NovelToon NovelToon
Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

Selama 19 tahun, aku dan keluargaku mendiami rumah ini. Rumah di tengah sawah. Rumah nyaman khas pedesaan, jauh dari hingar bingar kota. Udara sejuk, malam yang tenang membuat aku betah berlama-lama di rumah.
Hingga akhirnya, kejadian-kejadian aneh menimpaku. Semakin lama kehidupanku semakin terusik. Ditambah lagi kisah asmaraku yang tidak semulus pipi Erni, gadis pujaanku. Ah, apa yang sebenarnya terjadi? Semua masih misteri.
Semua akan terbuka dan kalian akan menemukan satu persatu jawaban dari misteri yang ada, jika kalian mengikuti kisahku dari awal sampai akhir . . .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari patah hati

"Terimakasih buat kalian yang udah stay tune bareng Dani dari jam empat sampai jam enam, kita jumpa lagi esok hari dijam yang sama, jaga kesehatan, tetap semangat, salam pesona musik Indonesia. . .sampai jumpa. . .", Aku menutup jam siarku petang ini dengan lagu dari Yovie Nuno berjudul Dia Milikku.

Dia untukku

Bukan untukmu

Dia milikku

Bukan milikmu

Pergilah kamu

Jangan kau ganggu

Biarkan aku mendekatinya . . .

Alunan lagu yang membantuku terdiam, menerawang, teringat kembali akan sosok Erni.

Drrtt. . .drrttt . . . drrttttt . . .

Hp bergetar, ada telepon. Kulihat dilayar hp, Febi. Sedikit malas aku menerima telepon darinya. Bukan salahnya sih, biasanya dia menelepon untuk mengetahui keadaanku. Nggak terlalu sering juga, namun cukup untuk membuatku menyimpulkan Febi memang ada perasaan kepadaku.

"Halloo", sapaku terlebih dahulu.

"Hallo Dan,aku nggak ganggu kan?", Febi bertanya, basa basi.

"Nggak sih, aku habis siar, nungguin yang siar setelahku belum datang, habis itu ya cus pulang", jawabku datar.

"Begini, Lik Wo tadi telepon aku, katanya minggu-minggu ini mau berkunjung ke rumahmu. Gimana? Gak po po kan? Kamu, bisanya kapan?"

Lik Wo ya, aku kembali teringat kejadian kecelakaanku, mimpiku, dan "pageranku" yang nggak berfungsi lagi.

"Jum'at atau sabtu aja Fe, gimana?", kali ini aku antusias.

"Ya, nanti tak sampaikan", hening beberapa detik. "Dan, aku boleh tanya nggak?", Febi membuka suara lagi.

"Hmmm, apa?", aku penasaran, apakah mungkin ini terkait hal-hal mistis.

"Kamu. . .kamu, suka ya sama Erni?", Febi menanyakan hal yang membuat aku terkaget, pertanyaan yang nggak kuharapkan.

"Kamu nggak mau jawab nggak pa pa kok, itu memang privacy kamu sih, sorry aku kepo. . .hehe", Febi terdengar tertawa, ketika aku terdiam beberapa saat tidak menjawab pertanyaannya.

"Jujur Fe . . .ya, aku suka sama Erni. Dan aku juga baru tahu Erni jadian sama Kak Iwan. Rasanya nyesek banget. aku sudah nggak ada peluang lagi untuk mendapatkannya", aku menjawab, sambil sekali lagi teringat bagaimana Kak Iwan membonceng Erni tadi. Kuraba dadaku, ada nyeri di sana. Hening kembali, Febi tak menanggapi perkataanku.

"Fee?", aku memanggil setelah keheningan yang cukup panjang.

"Eee-eehh, Iya Dan, sorry-sorry aku ngelamun", Febi menjawab, entah suaranya terdengar sedikit bergetar.

"Udah dulu ya, nanti kita lanjut ngobrolnya, aku mau ke belakang dulu, ati ati kalau pulang", Tuutt . . .Tuttt . . .Tuttt, telepon dimatikan Febi dengan terburu-buru. Aku sedikit bingung dan tak mengerti. Dia yang bertanya, aku jawab malah dimatikan teleponnya.

