NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Agen Bayaran

Terjerat Cinta Agen Bayaran

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:636.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desi Manik

Spin Off dari novel Pernikahan Paksa Sang Pewaris. Visual berada di part 14.

Angel dihantui oleh rasa penasaran saat menerima surat dan paket dari seseorang yang misterius. Namun dia tak bisa menemukan petunjuk apapun tentang orang tersebut. Dan akhirnya mau tidak mau Angel mengabaikannya saja.

Hingga suatu malam dia ditolong oleh seorang pria yang dia yakini adalah sosok misterius itu. Benarkah itu adalah pria yang selama ini Angel sebut sebagai peneror dirinya?

Temukan semua jawaban atas pertanyaan dalam benak kalian di sini.

Diusahakan update setiap hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desi Manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 27 - Mission Complete

Langit tak selalu biru, namun dia tetap di atas sana. Aku tak selalu tampak, namun akan tetap selalu ada untukmu.

🌷Happy Reading🌷

Jeremy memasuki bandara dengan santai. Gerakannya tidak tampak mencurigakan sama sekali. Saat matanya sudah membidik tembok mana yang tepat untuk meletakkan kameranya, dia langsung berjalan pasti. Dengan sekali gerakan dia letakkan kamera kecil itu di tembok tersebut.

"Kamera sudah aku letakkan di posisi yang memungkinkan, Ben," bisik Jeremy pelan menggunakan alat komunikasi yang terhubung langsung ke Ben.

Ben yang menerima laporan dari Jeremy langsung mengangguk dengan pasti walau bosnya itu tentu tak dapat melihat. "Baik, Bos. Aku akan posisikan kamera untuk mengakses area check in. Coba Bos pastikan target memakai pakaian seperti apa karena toh kita tidak tahu wajahnya secara pasti. Mungkin saja kali ini topengnya berubah lagi."

Jeremy mendengus pelan. "Masalahnya wajahnya dengan topeng itu kan sudah ada di setiap kartu identitasnya. Mana mungkin dia berganti topeng lagi Ben."

"Tapi memastikan tidak ada salahnya kan Bos? Dari pada kita mengamati orang yang salah. Hayo Bos pilih mana?"

"Hmm. Baiklah. Coba aku kirimkan email padanya. Kau tahu sendiri kan, klien yang satu ini tak tertarik menjalin komunikasi lewat sambungan telpon."

"Baik Bos. Jangan lupa beri tahu segera."

"Hmm."

Hanya deheman singkat sebagai jawaban lalu Jeremy mulai disibukkan dengan ponselnya. Tak lama setelah dia mengirim email, ternyata langsung mendapat respon dari klien.

Kemeja biru navy dan celana jeans hitam. Dan aku membawa koper kecil berwarna merah marun. Serta tas tangan yang juga berwarna merah marun. Aku juga memakai kaca mata hitam serta rambut hitam panjangku kugerai. Kurasa sudah cukup detail. Pastikan tidak ada petugas bandara yang mencurigai dan menghambat proses penerbanganku. Dan yang lebih penting lagi, kalau kalian melihat ada orang mencurigakan mendekatiku, tolong lakukan apa pun agar orang itu tak bisa menangkap apa lagi mencelakaiku.

Jeremy mengerutkan dahi. Sepertinya wanita ini bukanlah orang sembarangan. Apa mungkin dia buronan polisi? Atau lebih parahnya lagi apa mungkin dia bos mafia seperti di film-film action yang sering Jeremy tonton? Entahlah. Jeremy juga tidak tahu. Yang dia tahu adalah misi ini harus berhasil.

"Ben, baca email yang forward padamu."

"Baik, Bos."

Jeremy mengetuk-ngetukkan tumit sepatu hitamnya ke lantai bandara. Lalu matanya melihat kursi besi yang berada tak jauh dari tempatnya berada.

Setelah Jeremy duduk di salah satu kursi kosong, ponselnya kembali berbunyi singkat menandakan ada notifikasi masuk. Dengan segera dia membuka email lainnya dari sang klien.

