"Kamu akan terus dihantui rasa bersalah Dinda. Dan kamu tidak akan bisa lepas dari semua ini. Jika kamu beranggapan, membunuh ku dapat menghentikan semuanya, kamu salah Dinda. Justru kamu akan memulai semuanya. Kamu akan terus dihantui rasa sakit dan penderitaan kemana pun kamu pergi."
Bagaimana seorang Dinda bisa mengalami berbagai hal aneh sekaligus mengerikan dalam hidupnya?
Bisakah dia melalui semua rintangan yang menghadang?
Akankah dia sanggup berjalan hingga akhir?
Peringatan : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan Nama atau pun tempat, itu semua diluar pengetahuan sang penulis. Dan tidak ada maksud dari Sang Penulis untuk menyinggung suatu pihak manapun. Penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika ada bahasa atau pun perkataan yang tidak pantas.
Dan tentunya Sang Penulis tak pernah bisa lepas dari kesalahan.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juan Atma Wikarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namaku Dinda : Episode 29
Orang itu kemudian berlutut di depan ku, sembari mencapkan pedangnya ke tanah. Dia menunduk kepalanya. Dan pada saat itulah terjadi sesuatu yang luar biasa. Para Panglima dan murid yang lainnya ikut berlutut dan menancapkan pedangnya di tanah, sama dengan yang orang itu lakukan.
Bahkan Ayah dan Kakek ku pun melakukannya, juga di ikuti oleh Beni. Aku benar benar diperlakukan seperti seorang ratu. Walaupun aku tidak menyukainya dan menurut ku ini terlalu berlebihan.
"Ayah, Beni, Kakek. Kenapa kalian semua berlutut di hadapan saya? Ini semua terlalu berlebihan." (Dinda)
"Nduk, kamu memang anak Ayah. Tapi di samping mu ada Nyai Sarmi yang sangat kami hormati. Jadi biarkanlah kami melakukan ini semua nduk, sebagai bentuk penghormatan kami nduk." (Ayah Dinda)
"Baiklah Ayah, saya mengerti. Tapi menurut saya sudah cukup. Sekarang saya memohon kepada kalian semua untuk berdiri. Dan ayo kita berjuang bersama sama, dengan darah dan keringat kita. Saya yakin, bahwa kita melakukan hal yang benar. Dan inilah saatnya! Saatnya kita berangkat!" (Dinda)
"Ayo!" (Dinda)
"Ayooo ayoo kita semuaAaaa berangkaAAaaAtt."
Teriakan mereka membuat aku semakin bersemangat dan semakin meyakinkan ku bahwa mereka sudah siap dengan segala sesuatu yang akan mereka hadapi. Dan aku bersama orang orang ini, langsung berangkat menempati tempat kami masing masing sesuai dengan rencana yang telah kita susun.
Seperti apa yang telah direncanakan, bahwa Panglima Rekso dan Panglima Suro akan terlebih dahulu masuk ke Alas Areng bersama murid mereka. Lalu Panglima Jagad dan muridnya menyergap di jalan menuju Alas Areng.
Dan sisanya, ikut dengan ku menuju ke tempat persembunyian mereka. Karena keadaan sedang malam dan lumayan gelap, itu sangat memudahkan kami untuk bersembunyi. Setelah agak jauh kami berjalan, belum terlihat adanya tanda tanda musuh yang bergerak.
Di tempat ini sangat sepi, bahkan suara hewan pun tidak terdengar sama sekali.
"Panglima Jingga, kenapa kita belum sampai? kita sudah berjalan cukup jauh Panglima." (Dinda)
"Tenang Nyi, sebentar lagi kita akan sampai. Cobalah Nyai lihat ke atas, bukit itu. Nah disitulah tempat mereka." (Panglima Jingga)
"Oh... Jadi itu tempatnya Panglima." (Dinda)
"Iya Nyi, dan mereka memang biasa membuat api untuk menghangatkan tubuh mereka. Karena di atas bukit itu, sangat dingin Nyi." (Panglima Jingga)
"Oh ya pantas saja, hanya tempat itu yang terlihat cukup terang." (Dinda)
"Iya Nyi." (Panglima Jingga)
"Baiklah kalau begitu, sekarang perintahkan murid murid Panglima untuk maju secara perlahan kearah bukit itu. Dan suruh mereka bersembunyi disekitarnya. Karena kita harus tahu dengan pasti bahwa langkah kita tidak menemui hambatan." (Dinda)
"Baiklah Nyi." (Panglima Jingga)
Lalu Panglima Jingga memberitahu semua muridnya, apa yang telah aku perintahkan. Dan berbicara dengan mereka sembari berbisik bisik. Karena meskipun situasi terlihat aman, tapi semuanya harus dipastikan sampai benar benar aman.
Murid Panglima Jingga tersebar di seluruh bagian bukit itu. Mereka maju terlebih dahulu untuk memastikan situasi. Sedangkan aku dan Panglima Jingga maju perlahan lahan di belakang mereka. Kami hanya mengandalkan situasi malam yang gelap, karena memang tak ada tempat persembunyian yang aman di bukit ini.
Mungkin ini salah satu cara mereka untuk menjaga tempat persembunyian ini. Untuk mencegah agar tidak ada penyusup yang berusaha datang. Walau pun kenyataannya musuh mereka sudah ada di jantung mereka sendiri.
jadinya ngeganggu banget
baca sinopsisnya kliatanbya lymayan asik ceritanya,pas udh baca,lsg drop dgn gaya penulisan
ayooo dikoreksi thor...biar bs jd penulis beneran,bkn abal2 yg banyak berseliweran di platform ini