Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.
Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.
Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?
Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahan Terluka 4
Pertemuan tak terduga kembali terjadi tak kala sosok itu pun bersembunyi dalam bayangan dipekat malam. Merasa diri terpojokkan dengan sebuah penghinaan sebelumnya, perasaan yang belum terselesaikan pun merubah status sosial menjadi mulai mendapatkan pengawasan.
“Apa hubunganmu dengan Hendrik dan mau apa bertemu denganku?!” tanya Luke mencoba untuk membaca keadaan.
“Hendrik adalah keponakanku. Ada hal yang ingin aku bicarakan dan tentunya akan menguntungkanmu, bagaimana? Apa kau berminat?” Anna melengkungkan senyuman liciknya.
“Aku tidak berminat berada dalam lingkaran balas dendam keluarga Kessler! Tidak menguntungkan bagiku, terlebih Hendrik bukanlah pria yang mudah untuk dihadapi!”
“Karena itu kau harus setuju untuk bekerja sama denganku. Aku yang akan mengurus Hendrik, tugasmu adalah ... Irene dan kedua anaknya. Tentu kau sudah mengerti maksudku bukan?”
“Katakan, apa yang harus aku lakukan?”
Begitu mudahnya Anna memanfaatkan keadaan seperti biasanya. Membalikkan kedua tangan dengan tidak terlihat oleh siapa pun dapat ia lakukan, tak kala perhatian tertuju pada kedua pemuda pemudi yang kembali bersama setelah sekian lama berpisah.
Bukan hanya mengenai harta dan jabatan saja, namun kali ini ambisi yang tidak lagi masuk diakal memenuhi ruang diri, yang mulai terselimuti oleh rasa dendam serta kebencian. Tahu akan kemenangan akan ia dapatkan, berbagai cara pun dilakukan Anna untuk memenuhi ambisinya.
Kedatangan Sarah ke Dallas bersama dengan Luke pun kini memilliki tujuan hati yang tersembunyi. Semua yang ingin mereka dapat, harus terlaksana sempurna di saat jarak kembali hadir dan berniat untuk memisahkan Irene dan Hendrik. Tahu akan semua yang akan mereka dapatkan, akhirnya senyuman pun dapat melengkung pada wajah mereka.
“Jadi, kau menyukai Hendrik sejak kapan?” tanya Luke mencoba memecah kecanggungan saat berada di dalam pesawat.
“Suka? Mungkin lebih tepat aku hanya ingin memanfaatkannya saja. Bagiku cinta itu omong kosong,” balas Sarah dengan senyuman menyeringai.
“Jadi, kau benar-benar tidak menyukai Hendrik? Kenapa kau sampai berani mempertaruhkan harga dirimu? Uang? Atau jabatan apa yang kau inginkan?” Luke kembali bertanya mencoba untuk mengetahui, siapa kawan atau lawan yang berada di sebelahnya saat ini.
“Semenjak ibuku mengambil hak asuh dari ayahku yang pemabuk itu, keluarga Kessler begitu memanjakanku jadi untuk uang dan jabatan, aku tidak kekurangan. Namun, menaklukkan pria bernama Hendriklah, yang membuatku begitu penasaran!”
Luke terdiam sejenak dengan kembali duduk pada posisinya. Mencoba menerka-nerka, ia pun akhirnya mengetahui satu hal dari Sarah. Keturunan Kessler memang tidak bisa dianggap jelek jika melihat dari paras mereka yang rupawan, atau otak mereka yang pintar dalam berbisnis. Namun Sarah sepertinya patah hati kepada Hendrik.
Luke tanpa sadar tertawa ringan hingga membuat Sarah menatap dengan begitu sinis padanya. Tidak lagi berniat mencoba untuk berbicara dengan Sarah, Luke lebih memilih menghabiskan segelas wine ditangannya selama penerbangan berlangsung kembali menuju Dallas.
...***...
...-Rumah sakit internasional Dallas-...
