NovelToon NovelToon
AIRLANGGA Kisah Seorang Yang Terpilih

AIRLANGGA Kisah Seorang Yang Terpilih

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Mengubah sejarah / Romansa / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:485.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Seorang putra mahkota yang terusir dari istana Medang Kamulan setelah pemberontakan besar-besaran oleh raja bawahan ayah mertua nya saat upacara pernikahan nya dengan Nararya Galuh Sekar putri pertama Prabu Dharmawangsa, harus memikul tanggung jawab besar untuk menyatukan kembali kerajaan peninggalan dari ayah mertua nya yang terpecah belah setelah peristiwa Mahapralaya itu. Dukungan dari masyarakat terutama dari agamawan Hindu, Budha dan Mahabrahmana yang mengangkat nya menjadi raja Medang selanjutnya, menjadi kekuatan tersendiri bagi Airlangga untuk membangkitkan kembali kerajaan Medang usai 3 tahun masa kekosongan pemerintahan pusat di Jawadwipa.



Mampukah Airlangga memikul tanggung jawab besar ini dan menyatukan negeri yang sedang dalam kekacauan? Apakah dia akan menjadi anak yang diramalkan dalam legenda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amanat

Runtuhnya Kerajaan Medang di tangan Adipati Aji Wurawari dari Lwaram membuat seluruh wilayah Tanah Jawadwipa goncang. Bagaimanapun juga, Kerajaan Medang merupakan pusat pemerintahan yang bisa menata tata kelola pemerintahan daerah maupun jalur perdagangan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga ke Bedahulu di Pulau Bali bahkan hingga ke Tanjungpura di Pulau Kalimantan.

Serta merta setelah hancurnya Kotaraja Wuwatan, para Adipati di wilayah kekuasaan Kerajaan Medang pun mulai memerdekakan diri. Mereka membentuk sebuah wilayah yang di dasarkan pada wilayah lama dari Kerajaan Medang. Ataupun ada juga yang membentuk suatu wilayah baru yang menggabungkan beberapa wilayah kadipaten.

Kerajaan Kerajaan kecil ini diantaranya adalah Kedaton Lodaya yang merupakan penggabungan antara pesisir selatan pulau Jawa dari Tulungagung hingga ke kaki Gunung Mahameru di Lamajang. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang ratu perempuan yang dikenal sebagai Ratu Lodaya.

Selain itu, di sebelah barat nya berdiri Kerajaan Tanggulangin yang mengatur wilayah dari separuh Tulungagung hingga ke Wengker. Ke Utara hingga lereng Gunung Pawinihan atau Gunung Wilis. Kerajaan kecil ini dipimpin oleh Raja Hasin yang memerintah dari Kotaraja Hasinapura di wilayah Trenggalek sekarang.

Di barat Kerajaan Tanggulangin, berdiri pula Kerajaan Wengker dengan raja nya Prabu Wijayawarma. Kerajaan ini memiliki wilayah di selatan Pulau Jawa tepatnya dari Wengker hingga ke lereng Gunung Mandrageni atau Gunung Merapi sekarang.

Di utara Kerajaan Wengker, berdiri pula Kerajaan Lewa yang mengatur wilayah dari lereng barat Gunung Wilis hingga ke lereng timur Gunung Pamrihan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gunung Lawu. Penguasa Kerajaan Lewa adalah bekas Adipati Lewa, Panuda, yang mengangkat dirinya sebagai raja setelah ada restu dari Raja Wurawari dari Lwaram. Kebetulan saja, Panuda masih merupakan sanak keluarga dari penguasa Kerajaan Lwaram ini.

Setelah itu, berdiri sebuah kerajaan yang mengatur wilayah yang paling luas di antara kerajaan kerajaan kecil merdeka ini. Nama kerajaan ini adalah Kerajaan Lwaram yang beribukota di Kotaraja Lwaram. Kerajaan ini menguasai separuh dari seluruh wilayah Kerajaan Medang dari Lwaram ke utara hingga ke selat Muria lalu ke arah barat hingga ke Kalingga. Raja Wurawari, orang yang berhasil meruntuhkan Kerajaan Medang adalah penguasa kerajaan ini.

