Vanya Mentari, gadis yang memulai peruntungan bekerja di ibu kota menjadi kupu-kupu malam, terpaksa harus terlibat pernikahan kontrak dengan pria yang terkenal sangat dingin.
Pernikahan yang membawa penderitaan pada Vanya di setiap harinya. Bukan hanya luka fisik, melainkan luka batin. Tiap hari, perkataan yang terlontar dari mulut pria yang menikahinya begitu sangat pedis, dan tanjam hingga mampu menusuk rongga jantung dan membuat luka yang teramat mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKM 29
Seminggu berlalu. Dan selama seminggu ini perhatian Vanya tidak pernah pindar sedikit pun pada Bian. Walau Bian membentak, berkata kasar padanya Vanya hanya memilih diam bahkan sesekali tersenyum. Bagi Vanya hinaan yang terucap dari bibir Bian sudah ia anggap seperti angin yang berlalu, walaupun tertinggal di hati, tapi Vanya memilih sabar dan tenang.
Sama seperti malam ini. Lagi, Vanya berpenampilan seperti biasa hingga terus saja Bian mengatakan jika tidak tertarik dengan tubuh murahan Vanya.
"Kau pikir bajumu itu membuat aku luluh? Jangan harap!" Ucap Bian sambil duduk di sofa dan menatap layar ponselnya.
"Aku tahu kau tidak akan tertatir. Jadi jangan risih dengan penampilaku ini." Kata Vanya sambil meletakkan segelas kopi hangat di atas meja. "Minumlah, tidak ada racun di dalam kopi itu."
Bian mendongakkan kepalanya menatap wajah Vanya.
"Cantik." Batin Bian yang tidak bisa ia ungkapkan secara langsung.
Memang tidak di pungkiri wajah Vanya cantik walau tanpa polesan sama sekali. Belum lagi lekuk tubuhnya yang menggoda membuat siapa saja pasti akan terpesona dengannya. Tak heran banyak pria di luar sana yang rela menghamburkan uang untuk bisa mendapatkan pelayanan dari Vanya.
"Berapa bayaran mu semalam?" Tanya Bian yang masih tetap menatap Vanya.
"Kenapa? Jangan bilang kau tertarik?" Jawab Vanya dengan sebuah pertanyaan.
Bian memutus kontak mata, dan menyesap kopi yang di sajikan oleh Vanya.
"Bahkan walau gratispun aku tidak sudi." Jawab Bian dengan sombong.
"Baguslah." Jawab Vanya singkat lalu duduk di kursi yang berada di samping Bian. Vanya mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan pada orang yang sangat ia sayangi.
Vanya tersenyum sambil terus menatap layar ponselnya membuat Bian merasa sedikit emosi.
"Pelanggan?" Tanya Bian.
"Bukan."
"Lalu? Bank berjalan?"
"Bukan."
"Ambilkan aku cemilan di kulkas." Titah Bian. Dan tanpa menjawab Vanya pun berdiri dan meletakkan ponselnya di kursi.
Terdengar bunyi pesan di ponsel Vanya membuat Bian penasaran tentang apa yang membuat Vanya selalu saja tersenyum jika menatap layar ponselnya.
"Duniaku." Batin Bian saat melihat pesan masuk dengan nama dunia dan juga foto seorang pria.
Perasaan emosi geram, tiba-tiba saja mencuak di diri Bian. Entah kenapa ada perasaan tidak suka, saat melihat foto pria yang mengirim pesan pada Vanya.
"Kekasih?" Tanya Bian setelah Vanya meletakkan kue di atas meja.
"Maksudnya?" Tanya balik Vanya tidak mengerti.
Bian lalu berdiri. Dengan wajah merah padam menahan emosi ia menatap wajah Vanya, lalu kemudian mencengkram kuat dagu Vanya.
"Aku benci wanita mura*han." Kata Bian dengan tajam.
•••••
Pagi ini. Karena masih merasa emosi Bian memutuskan untuk melewatkan sarapan pagi, padahal Vanya sudah memasak untuknya. Dan tidak habis akal dan tidak ingin menyerah Vanya pun memutuskan untuk membawa bekal ke kantor Bian. Dan tentunya keputusak Vanya sudah di ketahui oleh Rossa sang ibu mertua.
Sesampainya di perusahaan. Vanya menatap takjub pada gedung yang menjulang tinggi.
"Seberapa kaya kah dia?" Tanya Vanya pada dirinya sendiri lalu masuk ke dalam gedung.
Zam yang menunggu sejak tadi mempersilahkan Vanya untuk masuk ke dalam ruangan Bian.
"Maaf mengganggu." Kata Vanya saat membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam.
Suara yang sangat Bian hapal mampu membuat Bian langsung menatap ke arah sumber suara.
Bian diam. Tatapan mereka bertemu. Perlahan Vanya melangkah mendekat ke arah meja kerja Bian.
"Aku membawa bekal untukmu." Vanya meletakkan kotak bekal di atas meja.
Bian masih diam. Lalu beberapa saat kemudian pintu terbuka.
"Bi.." Panggil Neysia sambil berjalan masuk. "Oh ada tamu." Ucap Neysia lalu berdiri tepat di samping Bian. Neysia lalu memegang tangan Bian, "Bi, ayo makan siang, aku sudah memesan resto yang enak untuk kita." Ajak Neysia.
"Ney, apa kamu tidak malu datang ke sini?" Tanya Vanya sambil menatap tajam pada Neysia yang seenak jidat langsung mengajak Bian makan siang di luar padahal dirinya sudah susah payah memasak dan sekaligus membawanya ke kantor.
"Malu? Untuk apa?" Tanya Neysia balik.
"Setidaknya kamu harus malu. Istrinya Bian aku! Bukan kamu."
"Bi.."
Bian masih diam memantau kedua wanita yang ada di ruangannya.
"Tapi aku wanita yang Bian cintai bukan kamu." Kata Neysia.
"Itu dulu. Sekarang tidak lagi, karena buktinya Bian menikah denganku. Jadi sekarang keluarlah."
"Stop!" Ucap Bian sambil menggebrak meja. Hingga membuat kedua wanita itu kaget.
"Ayo kita pergi." Ajak Bian sambil menarik tangan Neysia, membuat Vanya diam mematung.
saking banyaknya dosis obat lerangsang sampe lupa gawang yg udah loss doll atau masih tersegel rapi😅
Apa Bian jg gak liat bekas darah d sprei🤔
mereka sekarang saling mencintai lho Tor ....
beruntung sekali nasibmu Zam...
bertaubat lah ZAM...😂
apa sudah menyadari klo dia satu²nya pria yang tidur sama Vanya...??
lihat aja...