Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.
"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.
"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibrar dan perempuan itu
Ibrar bukan tidak ingin mengatakan langsung siapa perempuan itu. Namun, dia merasa Aira tetap akan tidak percaya perkataannya. Semuanya harus ada pembuktian. Rasa sakit karena kegagalan pernikahannya yang lalu sangat mempengaruhinya. Aira tidak butuh hanya kata. Ibrar mengerti itu.
Kamu melihatnya?" tanya Aira saat menemukan Yeri di balik dinding. Kepala temannya itu mengangguk.
"Kenapa berpikir bahwa dia punya istri. Bukankah dia sudah mengatakan pada kita semua bahwa dia belum menikah?"
"Aku tidak percaya karena alasan yang kamu pasti dengar tadi."
"Kenapa tidak coba ikut dia untuk membuktikan bahwa dugaanmu salah?"
"Buat apa? Aku tidak ingin menikah Yer." Yeri menghela napas. Dia tahu tidak mudah menghilangkan rasa sakit akibat ulah Eros. Akhirnya Yeri mengangguk dan menepuk bahu kawannya. Dia mengerti.
......................
Malam ini Aira datang berkunjung ke rumah orangtuanya. Ibu tadi menelepon memberitahu bahwa Ayah sedikit merasa tidak enak badan. Beliau ingin Aira datang berkunjung. Setelah pulang kerja, Aira mendatangi rumah orangtuanya.
Namun dia terkejut tatkala melihat ada mobil yang di kenalinya. Rasanya dia ingin kembali dan mengurungkan niat masuk ke dalam rumah. Seseorang duduk di sofa. Dia tahu itu siapa. Namun saat langkah Aira semakin mendekat ke pintu masuk, ada rasa terkejut melihat ternyara Ibrar disana tidak sendiri. Dia bersama seorang perempuan.
Siapa itu?
"Kamu datang Aira ..." tegur ayah dengan gerakan lemah. Semua menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Iya, Ayah."
"Duduklah," ujar ibu mempersilakan. Aira tidak langsung duduk. Dia berjalan sambil memperhatikan perempuan yang duduk di sebelah Ibrar. Ada juga seorang perempuan lain yang kemungkinan adalah baby sitter bayi yang berada dalam gendongan perempuan cantik itu. Ruang tamu tampak penuh. Bola mata Aira masih memandangi Ibrar dan perempuan yang tersenyum padanya.
Perempuan itu? Aira ingat sesuatu.
Perempuan itu sedang menimang seorang bayi. Aira masih ingat dengan perempuan cantik itu. Dia adalah istri Ibrar yang di temuinya di klinik. Namun Aira hanya sanggup mengangguk karena kebingungannya. Dia pun duduk seperti yang di minta orangtuanya.
"Ada apa ini, Ayah?" tanya Aira setelah berhasil duduk dan tidak lagi tercengang dengan kemunculan Ibrar.
"Kenapa bertanya ada apa, Ai? Tidak sopan. Ibrar hanya berkunjung seperti biasanya." Ayah memarahi putrinya.
Berkunjung? Dengan membawa perempuan cantik ini? Ini mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah orangtua perempuan yang di ajaknya menikah, dengan membawa istri. Hebat.
"Karena ada Aira, saya masuk ke dalam dulu ya. Uhuk, uhuk. Biasa. Orangtua sakit-sakitan." Ayah beranjak dari kursinya. Ibrar mengangguk. Aira kebingungan.
"Temani Ibrar,ya Ai. Dia berkunjung tidak sendiri. Ada keluarganya juga. Kamu harus menemani mereka mengobrol," ujar ibu memberi perintah yang menurut Aira tidak adil. Dia datang untuk menjenguk ayah, kenapa sekarang justru harus menemani Ibrar dan istrinya?
Suasana di ruang tamu hening saat semua menyaksikan ayah dan ibu Aira beranjak menjauh. Aira masih mencoba membiasakan diri dengan kemunculan Ibrar dengan istrinya.
"Aku Aira. Nama yang sama. Kita pernah bertemu di klinik ibu hamil saat itu." Perempuan yang kini semakin langsing dan cantik itu mengulurkan tangan. Tidak ada balasan dari Aira. Dia hanya melihat dengan diam.
"Aira," tegur ibu yang masih belum jauh dari sofa ruang tamu. Ibu melihat putrinya tidak menyambut uluran tangan itu.
