NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Genggam tanganku, aku akan selalu bersamamu

Jalanan mulai sepi. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Pick-up yang ditumpangi Azra melaju kencang menyusuri jalan menuju Desa Sukamakmur.

Yanto mengemudi dengan tenang, sesekali menguap menahan kantuk.

​"Jangan ngebut ya, Mas Yanto. Kondisi jalan licin habis diguyur hujan dua hari," ucap Azra sambil menatap keluar jendela. Di luar hanya ada kegelapan karena rumah penduduk mulai jarang.

​"Mas Yanto sudah berkeluarga?" tanya Linda tiba-tiba.

"Sampun, Bu Linda. Anak saya sudah dua. Yang paling kecil baru berumur satu tahun," jawab Yanto.

​"Panggil saya Mbak aja toh, Mas. Emang wajah saya tua banget ya sampai dipanggil Ibu?" protes Linda dengan bibir manyun.

​Azra yang mendengar itu tersenyum. "Mas Yanto sungkan kali, Lin. Iya kan, Mas?"

​"Hehehe ...." Yanto hanya terkekeh sambil mengusap tengkuknya, kikuk.

Udara semakin dingin. Azra merasakan kepenatan luar biasa menyergap tubuhnya. Dia mulai menyandarkan kepala pada pintu mobil sambil meluruskan kaki ke depan. Matanya sudah berat, tapi berusaha tetap terjaga.

Sedangkan Linda menemani Yanto dengan obrolan-obrolan ringan. Cara ini ampuh, mengusir kantuk Yanto yang juga lelah sudah bekerja dari pagi. Masih butuh waktu 35 menit lagi untuk sampai di Pustu Dusun Teduh.

______

Sementara itu, di tempat lain, di jam yang sama ...

Di sebuah ruang keluarga berdesain Eropa klasik, Dokter Wita duduk di sofa rococo perpaduan warna merah muda pastel, cokelat, dan emas. Sementara itu, sepasang suami istri duduk di seberangnya—di atas sofa panjang chesterfield biru tua dengan detail kancing tanam yang mencolok.

​Suasana hening. Lelaki paruh baya itu beberapa kali terlihat membolak balikkan halaman majalah, sementara istrinya menatap gusar ke arah Wita.

​"Mama dan Papa kan sudah bilang, Wit. Pernikahanmu kali ini menentukan arah bisnis keluarga kita. Kalau kamu terus-menerus diam tanpa kepastian, bagaimana kita bisa menentukan sikap?"

​Wita memandang mamanya dengan tatapan datar. Begitu tanggal pernikahan dengan anak relasi bisnis papanya ditetapkan, Wita merasa kebebasannya telah direnggut total.

"Wita, kamu dengar mama tidak?" intonasi mama Wita mulai meninggi. Wanita cantik berwajah oriental seperti Wita ini bertambah kesal dengan kebungkaman anaknya.

Sang suami yang duduk di sebelahnya menepuk-nepuk tangannya pelan. Berusaha menenangkan.

"Ehem!" Papa Wita berdehem, setelah beberapa saat diam, akhirnya dia angkat bicara, "Begini Wita, masalah perjodohan ini, terlepas itu ada kaitannya dengan bisnis papa atau tidak, kami para orang tua hanya berharap yang terbaik untuk masa depanmu." Papa Wita berhenti sejenak, menatap Wita seolah menunggu respons gadis yang berprofesi sebagai dokter gigi itu.

Tidak ada tanggapan, Wita hanya diam sambil memainkan kancing bantal sofa.

"Setiap orang tua ingin kehidupan rumah tangga anaknya bahagia, tercukupi dan tidak kekurangan suatu apa pun. Dan Aldo sendiri, sudah menerimamu dengan tangan terbuka. Jadi ... kami berharap, kamu -sebagai anak sulung- di keluarga ini, bisa mengerti dan tidak mengecewakan harapan papa dan mama," lanjut papa Wita berbicara tenang.

