Reno yang berniat meneruskan kuliah S2 di kota harus terpaksa menikahi anak saudara jauh dari ayahnya.
Reno terpaksa menikah karena wasiat ayahnya yang sudah meninggal.Rianti yang anak yatim piatu harus menuruti kemauan ibu Ningrum untuk menikahkannya dengan anaknya Reno.
Reno yang merasa tidak menginginkan pernikahan itu,selalu mengabaikan Rianti,dan tak pernah pulang ke rumahnya.
Ibu Ningrum yang mengetahui kelakuan anaknya sampai marah hingga membuat siasat agar Reno bisa tidur dengan Rianti.
Apakah yang di lakukan ibu Ningrum?
Bagaimana setelah Rianti mempunyai anak,apakah Reno berubah?
Yuk,kepoin ceritanya yah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.Pertengkaran
Pagi ini Reno berangkat lebih cepat.Rasa penasarannya pada Panji tidak juga hilang.Dia ingin menginterogasi Panji.Senyum smirik di tampilkannya,dia ingin sekali meledek Panji.
Tapi dia penasaran juga,kemarin dia lihat dari jauh Panji menggendong anak gadis itu.Siapa dia?
Panji masuk,dia meletakkan tas ranselnya di meja seperti biasa,lalu keluar lagi tanpa mempedulikan Reno yang menatapnya aneh.
Dan Reno makin di buat penasaran dengan Panji.Dia sabar menunggu Panji balik lagi.Tapi sepertinya Panji lama kembali ruangannya.
Reno semakin gelisah,sepertinya dia kalah jauh dengan Panji.Panji sudah bisa berinteraksi dengan intens dengan orang yang di incarnya,tapi siapa gadis yang sudah bersuami dan punya anak itu.Sungguh Reno penasaran sekali dengam gadis itu.
Dan akhirnya Panji masuk lagi ke ruangan itu sambil membawa kertas berisi catatan barang yang hampir habis.Dia memperkirakan dua hari akan menyuplai lagi unyuk stok di toko.
Setelah selesai di cek,kertas itu dia serahkan ke Reno yang duduk sambil bersedekap mengarah padanya.Panji masih diam tak berkomentar,karena dia sudah biasa menyerahkan laporan barang habis dan Reno langsung memeriksanya.
Panji duduk kembali di kursinya,dia membuka laptop dan mulai serius dalam bekerja.
"Kemarin sore ke toko roti lo ngapain?"tanya Reno,akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya setelah sempat dia ragu karena Panji acuh padanya.
"Kenapa?"masih santai menjawab dengan pertanyaan lagi.
"Gue lihat lo sedang asyik sama cewek di depan toko roti bu Sri.Deket banget kelihatannya."ledek Reno.
"Iya."
"Siapa dia?"
Panji mengalihkan pandangannya ke Reno,datar dan tajam.Ada keraguan di hatinya untuk memberi tahu gadis yang di maksud Reno.
"Siapa?"tanya Reno masih penasaran.
Panji menghela napas panjang,lagi di tatapnya wajah Reno yang semakin penasaran dengan jawabannya.
"Rianti."jawab Panji mantap.
Deg!
Reno menatap Panji kaku.Wajahnya tiba-tiba memutih.Dia kaget dan bingung.
Yang di tatap Reno malah santai menanggapi jawabannya sendiri.
"Ri an ti?"ucap Reno pelan tapi masih terdengar oleh Panji.
"Iya Rianti,dia sudah punya suami dan punya anak.Sayang sekali padahal jika belum bersuami atau suaminya meninggalpun akan gue kejar sampai dapat."ucap Panji masih bersikap santai.
"Tapi sayang,suaminya seolah tak peduli.Bahkan dia menyukai gadis lain,kasihan sekali.Di sia-siakan bahkan dia harus bekerja demi mencukupi kebutuhannya karena suaminya tidak pernah memberinya nafkah."sindir Panji.
Wajah Reno tegang,raut mukanya merah padam.Bagai tersambar kabel listrik,hatinya makin bergemuruh.Dia tersinggung dengan ucapan Panji barusan.
Reno berdiri,diam tak tahu harus bicara apa.Tapi wajahnya masih memerah karena marah.
