Bagaimana jadinya jika seorang lelaki muda, tampan yg sebelumnya tidak pernah memiliki rasa ketertarikan kepada para wanita yang ada di sekitarnya, justru tertarik pada seorang wanita yang akan menjadi ibu tirinya?
Ya, lelaki yang memiliki nama lengkap Antonio Robert itu memang lah tampan, ia tinggi dan tentunya ia juga kaya raya karena memiliki seorang ayah pemilik pabrik makanan olahan yang merknya sudah sangat terkenal. Banyak gadis-gadis di kampusnya tertarik padanya, namun sayang hingga semester akhir Nio berkuliah di kampusnya, tak pernah ada satu wanita pun yang membuatnya tertarik. Dan tak di sangka, ia justru langsung terpikat pada pandangan pertama dengan seorang wanita yang di kenalkan oleh ayahnya sebagai calon ibu tirinya.
Rena, begitu lah namanya biasa disebut, wanita yang memiliki paras cantik menggoda, memiliki bibir yang terlihat begitu merekah, serta bentuk tubuh bak gitar spanyol hingga tak ada alasan bagi kaum adam untuk tidak menyukainya. Keramahan Rena pada Nio, nyatanya berhasil membuat Nio semakin tergila-gila padanya, bahkan ketika Rena resmi menjadi ibu tirinya, perasaan Nio tak kunjung pudar, justru semakin menjadi-jadi sejak mereka tingga bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisha A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung
Nio kembali ke kamarnya dengan membawa serta perasaan bahagianya, bagaimana tidak, seseorang yang belakangan waktu ini selalu menari-nari di dalam benaknya, kini secara nyata menari-nari di atas tubuhnya.
Sepanjang langkahnya menuju kembali ke kamarnya, Nio terus terbayang bagaimana lihainya Rena ketika sedang berada di atasnya. Adegan panas Rena dan sang ayah yang beberapa waktu lalu sempat ia lihat dari jendela balkon, kini telah ia rasakan juga betapa nikmatnya hal itu.
Nio terus tersenyum, kala mengingat bagaimana ia yang terus menciumi pundak Rena yang polos tanpa lapisan apapun, benar-benar membuatnya semakin candu.
*Ceklek*
Nio kembali masuk ke kamarnya dengan sebuah senyuman yang sulit di jelaskan, kedua sahabatnya yang ia tinggalkan di kamar sejak tadi, terlihat masih saja asik dengan game mereka.
"Nio, dari mana saja kau?" Tanya Aldy yang menoleh singkat ke arahnya.
"Cari angin, di teras belakang." Jawab Nio datar yang langsung berhambur ke atas ranjangnya.
"Cari angin kenapa lama sekali?" Kali ini gantian Rio yang bertanya.
"Hais, banyak tanya!! mending kalian fokus main saja!!"
"Kau sejak kembali kesini, kenapa terus senyum-senyum sendiri, ada apa?" Tanya Aldy lagi.
"Siapa juga yang senyum-senyum sendiri?" Jawab Nio yang sontak langsung menahan senyumannya yang sejak tadi memang selalu menghiasi wajah tampannya.
"Haiss masih saja gak ngaku, hmm apa kau baru selesai telponan sama Sonia ya?" Tebak Aldy dengan ekspresi yang seolah menyelidik.
"Telponan sama Sonia??!! Ya enggak lah, jelas-jelas ponselku tertinggal di kamar."
"Ha, benarkah? Lalu kenapa?" Aldy nampaknya masih sangat penasaran.
"Sudah ku bilang, fokus saja pada game kalian, jangan urusi halku."
"Hiss, dasar payah!" Aldy pun mendengus, ia terkekeh singkat lalu memilih untuk kembali fokus pada permainannya,
Pagi hari yang cerah...
Nio melangkah dengan tenang menuruni anak tangga menuju meja makan yang berada di antara dapur dan ruang tengah. Langkahnya sejenak dibuat terhenti saat mendapati Rena yang saat itu sedang terlihat fokus mengupas buah apel di dapur.
Sebuah senyuman tipis, tiba-tiba saja kembali lolos begitu saja saat melihat wanita idamannya terlihat sudah sangat fresh pagi itu. Dengan memakai drass selutut, berlengan pendek, Rena nampak begitu mempesona, terlebih kala itu rambutnya yang ia biarkan terurai nampak basah, menandakan jika ia baru saja keramas.
Nio pun kembali melanjutkan langkahnya dengan tenang menuju dapur, saat itu kebetulan bi Inah sedang menghidangkan sarapan di atas meja makan.
"Pagi mas Nio." Sapa bi Inah sembari tersenyum hangat seperti biasa.
"Pagi bi." Jawab Nio yang tak kalah hangat saat membalas senyuman bi Inah.
Mendengar hal itu, Rena pun sontak menoleh ke arah Nio yang kala itu tengah melangkah ke arah dapur. Tidak seperti biasa, Rena yang semula sangat ramah pada Nio, kini mendadak jadi begitu gugup saat menyadari keberadaan Nio yang menuju ke arahnya.
Rena justru terdiam dan memilih kembali fokus pada buah apel di tangannya, pagi itu rasanya ia benar-benar tidak sanggup untuk menyapa Nio seperti biasanya.
Nio terus melangkah dan berhenti tepat di samping Rena, lalu mulai meraih sebuah gelas kosong, dan menuangkan air putih ke dalamnya. Tanpa ragu langsung meneguk minuman itu, sembari sepasang matanya terus melirik ke arah Rena yang justru nampak kikuk saat berada di sisinya.
