NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Dan kali ini, ia tidak akan menyerahkannya kepada siapa pun.

Kiana menepati kalimat itu dengan cara yang sangat tidak romantis: kurang tidur, mata merah, meja makan penuh kertas, dan tiga alarm makan yang dipasang Hans di ponselnya tanpa meminta izin.

Alarm pertama berbunyi pukul dua belas siang.

Makan.

Alarm kedua pukul enam sore.

Makan.

Alarm ketiga pukul sepuluh malam.

Berhenti minum kopi.

Kiana baru tahu setelah alarm pertama berbunyi di ruang rapat Navara Tech. Lina hampir menjatuhkan stapler karena nada deringnya terlalu tegas. Fang hanya melirik layar ponsel Kiana, lalu dengan wajah datar berkata, "Sepertinya ini instruksi penting."

Kiana ingin marah.

Malamnya, ketika Hans datang membawa nasi bungkus, ia hanya mengangkat ponsel.

"Kamu memasang alarm di ponselku?"

"Kamu tidak makan kalau tidak diingatkan."

"Itu melanggar privasi."

"Kamu pingsan di lantai."

Kiana kalah.

Sejak itu, ritme hidupnya menjadi aneh tapi efektif. Siang hari ia menyusun detail final Vista Home bersama tim Navara. Mereka tidak lagi hanya menawarkan smart home security, melainkan sistem rumah cerdas yang dapat memetakan bahaya, memandu penghuni keluar, dan memberi data awal untuk tim pemadam.

Malam hari, ia kembali ke Kitab Cyber.

Soal dari Prof. Yansen tampak sederhana pada permukaan: deretan simbol, pola garis seperti alang-alang, dan instruksi singkat untuk menemukan struktur komunikasi tersembunyi. Namun semakin dalam Kiana membaca, semakin ia sadar itu bukan sekadar kriptografi.

Itu bahasa yang berpura-pura menjadi angin.

Batang alang-alang dalam gambar tidak acak. Kemiringannya mengganti titik dan garis. Jarak antar-rumpun menyimpan jeda. Kata-kata pengantar Prof. Yansen tentang rumput liar yang mengikuti angin ternyata bukan kiasan kosong, melainkan kunci pertama.

Kiana menamai kerangka itu Bisikan Alang.

Sebuah protokol komunikasi yang bisa disembunyikan dalam kalimat sehari-hari, pola gambar, bahkan komentar media sosial. Orang luar akan melihatnya sebagai percakapan biasa. Orang yang memegang kunci bisa membaca koordinat, peringatan, atau pesan singkat di dalamnya.

Ketika ia menunjukkan draf awal kepada Hans, pria itu menatap layar lebih lama dari biasanya.

"Kalau dipakai di lapangan?"

"Sulit dilacak kalau tidak tahu pola."

"Bagus."

Kiana menoleh. "Kamu terdengar seperti orang yang pernah butuh kode seperti ini."

Hans mengembalikan laptop. "Semua orang butuh cara minta tolong."

Jawaban itu terlalu tenang, tetapi Kiana tidak mengejar. Ia menyimpan komentar itu di tempat yang sama dengan wajah Pak Linson, saldo ATM Rp 500.000, dan pengetahuan Hans tentang drone.

Belum genap tiga minggu, Kiana membawa solusi lengkap ke Kediaman Prof. Yansen.

Kali ini, ia tidak menunggu di pagar. Asisten rumah langsung mengantarnya ke ruang kerja. Prof. Yansen sudah duduk dengan kacamata baca di ujung hidung. Di meja, cangkir teh masih mengepul.

"Cepat sekali," katanya tanpa menyapa.

"Saya takut kalau terlalu lama, Prof berubah pikiran."

"Saya memang mudah berubah pikiran kalau muridnya bodoh."

Kiana menyerahkan map.

Prof. Yansen membaca.

Lima menit pertama, wajahnya biasa saja.

Sepuluh menit kemudian, ia berhenti di halaman diagram utama. Tangannya tidak bergerak selama beberapa detik.

Kiana berdiri di depan meja, punggung lurus, telapak tangan dingin.

Prof. Yansen membalik halaman terakhir, lalu menutup map.

Ruangan itu hening begitu lama sampai Kiana hampir mendengar detak jam dinding.

"Kamu tidak hanya memecahkan polanya," kata Prof. Yansen akhirnya.

Kiana menahan napas.

"Kamu membuatnya bisa dipakai."

Ia membuka laptop, menekan panggilan video grup. Satu per satu wajah muncul di layar: seorang pria dengan latar ruang kerja penuh model pesawat, Ko Wizen Wei; seorang pria berkacamata dari kantor teknologi, Ko Jason Jiang; seorang perempuan hangat dengan anak kecil melintas sebentar di belakangnya, Ci Yulia Tan. Dua jendela lain muncul tanpa kamera, hanya suara.

"Guru Besar," sapa Ko Wizen. "Ada inspeksi mendadak?"

"Tidak. Upacara."

Ci Yulia tertawa. "Wah, siapa yang akhirnya berhasil membuat Guru Besar senang?"

Prof. Yansen mengabaikan godaan itu. Ia menatap kamera dengan wajah sangat serius.

"Mulai hari ini, Kiana Lim adalah murid keenam saya. Murid terakhir."

Kiana sudah mempersiapkan diri untuk banyak hal. Kritik. Pertanyaan. Bahkan penolakan.

Ia tidak siap untuk kalimat sesederhana itu.

Hidungnya langsung perih.

Di layar, Ko Jason mengangkat tangan. "Selamat datang, Adik."

Ci Yulia tersenyum lembut. "Akhirnya ada yang lebih kecil dari kita. Selamat, Kiana."

Ko Wizen mengangguk. "Kalau Guru Besar sudah bilang terakhir, berarti kamu tidak boleh kabur. Kami semua saksi."

Kiana membungkuk ke arah layar. "Terima kasih, Ko. Terima kasih, Ci."

Prof. Yansen berdeham keras. "Jangan terlalu cepat senang. Bakatmu jauh di atas Vanya, tapi bakat tidak sama dengan pencapaian. Kamu sudah membuang terlalu banyak tahun untuk hal yang tidak pantas."

Kiana tahu kalimat berikutnya akan menusuk. Ia tetap berdiri.

"Mulai hari ini," lanjut Prof. Yansen, "tidak boleh ada laki-laki yang membuatmu meninggalkan belajar. Tidak Jovian, tidak siapa pun. Kalau suatu hari kamu menikah karena cinta sekalipun, otakmu tetap milikmu."

Kiana menunduk.

Matanya panas, tetapi kali ini bukan karena luka.

"Tidak akan, Prof," katanya serak. "Tidak akan pernah lagi."

Prof. Yansen melambai ke layar. "Sudah. Kalian boleh kembali kerja. Jangan ganggu murid baru saya dengan gosip."

"Guru Besar yang memanggil kami," protes Ko Jason.

Panggilan langsung diputus.

Kiana nyaris tertawa di tengah air mata.

Saat ia keluar dari Kediaman Prof. Yansen, pesan dari Fang masuk.

Fang: Bu Kiana, daftar final peserta pitching Vista Home sudah keluar. Kita masuk.

Pesan kedua menyusul.

Fang: Ada Loe Group juga.

Kiana berhenti di bawah pohon besar depan rumah Prof. Yansen. Angin Menteng menggerakkan daun pelan.

Ia baru saja mendapatkan senjata akademik paling penting dalam hidupnya.

Dan medan perang berikutnya sudah menunggu.

Kiana membalas:

Siapkan ruang rapat. Kita pakai rencana yang tidak akan mereka duga.

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!