IG. suliani_cucu
Warning 18+
Kekurangan harta membuat Aldo rela menjadi pemuja Nyai Ratu, siluman ular hutan terlarang.
Semua terjadi karena sebuah penolakan yang terjadi saat Aldo ingin meminang kekasih hatinya, pak Didi bukan hanya menolak lamaran dari Aldo. Namun, dia menghina dan mencaci maki Aldo yang memang hanya orang biasa.
Akankah dia mendapatkan kebahagiaan dengan cara sesat yang dia tempuh?
Yuk kepoin kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyerahkan Tumbal Pertama
Selepas magrib Aldo langsung masuk ke dalam kamar yang sudah dia siapkan untuk Nyai Ratu, kamar yang terlihat begitu cantik dan diberikan kemenyan di setiap sudut ruangannya.
Di atas tempat tidurnya juga dia taburkan kembang tujuh rupa sesuai keinginan dari Nyai Ratu, kelambu putih juga terlihat menutupi ranjang berukuran king size tersebut.
"Semuanya sudah rapih, aku tinggal menunggu Meli datang," kata Aldo dengan rasa tidak karuan.
Dia sungguh takut jika Meli akan berubah pikiran, dia takut jika Meli tidak jadi datang. Dia takut jika Nyai Ratu akan marah terhadap dirinya, karena belum juga mendapatkan tumbal.
Namun, besar harapannya jika Malam ini dia bisa mendapatkan tumbal dan semua keinginannya akan segera terwujud, ingin menghancurkan Reihan dan juga pak Didi.
Ting! Tong!
Suara bel terdengar begitu nyaring, Aldo yang sedang berada di dalam kamar itu langsung tersenyum dan segera keluar.
Dengan langkah cepat dia berjalan menuju pintu utama, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Meli. Karena wanita itulah yang bisa memakmurkan dirinya.
Aldo membuka pintu utama dengan tergesa, nampaklah sosok Meli yang sedang tersenyum hangat kepada Aldo.
Penampilan Meli terlihat lebih baik, tidak lusuh seperti saat pagi Aldo bertemu dengan dirinya.
Aldo jadi berpikir, mungkin saja Meli sudah membeli baju baru dengan uang yang sudah Aldo berikan kepada anak gadis tersebut.
"Selamat malam, Kak. Sesuai janjiku, aku datang ke rumah kakak," kata anak gadis tersebut dengan penuh semangat.
Tentu saja Meli bersemangat, karena dia berpikir jika dengan bekerja di rumah Aldo dia akan mendapatkan banyak uang.
Dengan seperti itu, dia bisa membiayai hidup adiknya yang kini masih duduk di bangku kelas enam SD.
"Ya, selamat datang di rumahku. Silakan masuk, duduklah dulu. Aku ingin membuatkan minuman untukmu," kata Aldo seraya menuntun Meli untuk duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu.
Meli sempat merasa canggung mendapatkan perlakuan baik dari Aldo, namun dia tetap menurut dan duduk di atas sofa.
Dia berpikir jika manusia sebaik Aldo tidak mungkin berbuat jahat kepada dirinya, Aldo tidak mungkin berbuat hal yang tidak-tidak terhadap dirinya.
"Tidak usah repot-repot, Kak. Aku akan segera melakukan pekerjaanku saja, biar bisa cepat pulang. Kasihan adik aku di rumah sendirian," kata Meli.
Aldo tersenyum hangat, dia elus punggung Meli dengan lembut lalu dia berkata.
"Jangan sungkan, duduklah dulu dengan tenang. Aku akan ke dapur sebentar," kata Aldo memaksa.
Tanpa banyak bicara lagi Aldo langsung melangkahkan kakinya menuju dapur, sedangkan Meli terlihat duduk anteng di ruang tamu tersebut.
Meli terlihat mengedarkan pandangannya, rumah Aldo terlihat sangat bersih, rapih dan juga luas.
Meli menjadi heran dibuatnya, kenapa Aldo meminta dirinya untuk membersihkan rumah tersebut? Padahal, dilihat dari sudut mana pun tidak ada yang berantakan ataupun kotor.
Semua tertata rapi sesuai tata letaknya, bahkan Meli bisa memastikan jika dia mengusap mejanya, tidak akan ada debu yang menempel di tangannya.
"Apa yang harus aku kerjakan di rumah besar ini? Kenapa semuanya terlihat rapi dan juga bersih?" tanya Meli lirih.
