Adis seorang gadis yang sangat membenci laki-laki, entah apa penyebabnya ia juga tidak tahu.
Yang jelas jika ada laki-laki yang mendekatinya, hati Adis bisa menjadi marah. Dan yang mengetahui penyebab itu adalah ibunya, hingga sang ibu memutuskan menyuruh Adis untuk menikah karena hanya itu jalan satu-satunya.
Meski kata menikah dalam benak Adis adalah 'Aneh' namun akhirnya Adis tetap menuruti permintaan ibunya itu meski ia sendiri ragu untuk menjalankan kehidupan berumah tangga.
Rahasia apa yang di sembunyikan oleh ibunya Adis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alhamdulillah Sah!
"Kenapa?" Tanya Bima dengan menaikkan sebelah alisnya. Mengapa Papanya ini melarang dirinya untuk melihat Adis.
"Tentu saja saat dirias calon istrimu itu tidak memakai kerudung. Kamu mau nanti dapat omelan dari Mama mu." Jawab Papa Adi.
Sebenarnya Papa Adi sudah dapat peringatan dari istrinya untuk mengawasi Bima, karena bisa saja Bima masuk ke dalam kamar itu. Dan ternyata tebakan istrinya itu benar. Bima hampir saja masuk ke dalam.
Bima mengangguk. "Betul juga." Ucapnya. Kenapa dirinya ini tidak sabaran sekali untuk segera menghalalkan Adis. Ah, Bima merasa waktu berjalan sangat lambat.
Papa Adi menepuk pundak putra semata wayangnya yang masih berdiri di depan pintu.
"Lebih baik kita ke depan." Ajaknya sambil menunggu mereka selesai.
"Iya." Jawab Bima menjajari langkah Papanya ke ruang tamu.
"Hei, Bim." Sapa Diki yang sudah tiba bersama teman Bima yang lain. Mereka datang lebih awal.
Diki dan yang lainnya juga tidak mengira kalau Bima bakalan menikah lebih dulu dari mereka semua. Padahal yang mereka tahu, Bima selalu sibuk dengan pekerjaannya dan tidak ada niatan untuk pacaran. Tapi beberapa hari yang lalu, Bima memberi kabar kalau dalam waktu dekat akan menikah.
Tentu saja mereka kaget dan sangat penasaran dengan gadis yang dijodohkan dengan Bima. Mereka juga kerap membujuk Bima untuk mengenalkan calon istrinya itu. Namun Bima tidak berhasil membujuk Adis untuk bertemu dengan para sahabatnya. Adis sangat sulit untuk pergi makan malam dengan alasan yang selalu sama yaitu malas keluar.
***
"Sekar, rumahnya Pak Bima bagus banget." Kagum Anis saat mereka sudah masuk ke halaman rumah Bima. Rumah bergaya Eropa dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi.
"Jangan norak deh Nis, kayak nggak pernah lihat rumah bagus aja kamu." Tegur Sekar. Sahabat satunya ini orangnya kadang malu-malu'in.
"Yee, kayak kamu pernah aja." Balas Anis ketus.
Dalam langkahnya Anis masih sempat-sempatnya mengamati sekitarnya dan ia berdecak kagum. Rumah atasannya ini sangatlah mewah. Betapa beruntungnya Adis mendapatkan semua ini.
"Kapan ya aku seperti Adis." Gumamnya.
"Jangan mimpi." Sahut Sekar.
"Ck, di aminin kek, siapa tahu bakal kesampaian." Protes Anis.
Mereka pun masuk ke dalam dan mendapat pertanyaan dari salah satu Art yang bertugas di depan.
"Kami sahabatnya Adis." Jawab Sekar.
"Mari ikut saya." Ucapnya menunjukkan dimana Adis berada.
"Lihat, itu Pak Bima sedang ngobrol sama siapa ya? Cakep-cakep bener orangnya." Bisik Anis pada Sekar.
"Pasti para temennya lah. Lihat aja wajah mereka yang seumuran sama Pak Bima." Jawab Sekar.
"Eh eh Sekar, mereka melihat kita tuh." Bisik Anis heboh mengarahkan dengan dagunya.
"Jangan ganjen ya Nis." Peringati Sekar.
"Siapa tahu diantara mereka ada yang tertarik denganku." Ucap Anis dengan tertawa cekikikan membuat Sekar menghela nafas.
"Mereka tadi siapa Bim?" Tanya Diki setelah Sekar dan Anis hilang dari pandangan mereka.
"Oh, mereka sahabatnya Adis." Jawab Bima singkat.
"Bim, kira-kira Lo tahu nggak, nama dari salah satu gadis itu?" Tanya Diki lagi. Entah mengarah pada siapa.
"Mentang-mentang udah putus, sekarang udah mau gaet yang baru aja Lo." Sahut teman Bima yang bernama Ridho.
Bima dan yang lain hanya tersenyum.
"Haha, siapa tahu aja jodoh." Jawab Diki dengan kekehannya.
"Bima." Panggil Mama Desi mendekat ke arah putranya. Bima pun menoleh.
"Hallo Tante." Sapa Diki dan lainnya sambil menyalimi tangan Mama Desi.
"Sudah lama kalian?" Tanya Mama Desi.
"Lumayan Tante." Jawab Diki mewakili. Mama Desi pun beralih pada Bima dan menyuruh Bima untuk berganti baju.
"Gue tinggal dulu ya." Pamit Bima meninggalkan kawan-kawannya lalu naik ke lantai dua.
