"Dalam Tasbihku, ku langitkan doa atas namamu, meski aku tidak tahu apakah doaku yang akan pulang sebagai pemenangnya." ~ Hawaa
Hubungan persaudaraan tak sedarah yang sudah terjalin ternyata menumbuhkan cinta diantara Adam dan Hawaa, tapi semua itu harus terhalang, saat Adam memilih menganggap Hawaa hanya sebatas saudara.
Hawaa yang telah kecewa, kembali dibuat terluka saat Adam datang mengenalkan kekasihnya, Anissa yang ingin Adam ajak serius.
"Saat kamu melangitkan doa dengan nama orang lain, kamu harus siap menerima jawaban, dari doa itu." ~ Adam
Inikah jawaban, dari Doa yang Hawaa langitkan, ataukah ada jawaban lain yang belum kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Sembilan
"Sebenarnya dari awal aku tak pernah mencintai Annisa. Aku menikahinya hanya untuk mencoba menghilangkan perasaan ini. Aku berharap dengan menikah, akan dapat melupakan wanita yang aku cintai, tapi ternyata aku salah. Aku semakin sadar jika cintaku hanya untuk dia seorang. Dari pada aku paksakan pernikahan ini, itu hanya akan membuat Annisa makin terluka, lebih baik aku akhiri saja," ucap Adam dengan suara penuh keyakinan.
Adam tak mau mengelak lagi. Bagaimana pun dia menutupi, akhirnya pasti akan ketahuan juga.
"Apa kamu sadar dengan ucapanmu itu, Nak? Itu sama saja kau mempermainkan pernikahan! Jika memang dari awal kamu tak mencintai Annisa, kenapa harus menikahinya? Bunda tak menyangka kamu bisa jadi lelaki pengecut seperti ini," ucap Bunda Syifa dengan terbata karena menahan tangisnya.
"Maafkan aku, Bunda!" seru Adam dengan menunduk. Dia tak berani menatap wajah ibunya yang tampak sangat terluka. Hawaa juga begitu. Dia menunduk karena merasa bersalah, harus menyakiti hati sang bunda.
"Siapa wanita yang kamu cintai itu? Kenapa tak menikah dengannya saja?" tanya Haikal dengan suara tinggi.
Adam hanya diam, tak berani menjawab pertanyaan sang Abi. Bukannya dia takut dimarahi, yang menjadi pikirannya adalah Hawaa. Adam takut sekali jika wanita yang dia cintai itu akan di marahi Haikal.
"Siapa ...?" tanya Haikal lagi dengan bentakan.
"Kak Hawaa, Abi!" jawab Annisa.
"Hawaa ...?" tanya Bunda Syifa dengan suara pelan. Dia berharap pendengarannya salah.
"Ya, Kak Hawaa. Adam sangat mencintai Kak Hawaa. Begitu sebaliknya. Kak Hawaa memilih pindah ke luar kota itu karena ingin melupakan Adam. Namun, Adamnya yang tak bisa move on. Selama pernikahan kami hatinya masih terus memikirkan Kak Hawaa. Maaf, Abi, Bunda. Aku telah mencoba bertahan, tapi aku juga manusia biasa. Aku juga ingin dihargai dan dicintai. Aku memutuskan mengakhiri semuanya sebelum hati ini makin terluka dalam!" ucap Annisa.
Bunda Syifa tampak syok mendengar penjelasan dari Annisa. Tak menyangka kedua anaknya itu menyimpan perasaan cinta.
"Apa benar semua yang Annisa katakan itu, Dam?" tanya Haikal dengan suara gemetar karena menahan emosi yang telah memuncak.
"Benar, Abi. Aku sangat mencintai Hawaa!" jawab Adam dengan suara tegas.
Tanpa bisa dicegah, tangan Abi terangkat dan langsung menampar pipi Adam dengan keras. Syifa yang melihat itu tak bisa melakukan apa pun. Semua memang salah putranya.
"Maafkan aku, Abi. Semua salahku, bukan salah Hawaa. Dia telah berusaha melupakan semua dengan tinggal jauh," ucap Adam.
Adam menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan berlutut di depan sang Abi. Dia memohon maaf atas semua yang terjadi. Ketika akan mencium kaki Abinya, Haikal lalu menendang hingga Adam tersungkur.
Syifa yang tak bisa melakukan apa-apa hanya menangis. Annisa memeluk tubuh mertuanya itu. Hawaa yang melihat darah segar mengalir dari sudut bibir Adam, menjadi tak tahan. Dia berdiri dan ikut berlutut dihadapan sang Abi.
"Abi, jangan marah dengan Adam saja. Aku juga bersalah. Kalau Abi ingin memukul, pukul saja aku!" ucap Hawaa.
Entah apa yang merasuki Haikal, sehingga dia gelap mata. Dia mengangkat tangannya dan menampar pipi putrinya itu. Tubuh kurus Hawaa langsung tersungkur dan darah segar mengalir dari mulutnya. Mungkin dia tak sekuat Adam, sehingga darah segar mengalir karena pecahnya bibir Hawaa.
Hawaa tampak pucat dan napasnya terlihat tak teratur. Mungkin karena menahan rasa sakit. Syifa dan Annisa menutup mulut mereka agar tak berteriak melihat keadaan Hawaa.
Adam yang melihat Hawaa, langsung melindungi wanita itu di belakang tubuhnya.