"Kalau saja suaminya melepasnya,gue rela jadi yang kedua baginya."seolah memancing kemarahan Reno,Panji terus saja berbicara tentang Rianti.
Dia pengen tahu,sejauh mana Reno menanggapi ocehannya itu.Panji melihat tangan Reno terkepal.
"Lo brengsek!"umpat Reno tidak sadar.
"Siapa yang brengsek?"Panji balik bertanya.
Mungkin ini saatnya dia harus mengingatkan Reno.Tapi dia ingin tahu lebih jauh lagi.
"Lo yang brengsek,udah tahu punya suami tapi malah lo deketin.!"teriak Reno,matanya tajam menatap Panji.
"Lebih brengsek mana,udah punya istri anak tapi masih mau ngejar cewek lain?"tantang Panji,sampai di mana emosi Reno meladeninya.
Dan ternyata emosi Reno malah meluap,dia kalap.Reno menggebrak meja di depannya.
"Lo kenapa?"tanya Panji yang kaget dengan gebrakan Reno.
"Lo benar-benar brengsek!"
setelah berkata seperti itu Reno meminggalkan Panji yang masih bengong dengan sikap Reno yang aneh.Panji ikut keluar,dia melihat Reno menaiki mobilnya.
'Mau kemana dia?'gumam Panji.
Suara deraman mobil Reno sangat keras,membuat Panji yang melihatnya dari dalam terheran-heran.Bukan cuma Panji yang kaget,tapi juga karyawan yang melihat tingkah Reno pun di buat heran.
Panji berpikir,Reno akan pergi entah kemana,tapi pikirannya mulai di hantui rasa khawatir Reno akan pulang dan memarahi Rianti.
Tanpa pikir panjang,Panji mengambil kunci motor dan tasnya.Dia akan memastikan Reno tidak berbuat di luar kendali.
Panji melajukan motornya dengan cepat,entah kenapa firasatnya semakin kuat bahwa akan terjadi pada Rianti.
Dia melajukan motornya menuju toko roti.
Sampai di sana,benar saja.Mobil Reno terparkir sembarang di pinggir jalan.Agak lama Panji menyeberang membelokkan motornya yang berlawanan arah karena terlalu padat.
Dan tak lama Panji bisa membelokkan motornya di depan toko roti.Dia melihat Reno dengan sedikit ragu masuk ke dalam.Panji masih duduk di jok motornya,menunggu apa yang akan di lakukan Reno.
Dan ketika Rianti keluar dari pintu dengan gendongan anak di tangannya,tanpa membuang kesempatan Reno menarik tangan Rianti dengan kasar.
Rianti yang di tarik tangannya dengan kasar oleh Reno sangat terkejut.Dia mengelak namun tenaga Reno lebih kuat.
akhirnya Rianti menuruti kemana Reno membawanya.Tapi sudah di pastikan dia di bawa pulang.
Panji yang melihat itu tampak khawatir.Dia turun dari motornya dan mengikuti Reno yang masih menarik tangan Rianti.
"Mas Reno,lepaskan tanganku.Sakit."ucap Rianti sambil meringis.
Tangan satunya memegang erat anaknya,karena terlalu kuat Reno memarik Rianti,Raka yang di gendong tangan sebelahnya hampir lepas.
"Diam kamu!Kamu berani sekali ngomongin saya sama orang lain,hah!"ujar Reno dengan kasar.
Rianti masih di tarik sampai ke rumahnya.Orang-orang yang melihat kejadian itu merasa kasihan walaupun tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Sedangkan Panji terus mengikuti mereka dan berhenti ketika mereka berdiri di depan rumahnya.
Rianti ketakutan,wajah Reno berubah garang.
"Apa kamu mau memalukan saya hah?!Kamu sering cerita tentang saya kan sama teman-temanmu?"masih menuduh,Rianti bingung apa yang di bicarakan suaminya.
"Mas Reno ngomong apa?Saya tidak mengerti."ucap Rianti bingung.
Anaknya yang di gendongan menangis,Rianti menepuk pant*tnya menenangkan.
"Heh,kamu pura-pura polos.Kamu bahkan sering ngobrolkan dengan Panji?Mungkin saja kamu sering di ajak jalan-jalan.Perempuan murahan!"ucap Reno semakin kalap.
