Bentuk tubuhku lebar ke samping, rambut gaya kuno dan wajahku tidak sebening kaca.
Sepotong blus potongan sederhana dan padanan rok menutup dengkul, hampir ketinggalan jaman. Gaya busana itu yang kupakai jika mengikuti ekskul di sekolah. Cuma tinggi badanku yang sedikit menolong walaupun tidak bisa dibilang tinggi seperti model.
Kebanyakan temanku lebih sering menggunakan jeans dan kaos saat mejngikuti ekskul. Berbeda dengan mereka, potongan pakaianku selalu sama dengan Minggu lalu. Rok di bawah dengkul dengan blus potongan biasa. Kata mereka aku ketinggalan jaman. Manusia purba dan langka.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya mendatangkan malu untuk keluarga ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Menghindari mereka.
Sejak saat itu aku membatasi diri bermain di luar ruangan kelas. Tentu saja ini membuat Nai heran. Aku makan bekal di dalam kelas. Ajakan Nai ke kantin selalu ku tolak untuk menghindari bertemu dengan Arin.
"Kenapa sih tidak mau di kantin Cha? Lebih pilih makan bekal. Sekarang kamu sedang menabung ya, mau beli apa Icha?" Nai pantas heran dengan perubahan ini. Selain aku menata hati yang sakit karena perlakuan Arin, aku juga tak mau bertemu Arin.
"Ayuuk jajan, aku traktir kamu." Ajak Nai menarik pelan tanganku.
"Kamu saja ya ke kantin. Biarkan aku di sini. Kalau kamu mau lama di kantin, pergi saja." Aku menarik nafas lalu membuangnya.
"Kamu ini sampai segitunya Cha. Arin saja ditanggapi, biarkan saja dia menggonggong. Omong kosong yang gak penting itu!" Kalau menyebut Arin nada suara Nai berubah naik dan ketus.
"Biarlah Nai. Biarlah aku di sini saja ya, makan bekal dari mama. Kamu icip-icip dulu ini."
Nai menawarkan jasa baik, "Oke kalau gitu katakan padaku apa yang kamu inginkan, aku akan belikan di kantin." Nai patut diberi dua jempol.
Aku menolak, "Aku tidak mau jajan apa-apa. Kamu pergi saja beli jajan untuk kamu sendiri."
"Icha jangan begitu. Aku mau belikan kamu, kamu mau apa?"
"Terserah sama kamu asal jangan dibelikan cappucino racun."
"Astaga... ya tidaklah Cha, kamu kan sahabat aku. Jika Elang atau Lion menanyakan kamu bagaimana?"
"Siapa tahu kan ada racun dalam capuccino haha. Kalaupun jumpa Elang atau Lion bilang saja nggak tahu," kataku.
"Ichaaa!! Aku sahabat kamu dalam suka dan duka, siap menolong tapi jangan suruh aku bohong," Nai melotot.
"Hahaha iya kamu kan sabar dan baik Nai, kami nggak mungkin berbuat jahat, nggak kayak cerita yang di sana tuh."
Sehari, dua hari, tiga hari hingga seminggu aku berhasil hanya duduk saja di dalam kelas, menikmati ketenanganku. Dalam seminggu itu pula aku tidak pernah berpapasan dengan Arin ataupun Elang ketika pulang sekolah. Pernah berjumpa dengan Lion namun aku cepat menghindar.
"Icha, kamu betah nih di dalam kelas saja? Apa kata mereka nanti? Cha, Kamu mau jadi bahan gosip baru di sekolah ya. Sebaiknya kamu tidak seperti ini terus. Aneh saja," kata Nai berusaha mengalihkan niatku duduk di dalam kelas.
"Paling penting bagiku ya Nai, yaitu teman-teman kelas tidak punya prasangka buruk dengan aku. Aku tak ingin ribut dengan Arin. Teman-teman kita yang lain bertingkah biasa saja denganku."
"Tapi gimana ini, apa kamu sampai lulus sekolah mau seperti ini? Tidak bukan?"
"Entahlah Nai. Aku males saja."
"Bukan berarti kamu harus di dalam kelas saja. Ayo kita keluar!" Nai mengajakku.