Akan kuberikan bonus kepada kalian jika penerbanganku hari ini berjalan mulus. Dan telpon aku jika kalian mendapati hal urgent di bandara. 0876173886.

"Ben, aku mengirimkan email lainnya dari klien. Simpan kontaknya. Dia tiba-tiba saja mau memberi nomor ponsel karena mungkin merasa perlu untuk hal urgent."

"Bisa saja musuh atau yang mengincar klien kita adalah orang yang patut ditakuti, Bos." Ben berkomentar. Dia merasa klien mereka mungkin mau memberi nomor ponsel karena merasa takut. Jadi kalau ada apa-apa komunikasi di antara mereka bisa semakin cepat.

"Dan kau tahu, aku tidak takut pada siapa pun kecuali pada yang di atas." Jeremy menjawab dengan tegas. Matanya mulai menyisir setiap pengunjung bandara.

"Iya iya Bos."

"Jadi bagaimana? Apa kau sudah melihat klien?"

"Aku sudah mengatur kamera di posisi terbaik. Dan sampai sekarang klien belum tampak, Bos."

"Oke. Awasi terus. Jangan sampai lengah."

"Siap Bos."

Jeremy mengambil asal sebuah majalah yang berada di rak buku kecil di sebelahnya. Majalah-majalah dan koran-koran yang berada di sana memang disediakan gratis untuk para pengunjung atau pun para penumpang. Pria itu sengaja pura-pura membaca majalah agar tidak tampak sedang mengamati sekitar atau pun mencurigakan.

"Bos Bos..." panggil Ben.

"Hmm. Apa?"

"Klien sudah mulai tampak di layar monitor. Kalau dari posisi Bos duduk, ke arah jarum jam tiga."

Sontak Jeremy langsung memutar kepalanya dengan perlahan ke kanan, arah jam tiga mengikuti arahan dari Ben. "Tidak ada yang sesuai dengan apa yang dideskripsikan klien di arah jarum jam tiga." Jeremy menelisik satu persatu orang yang berada di sebelah situ dan tak mendapati ciri-ciri yang dikatakan oleh klien mereka.

Ben menepuk jidatnya di dalam mobil. "Kenapa Bos malah melihat ke arah sana. Terbalik Bos."

Jeremy menggeram. Kalau bisa memaki sekarang, sudah dia maki Ben habis-habisan. Tapi ini bukanlah saat yang tepat. Mereka harus sigap. "Kalau terbalik berarti ke arah jarum jam sembilan, Ben!" ujar Jeremy sembari memutar arah kepalanya.

"Lah kok... Oh iya-iya benar Bos. Maaf aku salah posisi."

Jeremy tak mengindahkan ucapan Ben lagi. Matanya kembali menyusuri area bandara sebelah kiri dari posisi duduknya. Dan benar saja, matanya menangkap klien mereka. Semua ciri-ciri yang disebutkan tampak sesuai.

"Ben, awasi sekitar klien. Aku pun melakukan hal yang sama. Beri tahu segera jika ada sesuatu mencurigakan."

"Siap Bos."

Angelica Haize, nama palsu yang Jeremy sematkan pada sang klien mulai mengantri untuk proses check in. Area bandara yang sangat besar membuat pihak bandara membuat kebijakan untuk melakukan proses check in dekat dengan gate keberangkatan dan proses boarding. Hal ini sedikit banyak membantu pekerjaan Jeremy dan Ben karena mereka tidak harus pindah-pindah posisi.

"Sejauh ini tidak ada yang tampak aneh, Bos."

"Hmm. Tapi tetap siaga. Jangan lengah."

"Siap Bos." Entah sudah berapa kali Ben menyebutkan kata itu dalam satu hari ini.

Antrian check in lumayan panjang. Sudah kurang lebih lima belas menit Ben dan Jeremy mengawasi namun sang klien belum juga mendapatkan giliran.

"Bos kurasa pria yang memakai topi sekitar sepuluh meter dari klien agak mencurigakan."

Jeremy langsung mengalihkan pandang untuk mencari keberadaan pria yang dimaksud oleh Ben. "Dia mengawasi gerak-gerik klien sama seperti apa yang kita lakukan."

