NovelToon NovelToon
Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Tamat
Popularitas:146.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratih mirna sari

Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.

Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.

Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.

Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah?

Nasi goreng kecap pun akhirnya jadi juga, kalian jangan salah paham dulu, itu bukan buatan tangan Nindi, melainkan kak Bima yang masak. Jangan ditanya apa yang dilakukan Nindi disana, dia hanya diam sambil senyum-senyum sendiri memperhatikan wajah datar Bima yang sedang sibuk memasak. Tapi sepertinya Bima sama sekali tidak merasa terganggu dengan kelakuan Nindi, malahan Bima merasa senang saat ditatap oleh Nindi selama dia memasak, sesekali Bima memberitahu Nindi apa yang harus dia lakukan ketika sedang berhadapan dengan kompor. Nindi hanya mangut-mangut saja, entah dia mengerti atau tidak, karena fokusnya hanya tertuju pada Bima, Bima dan Bima.

Nindi meletakkan wadah besar berisikan nasi goreng itu diatas meja makan dengan hati-hati, takut kalau tiba-tiba nasinya tumpah, lalu mereka akan makan apa pagi ini? Akhirnya nasi mendarat dengan selamat tepat diatas meja. Nah, kali ini Nindi melakukan tugasnya dengan baik, tentu saja, itu hanya tugas recehan.

Bima kembali duduk di kursi yang tadi dia duduki, menyiukkan nasi ke piringnya, tidak sabar ingin mencicipi masakannya sendiri yang dia buat seenak mungkin, berdo'a sebelum memasukan suapan pertama kedalam mulutnya. Luis melakukan hal yang sama, sesekali dia menatap Nindi yang hanya berdiri saja dengan tatapan tidak suka.

"Ayo duduk dan makan!" Bima menoleh kearah Nindi, bicara dengan mulut yang penuh dengan nasi.

"Ehh, iya." Nindi jadi gugup, apa pantas dia ikut makan bersama dengan mereka, sedangkan tadi dia sama sekali tidak membantu Bima memasak. Jiwa malunya ternyata masih berfungsi dengan baik, sekarang Nindi merasakan malu.

Dengan ragu-ragu Nindi menarik kursi lalu mendudukinya, lalu kembali diam, tidak berani ikut makan, apa lagi saat menyadari tatapan mata Luis yang terlihat tajam padanya, seperti mengatakan 'kamu jangan makan!'. Kemudian melirik Bima dan ayah mertuanya secara bergantian, mereka makan dengan begitu lahapnya, entah nasi gorengnya yang enak atau karena mereka sedang benar-benar lapar.

Bima menyadari kecanggungan pada diri Nindi, dia melihat Sheerin yang hanya diam saja, kenapa dia tidak makan? Apa dia tidak lapar? Yang Bima tau terakhir kali perempuan itu makan adalah kemarin siang waktu dia memesan makanan online, malam harinya Sheerin tidak makan karena masakannya gosong.

Bima mengambil piring baru, menyiukkan empat sendok besar nasi goreng, lalu menyodorkannya ke hadapan Nindi. Nindi terperangah.

"Kak, ini?" Ucap Nindi menggantung.

Sumpah! Nindi benar-benar terharu dengan perbuatan Bima, meskipun itu hanya perhatian kecil dan sepele, tapi entah kenapa hati Nindi merasa tersentuh di buatnya.

"Makanlah!" Titahnya kemudian.

"Makasih ya kak." Akhirnya rasa malu Nindi menguap juga, yang membuat masakan itu saja mengizinkannya untuk makan, kenapa ayah mertuanya harus merasa keberatan? Iya, kan?

Nindi benar-benar melupakan rasa malunya, dia memakan nasi goreng itu dengan sangat lahap, bahkan nasinya habis terlebih dahulu, mendahului Bima dan Luis yang makan lebih dulu dari dirinya.

