NovelToon NovelToon
Tomboy Insyaf

Tomboy Insyaf

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Chicklit / Tamat
Popularitas:58.5k
Nilai: 5
Nama Author: diahps94

Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.

Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Cinta Turun Ranjang

Kisah yang dimulai dengan manusia-manusia berhati indah terasa amat singkat penuh suka cita. Aluna menikmati setiap harinya di kelas dua, menunggu pagi hari agar dapat segera bersua. Merasakan kasih sayang teman kelas, yang selama ini tak dirasakannya. Berteman dengan anak-anak yang paham tentang agama jauh lebih mendebarkan. Mereka menjaga prilaku dan lisan, sepanjang hidupnya memilih masuk kelas IPB adalah pilihan terbaik.

"Aku mau pindah kelas saja!" Eva datang masuk kelas saat istirahat pertama.

"Loh kenapa?" Aluna kebingungan, dengan ucapan Eva.

"Habisnya kau tak ada waktu denganku, aku seperti dibuang begitu saja, disekolah kau sibuk dengan anak kelas, di rumah kau sibuk ke kedai, hari Minggu kau sibuk ambil les bahasa, terus kapan waktu denganku?" Protes Eva.

Aluna terkikik. "Kau seperti istriku yang kurang jatah kasih sayang saja."

"Tau ah, pokoknya aku pindah kelas." Bicara lantas meninggalkan Aluna.

"Hei mau kemana?" Aluna berdiri hendak mengejar Eva.

"Jangan ikut, aku mau ke ruang guru!" Larang Eva dari kejauhan.

Aluna kembali duduk, dan meriung dengan teman kelasnya. "Maaf ya, teman ku suka begitu."

"Dia lucu, sepertinya dia dekat dengan mu, ku pikir teman dekat mu itu dulu Tina, kalian terlihat kemana-mana bersama tahunya dia jahat padamu." Gadis, teman baru Aluna.

"Heem, aku pikir selain menarik Tina manusia setengah dewi, tahunya setengah ular." Alda turut berkomentar.

"Astagfirullah, kok jadi ghibah. Jangan membuka luka lama Aluna, mungkin lukanya belum kering, nanti kalian menambah luka itu tanpa sadar loh." Inayah yang lulusan pondok putri Darussalam memang baik luar dalam.

"Astagfirullah, tuh nyebut kalian semua." Aluna mendadak kompor.

"Yeuh si Luna, udah lanjut ngaji lagi." Umi yang dari tadi diam kini angkat bicara.

Bagaimana pertemanannya tak indah dunia akhirat. Mereka lelah karena menuntut ilmu saja Allah bukakan kemudahan masuk surga dan diangkat derajatnya. Ini sudah wajib menjalani rutinitas sekolah, teman sekelasnya mengingatkan puasa Daud, puasa Senin Kamis, tadarus bersama meski bukan bulan puasa saat istirahat, belum lagi mengerjakan sholat Dhuha, Aluna rasa kelasnya layak disebut pesantren pindahan. Penuh berkah dan karomah karena baik siswa maupun siswi begitu taat beribadah, menggugah jiwa-jiwa pembangkang untuk ikut serta mereka.

"Sayang sedang apa?" Bondan masuk merangkul bahu Aluna.

Teman sekelasnya mendelik melihat itu, Aluna segera menyingkirkan tangan Bondan dari pundaknya. "Hi apasih!"

"Kau sombong sekarang, tak butuh bantuan ku lagi, aku dicueki, aku kangennnnnnnnnnnnn." Rengek Bondan.

Rengekan serupa dengan Eva, membuat Aluna berpikir apa benar dia begitu tak perhatian dengan temannya. "Minggu kita main, ajak Eva juga."

"Yesss, benar ya, ya sudah aku balik kelas dulu." Bondan mencolek dagu Aluna.

"Yakkkk, Bondan bisa tidak sih jangan toel-toel!" Aluna risih, tak tahu harus menjelaskan seperti apa pada teman kelasnya.

"Apasih sayang, nanti kalau kita menikah lebih dari itu loh, awww aku jadi ingin cepat dewasa." Angan Bondan.

"Jangan mimpi, jadi tua repot." Aluna menjadikan angan indah Bondan hancur.

Terasa belum lama Aluna berkata, tahu-tahu sudah hari Minggu. Waktunya memenuhi janji dengan dua temannya. Aluna sudah izin ke tempat les, tak bisa mengikuti kegiatan hari ini namun tetap ingin di beri tahu perihal apa saja yang dipelajari. Melirik jam dinding, masih pukul lima lewat tiga puluh menit, waktu yang pas baginya untuk bersiap. Subuhnya sedikit lewat karena semalam Aluna lembur buat adonan cireng untuk dijual dan dititipkan ke beberapa kedai yang ada di pasar. Ah lupa berkabar, sekarang Aluna pebisnis cireng kecil-kecilan, tentu saja semua karena dinasehati pamannya Hanung.

