Alesha Az-Zahra jatuh cinta pada pandangan pertama dengan guru SMA nya yang tampan, setahun memendam perasaan suka pada guru itu akan kah Alesha memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya?
"Hm," jawaban pak Rezel yang singkat padat dan tidak jelas itu membuat Alesha ingin menembaknya dengan serius, menembak dengan pistol, senapan atau sniper kalau perlu.
Mencintai pak Rezel itu melatih kesehatan mental Alesha, selain sikap nya yang galak dan menyebalkan dia juga kalau bicara sangat tidak jelas. Bicara pendek menyebalkan, bicara panjang malah lebih menyebalkan!
Di mata seorang Alfarezel Savian, Alesha adalah seorang gadis yang terlihat sangat mirip dengan seseorang di masalalu nya. Hal itu membuat nya cukup tertarik pada gadis itu, sampai suatu hari gadis itu datang dan menyatakan perasaan pada nya.
Siap mengikuti cerita mereka? Jangan lupa klik favorit terlebih dahulu agar mendapat notifikasi saat update :)
follow akun ig @_lisaautmptri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisaautmptri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyebalkan Lagi
Alesha jadi teringat, gadis itu menepuk dahi nya sendiri.
“ Yuk nonton, dia bisa marah nanti kalau kita gak lihat dia tampil.” Alesha menarik tangan Ani semangat, dua gadis itu masuk kedalam aula sekolah yang sudah di sulap menjadi
panggung lengkap dengan kursi penonton yang berjejer rapi di hadapan nya. Alesha menarik Ani duduk di kursi paling depan untuk menyemangati Tina.
“ Ale, calon suami kamu.” Tunjuk Ani pada pak Rezel yang baru masuk ruangan dengan map merah di tangan nya, dia bersama dengan Ratih si wakil ketua OSIS dan Anggi yang
menjabat sebagai sekretaris umum dan beberapa murid lain dari SMA tetangga yang
tidak Alesha kenal, Alesha mendengus saat pak Rezel menoleh ke arah nya, padahal pemuda itu tersenyum tadi, tapi karena Alesha sudah lebih dulu buang muka jadi dia tidak melihat senyuman pak Rezel itu.
Mereka duduk di kursi untuk para juri dan pembawa acara yang bertugas sudah memanggil peserta pertama untuk bernyanyi.
Alesha mengepalkan tangan nya geram saat melihat pak Rezel berbisik entah apa pada Ratih, kurang ajar sekali! Sengaja apa dia mau membuat Alesha lebih kesal, pakai
berbisik-bisik sok mesra begitu. Si Ratih juga, kecentilan dan kentara sekali kalau sedang mencuri kesempatan dalam kesempitan untuk mendekati pak Rezel.
Alesha rasa nya ingin segera keluar dari tempat ini karena sudah tidak sanggup menahan kesal, namun karena Tina yang belum tampil, maka dia harus bertahan di tempat ini sedikit lebih lama lagi.
Giliran untuk Tina tampil, Alesha berdiri dan meneriak kan suara Tina sekeras mungkin untuk memberinya semangat. Suara teriakan nya sampai membuat para juri ikut menoleh,
tapi biarkan saja.
Bukan Alesha nama nya kalau merasa malu hanya karena jadi perhatian banyak orang. Tina menyanyikan lagu wajib Nasional yang sudah di tentukan dan satu lagu pilihan bebas, gadis itu menyanyikan lagu “Berkibarlah Bendera milik grup band cokelat” dengan semangat, setelah selesai bernyanyi Alesha
bertepuk tangan paling heboh lalu meneriakkan semangat terakhir untuk Tina.
Setelah gadis itu turun panggung, Alesha juga menarik Ani untuk keluar. Tugas mereka sudah selesai dan dia tidak ingin lebih lama disini melihat pak Rezel yang menyebalkan itu.
Alesha jadi tertarik ikut menonton pertandingan futsal yang masih belum berakhir, gadis itu menarik tangan
Ani ke tribun buatan yang sudah disiapkan para panitia. Ternyata yang bermain adalah SMA tetangga, tapi Alesha tetap menonton dengan semangat daripada keluyuran tidak jelas di sekolah.
Setelah permainan berakhir, kini sekolah mereka yang bertanding, Alesha jadi semangat lagi saat melihat Ipul di antara para pemain yang sedang bersiap di pinggir lapangan.
“ Ipul semangat. I love you pul” teriak nya kencang dan disambut tawa para adik kelas yang juga sedang menonton.
“ Ayo dong kasih semangat sekolah kita,” ujar nya mengajak yang lain ikut berdiri.
Cukup lama Alesha teriak-teriak menyanyikan yel-yel sekolah mereka, teriakan nya menjadi lebih semangat saat tim mereka berhasil membobol gawang lawan. Setelah cukup lama, pertandingan babak pertama berakhir dengan skor yang sama. Alesha kembali
duduk, gadis itu memegangi tenggorokan nya yang terasa gatal setelah teriak tidak tahu malu.