"Eeeuu." Nindi menutup mulutnya dengan tangan, mulutnya itu benar-benar tidak bisa ditahan, kenapa harus sendawa didepan dua laki-laki kaku itu? Memalukan sekali, hilang sudah harga dirinya dihadapan kak Bima, kalau dihadapan ayah mertuanya sih Nindi tidak perduli.

"Apa kamu tidak berdo'a dulu sebelum makan?" Cara bicaranya kalem tapi terkesan sinis.

"Ha?" Nindi yang merasa ucapan itu ditujukan untuk dirinya, spontan menjawab.

"Anya tidak mendidikmu dengan benar, apa dia tidak mengajarkanmu sopan santun?" Ucapnya kemudian.

"Sudahlah ayah, itu manusiawi." Tiba-tiba saja Bima ikut menimbrung. Nindi menoleh kearahnya sambil tersenyum, lagi-lagi Bima membelanya, Nindi jadi semakin besar kepala saja. Kenapa coba sikapnya kepada Nindi semanis itu? Apa kak Bima juga memiliki rasa yang sama untuk Nindi? Nindi menggigit bibir bawahnya memikirkan kemungkinan itu, seulas senyum masih belum pudar disana.

"Bela saja terus istrimu itu." Luis lalu meneguk air putih sampai habis tak bersisa.

'Ya, tentu saja dia kan beruang kutubku, hahaha.' Nindi tertawa jahat didalam hatinya.

"...pergilah kerumahmu pagi ini, perkenalkan Bima sebagai suami kepada ayahmu itu!" Luis bicara seperti tanpa beban, enteng sekali, sedangkan mama Anya sudah mewanti-wanti agar ayahnya Sheerin jangan sampai tau soal pernikahan ini. Apa Luis menyuruh Nindi untuk membunuh ayahnya Sheerin secara tidak langsung?

"Tapi ayah, mama Anya tidak mengizinkan aku memberitahu ayah tentang pernikahan ini." Akhirnya, untuk pertama kalinya dirumah itu Nindi bicara dengan suara yang tegas.

"Itu berlaku sebelum pernikahan ini terjadi, sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, jadi ayahmu tidak akan bisa berbuat apa-apa, hah." Ucap Luis, seringai jahat nampak diujung kalimatnya.

"Tapi..." Sebelum Nindi menolak, Bima sudah terlebih dahulu memotong ucapannya.

"Ya, kemarin mama Anya memintaku untuk datang ke rumahmu hari ini." Ucap Bima.

Sebenarnya apa sih rencana mereka? Kenapa harus main teka-teki seperti ini? Nindi benar-benar penasaran.

Akhirnya Nindi hanya bisa pasrah, jika kak Bima sudah bicara seperti itu, maka dia harus menurut, bukan? Dia kan ingin belajar menjadi istri yang baik. Hehe.

"Ya udah, aku mandi dulu ya kak." Bima mengangguk pelan, sedangkan Luis tidak merespon sedikitpun. Biarkan saja Luis bersikap seperti itu, toh Nindi hanya pamit pada suaminya. Nindipun beranjak dan pergi dari meja makan, meninggalkan makhluk kaku dan ayahnya yang misterius, entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Setelah kepergian Nindi.

"Apa yang kamu lakukan semalam?" Tanya Luis.

"Hanya tidur." Jawab Bima apa adanya.

"Selain itu?" Luis kepo ya, haha.

"Tidak ada." Jawab Bima.

"Kamu belum menyentuhnya?" Tanya Luis lagi.

"Sudah, aku juga membopongnya semalam."

Luis terperangah, bigaimana mungkin anaknya yang polos itu tau berbagai macam gaya dalam berhubungan, sambil membopongnya segala lagi. Luis sudah meremehkan Bima, menganggapnya hanya bocah ingusan selama ini, tanpa dia sadari anaknya itu sudah tumbuh dewasa sekarang. Anaknya itu benar-benar diam-diam menghanyutkan. Luis geleng-geleng kepala tidak percaya.

