" Meskipun gue sering gonta ganti cewek, tapi lo harus tahu, Cinta dan sayang gue cuma buat lo." Aldo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Hari ini Aldo sudah siap dengan tampilannya. Celana jeans hitam panjang yang dipadukan dengan kaos putih lengan pendek, dan jam tangan untuk menyempurnakan tampilannya. Tidak perlu berlebihan untuk tampil keren dan tampan, cukup dengan pakaian yang sederhana seperti itu pun Aldo sudah terlihat sempurna. Tidak kalah dari artis-artis korea pujaan remaja jaman sekarang.
“Mau kemana Al?” TanyaMesya, sang Mama.
“Mau jemput calon mantu Mama.” Jawab Aldo dengan senyum cerah.
“Maksud kamu Nana?” Tanya Anjar, sang Papa. Aldo mengangguk meng’iya’kan.
“Emang udah balikan?” Tanya Mesya dengan nada mengejek. Senyum Aldo yang merekah perlahan memudar mendengar pertanyaan mengejek dari sang Mama. Aldo menggeleng lesu dengan raut wajah mendung.
“Tapi Aldo yakin kok, Nana bakalan jadi pacar Aldo lagi secepatnya. Kalau bisa jadi istri Aldo sekalian.” jawab Aldo percaya diri.
“Emang Nana masih mau sama kamu? Bukannya Nana lagi deket sama laki-laki yang lebih baik segalanya dari kamu?” Tanya sang Mama kembali meledek.
“Mamaku sayang, sebenarnya anak Mama itu siapa sih? Tega banget sama aku. Aku ini lagi berjuang kembali untuk mendapatkan seorang Narana Agatha Titania, harusnya Mama dukung aku, bukannya malah ledekin aku terus,” ucap Aldo sedikit kesal kepada sang Mama. Mesya hanya terkekeh geli, sedangkan Anjar hanya menggelengkan-gelengan kepalanya melihat tingkah Ibu dan anak itu.
“Ya udah ah, aku mau jemput princess dulu. Mama sama Papa jangan kemana-mana!” Aldo memperingati.
“Loh kok gitu? Kenapa Mama sama papa gak boleh kemana-mana?” tanya Mesya bingung.
“Karena aku bilang kalau Mama yang nyuruh Nana main kesini. Padahal itu cuma alesan aku aja, biar Nana mau kesini.” Jawab Aldo cengengesan, lalu lari keluar rumah sebelum sang Mama kembali mengomelinya.
Sekitar tiga puluh menit akhirnya Aldo sampai di depan rumah Nana. Aldo mematikan mesin motornya, berjalan menuju pintu utama rumah tersebut dan mengetuk pintunya sambil mengucapkan salam. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya suara pintu terbuka membuat senyum Aldo terbit.
“Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarrokatu. Selamat pagi menjelang siang Bunda,” ucap salam Aldo dengan cengengesan. Irma tersenyum dan membalas salam murid sekaligus mantan kekasih anak bungsunya itu lalu mempersilahkannya masuk.
“Bunda, Aldo izin ajak Nara kerumah ya. Mama kangen sama Nara katanya,” ucap Aldo dengan sopan.
“Mama apa kamu yang kangen sama Nara?” Goda Irma.
“Mama sama papa kangen sama Nara, Bunda, tapi Aldo lebih kangen lagi.” jawab Aldo cengengesan. Irma hanya tersenyum menanggapi ucapan remaja dihadapannya itu.
“Kamu mau minum apa? Biar bunda buatin.” Tanya Irma.
“Gak usah Bunda, nanti aja.” Tolak Aldo sesopan mungkin. Irma mengangguk dan tersenyum.
“Bunda, sebenarnya Aldo mau minta izin sama Bunda,” ucap Aldo hati-hati. Irma menaikan satu alisnya.
“Izin apa?” Tanya Irma penasaran.
“Aldo pengen balikan lagi sama, Nara. Jujur Aldo masih sayang sama Nara, Bunda
Aldo nyesel udah nyakitiin perasaan Nara. Aldo pengen memperbaiki kesalahan yang pernah Aldo buat. Dan Aldo janji untuk tidak melakukan kesalahan seperti itu lagi, dan menyakiti hati Nara,” ucap Aldo dengan sungguh-sungguh.
Tanpa keduanya sadari Nana sudah berada dibalik tembok yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang keluarga tempat dimana Nana berdiri mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut mantan kekasihnya itu. Tanpa dirinya sadari air matanya menetes, terharu dengan kesungguhan Aldo yang masih menginginkan dirinya dan berani meminta izin langsung kepada orang tuanya.
“Nak, Bunda sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Kamu dan juga Nara kini sudah besar, sudah beranjak dewasa, Bunda yakin kalian bisa menyelesaikan masalah kalian. Cobalah kamu bicara sama Nara. Bunda yakin, dia juga masih memiliki perasaan yang sama seperti kamu. Apapun keputusannya nanti Bunda pasti dukung, dan Bunda harap kamu juga bisa menerima keputusan Nara, apapun yang nanti terjadi,” ucap Irma lembut. Aldo tersenyum dan mengangguk semangat. Setidaknya ia sudah mendapatkan restu dari orang tua gadis yang dicintainya itu. Hanya tinggal meyakinka Nana saja.
Setelah tangisnya reda Nana kembali kekamar untuk mencuci wajahnya dan memperbaiki riasannya agar tidak ketahuan bahwa dirinya habis menangis. setelah itu Nana dengan wajah ceria menghampiri keduan orang beda generasi itu diruang tamu. Aldo tersenyum melihat kedatangan Nana yang kini terlihat ceria menambah kecantikan gadis itu dimata Aldo.