Di satu sisi lainnya, Irene yang akhirnya tahu bahwa Hendrik membayarkan lunas semua hutang Collin pada Luke, menimbulkan rasa benci karena Hendrik terlihat begitu ingin masuk ke dalam kehidupannya kembali. Sungguh bagi Irene saat ini, melebihi apa pun, keluarganya lah yang paling penting dan tidak ingin karenanya keluarga Farmer mengalami nasib malang lainnya.
(BEEP BEEP) (TIIEETT) (BEEP BEEP) (TIIEETT) Suara alat rekam detak jantung yang menunjukkan tanda ketidakstabilan.
“DOKTER! SUSTER! ... TOLONG! DOKTER! SUSTER!” teriak Irene sembari menekan tombol khusus untuk memanggil ke dalam ruangan.
“Nek ... Nenek! Kumohon bertahanlah, NEK!” sentak Collin begitu cemas.
Kepanikan pun terjadi sesaat sesudah Hendrik dan Irene menghentikan percakapan. Entah nenek Emma mendengarkan atau tidak, tanpa sadar Irene mengusir Hendrik dan keluarga serta begitu meminta Hendrik, William, dan Mia, untuk tidak lagi terlibat dalam masalah keluarganya.
Terduduk lemas pada sebuah kursi tunggu di depan ruang operasi, Irene hanya dapat berucap doa tak kala sebelumnya kondisi nenek Emma menurun hingga jantungnya hampir berhenti berdetak. Tersudut pada suatu kabar akan kesiapan batin menerima pil pahit akan kehilangan, Irene bagai tertusuk pedang tajam yang tak terlihat olehnya.
“Apa dokter yang sedang melakukan operasi adalah seorang ahli jantung terbaik?” tanya Mia pada Hendrik dari sudut ruangan tunggu.
“Sudah, jangan lagi membuat anak kita merasa cemas ... sudah cukup kita membuat masalah karena kedatangan kita kemari! Apa kau tidak lihat Irene menjadi begitu menjaga jarak pada Hendrik!” jawab kesal William pada istrinya yang kini berwajah muram.
“Nak, jika Mama dan Papa tahu bagaimana keadaan atau cerita dibalik ini sebelumnya, sungguh kami tidak berniat ini semua terjadi,” Mia menundukkan tubuhnya, mencoba menggenggam tangan Hendrik dengan tatapan memelas.
“Aku tahu. Salahku juga tidak menceritakan ini semua pada kalian dari awal. Aku hanya berniat memastikan terlebih dahulu siapa ayah dari kedua anak Irene sebelum aku memberitahu Mama dan Papa,” Hendrik semakin menundukkan kepalanya merasa begitu tertekan.
Collin yang semakin merasa bersalah karena tindakan gegabah yang dilakukannya dulu, bagai mencabik setiap tubuhnya hingga habis tak tersisa. Sungguh baginya yang bahkan sampai hati membutakan diri membiarkan Irene yang harus membayar atas tindakan bodoh yang dilakukannnya.
Tatapan Collin begitu menjurus pada Irene yang kini terduduk bagai tak bernyawa dengan tatapannya yang kosong. Tidak ada lagi cahaya senyuman, mengingat semua hal yang sudah Irene lakukan bahkan dia korbankan dalam hidupnya.
“Sis, aku ... aku sungguh tidak bermak—”
“Hentikan Kak jangan sekarang. Aku hanya ingin meminta tolong untuk membawa pulang Xander dan Xavia. Bisakah?” pinta Irene saat memeluk kedua buah hatinya yang tanpa sadar tertidur dalam dekapannya.
Menatap Irene dari kejauhan di mana Giselle dan Bastian mencoba untuk menenangkannya, kepergian Collin dan Colie yang membawa kedua kembar untuk kembali pulang pun hanya dapat membalas Hendrik dengan tatapan sendu dari kejauhan dan tanpa bisa berkata sedikit pun.