Padahal Bima salah mengartikan apa yang ditanyakan Luis, tentu saja Bima mengira menyentuh dalam artian yang sesungguhnya.

***

Mobil Bima berbelok masuk kedalam halaman rumah Sheerin, Nindi meremas bajunya dengan kuat, dia merasa ajalnya semakin dekat. Bagaimana dia bisa menghadapi ayahnya Sheerin? Bagaimana reaksinya nanti saat mendapati anak semata wayangnya telah dipersunting orang tanpa sepengetahuan darinya. Apa penyakit jantungnya akan kambuh seperti apa yang dikatakan Sheerin? Kalau itu terjadi, berarti Nindi akan menjadi seorang penjahat disana. Demi kebahagiaan dirinya sendiri, akan ada banyak pihak yang merasa tersakiti.

"She!" Suara berat Bima menyadarkan Nindi dari lamunan panjangnya selama perjalanan.

"Iya kak." Nindi menjawab.

"Ayo turun, ini sudah sampai." Seru Bima, Nindi mencoba untuk mengulur waktu dengan memberikan Bima berbagai pertanyaan.

"Emm, kak apa yang akan kita katakan nanti pada ayah?" Tanya Nindi kemudian.

"Katakan saja bahwa kita telah menikah." Jawabnya seenteng kapas.

"Iya, tapi gimana kalau ayah marah?" Akhirnya keluar juga uneg-uneg yang sedari tadi ada di hatinya.

Bima terdengar menghela nafas berat sebelum akhirnya berkata.

"Kita tidak akan tau sebelum kita mencobanya." Ucapnya.

Beberapa saat suasana berubah menjadi hening, Nindi tampak sedang berpikir.

"Kenapa sih kak? Orang tua kita memaksa kita untuk menikah? Apa untungnya buat mereka coba? Aku nggak habis fikir sama mereka." Ucap Nindi.

"Percayalah, apa yang terjadi, itu adalah yang terbaik untuk kita. Mungkin ini memang sudah jalannya, jangan mengelak dari takdir, itu bisa menjauhkan kita dari kebahagiaan. Ambil hikmahnya saja, sekarang kita bisa saling mengenal." Ucap Bima, kalimat terpanjang yang pernah Nindi dengar yang pernah keluar dari mulutnya.

"Kak Bima nggak menyesal?" Tanya Nindi.

"Tidak." Jawab Bima dengan mantap.

Nindi seperti mendapat kekuatan, Bima yang telah memberinya kekuatan itu, kemudian dia teringat akan ponselnya yang di kunci mama Anya di dalam laci, Nindi harus mendapatkan ponsel itu kembali untuk mempermudah dirinya berkomunikasi dengan Sheerin dan mendiskusikan langkah apa yang selanjutnya akan mereka ambil. Nindi semakin yakin untuk masuk kedalam rumah itu.

"Ya udah kak, ayo kita masuk!" Nindi melepaskan sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil perlahan, Bima melakukan hal yang sama.

Pintu utama rumah besar itu terbuka dengan lebar, seperti sedang menyambut kedatangan seseorang. Nindi melirik Bima yang berada tepat di sampingnya, harus sedikit mendongak karena tubuh Bima yang terlalu tinggi. Langkahnya semakin dalam semakin pelan, sudah merasakan aura negatif saat melihat seorang pria paruh baya yang sedang membaca koran diruang tamu, secangkir kopi nampak tersedia diatas meja.

Apa itu ayahnya Sheerin? Bahkan kemarin Nindi tidak sempat bertemu dengan beliau, mama Anya seperti menghalang-halangi pertemuan antara keduanya demi untuk memuluskan rencananya.

Ayah Lukman melipat koran yang sedang di bacanya saat menyadari kehadiran seseorang, betapa terkejutnya dia saat melihat sang putri berdiri di hadapannya bersama dengan seorang laki-laki muda, kira-kira umurnya sekitar 26 tahunan.

