Mala, jatuh cinta pada pria amnesia yang ditolong ayahnya. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Ketika ingatannya kembali, sang suami tidak pernah lagi pulang ke rumah Mala.
Penantian Mala berakhir dan dia memutuskan merantau ke kota. Dia bertemu dengan suaminya yang ternyata adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Bagaimana Mala akan bersikap dan kesalahpahaman apa yang membuat sang suami tidak pernah kembali?
Bagaimana si kecil Gala ketika tanpa sengaja bertemu sang ayah?
Dapatkah sang suami mendapatkan cinta Mala kembali, dan bersaing dengan pria-pria yang mengejar Mala?
Jawabannya ada disini, yuk baca selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eni pua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa cinta yang sulit tumbuh
"Gala, ayah kandungmu masih hidup," kata Mala sambil memegang kedua bahu Gala.
"Benarkah Bu, aku memiliki seorang ayah sungguhan? Dimana Bu, cepat katakan," teriak Gala.
" Lihatlah lelaki yang tidur di ranjang kamu dengan baik, dialah ayahmu," jawab Mala.
"Ayah Dicko adalah ayahku?" Gala seakan tidak percaya.
Tapi matanya berbinar dan dia segera mendekati Dicko dengan pelan. Dipandanginya wajah ayahnya dengan baik, lalu disentuhnya perlahan tubuh kekar ayahnya.
Dicko merasa kaget karena merasa ada sebuah tangan kecil memegangnya. Dicko akhirnya terbangun dan melihat Gala sudah berdiri dipinggir ranjang.
"Gala, maaf aku ketiduran di tempat tidurmu," kata Dicko.
"Ayah, benarkah kamu ayahku?" tanya Gala.
Dicko melihat kearah Mala yang berdiri di pintu dan Mala hanya mengangguk memberi isyarat pada Dicko.
"Iya sayang. Ayah Dicko adalah ayah kandungmu. Mau peluk ayah?" tanya Dicko.
Mulanya Gala hanya terdiam karena masih kaget dengan kenyataan bahwa dia ternyata memiliki ayah. Bukan hanya sebutan ayah saja. Gala tersenyum dan berteriak senang.
"Asyik, aku punya ayah," teriak Gala sambil memeluk Dicko dengan erat.
Dicko yang sejak tadi menahan nafas, kini dia bisa menarik nafas lega. Gala sudah menerimanya sebagai ayahnya. Langkah pertama untuk bisa bersama dengan Mala kembali.
Mala tersenyum bahagia melihat Gala dan Dicko bisa saling menerima posisi sebagai ayah dan anak.
"Ayo, kita makan bersama, nenek sudah menunggu!" ajak Mala.
"Ayo Gala, ibu udah panggil kita untuk makan. Pasti enak masakan nenek," kata Dicko sambil menggendong Gala.
Gala terlihat sangat senang sekali digendong Dicko sebagai ayah kandungnya. Walupun Gala pernah digendong juga oleh Bara, mungkin rasanya berbeda jika yang menggendong adalah ayahnya sendiri.
Di kampung sini, tidak ada istilah makan malam. Kalau perut sudah lapar, tinggal makan. Karena dari siang Mala dan Dicko belum makan, maka sore ini mereka makan bersama.
Selesai makan, Dicko, Mala dan Gala berjalan menyusuri pesisir pantai. Mereka seolah ingin mengenang saat mereka masih bersama. Kini bertambah satu orang diantara mereka, yaitu Gala.
Dicko mengenang saat indah bersama Mala. Awal saat dia jatuh cinta dan menyatakan cinta. Yang dengan mudah diterima oleh Mala karena ternyata Mala juga jatuh cinta padanya.
Sedang Mala mengenang saat dia menanti kepulangan Gama hingga hampir 4 tahun lamanya. Kepergian tanpa pesan dan penantian tanpa harapan pasti.
Dua orang ini memiliki kenangan yang berbeda, walaupun di tempat yang sama. Perbedaan yang mungkin akan menjadi penghalang untuk cinta mereka.
Sedangkan Gala berlarian dan bermain pasir sendirian.
"Ayah, sini. Main sama Gala!" teriak Gala.
Dicko berlari menuju kearah Gala. Dicko ikut Gala bermain pasir dan membuat sebuah rumah besar.
"Rumah yang ayah buat sangat bagus," kata Gala senang.
"Disini nanti akan ada Gala, ayah dan ibu. Kita akan jadi satu keluarga," kata Dicko pada Gala.
"Iya ayah, aku dan ibu akan ada di rumah ayah. Aku juga ingin pergi kerja seperti ayah supaya ibu tidak bekerja lagi," kata Gala.
Mala terenyuh mendengar perkataan Gala. Dia pasti sangat rindu ingin bersama Mala seperti ketika Mala belum pergi ke kota.
Tetapi semua juga demi masa depan Gala dan juga dirinya.
"Nanti, Gala sama ibu tinggal aja di rumah ayah. Gala harus sekolah dan ibu juga bisa kuliah," kata Dicko dengan suara agak kencang supaya Mala bisa mendengar ucapannya.
Mala hanya tersenyum getir. Entah kenapa Mala tidak bisa menumbuhkan rasa cinta yang masih tersisa di hatinya. Jika cinta ini bisa tumbuh kembali, maka itu akan lebih baik.
andra : Sakitnya mencintai sepupu ku,,
saat nya bu shella dan pak reno bahagia...
cepet halalin y pak reno... 😘
tiga kali apa ngga cape mala,,😁😁