Sequel dari cerita Menikahi Om Sendiri.
.
.
Aurelia mengalami kebutaan saat usianya baru menginjak 6 tahun. Setelah mengalami kebutaan, Aurel menjadi sosok yang pendiam dan tidak seriang dulu.
Beberapa orang yang menyatakan cinta padanya, ternyata hanya memanfaatkannya dan menjadikannya bahan taruhan. Membuat ia tidak mempercayai siapapun selain keluarganya sendiri.
Setelah menginjak usia yang ke 18 tahun, perasaannya tiba-tiba muncul pada Kakaknya sendiri yang bernama Revan.
Akankah cinta mereka akan bersatu? Silahkan simak cerita selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firchim04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Dia
"Aku tidak ingin menikah dengan kak Alvin, Pi. Aku cinta sama Kak Revan dan Papi tau itu" kata Aurel tetap pada pendiriannya.
"Kamu nggak boleh bersama dia nak. Dia tetap Kakak kamu meskipun tidak sedarah. Papi nggak pernah setuju kamu sama dia. Apapun yang terjadi kamu harus nikah dengan Alvin. Begitu caranya kamu bisa membahagiakan Papi di sisa umur Papi saat ini" ujar Aldo yang terlihat semakin lemah.
Aurel semakin tidak tega melihat kondisi ayahnya yang memburuk. Tapi di sisi lain, ia benci melihat wajah penuh kemenangan yang sangat jelas dari Alvin.
"Maaf Pih, tapi saat ini aku sedang mengandung anak Kak Revan. Jadi kami akan segera melangsungkan pernikahan. Aku harap Mama dan Papi merestui kami dan tidak memaksa aku untuk menikah dengan Kak Alvin lagi"
Aurel terpaksa berbohong demi terhindar dari perjodohan ayahnya. Aldo yang mendengar hal itu tentu saja semakin emosi dan membuat nafasnya semakin sesak.
"Anak kurang ajar kalian! Hah.. Bi..sa..bi..sa..nya kamu ha..mil"
Melihat kondisi suaminya yang semakin lemah, dengan cepat Kayla memanggil dokter dan menghentikan perdebatan ayah dan anak tersebut. Kayla mengajak Aurel dan Alvin keluar dari ruangan agar Aldo bisa ditangani dokter dengan baik.
Baru saja keluar dari ruangan, Kayla disambut oleh kehadiran Revan yang telah lama tidak dilihatnya. Matanya berkaca-kaca dan langsung memeluk anak lanangnya yang telah beranjak dewasa itu.
Alvin yang merasa canggung berada di tengah-tengah keluarga mereka memutuskan untuk pamit dengan wajah ketusnya, setelah mendengar berita kehamilan Aurel.
"Bagaimana kabarmu nak? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Kayla sambil mengelus kepala Revan dengan lembut.
"Iya Mami aku baik-baik saja. Maaf sudah buat gaduh ya dan buat Papa masuk rumah sakit. Tapi aku benar-benar menyanyangi Aurel Mih. Aku nggak bisa melepas dia" tutur Revan.
"Karena itu makanya kamu hamilin dia?"
"Hah?"
Pertanyaan Kayla membuat Revan kebingungan tapi dengan cepat diiyakan setelah melihat isyarat yang diberikan Aurel.
"I..iya Mih. Maafin aku. Aku banyak salah Mih. Sekali lagi maaf"
"Nggak apa-apa sayang. Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu disesali lagi. Sekarang lebih baik kalian segera menikah demi anak kalian. Urusan Papa, nanti Mami yang coba jelasin"
"Makasih Mami. Aku sayang banget sama Mami" ucap Aurel kegirangan. Ketiganya akhirnya berpelukan merasa bahagia.
Setelah mendapat restu dari sang Ibu, Aurel dan Revan memutuskan untuk pulang. Mereka memilih tidak pamit pada sang ayah atas saran ibu mereka, demi menjaga kesehatan ayahnya yang masih kurang stabil.
Di tengah perjalan terjadi keheningan beberapa saat, sebelum akhirnya Revan membuka suara.
"Kamu beneran hamil yang?"
"Nggak lah sayang. Aku cuma bohong aja kok tadi"
"Kenapa gitu? Karena ada Alvin?" tanya Revan lagi.
"Lebih dari itu. Kalau kamu tau apa yang terjadi di dalam tadi pasti kamu kaget" jawab Aurel, membuat Revan mulai penasaran.
"Memangnya kenapa tadi di dalam?"
"Aku disuruh nikah sama Kak Alvin, yang"
"Apa?"
Revan yang kaget mendengar ucapan Aurel spontan saja membunyikan klakson, membuat keduanya terkejut dan dengan cepat Revan segera menghentikan mobilnya dipinggir jalan demi mengindari terjadinya kecelakaan.
"Papa nggak berubah ya. Dia tetap ngotot mau nikahin kamu sama Alvin"
"Makanya itu aku bohong kayak tadi yang. Aku nggak mau nikah sama orang lain selain kamu"
Revan menatap mata Aurel begitu lekat, kemudian mulai tersenyum.
