Chelsea Cellina Stefani adalah seorang gadis cantik dan juga pintar dia adalah sahabat baik Earlyn.
Mereka telah bersahabat semenjak kecil.
Darielle Abrisham Nathaniel atau yang biasa dipanggil Ziel adalah sahabat kecil mereka.
Ketika lulus SMA Ziel melanjutkan kuliah di Harvard University sehingga mereka terpisah selama beberapa tahun. Namun walau begitu mereka masih tetap saling memberi kabar.
Ziel tidak mengetahui bahwa diantara Celline dan Earlyn memendam perasaan yang sama pada orang yang sama. Akankah Ziel memilih salah satu diantara mereka ataukah dia menjatuhkan pilihan pada gadis lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThaRoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Voucher Makan
Mata Celline membulat sempurna begitu membaca satu poin yang ditambahkan oleh Ziel.
"Apa-apaan ini Pak? Ini tidak benar ini licik namanya" Wajah Celline mulai tidak bersahabat.
"Kamu yang licik, kamu memberikan lima poin yang menguntungkanmu aku hanya menambah satu poin kenapa kamu marah?" Ziel
"Harusnya Bapak konsultasi dulu dong sama saya, jangan menambah poin setelah setelah saya tanda tangan. Saya keberatan" Line
"Apa saat kamu membuat perjanjian ini konsultasi dengan saya?" Ziel
"Tidak karena saya tahu Bapak akan berbuat licik kepada saya" Line
Seketika Ziel tertawa hingga membuat mata Celine mendelik.
"Kamu bisa seenaknya saja membuat peraturan sendiri. Ingat ini kantorku, jadi hanya aku yang bisa membuat peraturan disini, jelas?" Ziel.
Celline segera mengambil kertas itu dengan kasar sambil menatap tidak suka pada Ziel.Lalu dia melangkah keluar tetapi baru dua langkah Ziel sudah memanggilnya kembali akhirnya dia membalikkan tubuhnya menghadap Ziel kembali.
"Apalagi sih Pak?"
"Kertas itu" Ziel menunjuk kertas itu mengkode dengan jarinya meminta kertas itu dari Celline.
Celline segera memberikan kertas itu.
"Ini...silahkan ambil Pak, sudah tidak berguna juga kertas ini untuk saya. Tidak ada yang menguntungkan saya" Celine meletakkan kertas itu di meja dan segera beranjak dari situ. Lalu Ziel segera mengkopinya.
"Baguslah jika kamu tidak membutuhkan poin-poinmu itu artinya kamu tidak memiliki hak-hak itu" ujar Ziel sambil duduk dikursi empuknya itu.
"Tetap saja poin aku kalah dengan satu poinmu"
"Jika tidak ada surat perjanjian maka kamu tidak akan bisa ke kampus dan jam kerjamu tetap 9 - 10 jam bahkan lembur juga berlaku untukmu sekarang pergilah" Ziel mengibaskan tangannya.
Celline kembali ke meja Ziel dan langsung mengambil kembali kertas itu.
"Hai...ambil copy-annya yang asli untukku"
Celline kembali menukar kertas itu tanpa mau melihat ka arah Ziel. Ada senyum kepuasan tercipta diwajah Ziel.
Dengan cepat Celline kembali ke mejanya sambil duduk dia memijat-mijat keningnya memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk membalas kelakuan Ziel itu. Dia bekerja sambil memikirkan cara untuk balas dendam. Jam makan siangpun akhirnya tiba. Dia segera keluar kantor karena Hilda sudah datang untuk menjemputnya.
"Mak...kantor lo keren banget, pasti betah lo kerja disini"
Sambil memasang helmnya.
"Aku gak betah pengen cepat-cepat keluar dari sini baru sehari direktur aku sudah membuat otakku membeku. Ayo cepetan jalan kita cari pegadaian terdekat disini" Celline segera naik ke atas motor dan taklama motor Hilda segera meninggalkan gedung perkantoran itu.
Sampai di pegadaian ternyata orang pegadaiannya juga istirahat.
