Karena terlilit hutang, Lucia harus rela menjadi pelayan di sebuah mansion dan mengabdikan dirinya pada pria yang menjadi tuannya. Bukan hal mudah untuk Lucia bekerja di sana, tuannya adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di Madrid.
Louis nama pria yang mendapat julukan jaguar hitam. Dengan masa lalunya yang kelam, dia membunuh tanpa kasihan. Hatinya dingin tidak tersentuh, hanya ada kekejaman dalam hidupnya.
Lucia mencoba tidak terlibat apa pun dengan Louis. Sayangnya, malam yang kelam memaksa Lucia menerima semua benih dari Louis. Sampai akhirnya Lucia hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alianna Zeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
La Señorita 27 : Realidad dolorosa
Vote sebelum membaca😘
.
.
Semalaman, manik biru itu terjaga, memastikan pria yang ada dalam pelukannya baik-baik saja. Dalam tidurnya, dia selalu terlihat gundah, sesuatu tentang ibunya membuat pria itu tersakiti. Lucia yakin, pengaruh peran wanita yang melahirkan Louis sangat besar untuk menjadikannya pria seperti saat ini.
Selama beberapa saat, Lucia tertidur miring, menyangga kepalanya dengan tangan. Dan dalam pelukannya, Louis terlelap, menyembunyikan wajahnya di dada Lucia. Kali ini, dia tidak berpikir kotor, Lucia tahu Louis membutuhkan kehangatan dari seseorang.
Di detik-detik terakhir mata Louis terpejam, Lucia memberanikan diri mengusap rambut legamnya. Membuat deru napas pria itu semakin menenang. Membayangkan itu adalah Louisa, tangan Lucia menyentuh dengan penuh kasih sayang. Memegang keningnya yang terasa hangat, pria itu demam.
Ketika sinar matahari menembus gorden, menerangi punggung Lucia juga memaksa Louis agar membuka matanya. Perlahan, manik hitamnya terbuka, tanpa menambah gerakan dari organ lain.
Sadar Louis telah membuka matanya, Lucia berhenti mengelus.
"Usap aku," ucapnya yang meyakinkan Lucia bahwa semuanya baik-baik saja.
"Kau demam, ayo kita ke dokter."
"Aku hanya butuh dokter kecilku, apa yang dilakukannya kemarin?"
Lucia tersenyum samar. "Dia membeli beberapa makanan dan mainan, aku tidak bisa menahannya."
"Pakai saja kartu itu. Dia tidak ingin ikut camp?"
"Ya, dia bilang ingin menghabiskan waktu bersamamu."
Kalimat itu membuat Louis semakin menggesekan wajahnya ke dada Lucia. Perempuan itu merasa geli, tapi dia menahan tawa demi memberikan kenyamanan pada pria yang tertutup selimut.
"Kita bisa liburan."
"Kau selesai bekerja?"
"Beberapa hari lagi akan selesai," ucapnya mengelua pantat Lucia, di mana tangannya memang melingkar di pinggang perempuan itu. "Bagaimana dengan kesehatannya?"
"Dia baik-baik saja, psikiater memberitahu hal baik padaku. Tidak ada trauma, Louisa memiliki pondasi sifat yang berani, menjadikan semuanya pelajaran." Lucia merebahkan kepalanya di bantal, tapi tangannya tetap mengelus rambut Louis, dan turun ke tengkuk. "Apa wajar dia memiliki sifat itu?"
"Dia menuruni sifatku."
Perempuan itu merenung, hingga dia merasakan tangan Louis masuk ke dalam tanktop dan mengelus punggung belakangnya. "Kau demam, pergilah ke dokter."
"Aku lebih tahu cara yang efektif," ucapnya membuat Lucia kebingungan saat Louis membuka tanktop putih yang sedang dipakainya ke arah bawah.
"Apa yang kau lakukan?"
"Menyembuhkan diri," ucapnya melempar pakaian itu, membuat Lucia merasa risih ketika dadanya terbuka, menyisakan bra.
