Zalina dan Riki sama-sama saling mencintai, mereka menyembunyikan dalam diam hingga waktu yang tepat. Ketika akan meminta izin untuk menikah, tiba-tiba Zalina mengetahui sebuah rahasia bahwa ia dan Riki adalah saudara sepersusuan sehingga haram untuk menikah. Dengan berat hati ia melepas cinta pertamanya.
Sementara Riki tak mudah menerima kenyataan itu, ia terus menteror Zalina. Menuduh hanya mempermainkan perasaannya hingga diminta membuktikan dengan kawin lari.
Zalina tetap teguh. Tak ingin menentang Sang Pemilik kehidupan ini. Berbagai cara ia lakukan agar bisa lepas dari Riki, termasuk membuka hati untuk lelaki lain.
Memang tak mudah menemukan pelabuhan hati meski Zalina punya banyak pengagum. Berbagai hambatan ia temui. Lalu pada siapakah hatinya akhirnya berlabuh?
(Dear pembaca, semoga ada hikmah dari cerita ini yang bisa diambil. Jangan lupa like dan komen yaa :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Efek Fitnah
Rasanya telingaku benar-benar panas mendengar suara-suara miring anak-anak kosan. Mereka sengaja berbicara dengan suara agak keras saat aku lewat. Tentu saja yang mereka bicarakan adalah hal-hal yang tidak benar. Tuduhan bahwa aku adalah perebut suami orang. Tuduhan yang benar-benar menyakitkan hati.
"Heh, kalian berhenti membicarakan Zalina. Tuduhan kalian itu tidak benar. Sama saja kalian memfitnahnya!" tegas Ayu dengan suara lantang.
"Fitnah? Sudah ada buktinya. Alisya sudah bersaksi masa kamu masih membela Zalina juga. Itu namanya bukan fitnah. Kami bukan menggunjing sebab yang kami katakan adalah kebenaran." mereka membela diri.
"Kesaksian Alisya tidak bisa dipegang. Buktinya tidak kuat. Bisa saja ia mengatakan itu karena cemburu pada Zalina. Kalian tidak tahu bagaimana cerita awalnya. Pak Arya lah yang melamar Zalina, lalu tiba-tiba malah berpaling pada Alisya tanpa alasan jelas. Di sini sudah jelas Zalina sebagai korban. Tapi diputar balikkan. Itu namanya Fitnah! Lagipula kalian nggak tahu, kalau membicarakan orang lain meski itu benar tetap saja namanya menggunjing, tapi kalau tuduhan kalian salah maka kalian adalah golongan tukang fitnah. Jadi berhentilah membicarakan Zalina atau kelak satu-persatu pahala kalian berpindah pada Zalina karena kalian sudah memakan bangkai saudara sendiri!" tegas Ayu.
Anak-anak kosan diam. Mereka tidak melanjutkan debat. Memilih berlalu, meninggalkan aku dan Ayu.
Ku fikir, setelah itu tak akan ada lagi yang membicarakan tapi ternyata tetap saja, mereka menggunjingkan aku di belakang dan beberapa kali tertangkap olehku. Fitnahan itu dengan cepat menyebar, layaknya api yang memakan sekam. Hampir sebagian mahasiswa di kampus membicarakan aku.
Akibat dari tuduhan itu, semua orang memandangku rendah. Bahkan seorang senior di kampus sampai merendahkan aku.
"Na, kamu itu cantik. Pintar dan terlihat alim. Nggak nyangka aja kamu serendah itu. Apa sih yang kamu cari dari pak Arya? Aku bisa kok memberikan apa yang kamu cari darinya. Kalau kamu nyari gebetan dosen, aku juga bisa berusaha jadi dosen, bahkan lebih. Tapi sayangnya kamu malah memilih jalan pintas sebagai perempuan penggoda!"
"Perempuan, secantik apa kalau sukanya merebut kebahagiaan perempuan lain namanya murahan. Sudah tidak ada harga dirinya! Jadi nggak usah sok alim lagi lah!"
"Cantik, alim..ternyata cuma kedok saja. Sudah berapa banyak lelaki yang kamu goda, Na. Apa sih yanh kamu cari?"
Kata-kata miring itu terus sampai ke telingaku. secara langsung ataupun tidak. Anehnya, yang mengatakan adalah orang-orang yang pernah menawarkan cinta padaku. Orang-orang yang dahulunya datang dengan begitu manisnya, ternyata mereka tega menuduhku dengan begitu kejamnya.
"Aku ingin pindah saja, Yu." kataku pada Ayu, saat kami sampai di kosan usai bimbingan.
"Lho, kenapa? Apa gara-gara anak kosan yang suka menggosipkan kamu itu? Sudah Na, nggak usah di dengarkan..cuekin saja. Lagipula apa yang mereka tuduhkan itu tidaklah benar. Nanti lambat laun kebenarannya akan terungkap juga. Jadi kamu sabar duku ya, Na!" pinta Ayu.
"Aku sebenarnya juga ingin cuek, Yu. Tapi kamu tahu kan bagaimana mereka terus menyetangku. Aku merasa ada yang salah. Kenapa mereka tega membicarakan aku. Apa jangan-jangan selama ini mereka menilai aku buruk?"