"Kita tunggu ya, yuk kita makan dulu" ajak Celline
akhirnya mereka makan baso sambil menunggu sampai pukul 1 tiba.
"Hp lo bunyi tuh" Hilda
Celline segera mengambil handphone-nya dan melihat siapa yang menelpon.
Dia langsung mengeluh begitu melihat siapa yang menelponnya.
"Angkat napa daritadi hp lo nyanyi" Hilda
"Males angkat telpon bos wedus" Line
"Wadaww....gila lo belum sehari bos lo uda nyariin elo Line...ekwkwkwk"
"Jangan punya pikiran macem-macem itu otakmu. Dia nyariin aku pasti mau bikin repot aku. Lagipula ini jam istirahat jadi hp juga butuh istirahat. Aku tuh benci banget sama dia. Ogah temenan lagi sama dia.-" Line
"Wah gila lo berani ngelawan bos. Udah bosen hidup lo?ga takut dipecat apa Line?" Hilda.
"Hahaha....ngapain aku takut justru dipecat itu yang aku tunggu-tunggu. Jadi bisa balik lagi aku kekantor kita ngukur jalan lagi nyari berita. Memang kamu udah bosen kerja bareng aku hah!!" Celline.
"Nggaklah....malah aku suka daripada bengong dikantor mending aku ikut kamu walau cuma jadi tukang ngambil gambar doang hahaha....dan satu lagi biar gak kena semprot babang lapuk hahaha" mereka berdua tertawa hingga membuat orang-orang menoleh ke arahnya. Menyadari mereka menjadi pusat perhatian akhirnya mereka diam dan melanjutkan aksi makannya sambil menunggu kantor pegadaian buka.
"Hey....memang apa yang bikin elo spaning sama bos loe?" Hilda.
Celline segera mengeluarkan kertas copy-an pemberian Ziel tadi.
"Lihat tuh....baca..bacaaa" sambil menunjuk-nunjuk kertasnya. Hilda segera membacanya dan dia langsung tertawa.
"Hahaha....mamp*s lo Line, percuma elo punya 5 poin kalau 1 pasal aja sudah bisa membuat lo tak berkutik" Hilda
Celline mengambil kertas itu lalu meremasnya dan membuangnya.
"Heii...ngapain lo buang nek? itu tetap berlaku surat sakti lo buat atasan-atasan yang lain. Disitu kan cuma ditulis owner doang yang berhak memerintah elo"
"Wah iya..bener juga..." Celline buru-buru mengambil kertas itu dan membacanya lalu melipatnya kembali walau sudah lecek-lecek kertasnya.
"Otak aku lagi mandek nih gegara mikirin cara balas dendam sama dia" Line
"Hati-hati dengan ucapan loh bisa-bisa makin cinta nanti kamu sama dia....ekwkwkwk" Hilda
"Hahaha....ogah amat aku sama si wedus. Lagipula dia udah punya pacar cuy...udah ML udah tidur bareng. idiihh....geli aku bayanginnya" Line.
"Jadi elo cemburu dia udah wik wik duluan?"
"Ngapain aku cemburu? kamu denger gak sih aku ngomong? aku bilang kan aku malah geli sama dia. Cinta....cissss....gak banget dah" Line
"Awas lo jodoh sama dia" Hilda
"Kalau ngomong disaring ya Da, dengar dia bentar lagi juga nikah. Masa iya mau kumpul kebo terus?" Line
"Iya juga sih tapi si cewek bule mah pasti udah biasa dia disana wik wik. Coba bayangin tiap hari wik wik..sehari dua kali sebulan enam puluh kali setahun tujuh ratus dua puluh kali Line? uceett banyak amat yak...hahahah. Bos lo berapa tahun di sana? 7 th? nah tinggal kaliin deh..." Hilda tertawa ngakak membayangkan bosnya Celline.
"Ampasnya juga udah gak ada Line....hahaha....apes ntar yang jadi istrinya gak dapet apa-apa" Hilda
"Najong....gilaa....gilaa kamu Da....amit-amit dah aku ngebayanginnya....hahahha....geliiiii" teriak Celline.
"Hussss....jangan berisik, yang lain terganggu" omel orang disebelah Celline.