Di timur Lwaram, berdiri sebuah kerajaan kecil yang bernama Wuratan yang beribukota di Kotaraja Kambang Putih. Berdirinya kerajaan ini tak lepas dari campur tangan Raja Wurawari yang diminta oleh Kerajaan Sriwijaya untuk membagi wilayah nya jika berhasil mengalahkan Prabu Dharmawangsa. Raja Wuratan adalah Prabu Wisnuprabhawa, adik Sri Cudamani Janayasa yang terbunuh dalam upaya mereka menaklukkan Kotaraja Wuwatan. Wilayah nya membentang dari Bojonegoro, Tuban, Lamongan hingga ke Hujung Galuh.

Selain kerajaan kerajaan kecil itu, masih ada beberapa wilayah kadipaten yang tidak mendirikan kerajaan baru karena masih berharap jika kelak penerus tahta Kerajaan Medang akan kembali memerintah. Wilayah ini meliputi selatan Sungai Kapulungan hingga ke lereng Gunung Kelud, Gunung Kawi, Gunung Penanggungan hingga ke Pasuruhan. Kadipaten kadipaten itu adalah Watugaluh yang memerintah hingga ke Trowulan, Kadipaten Waringinsapta yang menguasai wilayah Mojokerto, Kadipaten Pasuruhan yang menguasai Pasuruhan hingga ke selatan Pelabuhan Hujung Galuh.

Daerah daerah lain seperti Kanjuruhan juga ikut memerdekakan diri. Lamajang pun sama walaupun raja mereka masih berharap agar muncul seorang penerus tahta Kerajaan Medang selanjutnya.

Pendek kata, saat itu Pulau Jawa sedang dalam masa tercerai berai akibat Mahapralaya Medang. Tak ada satupun penguasa kerajaan kerajaan kecil ini termasuk Raja Wurawari yang mampu mempersatukan seluruh wilayah Pulau Jawa menjadi satu kesatuan seperti pada masa Kerajaan Medang.

Ini juga membuat sebagian besar wilayah Jawadwipa dilanda kekacauan. Perampokan merajalela di setiap wilayah kerajaan kecil ini yang membuat kehidupan rakyat menjadi tidak tentram karena situasi yang kacau.

Rombongan Airlangga terus bergerak menuju ke arah timur laut. Di samping khawatir dengan munculnya para prajurit Pakuwon Bojonegoro, keadaan Ki Randuseta yang masih belum jelas apakah dia masih bisa hidup atau tidak menjadi bahan pertimbangan bagi Airlangga untuk mencari pertolongan.

Setelah cukup jauh mereka berjalan, di ujung timur hutan kecil itu mereka menjumpai sebuah perkampungan kecil. Ada sebuah gapura kayu yang di sekelilingnya terdapat pagar benteng pertahanan yang terbuat dari kayu gelondongan sebesar paha orang dewasa. 2 orang penjaga pintu gerbang nampak menaruh curiga terhadap Airlangga dan kawan-kawan saat mereka mendekati para penjaga gerbang itu.

"Mau apa kalian kemari? Kalau tidak ada urusan, sebaiknya kalian pergi saja", ucap salah seorang penjaga gerbang itu sedikit keras.

"Maaf Kisanak..

Teman kami sedang keracunan, setelah bertarung melawan binatang buas. Kami sedang berupaya untuk menyelamatkan nyawanya. Apakah ada seorang paricara yang tinggal di tempat ini? ", tanya Airlangga dengan sopan. Dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya karena khawatir dengan keselamatan semua orang.

Sang penjaga pintu gerbang segera melongok ke arah Ki Randuseta yang sedang di gendong oleh Renggos. Melihat bibir lelaki paruh baya berambut panjang itu pucat, mereka saling berpandangan sejenak sebelum salah seorang diantara mereka bicara.

"Di Wanua Sembung ini ada seorang pertapa tua yang pintar mengobati penyakit. Tapi untuk mengizinkan kalian masuk, harus ada ijin dari lurah. Sebaiknya kalian tunggu disini sebentar, aku akan minta ijin untuk kalian", ujar salah seorang penjaga pintu gerbang itu segera.