Menunggu beberapa menit, akhirnya petugas siar setelahku datang, Mas Henri.

"Sorry, rodok telat, baru nganter anak les privat soale", Mas Henri menepuk pundakku.

"Iya Mas, nggak pa pa, belum telat juga kok". Aku berkemas bersiap untuk pulang.

"Gimana, wes sehat beneran kan?", tanya Mas Henri sambil menata play list lagu di layar komputer.

"Aman mas, luka luar sembuh, luka hatiku yang terbuka. . .hahaha", jawabku sambil tertawa, terdengar guyon, tapi sebenarnya memang itu yang terjadi.

"Hallaaahh, cah galau", canda Mas Henri.

Kami tertawa bareng.

Setelahnya aku pamit pulang. Sedikit was-was juga pulang jam segini. Karena terakhir kali aku naik motor di jam "Surup" begini, aku berakhir di Rumah Sakit. Aku memacu motorku pelan, sesekali melihat spion motor, jujur aku masih parno. Kejadian kecelakaan yang lalu, kejadian mistis dan mimpiku, masih kusimpan rapat-rapat sebagai rahasiaku. Tidak ada satupun orang yang tahu.

Tapi syukurlah, hari ini jalanan cukup rame, hingga aku mendarat dengan selamat di rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung cuci tangan, wajah dan kaki, kemudian masuk ke dalam kamar. Ritual sehari-hari, mengurung diri di kamar. Dari jendela terlihat samar-samar bulan bersinar di langit. Aku ingin segera tidur, aku ingin melupakan Kak Iwan dan Erni. Aku ingin melupakan hari ini.

Mungkin datangnya malam sanggup melupakanmu, namun pagi esok akan tiba dengan membawa senyumanmu, yang bersinar cerah, namun jauh dari jangkauanku dan menyiksaku . . .

1
Alwa fikriah
ceritannya sangat bagus sekali,
Alexander
good job author.
Alexander
lalu bagaimana dengan nasib anak kembar wira yang perempuan ?
Alexander
ngasih sesajen itu juga wujud ketundukan kita pada kaum lelembut itu.
Alexander
kenapa malah jadi lagunya judika ??
Alexander
kalau mbah kadir adalah anak dari wira, bukankah seharusnya usianya masih di kisaran 58 tahun ?
Alexander
ternyata rumah tembok. dalam banyanganku rumah lek diran adalah rumah kayu.
Alexander
menuntut orang lain bersikap terbuka, dianya sendiri suka main kucing2an.
Alexander
tapi perjanjian seperti itu tidak bisa putus begitu saja. anak keturunannya punya dua pilihan. meneruskan persekutuannya dengan bangsa jin atau memutus mata rantai dengan rukyah dan taubat sungguh2.
Alexander
seperti perempuan saja, merajuk tanpa kejelasan alasan 😅
Alexander
perhatian seorang ayah itu dititipkan melalui istrinya. ibu dari anak2 nya.
Alexander
dan dani sempat melihat pak ndori melayani pelanggan dengan mobil merah kan ?
Alexander
titik terendah itu ada karena kamu sendiri yang menciptakannya. kok menyalahkan roda takdir.
Alexander
kaburnya pakai motor yang dibeli dengan uang bapaknya. hadeehh 😅
Alexander
pemeran utamanya berpikiran sempit. menyimpulkan segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
Alexander
tapi bukan dengan cara seperti itu kamu meminta penjelasannya. tidak punya tata krama.
Alexander
kalau yang sakit bukan erni, apakah dani tetap berpikir demikian ?
Alexander
paracetamol sirup ?
Alexander
kalau di sini hari keramatnya hari kamis wage malam jumat kliwon tolu. di novel sebelah hari rabu wage manahil seingatku.
Alexander
seharusnya masjid bisa jadi pilihan untuk beristirahat atau tidur, tapi banyak masjid yang sudah digembok selepas sholat Isya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!