"Uupss" mereka menahan tawa kena omel ibu itu. Mereka hanya berbisik-bisik saja bicaranya.
Celline segera memproses pinjamannya itu dan uang 10jt langsung diterimanya. Mereka pun akhirnya menuju hotel bintang lima kemaren dan bertemu dengan mba kasirnya.
"Maaf mba saya yang kemaren KTP-nya mba tahan. Saya ingin bayar kekurangannya" Celline.
"KTP? Loh bukannya sudah diambil sama bapak yang kemaren mba. Kami tidak menahan KTP-mu coba mba tanyakan sama Bapak yang kemaren ya mba" terang mba kasir itu.
"Oohh...begitu ya. Baiklah terima kasih ya mba" Celline dan Hilda melangkah keluar.
"Aarrgg...." sambil berteriak ditahan "dasar kutu busuk...kutu loncat....kutu kasur aku benar-benar marah loh sekarang" Line
"Percuma lo marah orangnya gak ada disini" Hilda mengulum permen kojeknya.
Sambil bertolak pinggang.
"Aku udah bela-belain gadai emas aku tapi ternyata sudah dibayar sama dia. Kenapa dia gak ngomong sih sama aku?"
"Heloowww.....emang elo itu siapa Line? Jangan harap dia mau ngomong sama elo. Yang penting elo tinggal minta KTP sama dia jadi uang lo selamat. Jangan banyak mikir lagi, ganti duit gue 1jt" Hilda mengerdip-ngerdipkan matanya.
"Hilihh....cepet banget kalau soal duit. Nanti aku transfer"
"Apa bedanya sekarang sama nanti?" Hilda
"Kayanya aku mau balikin lagi deh pinjamannya" Line
"Gak usah kan bisa buat modal kerja loe Line. Lagipula bayarnya bisa dicicil ini. Gajian nanti baru lo bayar"
"Bulan ini aku gak dapat gaji kali nek. Kan sebulan full aku kerja di sana. Si lapuk mana mau keluar uang buat gaji aku dengan alasan karena aku sudah buat kesalahan. Tidak dipecat juga sudah bersyukur. Pasti begitu dia bilang. Jadi tinggal nunggu jatah bulanan aku dari mama aja ini mah" Line
"Ya udahlah masih bagus dapat jatah bulanan elo Line. Aku boro-boro karena ibu aku cuma dapat uang ya dari aku" Hilda
"Ya udahlah bersyukur aja. Yuk anterin lagi aku ke kantor. Ntar aku kasih uang ojek buat kamu yuk cepetan" Line
"Line...udah jam 2, sampai kantor lo jam 2.30 kalau gue ngebut" Hilda
"Ya udahlah....biarin aja toh aku juga kerja bakti disitu ngapain juga aku rajin-rajin kerjanya. Suka-suka akulah lagipula aku tidak menandatangani berkas apapun jadi aku bebas" Line
"Ayolah kita cuzz" Celline segera mengambil helm-nya dan langsung memakainya.
Hilda segera mengantarnya kembali.
"Ini duit ojek aku. Mahal banget sih ngojek aja sampai 200rb" Line
"Hahaha....monyong lo, emang gue yang minta? Pan elo yang ngasih gue....wkwkwk... udah ya tengkiu gue jalan dulu"
Celline mengangguk dan melambaikan tangannya. Lalu dia pergi menuju lantai 29 dan kembali ke mejanya. Kepala divisi segera memanggilnya dan memarahinya karena pergi tanpa ijin dan sebagai gantinya dia yang kena semprot atasannya. Ini semua karena Celline.
"Ingat disini ada peraturannya dan jika tidak suka di atur silahkan angkat kaki dari sini" omelnya.
"Baiklah bu....saya tunggu surat pemecatannya" Celline membungkukkan badannya dan langsung kembali ke mejanya.
"Heii anak baru...jangan menantang saya, akan saya urus surat kamu sekarang juga tunggu saja" ancam bu Mira kepala divisi Celline.
"Siapa yang membawa kamu kemari?" tanyanya tajam penuh amarah
"Pak Darielle bu" jawab Celline.
