Bagaimana jadinya jika seorang keponakan diam-diam mencintai tantenya sendiri? Sementara sang tante selalu membuat ulah dengan menerima semua laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
Ini adalah kisah Dalziel Lawrance, anak yang diangkat di keluarga Tan dan adik dari ayahnya—Gloria Rusell Taneta.
Bagaimana kisah cinta mereka akan berujung? Cus kepoin ceritanya.
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Gelagapan
Tok Tok Tok ....
"Ziel, ini Daddy!" ucap Aneeq setelah mengetuk pintu ruang kerja milik putranya. Karena dia ingin memberikan satu berkas yang harus dikerjakan Ziel.
Mendengar itu, dua orang yang ada di dalam sana langsung kalang kabut. Gloria yang bingung harus bersembunyi di mana, sementara Ziel yang ketar-ketir karena celananya basah.
Harus dengan alasan apa supaya Aneeq tidak curiga?
"Ziel, aku harus ke mana?" tanya Gloria dengan suara yang sangat pelan.
Ziel juga terlihat bingung, tetapi tiba-tiba dia bangkit dan meminta Gloria untuk masuk ke kolong meja. Otaknya terasa buntu, bagai seseorang yang baru saja tertangkap basah.
"Tunggu di sini sampai Daddy keluar. Ingat, jangan mengeluarkan suara apapun," kata Ziel memperingati Gloria.
"Tapi bagaimana dengan celanamu, Ziel?" tanya Gloria sambil menunjuk bagian yang dia maksud.
Ziel mendesaahkan nafas, lalu mengambil tisu sebanyak-banyaknya.
"Ziel, kamu di dalam kan?" seru Aneeq lagi, karena dia tak mendapat balasan dari putra sulungnya. Dia memasang telinga di daun pintu, dan dia merasakan ada suara langkah kaki sedang menuju ke arahnya.
Ceklek!
Benda persegi panjang itu terbuka, menampilkan wajah Ziel yang berusaha untuk terlihat biasa saja. Padahal jantungnya terus berdebar dengan keras.
"Maaf, Dad, membuatmu menunggu," ujar Ziel seraya menundukkan pandangan.
Aneeq menatap putranya dengan seksama, dan kedua manik mata pria itu jatuh pada pusat tubuh Ziel. "Ada apa dengan celanamu?"
Deg!
Ziel langsung tergagap, hingga yang bisa ia lakukan adalah mengusap tengkuknya yang terasa dingin.
"Ah tadi ketumpahan air, Dad. Yah tadi aku tidak sengaja menyenggolnya," jawab Ziel dengan kikuk.
Aneeq terdiam sesaat, membuat Ziel semakin gusar. Ziel baru merasa lega saat sang ayah kembali buka suara.
"Oh, ya sudah ayo duduk kembali di kursimu. Ada pekerjaan yang ingin Daddy berikan," kata Aneeq seraya melangkah masuk. Karena dia tidak ingin membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak penting.
Di belakang sana Ziel langsung menghela nafas panjang sambil mengusap-usap dada.
Dia kembali duduk, sementara di bawah meja Gloria tersenyum lebar karena Aneeq tidak curiga dengan kehadirannya.
"Ini proyek yang akan kita jalankan satu bulan lagi. Daddy ingin kamu yang pegang," ujar Aneeq seraya menyerahkan satu buah map ke arah Ziel.
Hal tersebut tentu saja membuat Ziel membulatkan matanya, sebab proyek ini cukup besar. Biasanya Aneeq yang selalu menanganinya sendiri.
"Tapi, Dad—"
"Daddy ingin kamu belajar lebih banyak, Ziel. Kamu tenang saja, Daddy akan selalu mendampingimu."
Mendengar itu tentu saja Ziel merasa bersyukur, karena dari dulu sampai sekarang kasih sayang Aneeq tidak pernah berubah. Bahkan pria itu tidak membeda-bedakan dia dengan Lee dan juga Amanda—kedua adiknya.
Ziel meraih map itu, tetapi lengannya tak sengaja menjatuhkan pulpen ke lantai. Membuat dia mau tak mau menunduk untuk mengambil benda tersebut.
Tepat pada saat itu pandangan mata Ziel bertemu dengan kedua netra milik Gloria. Gadis cantik itu mengulum senyum manis, lalu dengan cepat memegang kedua rahang Ziel untuk mencium bibir pria tampan itu.
Ziel langsung membelalakkan matanya saat ia merasakan sapuan lembut di bibirnya. Bukan apa, sekarang dia sedang berhadapan dengan Aneeq, tetapi Gloria malah menggodanya.
Ciuman itu terasa sangat singkat, tetapi Gloria nampak puas. Sementara Ziel terlihat gelagapan dengan wajah yang sudah pias.
Dengan cepat Ziel mengangkat kepalanya dan kembali bersitatap dengan Aneeq.
Glek!
Reflek, dia meneguk ludahnya dengan berat.
"Ada apa, Ziel?" tanya Aneeq diiringi satu alis yang terangkat.
Ziel ingin menjawab, tetapi lidahnya seolah kelu. Hingga suara yang berhasil dia keluarkan terdengar terbata-bata. "Ti—tidak, Dad. A—aku tidak apa-apa."
Aneeq nampak manggut-manggut, meski dia merasa aneh dengan tingkah putranya.
"Ya sudah kalau begitu Daddy keluar dulu ya. Kamu pelajari lagi tentang proyek itu, Daddy ingin menjadikanmu pembisnis yang handal," ujar Aneeq seraya bangkit dari kursinya, sebelum keluar dia ingin menepuk bahu Ziel, seolah paham apa yang akan dilakukan oleh sang ayah, Ziel langsung bergeser supaya Aneeq tidak perlu melangkah ke arahnya.
Ya, dia takut Aneeq melihat Gloria yang masih setia bersembunyi di bawah meja.
"Terima kasih, Dad, sudah mempercayakan semuanya padaku," ucap Ziel sebelum Aneeq benar-benar menghilang dari pandangannya.
Aneeq hanya mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu, Ziel langsung menutup pintu dan menguncinya.
Dia berlari ke arah meja sambil terus menghela nafas. Sementara Gloria langsung keluar dari persembunyiannya.
"Bagaimana? Apakah kamu hampir mati karena ciumanku?" tanya Gloria sambil bertepuk tangan kecil.
Karena merasa gemas, Ziel langsung menangkup kedua sisi wajah kekasihnya. "Astaga, Glor. Kamu tahu, jantungku seperti berhenti berdetak sejak tadi."
Dan Gloria hanya menanggapi itu semua dengan sebuah kekehan.
***
Maaf ya gaes, aku lagi kurang sehat, jadi slow update 🙏