KARMA
Sebelum membaca karya ini alangkah baiknya jika membaca karya pertamaku yang berjudul Aku Bukan Pelakor, agar bisa mengikuti jalan ceritanya.
Karya KARMA ini menceritakan tentang pembalasan pengkhianatan yang di lakukan julio kepada istri dan anak-anaknya.
Julio bukan hanya mengkhianati istrinya namun ia membohongi ana dengan mengaku lajang untuk mendapatkan hati dan tubuh ana, selain itu ia juga di duga menggelapkan dana perusahaan tempatnya bekerja serta perusahaan milik istrinya.
Lalu apa sajakah KARMA yang akan di terima oleh julio?
Semuanya akan di ceritakan di Novel ini.
Terima kasih, selamat membaca😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Sesuai janjinya, hari itu setelah mengantar rangga ke sekolah Retno menuju kediaman lyra.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum lyr." Retno mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah lyra.
Beberapa menit kemudian samar-samar retno mendengar suara seorang pria menjawab salamnya.
"Walaikumsalam." Jawab rio sambil membuka pintu.
Retno sangat terkejut saat ia melihat rio yang membukakan pintu untuknya.
"Mau apa kamu datang kemari?" tanya rio dengan wajah datarnya, sehingga retno sulit mengartikan apakah rio masih marah terhadapnya atau sudah memaafkan dan melupakan kejadian waktu itu.
"Ak..aku mencari lyra mas, kami sudah janjian mau keluar." Jawab retno gugup.
"Lyra sedang mandi, kau duduklah." Rio mempersilahkan retno masuk dan menunggu adiknya di ruang tamu.
Ketika rio akan melangkahkan kakinya meninggalkan retno, retno memanggilnya.
"Mas Rio, maafkan aku." Ucap retno dengan wajah ragu-ragu serta penuh dengan rasa penyesalan.
Mendengar retno memanggilnya, Rio menoleh kembali ke arah retno.
"Maaf untuk apa?" Tanya rio.
"Karena aku, ibu mas rio jadi masuk ke rumah sakit." Retno memberanikan diri untuk membuka topik sekaligus meminta maaf kepada rio.
"Sudahlah itu semua sudah berlalu, ibu pun kini baik-baik saja." Ucap rio dengan santai.
"Tolong sampaikan juga permintaan maafku kepada ana karena aku telah menuduhnya pelakor." Retno menundukan kepalanya.
"Lain kali cari tahu dulu kebenarannya, jangan asal menuduh orang." Rio sangat tidak terima jika ana di sebut pelakor karena yang sebenarnya baji*gan itu adalah julio.
Baru beberapa langkah rio hendak pergi meninggalkan ruang tamunya, retno kembali memanggilnya.
"Maaf mas rio, sampaikan juga kepada mba ana saya turut berbela sungkawa atas kegugurannya kandungan mba ana." Ucap retno, seketika rio menoleh ke arah retno.
"Dari mana kamu mengetahuinya?" Rio mendekat ke arah retno dan duduk di hadapan retno.
"Beberapa waktu lalu pasca mba ana mengalami insiden kecelakaan, lyra datang ke rumahku. Ia menceritakan bahwa mantan suamiku yang telah menabrak mba ana, lyra juga menceritakan semua kejadian yang sebenarnya. Tapi aku sudah menarik semua pengacara-pengacara yang aku bayar untuk membantunya meringankan kasusnya.
"Terima kasih, lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi jangan sampai kau di manfaatkan lagi oleh orang sebreng*ek mantan suamimu" Rio memberikan nasihat kepada retno.
Tak lama kemudin lyra yang telah siap, keluar dari kamarnya menuju ruang tamu dan mengajak retno untuk pergi.
"Yuk ret." Ajak lyra, retno menganggukan kepalanya.
"Aku pergi dulu ya mas."
Sebelum keluar dari rumah lyra, retno berpamintan terlebih dahulu kepada rio barulah ia keluar mengikuti lyra dari belakang.
"Naik motor?" Tanya lyra.
"Iah, kamu keberatan?"
"Tidak kok, sebentar ya." Lyra masuk kembali ke dalam rumahnya untuk mengambil jaket dan helm.
Beberapa menit kemudian lyra kembali keluar dan menawarkan dirinya untuk membawa motor retno, retno pun memberikan kuncinya kepada lyra.
Di sepanjang jalan mereka berdua asik mengobrol dan tertawa bersama hingga terkadang membuat pengendara lainnya menoleh ke arah mereka.
