Cerita ini berlatar 10 tahun setelah kejadian di Desa Soca (Diharapkan untuk membaca season sebelumnya agar lebih paham atas apa yang sedang terjadi. Tetapi jika ingin membaca versi ini terlebih dahulu dipersilahkan dan temukan sendiri seluruh kejanggalan yang ada disetiap cerita).
Sebuah kereta malam mengalami kerusakan hingga membuatnya harus terhenti di tengah hutan pada dini hari. Pemberangkatan pun menjadi sedikit tertunda dan membuat seluruh penumpang kesal dan menyalahkan sang masinis karena tidak mengecek seluruh mesin kereta terlebih dahulu. Hanya itu? Tidak. Sayangnya, mereka berhenti di sebuah hutan yang masih satu daerah dengan Desa Soca yang membuat seluruh "Cahaya Mata" lebih banyak tersedia hingga membuat seluruh zombie menjadi lebih brutal dari sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Tugas
"Bagaimana keadaan kalian? Apakah kalian berdua baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?" aku memberondong keluargaku dengan berbagai pertanyaan beruntun sembari memegangi pundaknya, lengannya dan seluruh anggota tubuhnya.
"Kami baik-baik saja. Tidak usah khawatir. Yang harus dikhawatirkan sekarang ini adalah keadaanmu, Yah!" ucapnya sembari menepis pelan tanganku yang sedari tadi meraba tubuhnya. Aku tersenyum mendengar perhatiannya.
"Ayah! Apa yang sebenarnya terjadi? Kok banyak polisi disini, Yah?" tanya Nadine dengan pelukan erat yang terkalung pada leher ibunya. Dia menyembunyikan wajahnya diantara kerudung ibunya walau sesekali matanya memperhatikan orang-orang disekelilingnya.
"Tidak apa-apa. Kamu tenang saja, ya? Kamu sudah jadi anak pintar karena udah nurutin semua kata-kata ibu. Oke?" ucapku lembut sembari mengelus pipinya dengan kedua tanganku. Dia pun mengangguk.
Lampu gemerlap yang berasal dari mobil polisi dan bercampur dengan lampu neon dari rumah sakit sepertinya membuat Nadine merasa tak nyaman. Dia berulang kali mengucek matanya dan terus-terusan menyipitkan matanya dalam memperhatikan sekitar. Aku memutuskan untuk segera beranjak pergi dari sini. Masa bodoh jika aku harus disuruh untuk kembali lagi hanya untuk ditanya tentang mimpi dengan alasan terapi terakhir. Yang terpenting untuk saat ini adalah membawa keluargaku dari masalah yang mungkin akan lebih runyam lagi.
Kami bergegas menuju tempat parkir untuk mencari motorku. Diantara kekacauan ini, mencarinya sedikit lebih sulit dari biasanya. Untung saja pada kunci motorku sudah dilengkapi dengan tombol sensor dan alarm untuk memudahkanku mencarinya. Aku menekan kunci motorku berulang kali dan masih belum saja kutemukan motor merk NMaks dengan dominasi warna putih itu. Sangat banyak jenis yang sama diantara puluhan motor disini.
"Sepertinya petugas parkir juga masih ikut melihat kekacauan ini dari dalam," batinku.
Hingga beberapa kali aku mencarinya, akhirnya kutemukan juga dia berada di bawah sebuah pohon dan nampak terjebak oleh beberapa motor di sekelilingnya. Aku berdecak karena aku tahu aku harus menyingkirkan semua motor yang menghalangi di sini. Aku dan Astrid saling bahu membahu memindahkan satu persatu motor-motor itu. Hingga sebuah dering ponsel menghentikan kegiatanku.
"Halo? Kenapa, Vi?" sapaku kepada rekan kerjaku itu~Vivi.
"*Apakah Kakak masih ada di RS Dr. Boyke*?" ucapnya dengan nada yang tergesa.
"Aku sudah mau pulang sekarang. Memangnya kenapa?" aku bertanya dengan perasaan cemas. Tak biasanya dia terdengar khawatir.
"*Keadaan di dalam sana semakin kacau. Banyak pasien yang tidak bisa melarikan diri menjadi korban keganasan makhluk-makhluk itu. Dan Komandan menginginkan Kakak untuk bertugas dan menyelesaikan masalah di sana*," terangnya dengan suara cepat namun tetap masih bisa ku pahami dengan jelas.
"Ah sial! Padahal aku baru saja berhasil keluar dari tempat mengerikan itu. Di sana juga ada beberapa polisi yang berjaga kok! Kenapa harus aku lagi?" gerutuku sebab aku tak mau harus melihat kejadian mengerikan itu lagi.
"*Maafkan aku, Kak. Seluruh pasukan yang dikirim kesana, mereka semuanya sudah gugur*,"
Kata-kata terakhirnya seketika membuat waktu di sekitar terasa berhenti. Angin malam ku rasakan berhembus semakin dingin. Telingaku berdenging dan mengusir segala riuh keadaan di sekelilingku. Tanganku lemas. Tak percaya mendengar informasi yang disampaikan olehnya ternyata begitu besar dan mampu membuatku terpukul mendengarnya.