"Wita mengerti, Pa. Kalian tidak usah khawatir. Sudah hampir tiga minggu Wita tidak lagi bekerja di kota itu, apakah ini masih belum cukup menjadi bukti kalau Wita menerima perjodohan ini?" akhirnya Wita bersuara.

Mama Wita tersenyum, menoleh sekilas kepada suaminya. Dia berdiri, lalu beranjak pindah duduk di sebelah putrinya. Dengan hangat dirangkulnya bahu Wita.

"Syukurlah. Terimakasih, sudah mau mengerti. Mama dan papa sayang sama Wita. Ingatlah, ini semua demi kebaikanmu."

"Hmmm ...." jawab Wita sekedarnya.

"O iya, jangan lupa besok pagi Aldo akan menjemputmu untuk fitting gaun pengantin. Baik-baik ya sama Aldo. Istirahatlah lebih awal!"

Wita mencium pipi mamanya, sebelum akhirnya beranjak menuju kamarnya di lantai dua.

Wita menapaki tangga besar berbahan kayu berwarna cokelat tua di sisi kanan ruang keluarga. Tangga dengan pagar pembatas yang terbuat dari besi tempa berwarna putih dengan ukiran motif sulur yang rumit dan elegan.

______

Cantika Bridal & Make Up, di sinilah Wita pagi ini bersama Aldo. Calon suaminya. Seorang pria muda berwajah tampan, kulit putih gading, bermata sipit dengan iris hitam pekat, dan postur tubuh yang proporsional.

Sama seperti Wita, pria ini ada garis keturunan tionghoa. Dia adalah anak dari seorang pemilik salah satu hotel ternama di kota Jayakerta. Jabatannya saat ini adalah Manajer Eksekutif.

Dengan tenang dia duduk di sofa merah muda yang ada di butik Cantika. Jari jemarinya sibuk membalas pesan di ponselnya.

Tidak berapa lama, tirai fitting room terbuka. Wita melangkah keluar dan berdiri di hadapan Aldo.

​"Tuan, ini pengantin wanita Anda," seorang pramuniaga menyadarkan Aldo yang sedang asyik dengan ponselnya.

​Aldo mendongak, dan tatapannya seketika terkunci.

Di hadapannya, Wita berdiri anggun dalam balutan gaun pengantin modern bergaya klasik Eropa yang sangat megah. Gaun putih dengan potongan kerah off-shoulder itu mengekspos keanggunan bahu dan tulang selangka Wita dengan pas. Bagian bawahnya yang berpotongan ball gown mengembang indah dari pinggang, membuat dia layaknya seorang putri dongeng.

​"Cantik sekali," gumam Aldo dengan senyum yang perlahan mengembang.

Saat tatap matanya beradu dengan mata Wita, tiba-tiba degup jantungnya berdetak dengan kencang. Debaran asing itu menghentak dadanya lagi.

"Aldo, gimana? Apa yang kurang dari gaun ini?" tanya Wita menyadarkan Aldo.

Lelaki itu tergagap sejenak, kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Wita. Dia memangkas jarak, lalu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya. "Kurang aku sebagai pengantin priamu," bisik Aldo sensual di telinga kiri Wita.

​Pipi Wita seketika merona panas. Dengan kedua tangannya, ia mendorong dada Aldo agar menjauh, lalu berbalik cepat menuju fitting room. Ditariknya tirai itu kuat, menutup rapat ruang ganti. Antara marah, kesal dan malu, Wita tidak bisa mengekspresikan perasaannya kala itu.

Aldo tersenyum penuh makna. Dia kembali duduk, menunggu Wita menyelesaikan pengukuran baju pengantinnya.

"Aku sudah selesai fitting baju. Kalau sudah tidak ada hal lain aku mau pulang," ucap Wita datar kepada Aldo.

Aldo mendongak kembali, tersenyum, "Masih ada yang harus kita selesaikan." Wita mengernyit.

Tanpa menunggu persetujuan Wita, Aldo berdiri dan menggenggam pergelangan tangan Wita. Menariknya pelan untuk mengikuti langkahnya.