Meli kembali mengedarkan pandangannya, banyak lukisan yang bertengger cantik di dinding. Terlihat indah dan juga mahal.
Dia tersenyum, dia jadi berpikir, mungkin Aldo adalah orang baik yang Tuhan kirimkan. Sehingga Meli disuruh bekerja, namun tidak akan merasa lelah karena tidak ada pekerjaan yang berarti di rumah milik Aldo.
"Minumlah dulu, kuenya juga dimakan. Karena bekerja itu membutuhkan tenaga," kata Aldo seraya menyodorkan jus jeruk dan kue keju yang sempat dia beli.
Meli menerimanya dengan bersemangat, dia selalu kekurangan makanan. Tentu saja Meli sangat senang, saat Aldo memberikannya makanan yang menurutnya sangat enak.
"Kakak terlalu baik," ucap Meli.
"Tidak usah berkata seperti itu, makanlah!" kata Aldo dengan nada memerintah.
Meli menurut, dia langsung melahap kue yang Aldo berikan. Kemudian, setelah kue tersebut habis, Meli langsung menenggak jus jeruk yang Aldo buat hingga tandas.
"Emm, enak, Kak." Meli mengusap mulutnya yang basah oleh jus jeruk.
Aldo terkekeh dibuatnya, ternyata anak gadis yang berada di hadapannya benar-benar sangat polos menurutnya.
"Duduklah sebentar, tunggu makanannya turun. Setelah itu barulah kamu bekerja, aku mau mengambil kemonceng dan juga sapu," kata Aldo.
"Ya, Kak." Meli menganggukkan kepalanya.
Meli terlihat duduk anteng, sedangkan Aldo terlihat meninggalkan Meli. Dia beralasan jika dirinya akan mengambil kemoceng dan juga sapu, padahal dirinya bersembunyi di balik tembok.
Dia ingin melihat reaksi dari obat tidur yang Aldo berikan kepada Meli, sepuluh menit kemudian Meli terlihat menguap berkali-kali.
Matanya bahkan sampai berair karena tidak tahan menahan rasa kantuk yang dia dera, tak lama kemudian Meli terlihat menyandarkan kepalanya ke sofa.
Aldo tersenyum, dia sengaja menunggu hingga Meli terlelap. Setelah memastikan Meli tidur dengan pulas, Aldo langsung menghampirinya.
"Kamu sangat cantik Meli, sayangnya kamu harus menjadi tumbal. Maafkan aku, tapi aku akan memberikan uang sebagai gantinya." Aldo mengangkat tubuh Meli.
Dia membawa tubuh mungil Meli ke dalam kamar yang sudah dia persiapkan, dia tatap wajah cantik Meli.
Rasa sedih, sesal dan juga kasihan menyeruak di dalam hatinya. Namun, segera dia tepis rasa itu.
Semua sudah terjadi, Aldo sudah menceburkan dirinya ke atas lumpur dosa. Dia sudah merasa sulit untuk bangun dan membersihkan diri.
"Aku tidak boleh lemah, aku sudah terlanjur memilih jalan ini," kata Aldo lirih.
"Kamu tidak boleh goyah Aldo, Sayang. Aku akan memberimu segalanya," kata Nyai Ratu yang ternyata sudah berada tepat di belakang tubuh Aldo.
Aldo terkesiap, dia langsung membalikkan tubuhnya. Dia tatap wajah Nyai Ratu yang selalu terlihat cantik di matanya, wajah yang sebenarnya semu.
Karena siluman ular itu berusia puluhan ribu tahun, sudah pasti wajah aslinya hancur dan tak terbentuk.
Namun, Aldo yang sudah dibutakan oleh harta dan keinginan yang sesat tidak sadar akan hal itu.
"Nyai! Nyai sudah datang?" tanya Aldo
Nyai Ratu nampak menganggukkan kepalanya, dia tersenyum lalu memeluk Aldo dan menautkan bibirnya.
Mereka saling menautkan bibir, saling membelitkan lidah dan saling mencecap rasa dengan penuh napsu.
"Keluarlah, Aldo, Sayang. Jangan masuk sebelum aku memintanya," pesan Nyai Ratu.
"Ya, Nyai," jawab Aldo.
Walaupun berat hati, Aldo tetap meninggalkan kamar itu. Dia mengunci pintu kamar itu, lalu pergi dari sana.
"Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat demi Arumi. Demi kehancuran dua orang yang sangat aku benci," kata Aldo lirih.
Aldo pergi dan segera melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.
*
*
Masih Berlanjut....
Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, Aamiin.