"Cinta adalah hidup, hidup adalah Abigail" Nicholas Geonandes.
"Kau membuatku bahagia, dengan cara yang orang lain tidak bisa berikan" Abigail.
"Kebahagiaanmu adalah segalanya buatku" Bima Anggara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Bima Beraksi
Sejak mengetahui perlakuan Nicho terhadap Abi, Bima dan Abi semakin sering bertemu. Bahkan Bima dengan senang hati mengantar jemput Abi kuliah. Dan di akhir pekan tak jarang ia mengunjungi rumah Nicho untuk membawa Abi berjalan-jalan.
"Apa sekarang kau beralih profesi menjadi seorang sopir pribadi?" sindir Nicho yang membukakan pintu untuknya. Ya Nicho mengganti pasword rumahnya setelah kejadian Bima menangkap basah ia berciuman dengan Mauryn. Ia tidak ingin Arya atau kedua orang tuanya mendapatinya melakukan hal yang sama. Bisa-bisa ia dihapus dari daftar ahli waris.
Bima mengidikkan bahunya acuh dan langsung masuk begitu saja tanpa dipersilahkan sebelumnya.
"Aku hanya berusaha untuk merebut hatinya. Termasuk menjadi sopir, Abi" jawabnya enteng tanpa merasa sungkan sedikit pun.
"Apa kau tidak malu!" Bima berbalik menatap Nicho seraya menaikkan alisnya.
"Dia wanita bersuami" lanjut Nicho.
"Suami?"tanya Bima memasang wajah bingung.
"Dimana suaminya?" kembali Nicho memasang wajah minta ingin di tinju. Bima terkekeh melihat wajah merah Nicho yang menahan amarah.
"Hai Mauryn..kau di sini lagi?" sindir Bima melihat Mauryn yang sedang membaringkan tubuhya di atas sofa.
"Apa aku perlu membelikanmu rumah agar kau tidak menumpang lagi di sini" Bima terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
Mauryn tergelak dan segera duduk.
"Dan percayalah tawaranmu sangat menggiurkan tapi aku harus menolaknya karena percayalah Nicho tidak akan menyukainya. Ia lebih suka aku di sini bersamanya." Mauryn tersenyum manis.
"Aku juga melihatmu semakin sering datang berkunjung"
"Aku sedang berusaha merebut hati wanita yang ada dalam rumah ini" jawabnya jujur dan santai. Mauryn melirik Nicho dan mengumpat dalam hati karena terlihat dari wajah Nicho ia sedang menahan amarahnya.
"Jadi kau sungguh menolak tawaranku?" tanya Bima kembali. Mauryn menganguk.
"Semoga berhasil, Bima" Mauryn memaksakan diri tersenyum.
"Ya semoga saja. Dengan begitu kau akan bisa menguasai Nicho sepenuhnya" Bima bergumam.
"Bukankah kita terlihat seperti Pelakor dan Pebinor, Mauryn. Perusak rumah tangga orang"
"Oh percayalah itu sangat menjijikkan dan memalukan" Bima terkikik geli mendengar sindirannya sendiri.
"Menjijikkan tapi kau tetap melakukannya" sengit Nicholas. Bima menoleh dan kembali tertawa.
"Aku terpaksa dude, dan kau sendiri juga yang memberikan ruang untukku. Kau melepaskan berlian demi sebuah imitasi."
"Maaf, apa baru saja kau mengatakan aku imitasi Bima?" protes Mauryn yang langsung di angguki Bima tanpa rasa bersalah.
"Aku hanya mengeluarkan pendapatku, Mauryn"
"Dan ternyata kau juga cepat tanggap Mauryn" Bima pun berlalu segera menuju kamar Abi.
"Bersikaplah layaknya tamu Bima. Tetap di tempatmu. Aku akan memanggilkannya untukmu" ucapan Nicho menghentikan langkah Bima. Ia kembali berbalik menatap Nicho lalu menganggukkan kepalanya.
"Tidak perlu. Aku sudah di sini" terdengar suara Abi. Bima dan Nicho menoleh menatapnya. Abi segera tersenyum pada Bima dan tidak menoleh kepada Nicho sama sekali. Nicho menggeram dan mengepalkan tangannya. Kembali ia terpengaruh akan sikap Abi.
"Kakak sudah lama?" senyum manis masih tercetak di wajahnya. Bima mengelengkan kepalanya.
"Baru saja" ucapnya.
"Ayo kita pergi" lanjutnya lagi yang langsung diangguki Abi.
Mereka berjalan melewati Nicho dan Mauryn begitu saja. Seolah dua makhluk tak kasat mata.
"Pulangkan dia sebelum jam tujuh malam. Jika tidak aku tidak akan membiarkan dia masuk" ancam Nicho dan terdengar jelas dari suaranya ia sedang menahan amarahnya.
Abi dan Bima menghentikan langkah mereka.
"Dia bisa menginap di rumahku dude" jawabnya enteng lalu menggenggam tangan Abi dan segera pergi.
"Brengsek!" Nicho mengumpat dan menendangkan kakinya ke kursi.
"Kenapa kau marah?" tanya Mauryn sinis.
"Kau cemburu?" tanyanya lagi.
Nicho terkesiap begitu mendengar tuduhan Mauryn. Apa ia sungguh cemburu?
"Mauryn aku lelah sekali. Kau pulanglah" usir Nicho dengan halus.
"Kau mengusirku?" Tanya Mauryn setengah membentak.
"Aku ingin istirahat. Aku lelah" jawabnya malas.
"Ternyata kau memang cemburu. Kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Mauryn memasang tampang minta dikasihani.
"Mauryn please.." Nicho mengerang.
"Baiklah aku pergi!"
Mauryn melangkah meninggalkan Nicho.
"Jangan marah sayang. Aku akan segera menghubungimu." teriak Nicho yang dibalas Mauryn dengan membanting pintu.
T.B.C