***
Para tamu undangan sudah hadir satu persatu mulai dari rekan kerja Papa Adi, teman-teman arisan Mama Desi dan juga beberapa tetangga dekat Bu Sari. Sanak saudara Papa Adi juga sudah datang. Ternyata kedua orangtua Bima adalah anak tunggal.
Di dalam kamar, Adis ditemani oleh Sekar dan Anis.
"Kamu gugup ya Dis?" Tanya Sekar karena Adis hanya diam saja setelah selesai dirias.
Adis menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
"Terus kenapa? Jangan nangis dong Dis nanti make up kamu luntur." Ujar Anis. Sayang kan, Adis udah cantik banget.
"Aku cuma ingat Ayah saja." Jawab Adis. Seharusnya pahlawan hidupnya itu yang menjadi wali nikahnya.
Anis dan Sekar sama-sama merangkul Adis.
"Ada kami yang selalu ada untukmu. Di hari bahagia ini kamu nggak boleh cengeng. Nanti para tamu yang hadir bakal mikir yang enggak-enggak tentang kamu." Hibur Sekar.
"Iya, betul Dis, kamu harus pasang wajah bahagia." Sahut Anis.
Bagaimana ia bisa bahagia. Sementara hatinya tidak menginginkan ini. Adis hanya pura-pura bahagia saja karena ia tidak ingin mengecewakan semuanya.
"Ayo keluar sayang, penghulunya sudah tiba." Ucap Mama Desi yang menjemput Adis.
Dengan kaki gemetar Adis berdiri. Mama Desi menuntun Adis keluar dari kamar sementara kedua sahabat Adis berjalan di belakang.
Semua pasang mata menatap ke arah Adis yang berjalan ke meja akad. Tak terkecuali Bima, ia begitu terpesona dengan kecantikan Adis, sangat anggun dengan gaun pengantin berwarna putih bersih itu, apalagi dengan balutan hijab dan mahkota kecil yang menghiasi kepala Adis serta make up-nya membuat Bima menjadi pangling. Bima seperti tidak percaya jika itu adalah Adis.
Benarkah ini kamu?
Dan tanpa berlama-lama lagi, akad pun segera di mulai.
"Saya terima nikah dan kawinnya Adis Saputri binti (Alm.) Malik Irawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Jawab Bima lantang dengan hentakan tangan kanannya yang dijabat penghulu.
"Bagaiman para saksi?" Tanya Penghulu.
"Sah."
"Sah."
"Sah." Jawab para saksi serentak diikuti oleh tamu yang lainnya.
"Alhamdulillah, akhirnya mereka sah juga Des." Ucap Bu Sari dengan mata berkaca-kaca sambil menggenggam tangan besannya.
"Iya Sar, keinginan kita sudah terwujud." Jawab Mama Desi sangat bahagia.
"Silahkan mempelai pria mencium kening istrinya kemudian diteruskan mempelai wanita mencium tangan suaminya." Perintah Pak Penghulu memberi arahan pada pengantin baru itu.
Bima menghadapkan dirinya pada Adis, dipegangnya kedua pundak Adis sambil memandang wajah Adis yang tertunduk itu. Bima tersenyum simpul pasti istrinya ini malu.
Perlahan bibir Bima menyentuh kening Adis lalu ia mengecup dengan lembut. Adis meremat gaunnya sambil memejamkan mata begitu Bima melabuhkan kecupan di keningnya, ia tidak suka adegan ini, Adis tidak suka Bima menciumnya. Mau menolak juga percuma, Adis hanya mampu menahan emosinya.
Sekarang giliran dirinya yang mencium tangan suaminya, dengan setengah hati Adis melakukannya. Diteruskan dengan bertukar cincin dan setelah itu menandatangani lembaran surat yang diberikan oleh penghulu.
Kini Bima dan Adis berdiri di pelaminan menyalami para tamu undangan yang memberi ucapan selamat dan do'a terbaik untuk mereka. Adis menampilkan senyum terpaksanya sambil mengucapkan terimakasih. Meski teman-teman arisan Mama Desi memuji dirinya yang sangat cantik dan serasi sekali dengan Bima namun itu tak berpengaruh untuk Adis.
Disaat Adis dan Bima hendak duduk, sepasang suami istri menghampiri mereka diikuti Bu Sari juga.
"Selamat atas pernikahannya Mas Bima, dijaga baik-baik ya Mbak Adisnya dan semoga Allah selalu melindungi pernikahan kalian." Ucap lelaki itu menyalami tangan Bima dan juga menepuk pundak Bima. Memberi ucapan selamat.
Alis Bima terangkat karena merasa asing dengan pria ini. Bu Sari yang menangkap raut muka Bima langsung mengenalkan pada menantunya.
"Kenalkan Nak, beliau ini Ustadz Hidayat dan yang ada di sampingnya adalah istrinya. Mereka teman Ibu." Ucap Bu Sari. Bima pun mengangguk paham.
"Terimakasih Ustadz sudah hadir di pernikahan kami." Jawab Bima ramah.
"Sama-sama Mas Bima." Balas Ustadz Hidayat.
Kemudian berpindah ke arah Adis sambil mengatupkan kedua tangannya tidak bersalaman dengan Adis.
"Semoga sakinah, mawadah dan warohmah ya Mbak Adis." Ucapnya ramah.
Namun Adis menunjukkan pandangan tidak sukanya bahkan menatap tajam pada Ustadz Hidayat.
.
.
Bersambung.
.