"Lho, ini siapa nak?" Tanya Lukman sembari beranjak dari duduknya, menyambut kedatangan sang putri yang konon katanya semalam menginap dirumah Lea.

Nindi semakin gusar, jangan sampai ayahnya Sheerin terkena serangan jantung jika tau apa yang terjadi sebenarnya. Lalu Nindi akan bicara apa kepada Sheerin nanti?

"A ayah." Nindi bicara dengan berbata. Apa semirip itu Sheerin dan Nindi? Sampai-sampai ayah kandung Sheerin saja tertipu oleh kemiripan mereka.

Bima cepat-cepat meraih tangan Lukman, menciumnya dengan sopan. Bima ini benar-benar gantle, terlalu percaya diri, tanpa berpikir kalau dirinya sudah melakukan kesalahan meminang anak gadis orang tanpa sepengetahuan dan restu dari ayahnya.

Lukman yang tidak tau apa-apa hanya membiarkan Bima mencium tangannya. Nindi nampak berpikir keras, memilah milih kata yang tepat untuk mengatakan segalanya.

"Ayah, dia adalah suami aku, tolong restui kami ayah." Nindi rasa itu adalah kalimat sederhana yang mampu membuat Lukman kaget setengah mati, terlihat air muka Lukman berubah menjadi tegang.

"Kamu bercanda Sheerin, ayah tidak pernah menikahkan kamu dengan laki-laki manapun." Ucap Lukman yang nada bicaranya mulai meninggi.

"Tapi itu kenyataannya ayah, tolong restui kami." Ucap Nindi. Lukman terdiam, otaknya belum siap menerima informasi yang dia terima.

"...maafin aku nggak kasih tau ayah dari awal. Tapi sekarang aku bener-bener udah jadi istrinya kak Bima."

Lama mereka saling berdiam, Lukman mencoba untuk meredam rasa kecewanya mendapati fakta yang mengejutkan itu. Nindi berharap-harap cemas, takut kalau tiba-tiba ayahnya Sheerin pingsan, tapi sekian menit berlalu, tidak ada tanda-tanda Lukman akan tumbang. Nindi bisa sedikit bernafas lega karena sepertinya ayahnya Sheerin berbesar hati mau menerima kenyataan. Tapi kenyataanya tidak seperti itu, Lukman merasakan kekecewaan yang teramat besar dengan pengakuan sang putri. Putri satu-satunya yang tersisa, yang menjadikannya alasan untuk tetap bertahan hidup dimuka bumi ini, yang dia rawat sejak bayi dengan penuh kasih sayang, dia mencurahkan segenap kasih sayangnya hanya untuk Sheerin. Tapi apa balasannya? Putrinya itu tidak menganggap dirinya ada. Sakit hati? Pasti. Apa itu semua terjadi karena dirinya terlalu sibuk dengan dunia usahanya sehingga beberapa tahun ini dia kurang memperhatikan Sheerin? Apa Sheerin sudah terjerumus dalam pergaulan bebas sehingga memutuskan untuk menikah secara diam-diam? Apa ini maksud dari perkataannya tempo hari? Apa Lukman akan memaafkan Sheerin jika Sheerin melakukan kesalahan yang fatal?

"Kenapa kamu tega melakukan ini kepada ayah? Apa kamu tidak menggap ayahmu ini masih hidup? Ayah sangat kecewa kepada kamu." Ucap Lukman penuh kekecewaan.

"...katakan apa alasan kamu melakukan ini semua?!" Seru Lukman kemudian.

"?" Nindi tidak menjawab, karena dia sendiripun tidak tau alasan kenapa dia dinikahkan dengan Bima.

"AYO JAWAB!" Nindi mendadak jadi gagu, begitupun dengan Bima, Bima juga bingung, sedangkan mama Anya dan Luis mewanti-wanti agar tidak bicara jika merekalah dalang dari semua drama ini.