"Aku sudah katakan, Bi. Jangan salahkan Hawaa. Aku yang salah. Jangan sakiti Hawaa. Abi boleh membunuhku, tapi jangan sentuh Hawaa!" ucap Adam dengan terbata karena air matanya sudah mengalir membasahi pipi.
Syifa juga tak bisa menahan air matanya. Dia tak tega melihat Adam dan Hawaa. Namun, tak berani membela karena sadar kesalahan sang putra.
"Maafkan aku, Bi," ucap Hawaa dengan suara hampir tak kedengaran karena menahan rasa sakit dan tangisnya.
"Jika Abi tau kepergian kamu ke Batam karena ingin jauh dari Adam dan ingin melupakan cinta gilamu itu, Abi tak akan meminta kamu kembali. Biar kamu di sana selamanya!" ucap Haikal.
Gafi yang baru pulang sekolah terkejut melihat sang kakak terluka dan tampak pucat serta ketakutan. Mendengar ucapan sang Abi dia bisa menebak apa yang sedang terjadi.
Gafi langsung mendekati Hawaa dan memeluk tubuh kurus sang kakak. Tangis Hawaa akhirnya pecah dalam dekapan adiknya.
"Apa itu artinya Abi tak ingin melihat aku lagi?" tanya Hawaa dengan terbata.
"Ya ...! Aku tak sudi melihat kamu! Memalukan keluarga saja. Apa yang orang-orang katakan jika tau kamu dan Adam saling mencintai. Semua tetangga taunya kamu dan Adam itu bersaudara kandung!" ucap Haikal.
Dengan sisa tenaga yang ada, Hawaa bangun. Walau kepalanya terasa pusing, dia tetap mencoba bertahan.
"Sekali lagi maafkan aku, Abi, Bunda. Aku tak bisa menolak perasaan ini. Tapi percayalah aku telah berusaha membunuhnya. Dengan pergi dari kota ini, aku berharap bisa melupakan semua nya!" seru Hawaa.
Haikal tak menjawab ucapan sang putri. Dia tampak masih sangat marah dan kecewa menerima kenyataan ini. Adam tak bisa juga mencegah air matanya melihat kesedihan orang yang dia cintai.
Hawaa lalu mendekati Syifa. Berlutut dihadapan sang bunda. Meraih tangan wanita itu.
"Maafkan aku, Bunda. Aku telah mengecewakan Bunda. Aku pamit dulu. Semoga Abi dan Bunda selalu sehat!" ucap Hawaa.
Hawaa lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya dan mengumpulkan pakaian yang dia bawa. Haikal duduk kembali di sofa. Mengatur napasnya. Begitu juga dengan Syifa.
Beberapa saat kemudian, Hawaa keluar dengan mendorong dua koper. Dia mendekati Abinya. Meraih tangan pria itu. Tapi Haikal menepisnya.
"Maafkan aku, Abi. Aku telah mengecewakan Abi. Aku tak bisa membuat Abi bangga. Aku akan selalu berdoa, Abi dan Bunda selalu sehat. Tolong ikhlas dan relakan semua pengorbanan Abi selama membesarkan aku. Sekali lagi, maaf!" ucap Hawaa dengan derai air mata.
Setelah mengucapkan itu, Hawaa menyeret kembali tasnya menuju pintu keluar.
"Abi, kenapa harus mengusir Hawaa. Biar aku saja yang pergi. Aku pria, masih bisa hidup sendiri. Tolong cegah dan tarik kembali ucapan Abi. Kasihan, Hawaa!" ucap Adam.
Haikal tak menggubris ucapan Adam. Dia tetap diam seribu bahasa. Gafi yang mendengar kata Adam lalu mengejar sang kakak.
"Kak Hawaa, jangan pergi! Jangan tinggalkan rumah ini," ucap Gafi dengan terisak.
"Dek, maafkan kakak. Tak mungkin kakak di sini. Abi sudah meminta kakak pergi. Jadi anak baik, jangan kecewakan Abi dan Bunda. Cuma kamu satu-satunya harapan mereka. Kak Hawaa dan Bang Adam telah mengecewakan Abi dan Bunda," ucap Hawaa.
Hawaa kembali berjalan menuju taksi yang telah dia pesan. Gafi lalu berlari ke arah Abinya sedangkan Adam mengejar Hawaa.
"Abi, tolong cegah Kak Hawaa. Dia itu tak sekuat yang Abi dan Bunda bayangkan. Kak Hawaa baru saja keluar dari rumah sakit, aku takut dia kembali di rawat. Siapa teman yang akan menjaganya. Tolong Abi, cegah kak Hawaa," ucap Gafi memohon.
...----------------...
badai menerjang rmh tanggaku yg ada tiap hari ribut perang bratayuda.
srasa dunia hancur&lelah.
hanya kesalah paham man.
mertua yg sllu ikut campur.
drama&ikut campur.
tp alhmdulillah..q ttp bertahan demi ank2..& dlm setiap doa dlm sujud ku.
badai itu berlalu...
skrg mlah tmbah cinta&harmonis.
tdk ada mslah yg tak bs d selesaikn baik2..bicara dr ht k ht slg terbuka.
& sllu ttp mmperthankn cinta qt.
dh tw pusat dunia adam hawa
knp msh bertahan?
kl gk cinta mosok mokso?
kl cinta pst dy yg jd prioritas utamanya.