Baik retno maupun lyra merindukan moment seperti ini, sejak mereka memiliki kesibukan masing-masing dan di tambah dengan insiden penabrakan ana, hubungan retno dan lyra merenggang, namun kini mereka kembali akrab, mereka sama-sama melupakan masalah yang lalu.
"Kok tumben lyr, kamu mau medical check up? Bukannya kamu takut jarum suntik ya?" Tanya retno heran
"Kalo bukan paksaan dari mas rio, aku juga malas ret. Beberapa waktu lalu ibu terdiagnosa mengidap diabetes jadi mas rio menyuruhku untuk rutin medical check up." Terang lyra, retno hanya menganggukan kepalanya.
"Eh ia ret, kapan kamu melanjutkan kuliahmu? Lama-lama cuti, kamu bisa di DO loh!!!" Lyra mengingatkan retno kembali untuk kuliah.
Retno baru teringat jika dirinya cuti saat menjelang persalinan rama.
"Jika aku melanjutkan kuliahku pasti akan menambah biaya, lalu bagaimana dengan biaya sekolah rangga?" Gumamnya dalam hati.
"Hei kok bengong sih ret?" Lyra membuyarkan lamunan retno.
"Masih sedang aku pikirkan lyr, akhir-akhir ini sedang sibuk dengan proses perceraianku, mengurus perusahaan dan mengurus anak-anak. Mungkin setelah kondisi kantor berjalan normal, proses perceraianku selesai dan rama sudah agak besar baru akan memulainya kembali." Ucap retno, ia sengaja tidak menceritakan kondisi yang sebenarnya kepada lyra karena ia merasa permasalahan pribadinya cukup hanya dirinya saja yang tahu.
"Ya sudah, tapi nanti kamu lanjutin lagi ya ret." Ucap lyra, retno menganggukan kepalanya.
Tiba di laboratorium tempat lyra melakukan medical check up, lyra memaksa retno untuk ikut check up bersamanya.
"Kamu sajalah aku tunggu disini."
"Ayolah ret, kesehatan itu penting loh.'' Bujuk lyra.
"Ya sudah, hanya cek darah saja ya, yang lain-lainnya nanti saja menyusul." Ucap retno.
"Ya sudah, tapi darah lengkap ya?" Lyra pun mendaftarkan retno untuk medical check up bersamanya.
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian proses check up, retno mengantar lyra kembali pulang sebelum ia kembali ke kantornya.
"Lyr, besok aku tidak bisa mengambil hasil medical check upnya karena aku mau ke persidangan perceraianku." Ucap retno.
"Ya sudah kita ambil masing-masing saja ya, aku juga mau ke Semarang. Mas rio mengajak aku dan ibu liburan ke Semarang." Ujar lyra, retno menganggukan kepalanya.
"Aku ke kantor dulu yo." Pamit retno.
"Iyo hati-hati, terima kasih yo." Ucap lyra sambil melambaikan tangannya ke arah retno.
Keesokan harinya sebelum berangkat ke Semarang, lyra meminta kakaknya rio untuk mampir sebentar ke laboratorium untuk mengambil hasil medical check upnya kemarin.
Sementara retno datang ke laboratorium setelah ia pulang dari Pengadilan Agama, retno cukup puas dengan persidangannya hari itu.
Melalui kuasa hukumnya, julio mengakui semua perbuatannya dan menerima gugatan perceraian retno terhadap dirinya, Julio hanya meminta untuk di berikan kesempatan bertemu dengan kedua anak-anaknya saat ia keluar dari penjara nanti.
Retno memarkirkan motornya di parkiran laboratorium kemudian masuk ke dalam untuk mengambil hasil medical check up dirinya.
Retno sangat syok saat ia membuka hasil medical check up dirinya.
"Astaghfirullahaladzim, tidak... ini tidak mungkin." Retno menggeleng-gelengkan kepalanya, dunianya seakan runtuh dan pandangannya gelap.
"Bagaimana bisa aku terkena virus ini?" Retno sangat menyakinin jika dirinya tidak pernah melakukan s*x bebas atau pun menggunakan jarum suntik bekas pakai.
"Ini pasti salah, ya ini pasti salah. Aku tidak mungkin terkena penyakit ini."
Retno meminta konfirmasi hasil laboratorium yang ia peroleh kepada petugas laboratorium.
Dari petugas laboratorium membenarkan jika retno terkena virus HIV (human immunodeficiency virus). Pihaknya menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menghambat perkembangan virus tersebut karena hingga sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV.
sungguh menguras air mata, tapi sangat puas n byk pelajaran yg bisa diambil dlm cerita ini
sungguh sangat terharu dgn novel ini