"Pernikahan ini tidak sah, karena harusnya ayah yang menikahkan kamu."

"Pernikahan ini sah ayah, om Arya yang menikahkan kita." Ucap Nindi.

"Apa? Jadi Arya?"

"...baik, kalau kamu tidak mau bicara apa alasan kamu menikah secara diam-diam, akan ayah tanyakan kepada Arya, dia pasti tau apa alasanna." Lukman kemudian pergi melangkah menuju pintu setelah menyambar kunci mobil di samping cangkir kopi.

"Ayah, tunggu!" Nindi mencegah dengan panik, namun terlambat, Lukman yang tersulut emosi berjalan dengan langkah panjang, dalam hitungan detik tubuhnya hilang dibalik pintu.

"Tenang She!" Bima menahan bahu Nindi.

"...tidak akan terjadi apa-apa." Bima mencoba menenangkan Nindi yang terlihat panik.

Nindi bisa tenang bagaimana? Tadi dia bilang apa? Tidak akan terjadi apa-apa bagaimana? Semuanya akan kacau, om Arya mau menikahkan mereka karena yang dia tau Sheerin sudah hamil duluan, oke ayahnya Sheerin tidak terkena serangan jantung tadi, tapi setelah mendapatkan informasi palsu itu? Nindi tidak yakin ayahnya Sheerin masih bisa berdiri diatas kakinya sendiri.

"Kak Bima, ayo kita susul ayah!" Nindi dengan panik mendesak Bima.

Bima dengan sabar mengikuti keinginan Nindi, mengikuti kemana Lukman membawa mobilnya pergi.

Disudut lain rumah itu, yaitu dilantai dua, mama Anya tersenyum puas melihat drama yang baru saja terjadi dihadapan matanya secara live. Dia begitu puas dengan hasil kerja kerasnya, dan dua boneka polos itu benar-benar menuruti semua perkataannya untuk tidak mengatakan jika dirinyalah dalang dibalik semua ini.

_____________

Jangan lupa budayakan like, corat coret juga di kolom komentar....

1
🌷💚SITI.R💚🌷
sprtiy di bunuh luis sm anya ini
🌷💚SITI.R💚🌷
lanjuuut
🌷💚SITI.R💚🌷
lama² mereka jatuh cinta de..skrng ribut trs tr sdh berpisah br rindu de
🌷💚SITI.R💚🌷
urakan tp kamu suka kan....🤣🤣
🌷💚SITI.R💚🌷
nyimak dl..lanjuut
Asrinda 24
Aku mampir
Imelda Nurrahmah
next
TiiehAtieh: udah habis kak, lanjut baca THE SECRET yuk, masih on going, banyak misterinya disana 🙏
total 1 replies
Imelda Nurrahmah
kejrm banget si bima
Imelda Nurrahmah
keren
anthy haryanti
kasihan banget sih loe levin,,,hampir nggak jadi nikah,,,hehehehe
anthy haryanti
wahhh nindi udah hamidun nih
abimasta
akhirnya nindi punya anak,happy ending selamat ya thor sudah memberikan bacaan yg menarik
anthy haryanti
rumah kosong itu bener2 bakal jadi angker,,,
TiiehAtieh: baca juga ekstra partnya ya kak 😊
total 1 replies
anthy haryanti
waduhhh siapa lagi tuh yg kena
anthy haryanti
siapa tuh yg kena
anthy haryanti
waduhhhh
anthy haryanti
kok aku yg deg degan yah
anthy haryanti
makin seru nihhh
abimasta
aku sudah selesai bacanya..makasih ya thor meskipun saya telat mampir disini
abimasta: menurut ku ceritanya bagus,cm kasian nindi blm punya momongan
total 3 replies
anthy haryanti
wahh kebiasaan si nindi,,kasihankan si tengil,,,hehehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!