Detik jam yang berlalu pun semakin membuat Irene merasa gusar tak kala enam jam sudah mereka habiskan terduduk bagai bersimpuh penuh cemas. Tatapan Irene yang tak dapat lagi di kata dan jelaskan, bagi siapa pun yang dapat melihatnya, dapat dengan jelas memastikan bahwa luka dalam diri Irene kembali terbuka lebar.
Haruskah aku berbicara padanya? Apakah kehadiranku dapat membantu menenangkannya, atau justru membuat Irene semakin gusar dan cemas?! Gumam Hendrik dalam hati yang sejak tadi ia tanyakan berulang kali, berujung pengucilan diri yang ia lakukan pada diri sendiri.
William dan Mia begitu merasa bersalah saat ini melihat putra satu-satunya yang begitu mereka cintai terlihat muram dengan kebimbangan yang tak kunjung menghilang. Tahu akan tindakan mereka yang seharusnya tidak mereka lakukan, William dan Mia saat ini merasa malu akan status keluarga Kessler yang justru membuat hidup seseorang menderita.
“Kali kedua aku melihatnya seperti itu. Hanya Irene yang dapat membuat Hendrik bagai pria lemah,” ucap Bastian yang memandang dari kejauhan.
“Aku justru sering sekali melihat Irene seperti ini ... aku, tidak ingin melihat Irene seperti ini!” kepedihan Giselle pun terlihat jelas saat mencoba membiarkan Irene menenangkan dirinya seorang diri, tidak banyak hal yang dapat ia lakukan saat ini.
Belum selesai Irene melantunkan doa kembali, lampu indikator ruangan pun mati dengan pintu ruangan yang terbuka tak lama setelahnya. Terlihat sosok pahlawan penyelamat hidup yang berjalan dengan begitu lelah, ia pun masih harus menjelaskan kondisi nenek Emma saat ini.
“Maafkan aku, kondisi tubuhnya benar-benar sudah sangat lemah ... jika serangan ke tiga kembali terjadi, aku hanya bisa mengatakan dengan berat hati bahwa kalian semua harus menyiapkan diri.”
Titik air mata sudah tidak dapat lagi disembunyikan oleh Irene yang langsung terduduk lemas di atas lantai. Tidak lagi ia perdulikan semua mata yang memandangnya, dunia Irene seketika kelam tak sedikit pun cahaya menyinari, seperti ruang hampa yang tak berkesudahan.
Hendrik hanya dapat mengepalkan kedua tangannya mencoba untuk menahan diri. Tahu akan Irene yang akan melakukan perlawanan jika ia memberanikan diri untuk mendekatinya, Hendrik hanya mampu untuk menatapnya dari kejauhan hanya untuk menjaga perasaan Irene.
Namun tidak mungkin semua berjalan sempurna tak kala Mia yang sejak tadi sudah tidak sabar untuk berbicara atau memberikan semangat untuk Irene, kasih sayang yang berlebih pun akhirnya membuat Mia memberanikan diri untuk mendekati Irene di mana Hendrik terlambat untuk menghentikannya.
“Irene ... kami ikut bersedih atas apa yang menimpamu,” ucap Mia dengan penuh rasa bersalah.
“Bersedih atas ... apa yang menimpamu? Maksud anda?” Irene ternyata salah menyalahartikan maksud dari perkataan Mia yang kini dipenuhi oleh kemarahan dalam dirinya.
“Irene, ma-maksudku adalah ... ja-jangan bersedih karena hal ini ... nenek Emma pas—”
“Nyonya, maksud anda aku harus tersenyum atau tertawa di saat orang tuaku satu-satunya diambang nyawa? Bolehkah aku membalikkan kondisi ini jika Nyonya berada di posisiku?”
Tidak lagi dapat berkata, semua kesalahpahaman berujung benci pun tak dapat terhindarkan. Di saat cinta dan benci hadir untuk dipertanyakan, pilihan apa yang akan kau ambil?