"Apa yang kau lakukan?"
"Tenanglah, kita takkan menyatu pagi ini," ucapnya melepaskan bra Lucia, disusul dengan dirinya yang melepaskan pakaian atasnya, lalu sedetik setelahnya, Louis memeluk Lucia erat. Pria itu menarik selimut sampai batas leher, yang mana menutupi dada Lucia juga.
Rasa panas seketika Lucia rasakan ketika pria itu menempelkan tubuhnya. Suhu badan Louis dia rasakan, begitu panas dan mulai berkeringat. Apalagi saat wajahnya berada di dadanya, Lucia ikut merasa kepanasan.
"Kau perlu dokter."
Tidak ada jawaban dari Louis, Lucia mulai kepanasan. Keringat membasahi keduanya, apalagi Louis memakai gulungan selimut yang tebal. Selama beberapa saat, mereka dalam posisi itu, sampai akhirnya Louis mengecup dadanya lalu mendudukan diri.
Lucia menutupi tubuh bagian atasnya dengan kemeja milik Louis, dia ikut duduk. "Apa kau baik-baik saja?" Tangannya tanpa disadari memegang kening Louis yang berkeringat, mencoba memastikan. "Suhu badanmu turun."
"Temani aku mandi."
"Ya?"
Louis berjalan lebih dulu masuk ke kamar mandi, meninggalkan Lucia yang masih bertanya-tanya. Hingga akhirnya dia menyelimuti diri dengan kain, masuk ke kamar mandi, menatap Louis yang sudah berada dalam jacuzzi sambil menatap monitor besar yang memperlihatkan ribuan bunga peony. Dia duduk di tangga pertama, air hanya menutup sampai batas perut. Jika tidak ada busa, mungkin Lucia bisa meliht tembus bagian bawah tubuh pria itu.
"Masuklah."
"Sí," ucapnya seakan terhipnotis, Lucia melepaskan rok dan celana dalamnya. Masuk ke dalam air dengan diselimuti kain tipis. Lucia melihat sekeliling, gelembung yang harum menghipnotisnya, membuatnya terkaget ketika Louis menariknya ke dalam pangkuan.
Lucia yang masih mempertahankan kain untuk menutup tubuhnya.
"Bisakah kau melepaskan kain itu?"
"Bisakah kau melepaskanku? Kau bilang ingin mandi."
Louis terkekeh, pria itu menyandarkan kepalanya di dada Lucia, membuat perempuan itu kembali merasakan hangatnya kening dan suhu tubuh. "Kau masih demam."
"Sakit kepalaku akan hilang jika membunuh seseorang."
Lucia terdiam sesaat. "Kenapa begitu?"
"Karena seharusnya memang begitu, tidak ada cara lain untuk menghilangkannya."
Tanpa permisi, Lucia melingkarkan tangannya di leher Louis. "Mungkin kau harus membagi bebanmu, itu akan membuatmu lebih baik."
"Beban? Tidak ada yang bisa mengerti keadaanku, Lucia."
Merasakan Louis memejamkan mata, melingkar di pinggangnya. "Kenapa tidak kau coba?"
Keheningan yang melanda, hanya ada suara air memenuhi jacuzzi membuat Lucia melanjutkan. "Aku tidak tahu apa yang kau alami, tapi semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu."
"Kenapa kau besarkan Louisa? Kenapa kau biarkan dia tumbuh di rahimmu?"
Kening Lucia berkerut, dia menunduk menatap pria yanh masih memeluknya. "Lalu apa yang harus aku lakukan? Menggugurkannya?"
"Kenapa kau tidak memikirkan kemungkinan aku takkan menerimanya? Atau dia tumbuh tanpa seorang papa?"
Helaan napas berat Lucia membuat Louis merasakan apa yang dirasakannya, hidup perempuan itu begitu berat. "Aku memikirkannya, sejak aku mengandungnya. Dia mungkin datang tanpa diinginkan, tapi aku berjanji padanya akan membuat bayiku selalu bahagia, bagaimanapun caranya. Darahku mengalir di sana, Señor, aku tidak ingin dia tumbuh tanpa kasih sayang."