"Terimakasih atas bantuannya, Kisanak. Nyawa kawan kami tergantung pada mu", Airlangga mengangguk mengerti dan si penjaga gerbang itu segera meninggalkan tempat itu. Setelah cukup lama menunggu, si penjaga gerbang itu kembali tapi kali ini dia tidak sendiri. Seorang lelaki tua berjanggut putih tipis dengan rambut digelung yang di tusuk dengan konde dari perak ikut bersama dengan nya.

"Aku Mpu Bala, Lurah Wanua Sembung..

Sebelum aku ijinkan kalian masuk, kalian harus berjanji untuk secepatnya pergi dari tempat ini. Bukannya aku tidak punya belas kasih, tapi sekarang ini keadaan sedang kacau, jadi aku minta kalian mengerti..", ucap Mpu Bala yang langsung membuat Renggos geram bukan main.

"Heh Ki Lurah, apa kau pikir kami ini rampok ya? Teman kami ini sedang keracunan, butuh obat penawar. Kalau dia baik-baik saja, aku juga tidak sudi lewat desa mu ini", gerutu Renggos segera.

"Kau ini...", belum sempat Mpu Bala menyelesaikan omongannya, Narotama segera memotongnya.

"Maafkan ucapan kawan ku ini Ki Lurah. Dia sudah menggendong kawan kami cukup jauh, jadi rasa lelah pasti membuat cara berpikirnya melenceng. Mohon dimaklumi..", Renggos yang tidak terima dengan omongan Narotama hendak protes. Tapi belum sempat dia buka mulut, Narotama lebih dulu menginjak kakinya lebih dulu.

Bhhaakkkk...

"Adduuuuhhhhhh kampret.... Sakit sekali! Kenapa kau injak kaki ku, Rot???!!!", Renggos sampai menggoyang-goyangkan kakinya yang di injak oleh Narotama.

"Aku lihat ada nyamuk disana. Sudah sekarang tutup mulut mu dulu..

Mari Ki Lurah, kita ke tempat paricara nya. Takutnya malah nanti telat memberikan penawar racun untuk teman ku ini..", mendengar ucapan sopan dari Narotama, Ki Lurah Mpu Bala tersenyum tipis sebelum melangkah masuk ke dalam perkampungan kecil itu. Airlangga, Galuh Sekar dan Narotama pun segera mengikutinya bersama seorang penjaga gerbang.

Renggos menggerutu dalam hati sembari menyusul langkah mereka sambil menggendong Ki Randuseta,

" Nyamuk apanya? Itu hanya alasan mu saja, Nar.. Awas saja kau nanti.."

Sekitar 100 langkah dari pintu gerbang, sebuah rumah sederhana dengan halaman cukup luas yang berisi beberapa pohon buah-buahan nampak teduh dipandang mata. Seorang lelaki tua bertubuh sedikit kurus dengan wajah keriput yang menandakan bahwa dia sudah cukup lama hidup di dunia ini nampak sedang asyik memberikan minuman pada burung perkutut di dalam sangkar. Kehadiran Mpu Bala dan Airlangga bersama dengan kawan-kawannya cukup mengagetkan nya.

"Ada apa ini Ki Lurah? Dan siapa mereka?", tanya lelaki tua itu segera.

"Kawan mereka yang digendong itu sedang kena racun, Resi Pranata..

Tolong kau bantu mereka ", ucap Ki Lurah Mpu Bala tanpa berlama-lama bicara. Resi Pranata segera memerintahkan kepada mereka untuk masuk ke dalam rumah nya. Renggos pun segera merebahkan tubuh Ki Randuseta diatas dipan kayu. Ada raut wajah lega di wajah Renggos yang cukup lama menggendong Ki Randuseta.

Resi Pranata segera memeriksa luka Ki Randuseta. Dahi lelaki tua itu mengerut kala melihat luka itu.

"Racun Ular Welang...