"Saya akan segera mengurus kamu" ancamnya
"Ini yang aku tunggu-tunggu surat pemecatan....terima kasih Tuhan sudah mengeluarkan aku dari tempat ini" Celline segera membereskan mejanya dan siap-siap membawa tasnya. Dia memainkan handphone-nya dan membuka sosmed-nya.
"Hehehe....tiba-tiba kangen sama Yudha, minta jemput ah nanti jam 4 sore" Celline segera meminta Yudha menjemputnya jam 4 sore di gedung Grup H.
"Miss you Yudha" Celline melihat foto Yudha.
"Braaak" pintu dibuka dengan kasar. Ibu Kepala Divisi segera melihat ke arah Celline dengan pandangan yang mematikan.
"Cepat ke ruangan Pak Darielle sekarang juga" perintahnya.
"Apakah suratnya sudah ditanda tangani bu?" tanyanya.
"Aku bilang cepat kesana" matanya melotot memerintah Celline.
Celline bangkit berdiri dan keluar ruangan menuju ruangan Ziel.
"Permisi Pak...saya da..." belum sempat menyelesaikan kata-katanya Darielle segera menyuruhnya masuk.
"Masuk" perintahnya
Ziel segera menatap Celline.
"Katakan apa yang terjadi? Kenapa sampai Miss Mira marah kepadamu?"
"Maaf Pak saya tidak tahu apa yang membuatnya begitu marah kepada saya. Kesalahan saya karena telat masuk kerja setelah jam istirahat tadi, cuma itu yang saya tahu pak.
"Kamu makan dimana bisa selama itu?" Ziel
"Saya makan diluar Pak karena ada kepentingan yang tidak bisa ditunda lagi"
"Kenapa kamu tidak ijin ke saya?" Ziel
"Loh...kan waktunya makan siang Pak jadi saya bebas dong makan di mana saja. Apa ada larangannya kalau makan harus ijin atasan?" Line
"Saya yang membawa kamu kemari jadi kamu harus nurut sama saya dan kamu tidak boleh keluar kantor tanpa ijin dari saya"
"Mana bisa begitu Pak? Suka-suka saya dong mau makan diluar. Bapak tidak berhak mengatur waktu saya makan. Bapak hanya berhak kepada saya di jam kerja saja. Saat saya istirahat itu adalah hak saya memanfaatkan waktu yang hanya satu jam itu"
"Oke...kamu benar, kantin dan restoran ada di dalam gedung ini dan kamu tidak punya alasan lagi untuk makan diluar"
"Makanan disini harganya kurang dari jangkauan saya Pak, makanya saya mau makan diluar" Line
"Besok saya tidak terima alasan apapun. Mulai besok kamu terima voucher makan dari saya.Kamu bebas makan dimana saja tetapi tetap di dalam lingkungan kantor ini. Tidak ada bantahan lagi mengerti?" Ziel
"Apa semua karyawan disini dapat voucher makan Pak?" Line
"Tidak...karena mereka sudah dapat uang makan sendiri kecuali kamu karena kamu tidak mendapat gaji jadi otomatis tidak dapat uang makan. Makanya saya berbaik hati untuk memberikanmu voucher makan itu"
"Saya makan maksimal harga berapa Pak?" Line
"Bebas dan kamu bisa makan sepuasnya" Ziel
Mata Celline berbinar-binar ini berarti dia bisa ajak makan sekalian Hilda begitu pikiran yang ada dikepalanya "Yess...no limit" ucapnya dalam hati.
"Baik Pak...terima kasih kalau gitu saya pamit undur diri" Celline berdiri membungkukkan tubuhnya lalu dia berjalan keluar menuju pintu.
"Heiii....siapa yang menyuruhmu pergi? cepat balik?" Ziel
*******
Asikkk....dapat voucher makan gratis tiap hari...lumayan gak jebolin kantong🤣🤣
Helo genks....sampai disini dulu ya....aku mau lanjut kerja lagi😂😂 papay sayang-sayangkuh😘😘
Jangan lupa like vote n koment genks 🤗