"Bahkan jika aku tidak menginginkannya?"
"Akan ada seribu cara untuk dia bahagia."
Hingga akhirnya, mata hitam itu mengadah, menatap manik biru Lucia. Dia mengusap wajah cantik itu dengan tangannya yang basah. "Ibuku tidak berpikiran seperti itu, dia membuangku ke jalanan begitu pria yang menghamilinya tidak menginginkan bayi."
Lucia tercengang, bertanya-tanya apakah ini alasan Louis sangat menyayangi Louisa.
"Aku mengais-ngais tempat sampah untuk makan, Lucia. Hidup dijalanan, terkadang aku tidur di kandang anjing hanya untuk berteduh."
"Bagaimana dengan panti asuhan?"
Louis terkekeh. "Dunia ini perlu uang, Lucia, mereka meninggalkanku begitu tidak bisa memberiku makan lagi. Mereka sama kelaparannya. Umurku saat itu baru 10 tahun, tapi aku ingat dengan jelas bagaimana para bandit Dioses La Asesinos memaksaku menjadi pengedar, dikejar polisi hingga mendapat pukulan dari konsumen yang tidak puas. Rosita, nama ibuku, dia hanya menatapku bersama kekasih barunya saat melihatku sekarat dipukuli orang-orang."
Naluri Lucia membuatnya memeluk Louis seketika. Dia tidak bicara, tapi bahasa tubuhnya menjelaskan apa yang ada di pikirannya.
"Aku mungkin masih kecil, tapi luka-luka itu jelas terukir di tubuhku. Itu sebabnya aku mentatto dadaku, untuk menyamarkan luka-luka itu."
Lucia mengusap bahu Louis, di mana ada tatto abstrak di sana. Memang hampir seluruh dada dan punggungnya terdapat tatto, elang yang marah, dan juga ukiran yang tidak bisa Lucia definisikan. Mereka hitam, sekelam manik hitamnya.
"Ibuku meludahiku saat aku mencoba pulang. Disekolah, aku hanya mendapat cacian dari anak lain, Lucia. Hidupku pedih, dan takkan kubiarkan putriku merasakannya. Hanya dua pilihan saat kita berada di titik terendah, Lucia, mendapatkan kebahagiaan atau mati."
Pelukan Lucia semakin erat.
"Dan aku memilih mati, membunuh perasaanku untuk bertahan hidup. Hukum rimba tetap ada, Lucia."
"Kau bahagia sekarang, bukan begitu?"
"Ya, aku bahagia sekarang."
***
"Kemana kita akan liburan?"
Louis yang pura-pura tidur itu membuat putrinya kesal, Louisa membanting boneka hingga ayahnya tertawa keras. Begitu menggema hingga Lucia yang berada di dapur bersama Naomi bisa mendengarnya, keduanya sedang berada di teras belakang lantai satu.
Senyuman menghiasi wajah Lucia yang sedang mengupas bawang bombai. "Kau punya keluarga yang bahagia, Lucia."
"Kau tahu penderitaan yang aku alami, Naomi."
Wanita berkulit hitam itu mengangguk. "Semuanya terbayarkan, aku melihat bagaimana Señor Louis menjagamu layaknya berlian."
Lucia memilih fokus pada bawang di tangannya. "Ya, dia baru sadar aku berlian setelah mengira aku batu."
"Semuanya terbayarkan, kau punya anak dan kekasih yang sempurna, kau bisa mendapatkan apa yang kau mau."
"Aku tidak sabar memakan pizza buatanmu."
Naomi terkekeh. "Pizza di pagi hari, kau seperti orang hamil."
Senyuman Lucia memudar seketika, dia menatap perutnya yang datar. Menggumamkan banyak doa agar apa yang dipikirkannya tidak terjadi. "Ada apa, Señorita?" Tanya Naomi yang sedang mengambil papperoni dari dalam kulkas.