Untung saja aku punya penawar nya. Tapi jangan terlalu berharap tinggi karena jika racunnya sudah menyebar ke jantung, dia tidak akan bisa selamat. Kalian tunggu sebentar disini", setelah berkata demikian, Resi Pranata segera masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama kemudian, dia membawa sebuah bumbung bambu kecil dan mengorek sesuatu di dalamnya. Dia segera mengoleskan nya ke luka Ki Randuseta.

Setelah itu, Resi Pranata segera menotok beberapa jalan darah Ki Randuseta.

Thhukkkk thhukkkk..

Ki Randuseta terlihat menggeliat dari pingsannya lalu ia muntah darah kehitaman. Renggos yang sudah memegang bokor kuningan langsung menampung muntahan darah hitam itu segera. Setelah itu, Ki Randuseta pun pingsan lagi.

"Biarkan dia beristirahat. Kalian bisa menunggu nya di beranda", ucap Resi Pranata segera.

"Terimakasih Resi..", ucap Airlangga sembari menghormat sebelum ia keluar dari dalam rumah diikuti oleh para pengikutnya.

Waktu berlalu dengan cepat. Siang dengan cepat berganti senja dan malam pun tiba setelah nya. Di kediaman Resi Pranata, Airlangga diperlakukan dengan baik. Dua cantrik Resi Pranata memberikan makanan dan minuman selayaknya menyuguhi tamu.

Uhukkk uhukkk uhukkk...

Suara batuk dari dalam rumah langsung membuat Airlangga beranjak dari tempat duduknya. Galuh Sekar pun mengekor di belakangnya. Segera mereka mendekati dipan kayu yang menjadi tempat peristirahatan Ki Randuseta. Terlihat ia sudah sadar dari pingsannya.

"Bagaimana keadaan mu Ki? Sudah lebih baik?", tanya Airlangga seraya menatap wajah Ki Randuseta yang pucat.

Uhukkk uhukkk uhukkk..

"Racunnya sudah hampir masuk ke dalam jantung ku, pendekar muda..

Akan butuh waktu lama bagi ku untuk sembuh. Sebenarnya aku punya satu kewajiban yang harus segera ku lakukan tapi dengan keadaan ku yang sekarang ini. Bisakah kau melakukan tugas ku itu anak muda? Anggap saja orang tua ini memohon kepada mu..", mendengar ucapan itu, Airlangga pun segera mengangguk cepat.

"Katakan saja Ki, apa yang bisa aku lakukan untukmu?", tutur Airlangga segera. Ki Randuseta menghela nafas berat sebelum menatap wajah tampan Airlangga lekat-lekat. Sepertinya dia berusaha keras untuk meyakinkan diri bahwa Airlangga lah orang nya.

"Pergilah ke Bukit Rangrang di Alas Kabuh. Ada sebuah goa yang ada di belakang pohon wadang besar. Aku menyimpan Pedang Naga Api disana. Ambillah pedang itu dan antarkan pada Begawan Bagaspati di Padepokan Padas Putih.

Bisakah kau melakukannya?"

1
Sint Uriel
nyi Rondo Kuning di Pendekar tanpa kawan🤣🤣🤣🤣🤣
Oezank Sbi
hatur nuhun kang ebez critaY
Ardan
kisah yg luarbiasa
Siti Puji R
jadi flash back ke pedang naga api kang Ebez... 👍👍👍
Siti Puji R
mantap kang Ebez..
Thomas Andreas
selanjutnya
Eda Eda
👍
Le Akasha
mantap
Lalu agus hartadi
Luar biasa
Lalu agus hartadi
Lumayan
Toto Priyantoro
Luar biasa
Toto Priyantoro
Lumayan
Ell Shalim
Luar biasa
SENJA
narotama yang nantinya jadi patih bukannya sudah ikut airlangga dari Bali yah?
SENJA
anjuk ladang itu sekarang nganjuk?
SENJA
sekarang apa mau timbul lagi itu selat? 😳
Uji Mughni
Luar biasa
Wan Trado
tidak lazim seorang selir dipanggil dgn sebutan gusti.. karena selir tidak punya kewenangan didalam istana
Elmo noor
siap mendukung Prabu Airlangga.. .
Elmo noor
OTW ketemu Malaikat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!