(Khusus Dewasa 21+)
Antonio seorang pria dingin dan kejam yang berprofesi sebagai seorang pembunuh bayaran yang akan selalu menghabisi lawannya dengan kejam.
Kecintaannya kepada senjata dan pekerjaannya membuat Antonio tidak pernah mengenal cinta.
Suatu hari dia bertemu dengan Wanita yang mampu menggetarkan hatinya, hati seorang pria tampan yang terkenal berdarah dingin.
Tapi dia tidak tahu harus memilih yang mana.
Apakah dia harus memilih wanita itu dan meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya?
Atau dia akan melupakan wanita yang telah mencuri hatinya demi pekerjaannya?
Atau ada kemungkinan lain yang terjadi?
Kategori: Dewasa (21+)
Genre: Action, Romance, Petualangan, Fantasi
Setting: Indonesia
Alur: Maju-Mundur
Status: On-going
Ilustrasi Tokoh: Berdasarkan pendalaman karakter
Cover by Dva Official
copyright2020, Pengembara Elite
#mafia #action #romance
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengembara Elite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Asosiasi
Takagawa dan Marcello terlihat sedang berlatih beladiri di aula tempat latihan. Dengan bantuan Takagawa, Marcello dibimbing untuk meningkatkan kemampuan bermain pedangnya.
Pedang Katana merupakan senjata yang terkenal di Jepang, bukan hal yang aneh jika Takagawa sangat menguasai senjata jarak dekat itu.
"Ayunkan tanganmu ke depan dengan kuat!" Ujar Takagawa sembari memberi contoh sebuah gerakan.
Marcello memperhatikan sejenak, kemudian mencobanya.
"Ayo keluarkan tenagamu!" Takagawa berkata memberi semangat.
Beberapa kali Marcello mencoba gerakan itu, namun tetap saja hasilnya belum memuaskan Takagawa.
"Kau itu lincah, hanya saja kurang sedikit bertenaga. Tunggu sebentar!" Ucap Takagawa, kemudian ia mengambil beberapa bambu yang digunakan untuk latihan pedang. Lalu menjejerkan bambu itu dan mengikatnya satu demi satu dengan kuat hingga bisa berdiri tegak.
"Sekarang kau coba potong bambu itu dengan pedangmu! Buat dia menjadi potongan-potongan kecil!" Perintah Takagawa.
Marcello kemudian memasang kuda-kuda lalu menyabetkan pedangnya pada sebuah bambu yang berdiri kokoh.
"Hmm," Takagawa bergumam pelan.
Ia tak menyangka jika Marcello tak dapat memotong atau mengiris, bahkan hanya terlihat sedikit goresan saja.
"Biar ku beri contoh," ucapnya singkat.
Kemudian memasang kuda-kuda menghadap ikatan bambu yang lain, secara perlahan ia menarik nafas.
Srek! Srek! Srek!
Tiga tebasan berhasil membuat sebilah bambu menjadi 4 potongan. Marcello pun langsung bertepuk tangan setelah melihat Takagawa memberi contoh.
"Pegang erat pedangmu seperti ini!" Takagawa memberi instruksi diikuti oleh Marcello di sebelahnya.
"Kemudian angkat tinggi sampai genggamanmu berada di atas kepala!"
"Kemudian ayunkan sekuat tenaga, agar bambu itu terbelah!"
"Hiyaaaaaaaat!!!"
Mereka berdua berteriak bersama.
SREK!!!
Tebasan mereka berhasil memotong sebilah bambu yang begitu keras.
Marcello terlihat kegirangan setelah usahanya kini membuahkan hasil.
"Kau coba lagi dengan bambu yang lainnya!" Takagawa menginstruksikan.
"Semakin kesana bambu semakin keras, berjuanglah!" tambahnya memberi semangat.
Marcello hanya mengangguk, dia tak berkata apapun selain mengikuti instruksi dari Takagawa.
Perlahan tapi pasti semua gerakan yang dicontohkan Takagawa ia lakukan, dan kini gerakannya semakin bertenaga. Semakin lama gerakannya semakin cepat, membuat Takagawa semakin terkejut.
"Hmm, gerakanmu memang sudah lincah. Karena badanmu yang kecil membuat semua menjadi ringan," ujar Takagawa seraya memandang fokus Marcello.
"Hanya saja tinggal memusatkan tenaga dan titik tumpu yang benar agar tenaga yang dihasilkan semakin besar," tambahnya.
Marcello menghentikan gerakannya, lalu memandang ke arah Takagawa.
"Aku hanya tinggal melatih kekuatan saja kan?" Tanyanya.
"Ya, setelah ini kita latihan agar otot kekarmu tidak sia-sia," jawab Takagawa.
Marcello hanya mengangguk pelan dan meneruskan latihannya, sementara Takagawa hanya menyaksikan dengan jarak yang tidak terlalu jauh sambil sesekali memberi instruksi.
Di sisi lain Aula, terlihat Pablo mengawasi mereka. Sesekali ia tersenyum melihat perkembangan Marcello yang terus berkembang di bawah bimbingan langsung Takagawa.
"Aku yakin suatu saat Fabio dan Elano akan hadir kembali, dan semua ada padamu. Marcello," gumamnya perlahan.