"Makasih sayang. Kalau memang ini satu-satunya cara agar kita bisa bersama, aku nggak masalah yang. I love you cantikkuuuu" teriak Revan di dalam mobil.
Aurel terkekeh melihat kelakuan Revan dan mengarahkan tangannya ke bibir Revan, mengisyaratkan untuk jangan teriak. Bukannya diam, Revan memilih membuka jendela mobilnya dan kembali berteriak "AUREL KEKASIHKU KITA AKAN HIDUP BERSAMA SELAMANYA. I LOVE YOU, I MISS YOU, I NEED YOU"
Aurel kembali tertawa dengan wajah bersemu merah dan mulai mencium bibir Revan agar diam. Hal itu membuat Revan tertegun menatap ke arah Aurel.
"Wah sepertinya pembahasan tadi benar"
"Pembahasan apa?" tanya Aurel bingung.
"Tentang kehamilan kamu. Soalnya kamu kayaknya udah pengen deh. Ayuk lah direalisasikan aja" jawab revan dengan tatapan genit.
"Ihhh dasar mesum" teriak Aurel, membuat Revan tertawa melihat tingkah kekasihnya yang terlihat malu.
Berbeda halnya dengan Revan dan Aurel, Kenzo terlihat frustasi memikirkan kondisi keluarganya yang begitu rumit. Sudah 2 hari diabaikannya panggilan telepon maupun pesan teks dari Zeva. Selain karena ingin fokus menjaga ibunya di rumah sakit, ia juga bingung harus bersikap seperti apa pada Zeva. Pasalnya ia telah berjanji pada keluarga Zeva untuk mengenalkan mereka kepada keluarganya.
Dering telepon terus berbunyi tanpa henti membuat Kenzo semakin stres. Akhirnya ia mengangkat panggilan itu dengan memejamkan mata, menanyakan alasan dirinya terus dihubungi.
Kenapa kamu menghilang ?. Begitulah kata pertama yang didengar Kenzo. Terdengar suara gadis itu bergetar seperti menahan tangis.
Maaf. Hanya itu yang dapat terucap dari bibir Kenzo.
Kamu ada masalah ? Atau seperti apa ? Kok nggak bisa dihubungin ?
Iya aku punya masalah keluarga. Aku ingin waktu sendiri. Maaf ya Zev.
Iya nggak apa-apa kok. Kalau udah tenang kabarin ya. Aku bakal nunggu.
Nggak usah nunggu.
Zeva terdiam mendengar ucapan Kenzo.
Kamu marah ya sama aku ?
Nggak. Tapi sebaiknya jangan nunggu. Udah dulu ya.
Tutt..tutt...
Panggilan telepon pun diakhiri. Zeva masih kaget mendengar perkataan Kenzo yang tiba-tiba dingin padanya. Dirinya masih belum mengetahui alasan Kenzo bisa seperti itu. Perasaannya sedih memikirkan sikap Kenzo yang telah berubah.
Disisi lain, Kenzo melempar telepon genggamnya setelah memutus panggilan telepon dari Zeva. Nampak rambutnya diacak-acak karena frustasi. Akibat bunyi lemparan hp milik Kenzo, ibunya yang tengah tertidur akhirnya terjaga dari tidurnya.
"Kamu kenapa nak?" tanya Kiara.
"Nggak kok Mah"
"Kamu masih kesal sama Papa kamu? Mama mau jelasin semua tapi tolong kamu jangan marah lagi. Mama mau jelasin kalau emosi kamu sudah stabil"
"Mau jelasin apalagi sih Mah? Kan semua sudah jelas kalau Om Raffa itu pernah nikah sama tante Laura"
"Sayang, dengerin Mama yah. Ini mungkin akan panjang dan rumit untuk dijelaskan. Tapi tolong dengerin sampai selesai dan jangan dipotong. Mengerti?" pintah Kiara dan mendapat anggukkan Kenzo.
Perlahan-lahan Kiara mulai menceritakan semua hal yang pernah dialami dan terjadi di kehidupannya tentang siapa sebenarnya Raffa, Laura, Faris dan semuanya.
Sedikit demi sedikit kepingan yang mengganjal dihati Kenzo mulai tersusun rapi. Kini ia mulai mengerti semuanya, termasuk dulu ayah kandungnya yang memanasi suasana agar ia membenci ayah tirinya sendiri. Rasa bersalah menjalar di hatinya karena selama bertahun-tahun dirinya membenci Raffa tanpa alasan yang jelas dan bahkan tidak pernah menanyakan apa alasannya sedikit pun. Air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Dipeluknya sang Ibu karena merasa bersalah. Kini dihadapan Ibunya ia berjanji untuk meminta maaf secara langsung kepada ayah tirinya.
lanjuttt🥰🥰🥰
org tua egois... cepat kabur LG Aurel
mereka kan bukan saudara kandung apa salah nya....
harusnya cari tahu dulu dong kebenaran nya, man benci aja...kasian Raffa kan
revan ayo gercep tlng aurel klau gk km akan kehilangan aurel
lanjutt kk
up up up trs y....