Sekuel Dinikahi Konglomerat Sejagat!
Biar terasa greget baca dulu novel tersebut, baru maraton ke sini.
Devin terpaksa menikahi anak dari asisten pribadi orangtuanya, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya.
Perintah dari Argan selaku orangtua, tidak dapat dia tolak. Terpaksa menerima pengantin pengganti, meski dia tidak mempunyai perasaan apapun.
Akankah Devin bisa membangun cinta, bersama Tasya yang super cuek? Atau justru Tasya yang sulit membangun cinta, pada Devin yang dingin nan arogan?
Simak kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Devin Pura-Pura Sakit
Devin memegangi pipinya, mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
'Waduh aku pernah baca di buku agama, bila suami marah akan dimurkai dengan yang ada di langit. Pokoknya, sampai suaminya memaafkan.' Batin Tasya.
"Devin, maafkan aku." Ujar Tasya.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa." Jawab Devin.
Dia segera keluar dari kamar. Tasya segera mengejar si Devin, lalu memeluknya dari belakang.
"Lepaskan aku Tasya." Ucap Devin, dengan suara dinginnya.
"Devin, jangan marah dong." Jawab Tasya merayu.
Devin menghempaskan tangan Tasya yang melingkar, secara paksa. Dia tersinggung, karena Tasya menolak dirinya.
"Maafkan aku." Ucap Tasya sekali lagi.
Devin segera meninggalkan Tasya, yang masih mematung pada posisinya.
"Apakah teman akan mengajak tidur seranjang? Akankah teman memperlakukan aku secara romantis? Atau jangan-jangan si Devin menyukai aku? Ah tidak mungkin, ini pasti hanya perasaanku saja." Monolog Tasya, bertanya-tanya pada diri sendiri.
Devin memilih menghabiskan waktunya, untuk bekerja. Tasya membuatkan kopi di dapur, buat si Devin yang sedang bekerja.
Tok! Tok! Tok!
Tasya mengetuk ruangan kerja Devin, dia masuk ke dalam setelah dipersilahkan.
"Devin, aku membuat kopi untukmu." Ujar Tasya.
"Letakkan saja." Jawab Devin acuh.
Tasya meletakkan gelas kopi, di atas meja. Matanya sambil melirik si Devin, yang fokus terhadap layar laptop di depannya.
"Devin, kamu masih marah iya." Tasya memanyunkan bibirnya.
"Hmmm." Hanya menjawab dengan deheman.
Tasya melingkarkan kedua lengannya, pada leher Devin. Suaminya merasa risih, dia tidak ingin Tasya mendekatinya terus.
"Tasya, menjauhlah. Aku ini sedang bekerja." Titah Devin.
"Aku tidak mau, sebelum kamu maafin aku." Jawab Tasya.
"Iya aku maafin." Ujar Devin, dengan terpaksa.
Tasya mengambil gelas kopi, lalu mendekatkan pada bibir Devin. Pria itu segera meminumnya, dengan perasaan kesal.
'Kenapa sih tidak meninggalkan aku sendiri. Aku sedang tidak ingin diganggu.' Batin Devin.
Marah? tentu saja iya, kecewa, apa lagi. Devin benar-benar mencintai Tasya, tapi sulit untuk mengungkapkan perasaannya.
Tasya menduga, suasana hati Devin sedang buruk. Dia memilih untuk keluar dari ruangan itu. Devin mengirimkan pesan pada Afri, supaya dia memberikan solusi untuknya.
"Dokter Afri, bagaimana cara menaklukkan hati perempuan. Kamu yang paling ahli bukan, dalam hal ini."
Afri membaca pesan dari Devin, sambil tertawa terbahak-bahak. Dia merasa lucu, karena berwajah es membahas perempuan.
"Tuan Devin pikir, aku ini dokter cinta." Membalas dengan disertai stiker gambar tertawa.
"Besok datang ke rumah, kalau tidak pasti aku sumpal mulutmu." Ancam Devin.
"Baik tuan Devin galak."
Afri membalas pesan dari Devin, pria tampan itu sudah menerima pesan balasannya. Devin tersenyum ketika membacanya, berencana akan pura-pura sakit.
Keesokan harinya, Devin sengaja tidak bangun dari posisi tidurnya di kursi sofa. Tasya menggeliat dari bangun tidurnya, lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
Tak berselang lama, Tasya sudah selesai membersihkan diri. Dia mengenakan baju kaos lengan pendek, dan rok sepaha.
"Devin, kamu kenapa?" Tanya Tasya, dia melihat Devin yang menggigil.
"Tidak apa-apa." Jawab Devin.
"Bagaimana mungkin bisa percaya. Aku melihat tubuhmu menggigil." Ujar Tasya.
"Sudahlah, bukankah kamu tidak peduli." Jawab Devin ketus.