"Tidak apa-apa, Ibu. Mungkin Aira masih lelah setelah pulang kerja," ujar perempuan itu ramah. Setelah ayah dan ibu benar-benar sudah masuk ke dalam, perempuan itu mulai bicara lagi. "Kamu baru pulang kerja?" tanya perempuan bernama sama dengannya itu. Menoleh ke arahnya dengan senyum ramah.
"Ya. Anda pasti tahu aku dan Ibrar satu perusahaan."
"Tentu saja. Tentu saja aku tahu. Mbak, bisa gendong dulu?" tanya perempuan itu pada seorang perempuan lainnya.
"Ya, Bu." Perempuan yang lebih tua itu mengangguk dan menggantikan untuk menggendong bayi laki-laki.
Saat perempuan itu sibuk memindah bayinya pada baby sitter itu, Ibrar hanya memperhatikan Aira. Saat mata mereka bersirobok, bola mata Aira mengerjap di perhatikan seperti itu. Kemudian Aira mencoba menyibukkan netranya dengan ikut menyaksikan bayi itu menggeliat saat berpindah pada orang lain.
"Bayi yang sehat," ujar Aira.
"Benar. Lahirnya juga sangat besar. Mirip seperti Ibrar dulu." Perempuan itu menoleh pada Ibrar sambil tersenyum. Ibrar hanya tersenyum tipis dan melihat ke arah Aira lagi. Aira melirik sebentar dan kembali melihat ke arah perempuan di depannya.
"Karena baru bertemu, belum banyak yang mau di omongin. Apa sebaiknya Ibrar berbicara terlebih dahulu?" tanya perempuan itu.
"Ibrar dan aku sudah cukup banyak bicara di kantor. Kita tidak pernah membicarakan hal tidak penting selain pekerjaan. Jadi aku rasa Anda tidak perlu khawatir." Aira tersenyum tipis. Ibrar selalu tahu kapan Aira menolaknya. Raut wajah perempuan itu terkejut mendengar Aira berkata demikian.
"Khawatir ya ...," gumam perempuan itu lalu melirik Ibrar yang menghela napas. Saat ini hanya ada mereka bertiga. Baby sitter tadi keluar dan berada di teras.
"Dia tidak khawatir. Dan memang tidak perlu mengkhawatirkan aku, jika kita bicara banyak hal," ujar Ibrar akhirnya mengeluarkan suara. Dia tidak setuju dengan pendapat Aira.
"Itu sungguh aneh, karena kalian suami istri," sahut Aira ketus.
"Kalian tampak sangat akrab sebagai atasan dan bawahan." Mata perempuan itu melebar melihat suasana kaku di antara keduanya. "Begini Aira ... Sangat wajar jika orang mengira kami adalah suami istri." Kalimat pertama yang membahas soal ini muncul dari perempuan itu. Perempuan itu menoleh pada Ibrar sejenak. Seperti meminta ijin.
"Bukankah seperti itu?" tanya Aira yakin.
"Tidak. Itu bukan hubungan kami sesungguhnya."
Aira melirik.
"Aku adalah kakak perempuan Ibrar." Pengakuan ini membuat Ibrar menghela napas lagi. Mungkin lega.
"Jika kamu mengira Ibrar adalah suamiku karena menemaniku di klinik kehamilan, itu salah. Dia memang menemaniku dan mungkin saja mengaku pada semua orang bahwa dia adalah suamiku." Perempuan itu melirik ke arah Ibrar dengan tajam. Seakan apa yang sudah di katakannya suatu saat pasti terjadi. Dan sekarang adalah akibatnya. "Itu kebiasaannya. Kebiasaan buruk menurutku. Karena bisa saja membuat orang keliru. Seperti kamu yang berpikir bahwa Ibrar adalah suamiku."
Aira mulai mendengarkan dengan seksama.
"Aku sudah bersuami, Aira ... Namun, suamiku meninggal karena kecelakaan pesawat saat aku sedang mengandung satu bulan." Perempuan itu tersenyum getir. Bola mata Aira melebar kaget. "Aku bukan sedang mengumbar kisah tragisku. Tidak." Kelima jari perempuan itu bergoyang. "Aku hanya memberikanmu fakta bahwa aku dan Ibrar bukan suami istri."
Kali ini Aira benar-benar mendengarkan apa yang di bicarakan perempuan yang mengaku kakak Ibrar ini.
banyak pelajaran yang di dapat
berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?