"Tidak, dimana Andrean?"
"Aku rasa di halaman depan."
"Oke." Lucia turun dari kursi, dia melangkah lebar hingga gaun birunya bergoyang tertiup angin musim panas. Dia melihat pria tua itu baru saja kembali dari gazebo. "Andrean? Bisa aku meminta bantuanmu?"
"Sí, apa yang kau butuhkan?"
"Aku ingin kau membelikanku testpack," ucapnya pelan.
Hal itu membuat Andrean tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dia menatap perut datar Lucia yang segera dielak olehnya. "Bukan begitu," ucapnya mengibaskan tangan. "Hanya berjaga-jaga, aku merasa tidak nyaman jika tidak bisa memastikannya."
"Oke, apa lagi?"
"Itu saja." Terlihat sedang berpikir keras. "Aku sudah punya segalanya."
"Ya, kau punya. Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Louisa bahagia, aku ikut merasakannya, Andrean."
Ketika pria itu hendak membuka mulut untuk bicara, suara Louisa lebih dulu memanggil dari ambang pintu utama. "Mum, Rani menelpon!"
"Aku permisi," ucap Lucia bergegas. Dia memegangi rok ketika angin kembali menyapu tubuhnya yang kecil. Dia menyambut hangat tangan mungil Louisa yang menuntunnya ke ruangan tengah, di mana Louis sedang tiduran di atas sofa panjang dengan celana pendek dan kaos putihnya.
Putri kecilnya berlari menuju Louis begitu pegangan tangan mereka terlepas, dia menaiki tubuh Louis dan menggelitik ayahnya. Lucia menahan senyumannya, dia duduk di sofa lain sambil menelpon. "Rani, aku di sini."
'Lihat siapa yang menjadi Nyonya De La Mendoza, kau jarang menelpon sekarang ini.'
Lucia terkekeh. "Maaf, Rani, banyak kejadian yang membuatku tidak bisa menelpon."
'Uhhhhh…. Seperti bersama Señor Louis seharian?'
"Hentikan itu," desisnya berusaha tidak menarik perhatian Louis yang kini sedang menggendong Lucia, menjadikannya pesawat terbang. "Aku tidak sibuk seperti yang kau bayangkan."
'Aku mendengar suara tawanya, apa mereka sedang bersenang-senang?'
Manik biru itu menatap dua manusia yang sedang tertawa. "Ya, pemandangan yang sangat indah untukku. Ngomong-ngomong bagaimana kabarmu?"
'Aku masih mempertimbangakan Majnu yang ingin memulainya dari awal.'
"What? Itu bagus!"
'Ya…' Suara Rani terdengar murung.
"Ada apa? Kau terdengar murung?"
'Aku berpikir dia melakukan itu karena aku punya rumah sekarang.'
"Kau punya rumah?" Lucia menggigit bibirnya merasa itu pertanyaan yang tidak pantas. "Maaf, maksudku, apa kau…."
'Señor De La Mendoza memberiku rumah di pusat kota, dekat dengan pantai. Villa sedang diperbaiki, jadi aku tinggal di sini.' Terdengar suara riuh dari dalam telpon. 'Aku akan menghubungimu lagi nanti. Bye.'
Belum sempat Lucia berucap, telpon sudah dimatikan. Dia mengalihkan pandang, menatap Louisa yang kini sedang memeluk leher Louis dari belakang. Pria itu terlihat sibuk mengirim pesan dengan ponselnya.
"Daddy….," rengeknya ketika Louisa diabaikan. "Daddy…."
"Sebentar, Little Bunny."
Segera Lucia mendekat. "Kemarilah, Lee, Daddy sedang sibuk," ucapnya memggendong Louisa dan mendudukannya di pangkuan. Melihat bagaimana manik hitam bulat itu menatapnya. Lucia berbisik, "Jangan ganggu Daddy saat dia sibuk dengan ponselnya."
