Arully Beena sosok seorang gadis yang dilahirkan tanpa ayah. Ibunya korban kebejatan seorang laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab. Dia lahir dengan perekonomian yang begitu sulit sehingga ia terjebak dalam kelompok anak-anak punk di kotanya.
Bagaimana Beena bisa melewati kehidupan yang begitu keras sampai ia bisa menemukan jati dirinya melalui pertemuannya dengan sosok bocah cilik yang membawanya berhijrah dengan tulus.
Bagaimana pula kisah percintaannya dengan seorang laki-laki yang begitu sempurna di matanya dengan menikah paksa karena terjebak oleh situasi.
"Anggap pernikahan kita semalam tak pernah ada. Aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku hanya gadis punk yang hanya singgah tanpa rencana. Terima kasih sudah menolongku." Arully Beena.
Ikuti kisahnya sampai selesai ya!
Tinggalkan jejakmu like, komen dan subcribe teman-teman!💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Pertemuan Lisa & Berry
Lisa tidak mau pulang begitu acara konser telah usai. Ia menyandarkan tubuhnya di depan mobil jeep milik Berry.
Ia tidak mau kehilangan kesempatan bertemu dengan orang yang sudah diberi amanah untuk menjaga motornya dan membuat perasaannya terganggu dengan tidak adanya komunikasi keduanya.
"Lis ini sudah hampir jam 9 malam. Aku takut kakakmu marah." Menala mengingatkan Lisa tentang kesepakatan untuk memulangkannya tepat jam 9 malam.
"Oh iya. Nanti aku telepon kak Rasya dulu kalau gitu." Lisa mengambil ponsel dari tas selempangnya, lalu menekan tombol hijau untuk menghubungi kakaknya.
"Hallo kak. Lisa pulang telat. Di sini ada orang yang aku titipi motor. Aku lagi nunggu dia di parkiran. Aku mau minta motorku kembali." Lapor Lisa sambil menjauh dari mobilnya Berry.
"Oke tunggu kakak. Kakak ke sana sekarang!" Ujar Rasya dari seberang sana.
"Ga usah kak. Ini teman-temanku juga lagi pada nunggu. Nanti mereka antar aku pulang. Kakak jagain teh Resa aja kasihan kalau ditinggal sendirian apalagi si teteh lagi hamil." Cegah Lisa tidak mau mengganggu kakaknya.
Di saat yang bersamaan nampak Berry menghampiri mobilnya yang sedang dihalangi oleh 4 bidadari cantik. Ada yang duduk di bibir mobil, bersandar bahkan duduk di dapan mobil.
"Kalian ngapain ada di depan mobilku?" Tanya Berry kaget kenapa mobilnya banyak para wanita.
"Eh ini mobil Abang? Wah sekalian kalau gitu kita foto dulu ya Bang!" Ujar Brenda beranjak dari tempatnya duduk.
Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah teman-temannya yang begitu sumringah bertemu Berry.
"Lisa ayok ikut foto bareng. Mumpung Bang Berry belum jadi artis terkenal. Hayo ah!" Menala menarik lengan Lisa untuk foto bersama.
Lisa cemberut. Ia berdiri tepat di samping Berry. Lisa melirik laki-laki yang sudah membuat hatinya porak poranda karena kejadian kemarin.
Setelah sesi foto, Berry berpamitan untuk segera masuk dalam mobilnya.
"Bang tunggu!" Panggil Lisa yang merasa Berry sama sekali acuh tidak mengenalnya.
"Kamu?" Berry memicingkan matanya berusaha mengingat wanita yang memanggilnya.
"Yah aku pemilik motor yang kemarin." Jawab Lisa tanpa basa-basi.
"Motor? Ya ampun sorry...sorry. Aku terus terang lupa. Karena jadwalku padat jadi belum sempat menghubungimu. Oh iya motormu sudah ada di rumahku. Kamu boleh ambil motormu ke rumah." Jelas Berry mengatupkan kedua tangannya.
"Bang...Bang kalau aku tahu rumah kamu, aku sudah ambil sejak kemarin sore." Jelas Lisa dengan tawa sumbang masih ada kekesalan diraut wajahnya.
"Oooh iya juga ya." Berry mengusap tengkuknya jadi salah tingkah. Berry melihat arlojinya, lalu menatap Lisa.
"Gimana kalau kamu ke rumahku sekarang?" Tawar Berry tanpa basa-basi.a
Lisa bergeming. Dia tidak menyangka Berry berpikiran seperti itu. Ini kan sudah malam. Bagaimana kalau para tetangga melihat dirinya ke rumah lelaki malam-malam begini bisa-bisa digerebeg terus disuruh kawin dadakan seperti cerita dalam novel online yang sering ia baca.
"Oh maaf-maaf aku ga bermaksud lancang menyuruhmu datang ke rumahku apalagi malam begini. Jangan salah paham ya! Oiya begini saja, nanti orang rumah yang akan mengantarkan motormu, malam ini. Atau besok pagi. Yah besok pagi saja." Berry merasa tidak enak hati.
"Oke besok pagi saja. Aku tunggu, semoga kali ini kamu tidak mengecewakanku. Oiya untuk antisipasi saja silakan catat nomormu di hapeku!" Ujar Lisa bertindak cepat.
Lisa menyerahkan ponselnya kepada Berry. Berry tersenyum. Baru kali ini bertemu dengan wanita yang rada galak. Biasanya wanita yang ia jumpai pada takut melihatnya, namun kali ini beda. Wanita yang ada dihadapannya begitu berani.
Menala menyikut lengan Lisa. Sambil mengedipkan matanya, seraya tersenyum penuh arti.
"Ssttt modus!" Menala cekikikan. Lisa menatap tajam sahabatnya itu.
"Nih sudah." Berry menyerahkan ponsel pada pemiliknya.
Lisa melihat ponselnya tercatat di sana nama "Berry Sayang." Lisa mendelik.
"Oke para bidadari cantik aku pulang duluan ya!" Berry tersenyum lalu membuka pintu mobilnya.
Menala melirik ponsel Lisa yang masih aktif. Di layar ponsel terlihat jelas, "Berry Sayang."
"Cie...cie Berry sayang. Ada yang mau otw sold out nih." Goda Menala sambil cekikikan.
"Iiish apaan sih kamu. Dasar aja tuh lelaki ganjen bisa-bisanya nulis profil seperti ini. Aku ganti aja."
"Eh jangan. Entar kamu nyesel. Main ganti-ganti aja. Kalau aku jadi kamu, aku bakalan update status. Bertemu artis lokal langsung kasih nomor hape. Duh bahagianya." Menala kembali tertawa.
Candaan dan godaan menjadi seru malam ini. Lisa hanya cemberut namun sesekali ikut tertawa mendengar banyolan teman-temannya yang random.
Di tengah perjalanan tetiba mobil Menala berhenti mendadak manakala melihat sesuatu yang tengah terjadi di pinggir jalan.
ini mah mau masukin hotel prodeo lagi kan ktnya udah biasa......
hadooohh jadinyav kasian si beena alamat bakal di kekesek yeu mah sm ibunya elzan
Tapi dari sini kayaknya bakal susah dapat restu si Beena,Awal pertemuan dengan Mertua aja udah ada salah paham gitu..