Nio pun melirik singkat ke arah Bi Inah, ingin memastikan jika bi Inah tidak berada di dekat mereka,
"Pagi." Sapa Nio sembari tersenyum penuh arti.
Rena yang gugup, akhirnya mulai melirik singkat ke arahnya dengan sebuah senyuman yang terlihat kaku.
"Pa,, pagi." Jawabnya akhirnya yang kemudian kembali fokus lagi untuk memotong buah apel.
"Pagi-pagi begini sudah keramas saja, memangnya habis ngapain semalam?" Sindir Nio setengah berbisik masih dengan menampilkan senyuman yang penuh makna.
Mendengar hal itu, kedua mata Rena pun sontak terbelalak, lalu secara spontan menoleh ke arah bi Inah karena ia takut hal itu bisa terdengar olehnya.
"Tenang, bi Inah tidak akan bisa mendengar kalau hanya berbicara setengah berbisik seperti ini, karena pendengarannya sedikit terganggu," Jelas Nio bahkan saat Rena belum sempat mengatakan apapun.
Rena pun seolah menghela nafas lega, ia benar-benar takut ada seseorang yang nantinya akan tau hal apa yang mereka perbuat semalam, di kamar tamu.
"Sepertinya tidak perlu dijawab, kamupun tau persis alasan apa yang membuatku keramas pagi ini." Jawab Rena pelan, ia tersenyum singkat, lalu langsung beranjak menuju meja makan, untuk menghidangkan sepiring buah apel yang telah ia potong-potong.
Jawaban Rena, sontak membuat Nio mendengus pelan dan justru semakin melebarkan senyumannya. Ia kembali meneguk minumannya hingga kandas sembari terus memandangi punggung indah Rena yang terus melangkah menjauh.
"Mas Nio, sarapan sudah siap, silahkan." Ucap bi Inah kemudian.
"Iya, terima kasih bi,"
Jawab Nio yang langsung beranjak menuju meja makan. Ia langsung duduk berhadapan dengan Rena yang kala itu masih saja terlihat canggung.
"Oh ya bik, bisa tolong sediakan dua piring lagi?" Tanya Nio.
Mendengar hal itu, dahi Rena pun seketika mengernyit.
"Untuk apa?" Tanya Rena penasaran.
"Aldy dan Rio, mereka tidak pulang semalam."
"Oh ya? Kenapa kamu tidak bilang sejak tadi?"
"Memangnya kenapa?"
"Ya setidaknya ibu dan bibi bisa menghidangkan lebih banyak makanan pagi ini kalau tau mereka tidur disini."
"Haaiss, tidak perlu, ini saja sudah cukup. Jangan terlalu berlebihan pada dua orang itu, karena hanya akan membuat mereka jadi besar kepala." Jawab Nio sembari tersenyum tipis.
"Baik mas Nio, bibi ambilkan piringnya dulu." bi Inah pun bergegas menuju dapur.
Sementara Nio, saat itu ia hanya mengangguk singkat dan tersenyum, sementara Rena, ia memilih untuk kembali diam.
Tak lama, dua orang yang dibicarakan akhirnya muncul dengan membawa wajah mereka yang sedikit bengap akibat baru bangun.
"Eh hai tante, selamat pagi." Sapa Aldy dengan ramah saat baru saja keluar dari kamar tamu yang berada tak terlalu ajauh dari meja makan.
"Ya, pagi." Jawab Rena yang akhirnya tersenyum tak kalah ramah,
"Ayo kemari, kita sarapan bersama." Ucap Rena lagi.
"Hehehe iya tante," Rio pun langsung bersemangat untuk menuju meja makan.
Nio pun melirik singkat ke arah mereka berdua, lalu langsung memasang wajah tak senang saat mendapati jika dua temannya keluar kamar tanpa mencuci muka mereka terlebih dulu.
"Heii, kalau kalian belum mau mandi, setidaknya cucilah muka kalian dulu!!"
"Haaaiss kau ini, terlalu perfeksionis sekali jadi orang." Keluh Aldy.
"Sudahlah, cepat cuci muka kalian dulu!"
"Hmm baiklah." Dengan berat hati, akhirnya mereka berdua pun kembali masuk ke kamar untuk mencuci muka di westafel yang ada di dalamnya.
Nio pun kembali melirik ke arah Rena, saat itu kerah Rena nampak terlalu lebar bahkan begitu rendah, hingga menampilkan dengan jelas pundak mulus serta belahan dadanya yang membulat.
"Hmm, boleh tidak aku meminta satu hal?" Tanya Nio tiba-tiba yang lagi-lagi mengatakannya dengan cara setengah berbisik.
"Apa itu?"
"Boleh tidak kamu ganti baju? Kerahmu terlalu terbuka, aku tidak mau dua laki-laki mesum itu melihatnya."
"Ganti baju??" Rena pun kembali memandangi pakaiannya.
"Iya, ini masih sangat pagi, kamu tentu tau bagaimana respon lelaki jika melihat hal itu saat pagi hari begini. Cukup aku saja yang tergoda melihatnya, jadi aku tidak rela jika mereka melihatnya dan nantinya akan merasakan hal yang sama."
Rena pun terdiam, entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa begitu diperhatikan dan dijaga oleh Nio, dari hal kecil saja, Nio terlihat begitu ingin melindunginya.
"Bolehkah?" Tanya Nio lagi saat belum mendapat jawaban dari Rena.
"Hmm, ba,, baiklah." Jawab Rena akhirnya.
...Bersambung......