"Aku tak mau Nai. Di sini saja ya."
"Icha, Icha kamu berbuat begini, Arin dan kawan-kawannya makin senang dan merasa menang. Aku tak mau lihat kamu begini lagi besok ya. Main saja seperti biasa, jangan takut siapapun."
"Baiklah aku tetap main di luar kelas tetapi tak sesering dulu. Aku lebih nyaman di dalam sini." Aku mengiyakan saja ucapan Nai.
"Tidak bosan ya?? Akh terserah saja, kamu yang menjalani."
"Kalau kamu mau main di luar, pergi saja, tidak apa Nai. Jangan temani aku."
"Kamu takkan marah ya, janji?"
"Janji aku takkan marah. Ini memang kemauan aku duduk di dalam sini saja. Ya sudah pergi main sana!"
"Iiiih kamu usir aku ya. Dengar ya Icha sekarang aku ingin duduk di sini, bukan ke luar kelas."
"Benar nih. Please jangan kasihani aku Nai."
"Icha ngomong apa kamu? Usah katakan itu, kita berteman akrab. Memang seharusnya saling mendukung." Nai mungkin hilang kesabaran hadapi aku. Sungguh aku tidak mau menyusahkan Nai, karena diriku Nai tak bermain di luar kelas. Kebebasan Nai tak boleh berkurang karena simpati padaku.
"Ke mana anak itu tidak pernah kelihatan? Apakah sudah keluar dari sekolah ini?" Mendengar suara itu aku dan Nai saling berpandangan.
"Suara Arin. Dia ada di luar." Nai lihat aku, aku menoleh pada Nai.
"Ho oh. Nai biarkan saja dia."
"Oh di sini dia ngumpetnya. Ke mana saja tidak kelihatan, takut ya?!" Arin skuaq masuk ke dalam kelas tetapi tidak mendekati aku. Dia berdiri di dekat pintu.
"Tuh Arin cari kamu Cha. Nah kaan Arin pasti rindu kamu, sampai datang kemari cuma mau bilang itu."
"Aku menghela nafas. Mungkin memang inilah hari-hari yang harus ku lalui. Aku harus kuat menghadapi. Aku termenung.
"So Icha, kegembiraan kamu tidak boleh hilang hanya karena Arin ya. Semangat terus walaupun di jahat sama kami. Diminum capuccino kamu, Cha. Cappucino bebas racun haha."
"Haha terima kasih Nai, kamu temanku yang paling baik."
...*****...
Tap.
Tap.
Tap.
Langkah itu cepat mengejarku. Aku pun semakin maju jalan. Menghindar dari Elang. Nafasku ngos-ngosan dengan langkah berat. Nai tak masuk sekolah hari ini, ijin ada acara keluarga, sepupunya menikah. Aku pulang sekolah sendiri. Kadang Nai mengantarku pulang.
"Aku bisa mengejar kamu. Lihat Aku di samping kamu, Icha. Apa kamu sakit perut?" Tanya Elang siang ini. Aku acuhkan dia.
"Tidak, aku tak sakit perut. Ma'af Lang, aku duluan," kataku mengambil langkah lebar.
"Aku kira kamu sakit perut hingga jalan saja seperti bebek dibawain pentungan. Terburu-buru!"
"Elang! Gak lucu! Aku bukan bebek hhh" Mataku melotot. Ambil langkah lebar lagi. Tinggalkan Elang di situ.
"Ma'af aku nggak bilang kamu bebek, Icha."
"Kamu sama saja!" Aku Kesal Elang bicara begitu.
"Sama dengan apa? Dengan siapa??" Duuuh Elang ini. Aku sedang tak ingin banyak omong, Elang.
"Sama dengan Arin. Kamu pulang saja sebelum Arin melihat kita. Dikiranya aku dan kamu pacaran. Disangkanya aku sengaja dekat-dekat kamu." mataku hampir berkaca-kaca saat mengatakan ini. Semua perlakuan Arin padaku terbayang saat itu.
"Arin mengatakan itu padamu? Kenapa dia melarang kamu berdekatan dengan aku? Kita kan berteman, wajar saja kalau aku bicara dengan kamu dan ada perlu sama kamu. Apalagi kita satu tim Mading. Hhhh apa-apaan sih Arin."