"Penilaian mereka itu hal mereka. Tapi tetap, apa yang kita ucapkan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka berkata jelek yentang kamu bisa jadi karena mereka sakit hati. Ada yang iri sebab gebetannya lebih memilih kamu..ada juga yang mengatai kamu karena pernah ditolak. Makanya nggak usah diambil hati. Ya, Na!" pinta Ayu, sambil mengusap punggungku. "Lagipula kita tinggal sebentar lagi lulus. Kamu sabar ya. Aku janji akan berusaha jagain kamu!" ungkap Ayu.
Untung daja aku punya Ayu. Kalau nggak entah bagaimana aku harus menghadapi mereka semua. Mungkin aku hanya bisa lari dan lari.
***
Bruk. Sebungkus obat-obatan yang baru kutebus di apotik rumah sakit langsung jatuh ke lantai karena seseorang menabrakku. Sosoknya membuatku kaget. Sharim, ia, dialah yang berdiri di hadapanku saat ini.
"Sharim?" kataku, sambil berusaha mengambil obat-obatan milikku.
"Na. Kamu nggap apa-apa? Maaf kalau aku sudah menabrak kamu." Ia membantuku mengumpulkan plasti obat yang berserakan. Sharim mengambil sebotol kecil yang ikut bercecer. "Obat ini ... kamu nggap apa-apa, Na?" Ia menatapku dengan pandangan khawatir.
"Nggak apa-apa." kataku, sambil menariknya cepat dari tangan Sharim.
Tapi terlambat karena ia sudah terlanjur membacanya. Sharim pasti tahu obat itu karena sekarang ia sudah menjadi sarjana kedokteran. Sebentar lagi koasnya juga akan selesai.
"Kamu kenapa ada di sini?" Tanyaku, berharap bisa mengalihkan pembicaraan.
"Saya koas di sini, Na." ia menunjukkan kartu pengenalnya. "Lalu untuk apa obat itu?" ia masih mendesak. "Kamu ada masalah? Ceritakan pada saya, Na!"
"Enggak. Aku hanya susah tidur. Gara-gara skripsi." aku memberi alasan. Tapi Sharim tidak percaya, ia bahkan mengancam akan mencari tahu lewat Abi dan Umi..tentu saja aku menolak sebab hal ini sudah kurahasiakan dari keluargaku. Mereka sudah banyak beban, aku tak ingin menambah bebannya.
Aku dan Sharim sudah duduk di cafe rumah sakit. Ia memesankan segelas milk shake coklat untukku.
"Apa ini gara-gara kamu gagal menikah kemarin?" Tanya Sharim, membuka pembicaraan.
"Enggak. Tapi efek dari itu semua. Tiba-tiba istrinya menuduhku sebagai perempuan perebut suami orang. Diikuti oleh beberapa orang teman-teman lainnya. Aku benar-benar stress gara-gara tuduhan itu. Asam lambungku naik, padahal sebelumnya nggak pernah sakit magh. Aku juga nggak bisa tidur. nggak konsentrasi mengerjakan skripsi." Dengan lancar kuceritakan semuanya pada Sharim. Hubungan kami yang semula kaku berubah akrab. Aku merasa nyaman menumpahkan semua keluh kesah yang sejak awal membebaniku.
"Jahat sekali!" Sharim tampak geram. "Kamu nggak usah khawatir, saya akan bantu kamu untuk menyelesaikan Semuanya!" Kata Sharim.
"Bagaimana caranya?"
Sharim tak memberitahu langkah apa yang akan ia lakukan..Anehnya aku percaya begitu saja. Mengikuti apa yang ia katakan.
"Sekarang kamu jangan banyak berpikir apapun dulu agar lambung kamu aman. Sebenarnya kalau sudah seperti ini berarti sudah berat. Kamu harus tenang. Istirahat yang cukup. Mengerti." Pinta Sharim.
"Iya. Tapi kenapa kamu koas di sini? Bukannya harusnya di Solok?" Tanyaku, usai menyeruput minuman.
"Nggak Na. Saya sengaja memilih Padang supaya dekat dengan kamu. Lagipula pilihan saya benar, ternyata kamu butuh bantuan saya." Ungkap Sharim, sehingga membuatku tersenyum tertunduk malu. "Saya sudah pernah kehilangan kamu dua kali, bodoh sekali jika harus kehilangan untuk ketiga kalinya."
pipiku semakin merona. Aku rasa kami tak butuh kata-kata lagi, sebab hati sudah sama-sama bicara.
tetap semangat dan jaga kesehatan Thor .
semoga yang semua baca ini di jauhkan dari namanya iri dengki Aamiin .
hiks terharu aku semoga calon imam masa depan ku seperti sharim yah Thor hehehheheh .
puas saya bacanya
padahal masih banyak yg belum selesau dari cerita2 sebelumnya.
selalu samawa utk za dan sahrim ya thor, urusan umi dan abi biar athor saja yg urus
hhee
10 like mendarat buat kk.
Lanjut up ya.
msmpir jg di bukalah hatimu untukku