Mata Rianti mulai berkaca-kaca,dia mencerna ucapan Reno barusan.Tak lama airmatanya mengalir.Inikah suaminya?
Yang benar-benar tidak menginginkan kehadirannya di sisinya.Dia tidak pernah protes juga tidak pernah mengeluh,tapi dia selalu di anggap bayangan yang tak terlihat di mata Reno.
Hati Rianti perih,sedih dengan semua ucapan Reno.Dia mengusap matanya yang basah sejak tadi.
"Mas Reno marah pada saya?"
"Saya marah sekali sama kamu,kamu bahkan menginjak harga diriku di depan temanku.Kamu mengadu pada Panji kalau saya suami tidak berguna.Iya kan?jawab!"
Panji yang sejak tadi melihat adegan itu dari jauh sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Reno pada Rianti.Dia melangkah menghampiri keduanya.
"Reno,kamu jangan kasar sama Rianti."ucap Panji menengahi.
"Lo jangan ikut campur urusan gue!Dia sudah kurang ajar.!"
"Siapa yang kurang ajar,lo yang telah menanggap dia sebagai pembantu,lo telah mengabaikan dia,lo yang telah menelantarkan dia.Siapa yang kurang ajar."ucap Panji makin emosi.Reno benar-benar tidak tahu diri,pikir Panji.
"Masuk kamu!"perintah Reno pada Rianti.
Rianti diam,dia masih berdiri.Dia ingin menjelaskan pada suaminya bahwa dia tidak pernah bicara apapun dengan Panji.
"Kenapa kamu diam saja?Cepat masuk!"perintah Reno sekali lagi dengan nada lebih keras.
"Reno!"Panji ingin mencegah,tapi Reno masih menyuruh Rianti untuk masuk ke dalam.
Karena tidak sabar,akhirnya Rianti di dorong dengan kasar sehingga Rianti tersandung dan terjatuh,kepala bagian belakangnya membentur pot bunga bougenfil yang besar dengan kencang.
beruntung Raka di gendongannya jatuh terduduk di dada Rianti.Bayi lima bulan itu menangis kaget karena jatuh.
Panji dan Reno kaget,Rianti terjatuh.Panji mendekat hendak menolong,namun di tarik oleh Reno untuk menjauh.
Lima menit tak ada pergerakan dari Rianti.Baik Reno dan Panji semakin panik tatkala melihat darah mengalir dari bawah kepala Rianti.
Langsung saja Panji mendekati Rianti dan mengambil alih Raka yang duduk di atasnya.Sedangkan Reno melongo,dia kaget dengan tindakannya pada Rianti tadi.
"Reno,cepetan bawa Rianti ke rumah sakit!"ucap Panji membuyarkan kekagetan Reno.
Dan bertepatan itu,mobil yang membawa mbom Surti datang.Mobil itu berhenti tepat di mana kejadian Rianti jatuh.
Mbok Surti keluar,dia bingung dan kaget.
"Den Reno apa yang terjadi dengan neng Rianti?"tanya mbok Surti.
"Mbok cepat bawa Rianti ke rumah sakit."tanpa menjawab pertanyaan mbok Surti,Reno langsung menggendong Rianti lalu di masukkan ke dalam mobil itu.
"Den Reno sebenarnya apa yang terjadi?Kenapa neng Rianti jadi pingsan bengin"mbok Surti mulai khawatir.
"Mang Supri,tolong cepat bawa ke rumah sakit."
"Iiya den."jawab mang Supri gugup.
Lalu mbok Surti ikut masuk ke mobil,Reno duduk di depan sedangkan mbok Surti memangku Rianti.Dia terus saja menangis,dengan keadaan Rianti yang pingsan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang,Reno sampai tidak sabar,dia terus menengok ke belakang.
"Mang cepetan,bisa cepat ngga sih?!"Reno semakin tidak sabar.
"Maaf den,kita ke rumah sakit mana?"tanya mang Supri bingung.
"Ke rumah sakit terdekat aja,nanti belok kiri terus jalan lagi sebentar.Pokoknya cepetan."masih menengok ke belakang dan Rianti masih setia dengan pingsannya.
_
_
_
_
*****(@@***@@)*****