Seharusnya Elang mengatakan semua kalimat itu kepada Arin biar anak itu paham bahwa dia salah sangka.
Aku melarang Elang, "Mulai sekarang kita nggak usah berdekatan lagi Lang. Tidak berjalan beriringan seperti ini lagi supaya Arin tidak curiga." Aku egois tapi demi kebaikan diriku juga orang lain, Arin.
"Mengapa aku harus mengikuti kata-kata kamu? Kenapa aku harus takut sama Arin? Arin bukan siapa-siapa aku. Aku punya hak berteman dengan siapapun." Netra elang memendam amarah. Baru sekali ini ku lihat Elang amat marah.
"Karena Arin tidak suka. Kamu ngerti nggak sih, Arin cemburu! Arin itu suka sama kamu dan menganggap aku saingannya. Kamu tidak lihat itu ya? Tolong aku Elang. Kita tak bisa bicara berdua lagi. Cukup Arin mengatakan apapun tentang aku, jangan ditambah ini lagi." Aku mengambil langkah maju tapi Elang menghalangi.
"Minggir Elang! Tolong minggir...." Ku hentakkan kaki. Kesal Elang tak pergi dari situ.
"Persetan sama Arin! Dia temanku, kamu juga. Aku bebas main sama siapa saja. Apapun yang Arin katakan, tak usah didengar." Elang keras kepala. Beginikah aslinya?
"Kamu nggak boleh bebas main sama aku. Jika kamu tak mau menolong aku, kasihani aku, Elang. Tolong...." Aku mengucek kedua mata agar air bening tak jatuh lebih banyak. Fffff aku mengharap belas kasihan Elang. Hinanya diriku.
"Oke... aku minggir tapi jangan harap aku menjauh dari kamu. Ribet amat sih." Suara Elang melunak. Aku tak berani menatap mata Elang. Elang menggeser berdirinya memberi jalan untukku lewat.
Terima kasih Elang, ma'afkan aku. Aku bergegas meninggalkan Elang karena butiran bening dari pelupuk mataku telah turun. Ku tahu Elang berjalan tertinggal di belakang. Ia sengaja tak sejajarkan langkah denganku. Kenapa ia tak mengendarai motor? Entahlah. Aku malas cari tahu, beban di dadaku saja terasa menghimpit.
Aku hampir melewati pintu pagar dan menapak anak tangga tatkala Elang berteriak, "Icha hilangkan kesedihan itu!!"
Menoleh dengan mata basah berarti menunjukkan betapa rapuhnya diriku. Aku berlari menuruni anak tangga. Jumlah dan susunan anak tangga sangat ku hafal hingga mampu ku lalui tanpa terjatuh. Tak ku
hiraukan pandangan aneh Bik Min dari pintu warung mama.
Tiba di dalam rumah Elin melihatku dan berkata, "Lohh kok menangis lagi Cha?"
Braakk.
Ku tutup pintu tanpa dikunci tapi percuma Elin tetap masuk. Sekian detik Elin hening.
"Icha ini ada yang salah. Aku bilang papa supaya kamu dibawa konsultasi ke psikolog saja." Ucapan Elin justru menampar pipiku.
Huuhuuu.
"Aku nggak sakit hiiiikk."
"Memang tak sakit. Cuma konsultasi saja Icha sayang. Mental kamu jatuh sekali. Mau berapa lama seperti ini? Sedih, menangis, tertekan dan tak tau apalagi yang kamu rasa."
"Tak mau. Aku masih kuat."
"Iya semakin kuat menangisnya. Kalau memang kamu kuat, kamu nggak menangis terus."
"Aku butuh waktu kak."
"Baiklah. Aku mau lihat kamu berubah. Tidak cengeng seperti ini lagi. Bukan hanya kamu yang paling malang di dunia ini, Icha. Aku sedih kalau adikku juga sedih. Jangan terlalu dipikirin. Hadapi dengan tabah," Elin mengelus kepalaku. Elin benar tapi aku hanya ingin menangis saat ini.
...ΩΩ bersambung ΩΩ...
semamgat
Semangat kaka
Terima kasih do'anya author Neyna.😘😘