Pernikahan bahagia yang diimpikan Anna berubah menjadi tragedi, kala seorang pria merenggut kesuciannya di malam pertama pernikahannya.
Anna yang terpuruk akibat kejadian itu pun mencoba bangkit kembali dan melanjutkan hidupnya.
Namun, takdir berkata lain, ia harus kembali mengingat peristiwa kelam malam itu saat dirinya dinyatakan hamil.
Akankah pria itu bertanggung jawab padanya?
Atau ada malaikat lain yang akan datang menolongnya?
Dan bagaimana dengan suami dan pernikahannya?
Ikuti kisah Anna selengkapnya dalam menjalani kehidupannya dalam Tiga Pria, Ayah Anakku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Rujuk
Kediaman Alex
Charlie berlari ke arah pintu utama saat ia mendengar seseorang yang menekan bel pintu itu berkali-kali dengan tidak sabar. Ia pun bergegas membuka pintu karena mengira ada sesuatu yang darurat.
"Tuan Muda Kedua?" Charlie terkejut dan bingung saat mendapati ternyata Andrew-lah tamu itu.
"Siang, Charlie. Apa kabar?" sapa Andrew santai seraya melangkah memasuki kediaman Alex. Tak nampak di raut wajah Andrew suatu keadaan darurat yang menyebabkannya membunyikan bel pintu seperti tadi. Hal itu pun membuat Charlie bingung, tetapi ia pun tetap membalas sapaannya.
"Selamat siang, Tuan Muda Andrew." Charlie membungkuk memberi hormat. "Tuan Muda Alex sedang berada di kantor, mungkin sebentar lagi Beliau akan pulang. Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?"
"Tidak. Aku ke sini bukan untuk bertemu dengan Alex. Aku ingin bertemu dengan Anna," jawab Andrew yang telah duduk di sofa dengan gaya arogannya.
"Nona Anna?"
Charlie semakin bingung mengapa Andrew datang ke rumah Alex, tetapi malah ingin bertemu dengan Anna dan bukan kakaknya. Karena ia memang tidak mengetahui hubungan antara Andrew dan Anna. Yang ia tahu adalah Anna merupakan kekasih Alex. Meskipun begitu, Charlie tetap melayani adik majikannya ini dengan penuh hormat.
"Nona Anna juga sedang tidak ada di rumah, Tuan. Beliau sedang menjemput Tuan Muda Kecil di sekolahnya."
'Sekolah? Jadi anak itu sudah bersekolah?' gumam Andrew kesal mendengar ucapan Charlie. 'Alex, seharusnya anakku-lah yang mendapat kasih sayang dari Anna dan bukan anak harammu itu.'
Charlie melihat Andrew yang sejak tadi terdiam karena mendengar perkataannya, maka ia pun kembali berujar kepada pria itu.
"Nona Anna juga mungkin sebentar lagi akan pulang. Apakah ada hal yang penting, Tuan Muda? Apa perlu saya menelepon Nona Anna untuk mengabari bahwa Anda berada di sini dan sedang menunggunya?"
"Tidak perlu. Aku tidak terburu-buru. Biarkan saja dia. Aku akan menunggunya di sini."
"Baik, Tuan Muda. Kalau begitu saya tinggal dulu. Permisi."
Charlie membungkuk memberi hormat dan meninggalkan Andrew di ruang tamu. Kemudian dia meraih handphone-nya dan tetap menelepon seseorang.
.
.
.
One Sky Group
Leo memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan Alex, setelah tak terdengar lagi suara ribut dari dalam ruangan itu. Begitu ia melangkah masuk, Leo pun melihat ruangan Alex yang biasanya tertata rapi dan bersih, kini ruangan itu bagaikan baru saja dilalui badai tornado.
Kursi dan pot tanaman yang ditendang Alex tadi tampak berantakan dan tak berbentuk lagi. Meja kerjanya pun sudah terbalik dan semua dokumen serta laptopnya berserakan di lantai.
"Presdir," sapa Leo pada Alex yang sedang berdiri menghadap jendela dan menyalakan rokoknya. Alex tampak kacau. Terdapat banyak luka di wajahnya dan tetesan darah kering yang menodai kemejanya.