Semua mata menatap ke arah mereka, berbisik-bisik kagum. Pasangan yang serasi. Yang pria tampan dengan setelan kemeja biru navy dan yang wanita cantik dengan tubuh dibalut celana jins sobek dan tank top hitam, rambut model pixie cut. Sebuah perpaduan yang kontras, namun unik bagi yang melihat.

Setelah memasuki Toyota Camry warna hitam, Aldo baru melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan Wita.

"Maksudmu apa?" Sarkas Wita memprotes perlakuan Aldo.

"Hanya menggandengmu, takut kamu kabur," jawab Aldo sambil mengedikkan bahu.

"Huh!" Kekesalan nampak di raut wajah Wita. Pandangannya dialihkan keluar jendela.

Mobil bergerak perlahan menyusuri jalanan yang macet, penuh dengan kendaraan di jam kerja.

Saat mobil yang mereka tumpangi melewati Rumah Sakit, ingatan Wita kembali kepada dr. Azra. Rasa rindu tiba-tiba menggigit hatinya. Ada genangan di kelopak matanya.

Aldo memandangi calon istrinya dari kaca tengah mobil. Tangan kirinya menyentuh tangan Wita lembut, hatinya seketika mencelos, saat melihat wanita di sebelahnya menahan air mata yang hendak tumpah.

"Wit, percaya sama aku. Ikut aku untuk kali ini, aku mau tunjukkan sesuatu," pinta Aldo penuh harap.

Wita menoleh sebentar, menatap wajah Aldo, kemudian pandangannya kembali menatap ke luar jendela mobil.

Mobil memasuki kompleks ruko di pusat kota. Aldo memarkirkan mobilnya, keluar dan membukakan pintu untuk Wita. "Ayo turun," isyaratnya dengan kepala.

Wita turun dengan enggan. Berjalan pelan mengikuti langkah panjang Aldo. Lalu mereka berhenti di sebuah ruko. Ada sebuah papan nama Praktik Dokter Gigi Wita, lengkap dengan nomer ijin praktiknya.

Wita diam mematung. Dia menatap Aldo, seolah-olah bertanya 'apa ini?'

"Untukmu," jawab Aldo singkat.

Wita mengibaskan tangannya. Merasa dirinya dijadikan lelucon oleh calon suami di hadapannya. Langkahnya panjang beranjak pergi, Aldo menangkap dan memeluknya dari belakang.

"Tunggu dulu!"

"Lepaskan!" Wita berontak berusaha melepaskan diri dari pelukan Aldo.

"Wita, aku tahu perjodohan ini menyakiti hatimu. Merenggut kebebasanmu. Tapi berikan aku kesempatan, untuk membuktikan padamu, bahwa aku sungguh mencintaimu. Aku akan kembalikan kebebasanmu setelah kita menikah nanti. Saat ini, ikuti saja dulu mau orang tua kita. Bisakah, Wit?" Bisik Aldo di telinga Wita.

Ada tetesan air hangat yang jatuh tepat di atas punggung tangan Aldo yang tengah mendekapnya erat.

Wita menangis. Bukan karena luluh, melainkan karena meratapi nasibnya yang harus tunduk pada perjodohan.

Napasnya terasa sesak, ketika harus memilih menunjukkan sikap memberontak, yang itu berarti menyakiti hati Aldo yang tulus. Atau menerima, tapi menyakiti hati dan pikirannya sendiri.

"Bisakan, Wit?" Kembali Aldo memastikan jawaban Wita.

​Dengan sisa kekuatan dan kepasrahan yang melelahkan, Wita mengangguk pelan. Sesaat kemudian bahunya berguncang menahan isak tangis yang pecah.

Aldo semakin mengeratkan pelukannya, dia kembali berbisik di telinga wanita pujaannya, "Wita, mulai saat ini pastikan untuk tetap menggenggam tanganku, akan kupastikan aku selalu ada bersamamu. Kita akan hadapi semua bersama."

Wita tergugu dalam diam.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!