"Sí."
"Ingin sarapan?"
"Lee sudah minum susu, Lee ingin bermain di labirin bersama Daddy, Mum."
"Aku harus pergi," ucap Louis menarik manik kedua perempuan itu.
Lucia berdiri dengan putrinya di pangkuan, mendekat pada Louis. "Kau masih demam."
"Hanya sebentar, ada hal yang harus diselesaikan," ucapnya dengan wajah dan nada suara datar. Meyakinkan Lucia kalau ini memanglah hal yang penting.
Pria itu menunduk untuk mencium putrinya. "Daddy harus bekerja, kita main lagi nanti."
"Daddy sakit," ucapnya menempelkan tangan mungil itu di wajah Louis, membuat pria itu tidak tahan untuk menciumnya. "Badan Daddy akan terpanggang."
Kalimat yang membuat Louis tertawa. "Yaa, tapi Lee tidak akan makan jika Daddy tidak bekerja."
Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya. "Oke, Daddy boleh pergi."
"Good girl," ucapnya mencium kening Louisa yang kini tidak lagi tertutup perban.
Lalu tatapannya beralih pada Lucia, dia memberi ciuman di pipinya tanpa diduga, membuat pemilik manik biru itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Jika ada apa-apa, hubungi aku."
***
Malam semakin larut, pemilik manik biru itu memejamkan matanya pulas, tidak menyadari sepasang mata hitam yang menatapnya diambang pintu. Pria itu menutup kembali kamar putrinya dan pergi tanpa melakukan apapun.
Lucia mendengar suara itu, dia juga merasakan Louis ada di sana. Saat matanya terbuka, dia melihat sekeliling. Hanya ada Louisa yang sudah tertidur pulas. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit. 'Kenapa aku bermimpi Louis berdarah dan berdiri di sana?'
Yakin dirinya ketiduran, Lucia segera bangkit dari kamar putrinya yang didominasi warna merah muda. Dia mengikat rambut saat melangkah menuju kamarnya, mansion sudah sepi, gelap gulita mengingat ini sudah tengah malam.
Lucia yang memakai gaun tidur pendek berwarna hitam membuka pintu, mendapati Louis sudah terbaring di atas ranjang. Dia mendekat, duduk di bibir tempat tidur dan memastikan suhu badannya.
"Astaga," gumam Lucia tidak percaya, panasnya begitu tinggi.
Dalam tidurnya, Louis terlihat gelisah.
"Kita harus mendapatkan bantuan," ucapnya mengambil ponsel untuk menghubungi Norman. Satu tangannya tetap mengusap kepala Louis. "Norman, kau dimana?"
'Ada apa, Señorita?'
"Louis demam, kita harus membawanya ke dokter."
Keterdiaman Norman yang cukup lama membuat Lucia menghembuskan napas. "Norman, dia perlu dokter."
'Apa dia bermimpi buruk akhir-akhir ini?'
"Ya, dia bermimpi tentang ibunya," ucapnya pelan dengan pandangan terkunci pada Louis. "Tubuhnya berkeringat, dia gelisah dalam tidurnya. Dan suhu badannya tinggi."
'Bisakah kau memetik bunga lavender segar dan membuat aroma therapy alami?'
"Apa?" Kening Lucia berkerut.
'Aroma Lavender biasanya membuat Señor Louis merasa lebih baik.'
"Bagaimana kau tahu?"
'Itu yang biasa dibuat Nona Pe--'
"Aku akan melakukannya," ucap Lucia mematikan telpon tanpa mendengarkan kalimat sempurna Norman.
Dia bergegas memakai long cardigan untuk keluar mansion, berlari kecil menuruni tangga. Lewat tengah malam, begitu sepi. Namun, keberanian Lucia tidak terkalahkan. Dia melangkah dengan senter ponsel di tangannya, keluar dari mansion menuju taman depan. Dia ingat ada hamparan bunga lavender di sekitar gazebo.
