Beverly gadis yatim piatu yang karena kepintarannya mendapat beasiswa di salah satu sekolah ternama khusus anak orang kaya.
Beverly memiliki dua orang sahabat Catherine dan Dimas.
Suatu hari sekolah mereka kedatangan murid baru yang bernama Keenan, anak pemilik sekolah.
Seiring berjalan waktu Keenan dan Beverly menjadi sepasang kekasih. Tanpa Beverly sadari Catherine sahabatnya juga mencintai Keenan.
Beverly yang mengetahui Catherine juga mencintai Keenan akhirnya mundur dan meminta Keenan menerima cinta Catherine.
Hingga malam perpisahan sekolah tiba, Keenan yang diberi obat perangsang oleh musuhnya, melakukan hubungan yang tak seharusnya dilakukan. Keenan merampas kesucian Beverly.
Sebulan setelah kejadian itu Beverly dinyatakan hamil. Saat ia akan mengatakan kebenaran pada Keenan, ia mendengar jika Catherine dan Keenan akan bertunangan karena perjodohan kedua orang tua mereka yang ternyata rekan bisnis.
Beverly akhirnya membatalkan niatnya untuk mengatakan kehamilannya pada Keenan.
Apakah yang terjadi selanjutnya?
Jangan lupa tekan favorit sebelum memulai membacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Tak selamanya Diam itu Emas.
Bie membawa segelas teh hangat dan sepiring kue buat Dimas. Ia meletakkan di atas meja. Setelah itu Bie duduk dihadapan Dimas.
"Lo tambah ganteng aja. Pantas ibu-ibu tadi pada heboh," ucap Bie membuka obrolan.
Dimas menatap Bie tanpa kedip. Ketika menyadari tatapan Dimas padanya, Bie menunduk.
"Lo tak ingin mengatakan sesuatu" ujar Dimas.
"Gue harus mengatakan apa?" ucap Bie.
"Mungkin ... siapa bapak bayi Lo. Atau kenapa Bunda berbohong dengan mengatakan Lo kabur? Atau kenapa Lo bohong dengan gue? Atau ... terserah apa yang ingin Lo katakan," ucap Dimas dengan penuh penekanan.
"Gue mulai dari mana? Pertanyaan Lo banyak banget." Bie masih menunduk. Ia tak mau memandang wajah Dimas.
"Dari mana aja, gue siap mendengar."
"Pertama yang harus Lo tau, Gue yang minta Bunda berbohong dengan Lo."
"Kenapa?"
"Karena Gue tak ingin merepotkan Lo lagi."
"Apa gue pernah mengatakan jika Lo selama ini merepotkan!"
"Lo emang tak pernah mengatakannya. Tapi gue sadar, selama ini sudah terlalu sering merepotkan Lo. Lo selalu ada saat gue butuhkan, tanpa gue minta Lo siap melakukan apa saja untuk menolong."
"Oke, gue bisa terima kebohongan Bunda. Tapi perlu Lo ingat, gue tak pernah merasa Lo repotkan. Terus kenapa tak pernah jujur tentang kehamilan Lo selama ini?"
"Sama aja jawabannya, Dim. Gue tak ingin merepotkan Lo. Sudah cukup sering gue meminta tolong dengan Lo."
"Terus anak siapa yang Lo kandung?"
"Anak gue."
"Gue tau itu anak Lo, Bie. Yang gue pengin tau siapa bapak anak Lo?"
"Tak perlu Lo tau, Dim."
"Gue lupa, bagi Lo gue ini bukanlah siapa-siapa. Lo tak pernah menganggap gue ada."
Bie mengangkat wajahnya. Air mata mulai jatuh dipipinya.
"Dim, bagi gue Lo bukan hanya sekedar teman tapi sahabat. Gue udah menganggap Lo seperti saudara."
"Tapi gue tak percaya itu. Jika Lo menganggap gue saudara, tak mungkin Lo menyembunyikan semua ini dari gue."
"Maaf, Dim. Gue tak bisa mengatakannya."
"Keenan bapak anak Lo?" Bie kaget mendengar ucapan Dimas.
"Betul, kan? Keenan bapak anak Lo. Kenapa Lo tak mengatakan semua ini pada Keenan? Kenapa Lo menanggung semua ini seorang diri?"
"Kenapa Lo berpikir ini anak Keenan?"
"Lo tak pernah dekat dengan pria kecuali gue dan Keenan."
"Semua salah gue," gumam Bie.
"Ini terjadi saat malam perpisahan,kan?"
"Kenapa Lo bisa berpikir begitu?"
"Malam itu gue mencari Lo. Acara telah usai, tapi Lo tak kunjung kembali. Gue mencari ke taman. Tapi tak ada tampak Lo ataupun Keenan."
"Gue tak tau kenapa semua ini bisa terjadi pada gue. Ini di luar kendali gue."
"Apa Lo keberatan berbagi cerita?"
"Nggak, Dim. Gue akan cerita. Karena percuma juga menutupi semuanya. Lo sudah tau."
Bie lalu menceritakan semua yang terjadi pada malam itu dengan Dimas. Semua berawal saat ia mengobrol dengan Keenan di taman.