"Ayah? Apakah Ayah baik-baik saja?" tepukan lembut di pundak yang dilancarkan oleh Astrid seketika membuyarkan lamunanku.
"Ah iya?" aku tersentak dan kembali memasang ponselku pada telingaku.
"*Gimana, Kak? Seorang partner sedang dalam perjalanan untuk membantumu*," ucap Vivi dengan berbagai pernyataan beruntun. Kurasa di saat aku masih melamun setiap ucapannya tak aku tanggapi.
"Partner?" tanyaku sembari menerka-nerka siapakah seseorang yang akan membantuku.
"*Semua persenjataan dan alat yang dibutuhkan sudah dibawanya. Dan aku akan memantau kalian berdua dari sini. Semoga misi ini bisa berhasil*," sambungnya. Aku pun langsung menoleh ke arah istri dan anakku yang masih terlihat kebingungan dan ketakutan.
"Dengarkan aku! Untuk saat ini, kalian harus segera pulang. Tidak usah khawatirkan aku untuk saat ini dan kedepannya. Aku bisa menjaga diriku," aku menatap tajam ke arah wanita berkerudung biru dan mata bulat gadis kecil yang ada di gendongannya. Matanya nampak berkilauan seperti menahan bulir bening yang seakan mendesak ingin segera keluar dari pelupuknya.
"Kamu janji? Langsung segera pulang setelah tugasmu selesai?" jawabnya dengan suara tertahan. Aku mengangguk meyakinkannya.
Meski tampak ragu, dia turut menganggukkan kepalanya berat. Aku tersenyum ke arahnya dan melanjutkan kegiatanku yang sebelumnya tertunda.
Beberapa motor sudah selesai aku sisihkan. Sebuah celah yang berukuran sedang sudah tercipta. Memberikan sebuah jalan untuk motor kami yang berwarna putih salju itu keluar. Aku membantu mengeluarkannya dari parkiran. Dan membantu istriku mengenakan helm bogonya. Tak lupa helm kecil untuk dipakai kan kepada gadis kecilku.
"Setelah sampai di rumah, aku mau kamu *standby* di depan tv berita untuk mengetahui setiap kabarku," perintahku dengan suara lirih.
"Ayah mau kerja lagi, ya?" ucap Nadine sembari memeluk erat pinggul ibunya.
"Iya, Sayang. Kamu abis ini segera tidur. Besok kan kamu harus sekolah? Oke!" titahku sembari menutup kaca helmnya dengan lembut. Dia terlihat mengulum bibirnya dan mengangguk pelan.
Tanpa sepatah kata pun, Astrid berlalu mengendarai motornya. Pandanganku masih terpaku dari setiap pergerakan motornya memandangi kepergiannya. Aku merasa bersalah, tetapi inilah tugas yang kadang bisa saja datang tanpa aba-aba. Aku menghela napas kasar kemudian berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah sakit.
Suasana sedikit lebih ramai. Beberapa pasien terlihat sedang di evakuasi pada lobi rumah sakit. Mereka nampak sibuk dengan langkah yang tergesa. Bisikan suara yang bergumam memenuhi ruang. Raut wajah setiap penghuni rumah sakit jelas tergambar penuh kekhawatiran. Mereka berbondong-bondong keluar dari neraka yang tak sengaja tim medis ciptakan. Ditambah seluruh polisi yang dikerahkan untuk mengamankan lokasi malah gugur dalam menjalankan tugasnya, semakin menambah ketegangan di setiap lubuk hati mereka.
Mataku menyisir ke seluruh penjuru untuk memastikan rekan yang dikirim untuk membantuku apakah sudah tiba. Diantara seluruh penghuni di sini, mungkin tak terlalu sulit menemukannya sebab kostum yang dia kenakan pasti akan terlihat mencolok. Aku sudah membayangkan orang itu memakai sebuah setelan rompi anti peluru dengan helm yang terkancing di kepalanya.
Disela lamunanku, sebuah tangan kasar menepuk punggungku. Aku seketika menoleh dan melihat seorang pria berkisar antara umur 50 tahunan dengan membawa tas ransel di punggungnya.
"Anda, kan?" aku tergagap. Tak percaya dia akan menjadi rekanku.
"Apakah kamu mengingatku? Aku akan menjadi rekanmu dan segera menyelesaikan masalah di sini," ucapnya dengan senyum teduh di wajahnya.
Aku tak kuasa menahan senyum bahagia melihatnya. Sosok itu adalah seseorang yang sangat penting bagiku. Atau mungkin, sosok yang tak ingin aku kecewakan pada waktu itu. Karena dia adalah seorang Ayah dari pria yang aku kagumi pada 10 tahun yang lalu.
Pria itu bernama Rudi Ramadhan. Ayah dari Andra Ramadhan dan juga seseorang yang pernah menyelamatkanku saat kecelakaan bis 10 tahun lalu.