"Pergilah, Leo. Jangan ganggu aku," usir Alex seraya mengembuskan asap rokoknya ke udara.
"Tetapi, Presdir, saya hanya ingin melaporkan tentang masalah pengalihan restoran dan rumah keluarga Davis. Kita sudah berhasil mendapatkannya kembali. Ini dokumennya."
Leo menyerahkan berkas itu kepada Alex, tetapi pria itu hanya melihatnya sekilas.
"Berikan itu pada Anna. Dan tolong kau bantu juga mengenai masalah renovasi dan pembukaan kembali restoran itu. Aku ingin kau menanganinya dengan baik."
Alex membuang puntung rokoknya ke lantai dan menginjaknya. Ia pun menengadahkan wajahnya untuk menghentikan aliran darah yang masih terus keluar dari hidungnya.
"Baik, Presdir, saya mengerti. Lalu, bagaimana dengan luka Anda? Apa perlu saya memanggil Dokter Hudson untuk memeriksa keadaan Anda?" Leo memberi saran untuk memanggil Christian agar mengobati luka Alex, tetapi Alex menolaknya.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Jika kau sudah selesai, maka pergilah. Biarkan aku sendiri."
Alex kembali mengusir Leo. Ia hanya ingin sendirian saat ini untuk menenangkan dirinya. Pupus sudah semua harapan dan rencana yang telah dirancangnya matang untuk Anna dan Michael. Untuk keluarga kecilnya. Karena mereka kini akan kembali kepada pemilik aslinya.
"Presdir, masih ada satu hal lagi. Tadi Charlie menelepon dan mengatakan kalau Tuan Andrew sedang berada di rumah Anda untuk bertemu dengan Nona Davis," ujar Leo memberitahu Alex.
Alex memijat pelipisnya, lelah. Ia tidak menyangka jika Andrew akan bertindak secepat ini untuk mencari Anna.
"Baiklah. Tolong kau tangani masalah di kantor. Aku akan pulang."
"Baik, Presdir."
Alex segera memakai kembali jasnya dan bergegas melangkah pergi meninggalkan ruangannya. Begitu Alex pergi, Leo melihat ke sekelilingnya dan mengembuskan nafas berat.
'Sepertinya aku akan lembur lagi malam ini,' gumamnya seraya tertunduk lesu.
Leo teringat akan perkelahian antara Alex dan Andrew tadi. Bagaimana brutal dan tak berperasaannya Andrew saat memukuli kakaknya. Namun, Alex yang biasanya tidak boleh diusik pun, malah terlihat lemah dan mengalah. Pria itu rela Andrew memukulinya demi Anna. Seketika, Leo pun merasa jika Alex memang benar-benar jatuh cinta Anna.
'Tampaknya Presdir Alex benar-benar terjerat kali ini. Nona Davis memang hebat, dia bisa membuat dua bersaudara Williams hampir saja saling bunuh tadi. Haish! Pesona wanita cantik memang sangat mengerikan.'
Leo kemudian memanggil para petugas kebersihan, untuk membersihkan ruangan Alex. Tak lupa, ia juga mencatat dan segera memesan kembali barang-barang yang telah dirusak oleh atasannya itu. Agar saat Alex tiba di kantor esok pagi, ruangan ini telah kembali seperti sedia kala.
.
.
.
"Charlie, apa Andrew masih di sana?" Alex menelepon Charlie seraya berlari ke arah mobilnya.
"Benar, Tuan Muda. Tuan Muda Andrew sedang menunggu Nona Anna."
"Anna tidak di rumah?"
"Iya, Nona Anna sedang menjemput Tuan Muda Kecil di sekolahnya."
"Baiklah. Kau terus perhatikan Andrew, suruh beberapa orang untuk berjaga. Jangan sampai dia menyakiti Anna dan Mickey. Aku akan segera kembali."
"Baik, Tuan Muda."
Alex menutup teleponnya dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap dapat segera sampai rumah, karena ia takut Andrew akan menyakiti wanita dan putra kesayangannya.