"Aluna, aku dulu yang mandi." Eva nyelonong masuk ke kamar mandi.

Aluna melongo, ini dirinya yang masih mimpi apa tadi itu jin, seketika bulu kuduk berdiri. "Hihhh, seram."

Keluar kamar Aluna ingin memastikan ke orang rumah yang dilihatnya tadi apa. "Astagfirullah, kau kenapa ada disini?"

"Haiii, aku sudah tampan belum?" Bondan yang tak menoleh meski menyapa dengan ramah.

Aluna ingin menarik paksa ponsel Bondan, tapi dia akan jadi pribadi menyebalkan karena menganggu orang bermain game. "Kau kemari dengan Eva?"

"Tidak." Timpal Bondan, masih serius dengan ponselnya.

"Terus...Eva kesini dengan siapa?" Jangan sampai yang tadi itu beneran hantu.

"Dengan Vebby, dan juga Wahyu, Eva bukannya tadi numpang mandi di kamar mu?" Mendengar ucapan Bondan, Aluna semakin syok.

Sebelum menjadi gila, Aluna bergegas ke ruang tamu, dan benar saja disana ada Vebby dan Wahyu, dan apa-apaan itu kenapa Karin sudah mandi dan cantik saja. Sejak kapan adiknya mau mandi lebih awal dibandingkan dirinya jika hari Minggu. Apa mungkin karena ada Bondan. Tunggu dulu, kenapa Bondan memisahkan diri dan lebih memilih duduk di ruang tv daripada berkumpul dengan mereka. Mengusir kecurigaan di kepala, Aluna mencari ibunya lebih dulu tanpa menyapa manusia-manusia di ruang tamu.

"Bu." Panggil Aluna manja.

"Kenapa sayang?" Mawar menghentikan kegiatan memasak, saat putri sulungnya memeluk pinggangnya dari belakang.

Menyembulkan kepala di ketiak sang ibu. "Kenapa ada tamu tak diundang?"

"Loh katanya sudah janjian mau tamasya bersama, Karin saja semangat mandi setelah solat subuh, katanya mau ke pantai?" Mawar bingung, Aluna yang mengajak justru Aluna yang tak tahu informasi penting.

Mendadak pantai, siapa yang memutuskan. "Hah, yasudahlah aku mandi dulu."

"Kenapa lesu begitu, kau tak suka kalau ke pantai?" Mawar heran dengan pribadi Aluna yang suka berubah-ubah.

"Suka, tapi aku tak ada persiapan, arsghhhh mereka menyebalkan." Gerutu Aluna, tak lupa mencomot tempe mendoan yang sedang ditiriskan.

"Aw...Aw....panas."

Mawar geleng-geleng kepala, lagian tahu baru diangkat sudah diembat. "Aluna, mandi dulu baru makan."

"Nyicil Bu." Sahut Aluna sembari lalu.

Babibu dengan urusan lagi harinya yang terganggu. Semakin terburu dan tak enak hati karena teman-temannya sudah menunggu. Rasanya tadi dia baru setengah buang air besar, namun harus dijeda karena Vebby ikutan buang air besar. Sarapan yang ricuh, temannya sengaja datang untuk numpang makan. Ibunya yang sibuk menata bekal, dan adiknya yang jaga nama baik membuat Aluna merasa mual. Perjalanan yang cukup terjal dan panjang, menjadikan mual Aluna berujung dimuntahkan.

Aluna tak pernah mabuk perjalanan sebelumnya, tapi kali ini dia ambruk. Mungkin memang sudah masuk angin dari sebelum berangkat, untungnya punya teman siaga jadilah dirinya tetap terjaga.

"Gila, bisa-bisanya kau menjemput ku subuh begitu." Protes Eva yang baru sempat diutarakan.

"Salah sendiri punya rumah paling jauh, ku jemput duluan lah." Balas Bondan.

"Tapi aku belum mandi dodol." Eva tak mau kalah.

"Lah kau tak mandi juga Wahyu tetap cinta, iya tak Wahyu?" Bondan menyenggol bahu Wahyu dengan bahunya.

"Apasih tak jelas." Wahyu salah tingkah.

"Ekhmm, tunggu dulu. Jangan bilang kita jalan-jalan karena Eva dan Wahyu jadian?" Aluna siap-siap dengan kabar yang akan di dengarnya.

"Kenapa jadi aku, yang jadian itu adikmu dan si hidung belang-belang." Eva menunjuk ke arah Karin dan Bondan.

Aluna menolehkan kepalanya bolak balik antara Karin dan Bondan, namun mereka tak buka suara. "Heh, coba jelaskan apa maksud Eva barusan?"

