Gwen Prameswari dan Daniel Artajaya telah menikah lebih dari 3 tahun. Namun hingga saat ini mereka belum juga di karuniai seorang anak.
Ibu mertua Gwen yang terus menuntut untuk agar segera memiliki cucu semakin membuat Gwen frustasi dan di ambang perceraian.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BPH 29
Gwen sudah memarkirkan mobilnya di depan pekarangan rumah, namun ia masih enggan untuk turun dari mobil. Ia kembali menangis sambil memeluk setirnya, hatinya masih belum bisa percaya dengan apa yang ia alami.
Suami yang selalu ada di samping nya.
Suami yang selalu membuatnya bahagia.
Suami yang selalu memberinya semangat.
Suami yang selalu memperhatikannya.
Kini ia harus bisa membiasakan diri tanpa Daniel.
Kini ia harus bisa membiasakan diri melupakan Daniel.
Hidup tanpa Daniel lagi di sisinya, bisakah? batinnya.
Tok tok tok ...
Suara kaca mobil yang di ketuk oleh seseorang membuat lamunan Gwen buyar seketika.
Ia menolehkan wajahnya ke samping dan melihat seorang pria yang selama ini berada di dekatnya. Pria yang mencoba menghiburnya dan menemani nya di kala dirinya gundah gulana karena kepergian Daniel.
Gwen pun segera membuka pintu mobil dan langsung menghambur memeluk Pria itu dengan sangat erat.
"Lah, mbak kenapa?" tanya Owen.
"Hiks hiks hiks, biarkan seperti ini sebentar aja pliss," mohon Gwen sambil terus terisak di dada bidang Owen.
Owen pun hanya bisa pasrah, dan membalas pelukan Gwen. Ia juga mengusap rambut Gwen dengan penuh sayang.
Setelah Gwen sedikit tenang, Owen pun segera menuntun Gwen untuk duduk di teras rumah Gwen.
"Butuh teman cerita?" tanya Owen membuka percakapan.
"A—aku hiks hiks a—aku dan mas Daniel sudah bercerai," ucap Gwen dengan suara bergetar.
"Sabar mbak." Hanya itu yang bisa Owen ucapkan saat ini, jujur dirinya juga bingung harus berkomentar apa. Tidak mungkin kan dia bilang bahwa ia senang dengan perceraian ini?
"Owen, mengapa Daniel tega menceraikan ku? kenapa dia tega meninggalkan ku? dia sudah berjanji akan selalu ada bersamaku hiks hiks, dia sudah berjanji akan menemaniku hingga akhir hayat kita berdua hiks hiks," ujar Gwen namun Owen hanya diam.
"Dia menginginkan seorang anak, dan kamu tau hiks hiks dia kini sedang bersama dengan anak bos nya yang sedang hamil. Owen apakah mungkin itu anak mas Daniel hiks hiks, makanya dia tega ninggalin aku hiks hiks," imbuhnya.
"Sudahlah mbak, jangan terlalu di pikirin nanti mbak Gwen sakit lagi. Mbak, hidup itu maju bukan mundur. Mbak boleh nangis boleh meratapi kesedihan tapi jangan kelamaan karena mbak masih harus maju, mbak harus membuka lembaran baru," ujar Owen.
"Mbak, gak adil banget kan kalau mbak sedih dan terpuruk begini, sedangkan suami mbak bahagia sama perempuan lain? mbak harus bisa buktiin kalau mbak bisa berdiri sendiri. Mbak bisa bahagia walau tanpa dia," imbuh Owen.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Owen berkata seperti itu, jujur Owen masih sakit hati saat mendengar makian dan hinaan mertua Gwen waktu itu. Ia ikut merasakan sakit kala melihat raut wajah Gwen menahan sakit dan marah bersamaan karena ucapan pedas mertuanya.
Andai Owen di posisi Daniel, tentu saja Owen takkan membiarkan ibunya mencaci maki istrinya. Tentu saja Owen pasti akan membela istrinya, bukan bermaksud durhaka, tapi menurut Owen sikap mertua Gwen memang sudah kelewat batas.
"Mbak pasti bisa, aku yakin mbak wanita yang kuat," ucap Owen menggenggam tangan Gwen.
"Owen, apakah besok kamu mau menemaniku?" tanya Gwen.
"Kemana?" tanya Owen.
"Suatu tempat, di sana aku bisa menenangkan diri dari masalah yang ku alami," ucap Gwen lirih.
"Baik lah, kemanapun Mbak mau pergi, aku siap besok menjadi tukang ojek buat mbak," kata Owen terkekeh.
"Kamu gak kerja?" tanya Gwen.
"Apa sih buat Mbak Gwen, Owen rela bolos kerja demi Mbak," kata Owen.
"Tapi beneran gapapa?" tanya Gwen.
"Gapapa, mending sekarang mbak Sekarang istirahat gih, besok pagi Owen jemput," kata Owen lalu Gwen pun segera masuk ke dalam rumah dan istirahat.