ronta.
Melisa sangat syok dengan apa yang terjadi. Pertengkaran kembali terjadi, bahkan kalimat hinaan yang belum pernah terdengarpun harus keluar dari mulut anak tirinya. Sungguh sangat menyayat hati. Tubuh Melisa menjadi lemas tak bertenaga.
“Mommy, are you ok?” tanya Amel khawatir.
“Sebaiknya Mommy kita bawa masuk ke dalam,” ucap Kiano.
Itu bersaudara.
panggilan itu, aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
jika aku merindukannya aku sangat berdosa, tp apa yg harus aku lakukan? maafkan aku tuhan, i really miss him:')