Pablo memang saat ini hanya bergantung pada seorang Marcello. Walaupun anak buahnya terbilang banyak, namun tetap saja sulit jika ingin menjadi orang kepercayaannya.
Kecuali Marcello, Pablo memang sedari awal sudah tertarik dengan sikap Marcello yang tidak terlalu banyak bicara, tidak mudah berputus asa.
***
Acquolina Cafè hari ini tutup, Pedro sengaja menutup cafenya karena akan ada pertemuan penting dengan beberapa member asosiasi. Ia telah merubah ruang pelanggan menjadi sebuah ruang pertemuan, layar besar juga telah terpampang menempel pada dinding menghadap anggota pertemuan.
Antonio dan Anna tampak hadir dalam pertemuan yang dipimpin langsung oleh Pedro. Jumlah anggota yang hadir tidak terlalu banyak, hanya 6 orang termasuk Antonio, Anna, dan Pedro. Sementara 3 orang lainnya yaitu orang-orang yang baru saja pulang dari markas Black Shadow, diantaranya Jian Chen, Yuan Dao, dan Dong Shu.
"Bagaimana hasilnya?" Pedro bertanya pada mereka bertiga.
Jian Chen yang terlihat santai menjawab, "Kita seperti orang konyol, menghamburkan uang demi sebuah batu yang tak berbeda dengan batu lainnya. Huft!"
Ia berkata sambil menimang-nimang batu Menhir di tangannya.
"Hahahaha, aku malah harus menjadi pengawalmu. Konyol sekali!" Dong Shu yang berhidung agak mancung menyahut perkataan Chen dengan candaan.
Berbeda dengan kedua rekannya, Yuan Dao terlihat cuek mendengar ocehan-ocehan receh teman-temannya. Ia tak terlalu banyak bicara, jika memang tidak terlalu penting.
Pedro menghela nafas sejenak melihat percakapan mereka.
"Jadi kalian menyesal telah membantuku?" Tanya Pedro dengan tatapan tajam yang menusuk.
Tiba-tiba saja ruangan menjadi sunyi, ocehan-ocehan mereka terhenti setelah Pedro menlontarkan pertanyaannya. Tidak ada satu orang pun yang berani menjawab, bahkan seorang Antonio sendiri.
"Aku hanya meminta bantuan kepada kalian bertiga hanya untuk mencari informasi, bagaimanapun caranya aku tak peduli. Yang aku inginkan hanyalah informasi!" Ucap Pedro tegas.
Para anggota asosiasi cabang dari China tidak ada yang menjawab, mereka hanya menunduk tak berani menatap wajah Pedro. Mereka semua tau reputasi Pedro yang merupakan member senior diantara yang lain.
Selain itu juga, di ruangan itu ada seorang Antonio yang paling mereka takuti. Dengan sekali gerakan saja Antonio dapat dengan mudah menghabisi mereka bertiga.
Ditambah wanita yang duduk di samping Antonio, Anna Ivanova. Wanita yang merupakan rank 2 tipe eksekusi, membuat ketiga orang yang merupakan tipe strategi menjadi bercucuran keringat dingin.
Ketiga anggota cabang dari China itu sengaja Pedro datangkan agar bisa menyusup dengan mudah ke dalam markas Black Shadow. Berbekal identitas palsu ciptaan Pedro, mereka bertiga dapat masuk dan kembali dengan selamat.
"Apa yang kalian temukan disana?" Pedro bertanya dingin.
Tiba-tiba Yuan Dao berdiri, lalu berjalan ke arah Pedro sambil menyerahkan dua buah kacamata hitam.
"Silahkan diperiksa, semua sudah ada disana," ucapnya tenang.
Pedro lalu mencolokan kabel kecil pada kedua kacamata itu, agar bisa tersambung pada proyektor kecil yang mengarah pada layar.
Tak berapa lama layar itu menampilkan sebuah video rekaman perjalanan ketiga orang itu saat memasuki markas Black Shadow.
Kacamata yang mereka kenakan merupakan kacamata canggih hasil teknologi ciptaan asosiasi, kacamata itu digunakan membantu kinerja tipe strategi yang bertugas mengumpulkan informasi
"Oh, ternyata seperti ini isi dari markas Black Shadow," ucap Antonio santai, disambut tatapan gelisah dari ketiga member dari China.
"Aku rasa tidak terlalu banyak orang, dimana mereka?" Anna yang sedari terdiam ikut menyahut.
"Saat kami masuk, memang keadaan masih sepi. Hanya orang itu saja yang mengantar kami ke tempat Pablo," jawab Jian Chen.
Seluruh anggota pertemuan mengangguk pertanda paham. Berbeda dengan Pedro, ia tampak serius memperhatikan gambar di layar itu, berusaha menemukan beberapa informasi penting.
Tiba-tiba ia menghentikan videonya.
"Siapa dia?" Tanya Pedro seraya menunjuk ke arah layar yang sedang menampilkan seorang pria asia yang tampak asing baginya.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!
semoga ceritanya bikin betah so
dari awal dah menarik.
sepertinya novel ini menarik.. 😎
lanjut aah..
ya kaaan...? 😎
aku boleh mampir ya..