"Kamu pasti diberi obat. Tapi siapa yang tega melakukan semua itu? Apa mungkin Keenan?"
"Sudahlah, Dim. Tak ada gunanya mencari tau. Gue juga sudah mengikhlaskan semua yang gue alami. Semua terjadi juga atas kesalahan gue. Kenapa gue mau aja saat Keen mengajak"
"Keen tau Lo hamil?" Bie menggeleng sebagai jawaban.
"Lo itu egois dan sombong.Egoisnya, Lo itu hanya memikirkan diri Lo sendiri. Apakah Lo tak pernah memikirkan jika suatu hari, saat anak Lo gede dan bertanya siapa ayahnya? Sombongnya Lo itu, Lo selalu berpikir jika lo kuat. Lo mampu menghadapi semua seorang diri."
"Maafkan gue, Dim. Lo benar, gue ini egois. Gue sombong, gue jahat sama Lo. Gue pembohong," ucap Bie dengan air mata yang tumpah.
Dimas berdiri dari duduknya. Ia pindah duduk di samping Bie.
"Lo itu bukan Tuhan yang bisa menyelesaikan masalah sendiri. Ada saatnya kita harus kuat dan ada saatnya kita harus berbagi. Jangan berpura-pura kuat, Bie. Gue itu mengenal Lo bukan sehari dua hari. Tapi sudah lebih dari tiga tahun. Kenapa Lo tak mengatakan semuanya pada Keenan? Lo selalu berusaha membuat orang lain bahagia sehingga Lo lupa cara membahagiakan diri sendiri. Lo itu sama saja menyiksa diri sendiri."
"Terus gue harus bagaimana? Apakah gue harus mengatakan pada semua orang apa yang gue alami? Apa gue harus mengatakan jika saat ini gue terluka. Dan apa Lo pikir dengan gue mengatakan semuanya, masalah yang gue hadapi selesai. Gue bukan mencari simpati dari orang-orang."
Bie menarik nafasnya, memandangi Dimas yang duduk disampingnya.
"Terkadang lebih baik diam daripada menjelaskan apa yang kita rasa, karena menyakitkan ketika mereka hanya bisa mendengar tapi tak bisa mengerti."
Dimas meraih tangan Bie, dan menggenggamnya.
"Sejatinya tak selamanya diam itu indah dan tak selamanya diam itu emas. Bayangkan jika semua masalah diselesaikan dengan diam. Bukan menuntaskan masalah, justru akan menimbulkan biduk perkara. Mengapa demikian? Mungkin diam adalah sebuah cara yang diambil seseorang untuk mengatasi masalah yang terjadi. Namun, cara tersebut hanya dapat digunakan untuk sementara. Hanya dapat digunakan pada situasi dan kondisi tertentu. Sedangkan masalah tak selamanya datang di waktu dan situasi yang sama. Jadi, suatu cara diam hanya akan tepat pada situasi tertentu."
"Apa kamu pikir dengan gue mengatakan semuanya masalah akan selesai. Jika orang tua Keen bisa menerima gue, masalah selesai. Seandainya tidak bisa menerima gue, dua masalah yang akan datang. Pertama orang tua Keen akan berusaha agar gue menjauh dan membenci gue karena dianggap menghancurkan masa depan anaknya. Kedua, Cath dan orang tuanya juga akan membenci gue karena telah merusak rencana pertunangan anaknya. Lebih baik gue mundur. Masalah hanya ada pada diri gue seorang aja."
"Maafkan gue, Bie. Tadi terbawa emosi. Gue marah saat tau Lo membohongi gue. Dan gue pikir Lo udah tak menganggap gue ada. Gue mengerti dengan jalan pikiran Lo. Tapi Lo juga tak harus berkorban begini. Seharusnya Lo bicarakan juga dengan Keen dan mencoba mencari jalan keluarnya."
"Gue emang salah, Dim. Telah berbohong dengan Lo."
"Lain kali jangan tutupi masalah Lo seorang diri. Terkadang dengan berbagi itu dapat mengurangi beban. Jangan menangis lagi."
Dimas membawa Bie ke dalam pelukannya. Kembali tangis Bie pecah dalam dekapan dadanya.
Bersambung
****************
Apakah yang akan Dimas lakukan untuk Bie selanjutnya? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.
sesuai dg temanya "teen", kisah ini bener2 cerita tentang cinta remaja yg beranjak dewasa..
jadi ingat masa2 SMA dulu, wkwkwk..
ternyata dugaanku bener kalo benernya Cath itu cinta ma Dimas..
tapi sejak kemunculan Bie, perhatian Dimas teralihkan..
Akhirnya Cath cemburu dan gelap mata..
saat tahu Keen san Bie saling suka, Cath jadi memanfaatkan keadaan..
tapi syukurlah, semua bisa berakhir bahagia..
semua tokoh finally happy ending..
makasih ya mam buat ceritanya yg keren, walopun bonchap pernikahan Cath dan Dimas tidak terwujud, it's okay..
semoga sehat selalu dan tetap semangat untuk berkarya..
semoga sukses selalu baik di dunia nyata maupun di dunia halu ya mam..
😘🥰😍🤩💪🏻🙏🏻💞
nyesek banget