"Angkat, Anna. Ayo, angkat teleponmu," ujar Alex tidak sabar. Ia telah menghubungi Anna berkali-kali sejak tadi, tetapi Anna tak menjawabnya teleponnya sama sekali.
"Ah, sial!"
Dengan kesal, Alex pun membuang handphonenya ke kursi samping, dan segera menambah kecepatan laju mobilnya menyalip kendaraan-kendaraan lain di depannya.
'Andrew, jika kau menyakiti mereka, aku bersumpah, walaupun kau adalah adikku, aku akan tetap membuat perhitungan denganmu.'
.
.
.
Kediaman Alex
Andrew merasa sangat bosan. Ia telah menunggu Anna sejak tadi, tetapi hingga detik ini, belum juga tampak tanda-tanda kedatangan Anna di rumah itu. Ia kemudian beranjak dari sofa dan memutuskan untuk melihat-lihat ke sekeliling rumah Alex.
Andrew tahu jika Alex membangun rumah ini untuk keluarga masa depannya kelak. Namun, Andrew memang belum pernah masuk ke dalam rumah ini sama sekali, karena saat Alex membawanya ke lokasi ini dulu, rumah ini masih dalam tahap pengerjaan.
Andrew masih dapat mengingatnya dengan baik. Saat itu ia sempat bertanya kepada Alex, mengapa kakaknya itu memilih membangun rumah di lokasi ini? Padahal, Alex telah memiliki beberapa buah apartemen dan rumah yang terletak di pusat kota. Sementara, pria itu lebih sering tinggal di ruang istirahat di kantornya ataupun kembali ke kediaman keluarga Williams.
"Aku membangun rumah ini untuk istri dan anak-anakku kelak," jawab Alex saat itu dengan mata berbinar bahagia. Membuat Andrew menjadi penasaran dengan sosok wanita yang akan berhasil menaklukan hati pria itu di masa depan. Calon kakak iparnya yang akan menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan kakaknya tercinta.
Namun, Andrew sungguh tidak menduga bahwa sosok wanita yang sangat membuatnya penasaran itu tak lain adalah istrinya. Alex mencintai Anna, adik iparnya sendiri. Andrew pun tidak akan membiarkan Alex kembali menghancurkan dan merebut Anna dari hidupnya.
Itu tidak akan pernah terjadi lagi. Kecuali, Alex membunuhnya, maka ia baru dapat memiliki Anna. Dan Andrew yakin jika Alex tak akan berani melakukannya.
Setelah Andrew menyelesaikan tur singkatnya di rumah Alex, ia pun kembali ke ruang tamu. Di sana sudah ada seseorang yang ditunggunya sedari tadi. Wanita itu terlihat sedang menggendong seorang anak kecil dan mereka tengah bersenda gurau. Tawa riang pun terdengar dari mulut mungil anak itu yang memenuhi seisi ruangan. Gambaran yang sangat indah, jika saja itu adalah anaknya.
"Om Andrew," panggil Michael yang ingat dengan nama Andrew saat Jonathan memperkenalkan mereka dulu.
Anna terkejut melihat Andrew yang berada di rumah Alex. Apalagi mengingat terakhir kali mereka bertemu di Jepang, Andrew sempat bersikap kasar dengannya.
"Kak Andrew?"
Anna mengeratkan pelukannya pada Michael karena takut Andrew akan melukainya. Dan jika pria itu berada di sini sekarang, maka berarti Andrew telah mengetahui bahwa Michael adalah putra kandung Alex. Seketika, Anna pun menjadi semakin waspada. Andrew berjalan mendekati Anna, tetapi wanita itu secara refleks memundurkan langkahnya perlahan.
"Anna, jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin berbicara denganmu." Andrew berusaha meyakinkan Anna.
"Apa maumu?"
"Aku mau kita rujuk. Kita kembali bersama seperti dulu lagi."
"Apa?! Apa yang kau bicarakan?"
.
.
.
jadi ikutan nangis deh
Andrew bukan cinta sama anna tapi terobsesi aja nikmati tubuhnya 😣
andrew kelihatan egois cuma butuh anna sebagai istri bukan ibu dari seorang anak yg dlm kenyataan sama keponakan aja andrew jahat gimana sama anak orang lain dan anaknya nanti