“ Capek?” tanya Ani yang sejak awal hanya diam saja, entah dia menonton atau tertidur. Tidak ada reaksi sama sekali selama pertandingan berlangsung, padahal yang lain akan berteriak heboh saat bola membobol gawang lawan atau gawang tim, tapi dia tidak
menunjukkan reaksi apapun. Sepertinya dia ini sebelas dua belas dengan pak Rezel, beda nya kalau Ani pemalu kalau pak Rezel menyebalkan.
“ Capek banget,” suara Alesha terdengar serak.
“ Heboh banget kamu teriak, suara nya sampai di sebelah sana!” suara Dio yang mengagetkan dua gadis itu. Alesha dan Ani kompak menoleh belakang, Dio berdiri dengan dua botol minum
di tangan nya.
“ Ini minum, biar semangat lagi teriak nya di babak kedua.”
Alesha dan Ani menerima dengan semangat, Dio mengambil posisi di tengah antara dua gadis itu. Dia mengenakan seragam rapi lengkap dengan almamater sekolah, sekarang dia sedang bertugas sebagai anggota OSIS sekaligus panitia acara, tapi karena perlombaan di ruang tenis meja sudah selesai jadi dia memilih ke sini dan ikut menjadi
pendukung.
Permainan kembali di mulai, Alesha sudah siap berteriak memberi semangat lagi.
“ Aaaa Ipul semangat, Ipul ganteng semangat sayang!” teriak Alesha sembari tertawa geli dengan ucapan nya sendiri, beberapa orang menatapnya kesal. Dio dan Ani yang menanggung malu karena ulah nya. Dio berdiri lalu merangkul dan membekab mulut Alesha yang teriak tidak tahu tempat itu.
“ Apa sih, aku kan ngasih semangat.” Alesha tertawa setelah melepaskan tangan Dio dari mulut nya.
“ Malu Ale, kamu tuh kalau teriak gak lihat tempat.” Dio merangkul nya semakin erat karena gemas.
“ Lepasin ah aku mau kasih semangat buat Ipul,”
“ Diem gak atau mulut kamu ku jual nanti,” Dio kembali membekab mulut nya saat gadis itu ingin berteriak.
“ Ekhem!” suara deheman keras membuat beberapa orang menoleh, termasuk Dio dan Alesha yang sedang bertawa geli dan saling merangkul.
Pak Rezel terlihat berdiri di belakang bersama beberapa anggota OSIS yang tadi, Alesha mendengus tidak perduli lalu kembali menoleh ke depan.
“ Eh pak,” sapa Dio tersenyum sopan. Pak Rezel hanya mengangguk saja, lalu ikut memantau jalan nya pertandingan.
Alesha bisa mendengar suara pak Rezel berbincang dengan Ratih dan beberapa murid perempuan yang lain, cih berbeda sekali saat bicara dengan Alesha. Sekarang pemuda itu terdengar bicara santai, bahkan Alesha beberapa kali mendengar suara tawa pak Rezel, sial dia saja hanya sekali melihatnya tertawa dan sekarang pemuda itu dengan mudah nya tertawa dengan gadis lain padahal pacar nya ada di depan.
Alesha ingin sekali menoleh ke belakang dan melototi pak Rezel yang kecentilan, tapi
akhirnya dia memilih fokus pada jalan nya pertandingan saja daripada mendengarkan obrolan di belakang yang hanya membuat gerah hati.
Setelah pertandingan berakhir, Alesha mencari cara untuk menyelinap keluar sekolah dan pulang, dia terlalu malas melihat pak Rezel terlebih setelah kejadian tadi.
Gadis itu memilih pulang dan beristirahat dirumah mempersiapkan diri untuk pertandingan besok. Ponsel nya bergetar, gadis yang sudah memejamkan mata beberapa menit di atas kasur itu kembali membuka mata nya lebar. Panggilan dari pak Rezel, Alesha melempar ponsel nya menjauh dan mengabaikan panggilan itu. setelah beberapa lama akhirnya mati sendiri, namun ponsel berdenting menandakan pesan masuk.
“ Kamu dimana?” pesan dari pak Rezel, kalimat pendek dan menyebalkan seperti biasanya. Alesha sengaja hanya membaca tanpa membalas nya, biar pacar menyebalkan nya itu tahu rasa.
“ Saya tunggu di perpustakaan,” pesan kedua kembali masuk, Alesha masih tetap tidak berniat membalasnya. Gadis itu kembali melempar ponsel nya menjauh lalu menarik selimut sampai menutupi kepala.
Terserah kamu Rezel, mau nunggu sampai besok pagi juga aku gak perduli!
Pagi kembali datang, Alesha sudah bersiap dengan sempurna. Memakai sun cream dan make up yang cukup tebal dari biasa nya, hari ini dia akan tampil di pertandingan basket, tentu saja dia harus berdandan rapi dan cantik, Alesha sengaja membawa parfume mahal
hadiah ulang tahun dari bunda nya agar nanti setelah selesai bermain dia tidak bau asem seperti yang selalu di katakan abang nya.
“ Semangat dek, abang doain kamu menang dan bawa piala nanti!” Andri mencium pipi adik nya untuk memberi semangat, Alesha menyahut senang lalu berlari setelah mencium tangan abang nya.
semangat thor 😊