"Anu...em... sebenarnya...kakak aku minta maaf." Karin belepotan sendiri dengan lidahnya.

"Sudah biar aku saja." Bondan duduk di hadapan Aluna, mereka yang duduk melingkar di atas pasir mempermudah untuk melihat satu sama lain.

"Sebenarnya, aku pacaran dengan Karin sudah satu bulan." Ucap Bondan pelan-pelan.

"Hah? Kok bisa?" Syok Aluna.

"Iya, tak sengaja kami pacaran." Ucap Karin.

"Mana ada pacaran kok tidak sengaja?" Aluna memijat keningnya yang entah pening karena apa.

"Sebenarnya, kita pacaran sudah dari kakak ditusuk kakinya oleh Tina." Cicit Karin.

Sudah lama, tapi kenapa Bondan masih kerap menggodanya. "Kau, berani-beraninya menggoda adikku!"

"Hahahhaha parah ya, kau yang dikejar eh malah jadian dengan Karin." Wahyu turut berkomentar.

"Lebih parahnya lagi, pacaran saat kau jatuh sakit, aduh Aluna kalau aku jadi kau sih mengamuk, di sekolah loh dia masih suka godain kamu kalah ada kesempatan, ih si Bondan cintanya turun ranjang." Alih-alih kaget Eva justru kompor.

"Beuh, si Bondan boleh-boleh." Vebby ikut-ikutan saja daripada tak ngomong kan.

"Hahahaha, jadi kau serius dengan Karin, kenapa baru bilang." Aluna terbahak yang lain melongo.

"Kau tak marah?" Bondan susah tidur tadi malam dan hanya tawa tanggapan dari Aluna.

"Kenapa mesti marah, doaku terkabul, kau sudah digariskan jadi adik ipar ku." Aluna menepuk pundak Bondan.

"Serius?" Memastikan ulang siapa tahu kupingnya salah dengar.

"Hemm, kau bisa lihat sendiri aku bahagia mendengar kabar ini, tapi kalian harus tahu batasan, sebaiknya tak usah pacar-pacaran cukup komitmen untuk menikah di waktu yang pas." Nasihat Aluna.

"Yakkk, percuma aku tak bisa tidur, otak ngebul hampir sebulan karena hatiku belok, kenapa hanya ini respon mu?" Bondan guling-guling.

"Ya mau mu aku gimana? Nangis bombay atau salto-salto begitu?" Aluna beralih menatap Karin yang diam saja.

"Apa kau diancam menerima cintanya, kenapa terlihat tak bahagia?" Aluna menanyai sang adik.

"Hueeekkkkk, aku takut dikatai pelakor lagi." Karin menangis tipis-tipis.

"Siapa yang berani mengatai begitu?" Aluna memeluk Karin.

"Kak Eva dan kak Vebby." Karin benar-benar menangis.

"Yakkkk!"

"Bukan aku." Eva.

"Kau cuma seperti pelakor loh Karin, bukan kau pelakor." Bela Vebby.

"Tuhkan, hikssss aku bukan pelakor!"

Bersambung

1
Oma yeni*🦋
keren novel nya
Oma yeni*🦋
semangat untuk Alena 💪 like, komen, subscribe plus ⭐⭐⭐⭐⭐ +🌹 slm perkenalan 😘
Oma yeni*🦋
Hm teman laknat 😤
Oma yeni*🦋
emang bisa y, mati latihan dulu 🤭
Oma yeni*🦋
aku mampir, slm knl 🤗
⍣⃝ꉣꉣ❤️⃟Wᵃf◌ᷟ⑅⃝ͩ●diahps94●⑅⃝ᷟ◌ͩ: salam kenal kembali kak
total 1 replies
🔵Ney Maniez
bahagia sll restu aluna 🤗🤗🤗🤗
🔵Ney Maniez
udah tamat yaa,,,
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
🔵Ney Maniez
nyidammm
🔵Ney Maniez
sama kyk aku ank pertama, paksu jg ank pertama, ankku yg gede cucu pertama dari dua belah pihak,,
udah kayak rajaaa😂😂
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga do' a mu di dengar 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tenang Aluna udah hamil tuh 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🤣🤣🤣
🔵Ney Maniez
mudah2n Aluna hamil y🤲
🔵Ney Maniez
mama apa mana🤔🤔😂😂
🔵Ney Maniez
pkoknya riwehhhhh😂😂😂😂
🔵Ney Maniez
gercep y bondan😂😂💪💪
🔵Ney Maniez
asikkkk bondan,,, tak jd ma kknya ya adik nya ajj 😂😂😂
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kelakuanmu
🔵Ney Maniez
mudah2n bener Aluna hamil🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!