Tasya mendekati Devin, merasai bagian dahi dengan tangannya.
"Sembarangan bicara, aku ini peduli." Ujar Tasya, sambil menyentil dahi Devin.
"Sakit tahu, jadi istri jahat sekali." Devin protes.
"Kok tidak panas iya." Tasya berpikir sejenak.
'Jangan sampai dia tahu, aku pura-pura sakit. Aku ingin mendapatkan perhatian darinya.' Batin Devin.
"Panggil saja dokter Afri ke sini. Biar kamu percaya, bahwa aku ini sakit sungguhan." Devin berusaha meyakinkan.
"Baiklah, aku akan menghubungi dia." Jawab Tasya.
Beberapa menit kemudian, si Afri sudah muncul. Dia tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi rapinya. Afri berpura-pura memeriksa keadaan Devin.
"Bagaimana keadaan dia Dok?" Tanya Tasya.
"Dia sakit lumayan parah, kamu harus lebih perhatian pada waktu makannya. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, dia harus istirahat yang cukup." Tutur Afri panjang dan lebar.
"Dahinya tidak panas, tapi lumayan parah. Haduh, bagaimana ini Dokter. Kenapa aneh sekali sakitnya." Ujar Tasya.
"Ini sudah biasa terjadi, bahkan bisa dialami oleh siapapun juga." Jawab Afri, menutupi kebohongan Devin.
Devin mengacungkan dua jempolnya, Afri mengganggukan kepalanya sambil tersenyum. Tasya merasa heran, dia melihat ke belakang hanya terdapat Devin yang tanpa ekspresi.
'Tidak ada apapun juga, tapi aku merasa seperti ada dua orang yang membicarakan aku.' Batin Tasya.
Afri permisi untuk segera pulang ke rumah. Devin melirik gelas di atas nakas, Tasya mengambilkan untuknya.
"Tasya, suapin aku makanan." Ujar Devin.
"Iya, tunggu sebentar iya." Jawab Tasya.
Dia segera keluar kamar, menuju dapur. Tasya mengambilkan makanan dan minuman untuk Devin. Argan dan Nadin mengintip dari balik tembok pembatas. Argan dan Nadin menepuk tangan masing-masing ke atas udara.
"Hore, kita berhasil." Ujar Argan.
"Hore, aku juga senang." Jawab Nadin.
Tasya masuk ke dalam kamar, dia duduk didekat Devin. Dia membantu Devin untuk duduk, lalu menyuapinya makanan. Devin mengunyahnya dengan terburu-buru.
"Pelan-pelan pria kaku." Tasya memperingatkan.
"Aku semangat karena ada yang memberi aku perhatian." Jawab Devin.
"Kenapa tidak meminta perhatian Mama Nadin." Ujar Tasya.
"Janganlah, Mama harus memberi perhatian ke Papa. Aku yakin dia juga capek, dia sudah membesarkan aku." Jawab Devin, dia mengerti lelahnya Nadin.
Nadin dan Argan duduk di teras luar. Mereka memandang pohon jambu di halaman rumah. Teringat akan masa muda Dera dan Heru.
"Apa kamu ingat dengan pohon jambu itu." Nadin menunjuknya.
"Aku ingat, di sana saksi cinta Mama dan Papa Tasya." Jawab Argan, sambil tersenyum.
"Iya, tidak menyangka bahwa anak mereka begitu menggemaskan." Ujar Nadin, memuji si menantu.
"Devin harusnya cepat jatuh cinta. Kenapa mereka lama sekali, padahal sudah berbulan-bulan kita buat tidur sekamar." Jawab Argan.
"Papa tidak boleh putus asa. Mereka sekarang sudah mulai satu ranjang." Ujar Nadin.
"Apa baru sekarang." Jawab Argan sambil berpikir.
"Kelihatannya sudah lama, tapi aku baru mengetahuinya." Ucap Nadin.
"Kurang update kamu." Jawab Argan, sambil meledek si Nadin.
"Apaan sih update, memangnya ini status sosial media." Jawab Nadin.
"Update berita nyata, bisa juga sayangku. Tidak hanya status, yang bisa diperbarui." Ujar Argan.
"Iya sayang." Jawabnya.
Nadin menusuk-nusuk pipi Argan, dengan telunjuknya. Dia tertawa kecil melihat suaminya itu. Nadin seperti mengingat masa lampau, di mana Argan yang menjadikan dirinya permainan.
"Berani sekali iya kamu sekarang." Argan mengeluarkan suara dinginnya.
"Tidak mental, tidak takut, aku punya Devin. Anak laki-lakiku itu pintar, tidak mungkin membiarkan Mamanya dipukul Papanya." Jawab Nadin tersenyum, sambil membuang muka ke sembarang arah.