“Kamu udah siap?” Tanya Irma pada anak gadisnya itu. Nana menganggukan kepalanya.
“Kalian berangkat gih, nanti Mamanya Aldo nunggu kelamaan,” ucap Irma lembut.
“Ya udah Bunda, Aldo pinjam Naranya sehari ya, nanti Aldo balikin lagi sama Bunda dengan selamat,” ucap Aldo sedikit bercanda.
“Pinjam-pinjam, emangnya Gue barang apa!” Dengus Nana, membuat Aldo dan Irma terkekeh geli.
“Ya udah Bun, aku berangkat dulu” Pamit Nana lalu menyalami tangan sang bunda dan mencium kedua pipi wanita yang disayanginya itu bergantian.
“Hati-hati, Al jangan ngebut-ngebut bawa motornya!” Teriak Irma.
“Siap Bunda.” Balas Aldo. lalu melajukan motornya meninggalkan pelataran rumah Nana.
Di sepanjang perjalanan Nana dan Aldo tidak hentinya mengobrol dan bercanda. Aldo tidak hentinya melontarkan gombalan kepada Nana membuat Nana beberapa kali melayangkan cubitan pada pinggang mantan kekasihnya itu dan menyembunyikan wajahnya yang memerah dibalik punggung Aldo yang masih pokus menyetir. Aldo terkikik geli dengan tingkah mantan kekasihnya itu. ralat, calon istri. Nana memanglah perempuan yang cuek dan terkesan dingin tapi jangan lupakan bahwa ia juga wanita yang akan merona wajahnya jika mendapat gombalan-gombalan manis dari orang yang dicintainya.
“Nara, lo mau gak nikah sama gue? Jadi istri gue dan jadi Ibu buat Anak-anak gue nanti,” ucap Aldo saat berhenti di lampu merah. Nana yang masih menyembunyikan wajahnya di balik punggung Aldo mendadak mendongakkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Na?” panggil Aldo. Nana tersadar dari lamunannya dan mengalihkan pandangannya kearah Aldo.
“Jalan, Do udah lampu hijau,” ucap Nana cepat sebelum Aldo sempat mengeluarkan suaranya kembali. Aldo kembali melajukan motornya, kini dalam keadaan hening. Aldo dengan pikirannya begitupun Nana yang juga dengan pikirannya.
Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai didepan rumah orang tua Aldo. masih dalam keadaan canggung Nana turun dari motor dan melepaskan helmnya. Berjalan memasuki rumah yang sudah lumayan lama tidak ia datangin semenjak putus dengan Aldo.
“Assalamualaikum,” ucap salam Nana saat membuka pintu utama rumah itu. Aldo yang perada dibelakangnya tersenyum tipis melihat kecanggungan mantan kekasihnya itu saat membuka pintu rumah orang tuanya itu.
“Waalaikum salam! Eh Nana udah datang, ayo masuk, Nak. Gimana kabar kamu sayang?” Tanya Mesya Ramah.
“Alhamdulilah Nana Baik, Ma gimana kabar Mama?”
“Allhamdulilah Mama juga baik sayang. Tapi anak Mama yang gak baik-baik aja." Mesya menuntun Nana menuju Ruang tengah dimana Anjar berada.
“Maksud Mama, Aldo? emangnya dia kenapa Ma, Nana liat dia baik-baik aja kok,” tanya Nana dengan raut wajah heran.
“Iya di luarnya memang baik-baik aja, tapi dalemnya berdarah,” ucap Anjar. Aldo yang menjadi bahan obrolan kedua orang tuanya menatap dengan sinis.
“Loh kenapa? Kok Nana gak tau, apanya yang berdarah?” Tanya Nana khawatir.
“Hatinya.” jawab Mesya dan Anjar bersamaan. Nana menghela napasnya lega. Ia tidak sadar akan hal yang di ucapkan orang tua mantan kekasihnya. Sedangkan Aldo mendengus kesal.
Mesya dan Anjar tersenyum tipis saat melihat raut khawatir dari mantan kekasih anaknya itu. mereka yakin bahwa gadis yang kini berada dihadapannya itu masih memiliki perasaan yang sama seperti anaknya, gadis itu hanya membutuhkan waktu untuk memulai kembali semuanya. Mesya dan Anjar berharap bahwa kelak Nana lah yang akan menjadi pendamping anaknya di sisa hidupnya.
Aldo sedari tadi memperhatikan Nana yang tengah mengocok adonan untuk kue kering bersama sang mama. Ia bersyukur karena senyum manis gadis yang dicintainya itu masih dapat ia lihat hingga saat ini. perasaan menyesal kembali menggerogoti hatinya saat mengingat betapa jahatnya ia menyakiti hati gadis sebaik Nana.
“Aldo?” Pangilan dari Anjar membuyarkan lamunannya.
“Kenapa, Pa?” tanya Aldo menatap sang Papa.
“Apa kamu serius dengan Nana?” Tanya balik Anjar.
“Aldo gak pernah seserius ini, Pa.” jawab Aldo yakin. Anjar menepuk pundak anak sematawayangnya itu dan tersenyum menenangkan.
“Papa tahu. Dan papa lihat dia pun sama seperti kamu. Dia hanya masih butuh waktu untuk menyembuhkan kekecewaannya terhadap kamu. Dan tugas kamu sekarang harus bisa meyakinkan dia kembali. Sedikit saja kamu melakukan kesalahan , maka saat itu juga kamu akan kehilangan dia.” Nasihat Anjar. Aldo menganggukan kepalanya paham.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
suksses
semangat
mksh