Suara burung hantu, dinginnya malam dan ranting yang beradu mungkin menakutkan. Dia melampiaskan ketakutannya dengan mengingat Louis, putrinya akan sedih jika pria itu sakit. Terlepas dari itu, Lucia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dirinya menyukai Louis, menyayangi Louis. Apalagi pria itu memperlakukannya dengan sangat baik, setiap perbuatan Louis membisiki hati dan pikirannya untuk jujur pada perasaannya. Lucia mungkin harus menyerah, mengatakan kalau dirinya memang menyukai dan menyayangi Louis, cinta yang tidak pernah padam.
Tangan itu mematahkan tiga tangkai lavender. Kakinya melangkah cepat. Tujuan utama Lucia adalah dapur, mencari vas kaca dan mengisinya dengan air. Bunga itu disimpan di dalamnya.
Kembali berlari kecil, Lucia berhasil membawanya. Menyingkirkan jam beker yang biasanya ada di atas nakas, digantikan dengan bunga lavender.
Melihat Louis yang terlihat menderita dalam tidurnya, Lucia mengompres kepalanya. Dia menyeka keringat yang terus keluar dari bagian tubuh tertentu. Dengan penuh kesabaran, perempuan itu berada di sampingnya, mengelap tangan Louis dan merawatnya penuh kasih sayang.
"Ya ampun, suhu badannya masih panas," gumamnya saat memastikan kembali. Lucia teringat, dia membaca di internet menurunkan demam dengan bersentuhan bersama lawan jenis.
Maka darinya, Lucia membuka pakaian Louis dan juga dirinya. Dia masuk ke dalam selimut, menjadikan tangannya bantalan untuk pemilik manik hitam.
"Maafkan aku…. Mama…. Ampun…."
"Sssttt…. Tenanglah, Louis, itu hanya mimpi buruk," ucapnya tidak berhenti mengelus rambut legam itu.
"Ampun, Mama…."
"Louis, dia takkan menyakitimu lagi."
"Ampun…," ucapnya dalam lelap.
Lucia mencoba membangunkan dengan mengusap pipi berbulu itu. "Bangunlah. Lihat kenyataan, kau bahagia."
"Mama…."
Sesaat kelopak mata Louis terangkat, tangannya melingkar di pinggang Lucia. "Jangan tinggalkan aku…."
"Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Lucia memeluknya semakin erat. "Jangan hidup dalam mimpi, kau bahagia, Louis."
"Don't leave me."
"Tidak. Aku mencintaimu, Señor, aku takkan meninggalkanmu, bangunlah."
Louis, yang mengira dia hidup bersama mimpinya, dia berpikir ini bukanlah kejadian yang sebenarnya. Keberadaan aroma lavender membuatnya berhalusinasi, mengira ini adalah mimpinya bersama Penelope, dimana wanita itu selalu melakukan itu untuknya. Tanpa kesadaran, dia mengatakan, "Aku juga mencintaimu, Penelope."
Bagaikan tertembak peluru, Lucia menegang, usapan tangannya berhenti, digantikan dengan getaran semu. Sesaat dia lupa caranya bernapas, sampai dia membuang rasa sesak itu ke udara.
Kalimat yang tidak Lucia kira. Membuatnya termenung, memang seharusnya dia berpikir dan ingat siapa dirinya.
Karenanya, dia melepaskan pelukan Louis di pinggangnya. Perlahan dia turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi.
Di sana, Lucia menyalakan shower untuk menyamarkan dirinya yang menangis meraung. Rasanya begitu sakit daripada mendapatkan luka fisik dari Amelia. Kalimat itu terngiang, bagaikan rekaman rusak yang membuat kepalanya sakit.
Lucia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. "Seharusnya kau tahu siapa dirimu, Lucia, beraninya kau mencintai dia," ucapnya terus memukul dirinya sendiri. "Cintanya untuk orang lain, bukan untukmu, kau hanyalah manusia rendah yang kebetulan mengandung anaknya."
-----
Love,
ig : @Alzena2108
.
kereen