Jeremy langsung berdiri. Dengan pasti dia mendekati antrian lalu ikut mengantri. Tentu saja dia tak ikut check in, hanya merasa sudah seharusnya semakin dekat dengan klien agar mudah untuk melindungi.

Setelah selang lima menit kemudian, akhirnya klien mereka pun berhasil check in. Boarding pass sudah dia terima lalu dia masukkan ke dalam dompetnya. Kopernya pun sudah dimasukkan ke bagasi sehingga yang tersisa hanyalah tas tangan miliknya saja.

"Bos, kurasa klien mau ke toilet dan pria itu mengikutinya." Ben memberi tahu praduga pada Jeremy. Jeremy meneguk salivanya saat dia lihat apa yang dikatakan Ben benar adanya. Sang klien menuju toilet yang sebenarnya tidak terlalu sepi namun memang sedikit lebih sepi dari area yang sebelumnya.

"Bos, kurasa dia memegang sesuatu dalam kantongnya."

Jeremy semakin mempercepat langkah kakinya. Dia lihat semakin sepi saja lorong menuju toilet. Di saat klien mereka sudah memasuki toilet wanita, di saat itu pula pria misterius itu semakin mempercepat langkahnya.

Jeremy berlari. Dia bisa mempresiksi ada semacam obat bius yang pria itu pegang di kantongnya dan dia tak bisa membiarkan kliennya batal terbang. Dengan lumayan kuat Jeremy menghantam tengkuk pria tersebut. Pukulan yang membuat pria itu pingsan.

"Pria itu sudah berhasil kulumpuhkan," lapor Jeremy pada Ben. Kalau-kalau kamera Ben tidak dapat mengakses lagi lorong toilet yang agak masuk ke dalam.

"Hah syukurlah Bos. Ben menghela napas lega."

Jeremy membopong tubuh pria itu. Dia ikut menghembuskan napas lega setelah memastikan bahwa area tersebut tidak memiliki CCTV. Dan untung saja tidak ada orang lewat saat itu. Jadi Jeremy bisa dengan leluasa mendudukkan pria itu lalu mengatur posisi tangannya seolah-olah dia sedang membaca majalah.

Jeremy bersembunyi di balik tembok setelah mendengar derap kaki. Bisa pria itu lihat bahwa kliennya keluar dari toilet. Matanya terus menatap tajam untuk mengawasi setiap pergerakan sang klien. Dia pun mulai berjalan mengendap-endap di belakang.

Ada pria yang tadi mengikutimu dan sepertinya berencana untuk membiusmu, Nona. Tapi kami sudah berhasil melumpuhkannya.

Jeremy mengirim pesan kepada kliennya. Dapat Jeremy lihat wanita itu langsung membuka ponselnya.

Baguslah. Kumohon tetap awasi sekitar.

Tak lama setelah itu, Jeremy mendengar panggilan untuk penumpang pesawat agar memasuki pesawat SQ 246. Dengan cepat dia kembali mengetikkan pesan.

Nona, naiklah ke pesawat secepatnya. Pesawat yang anda tumpangi akan segera berangkat. Segera kabari kalau ada hal aneh di dalam pesawat. Kami akan melakukan yang terbaik untuk melindungi anda.

"Bos, klien sudah mau masuk ke pesawat. Dan kurasa tidak ada lagi yang mencurigakan."

"Hmm. Aku juga dapat melihatnya. Tetap awasi."

Waktu bergulir dengan cepat seiring dengan pergerakan orang-orang di bandara yang super cepat. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 17:00.

"Bos, sudah saatnya pesawat take off."

"Iya aku tahu."

Aku take off sekarang. Terima kasih atas bantuan kalian. Aku akan mengirimkan bonus yang kujanjikan nanti.

Jeremy tersenyum samar saat pesawat yang ditumpangi oleh kliennya mulai berjalan pelan di landasan pacu. Dia merasa senang dengan keberhasilan misi mereka walau dihadang sedikit masalah kecil.

"Mission complete, Ben."

"Mission complete, Bos."

Pesawat itu pun terbang. Menembus awan bersama dengan keberhasilan misi duo agen bayaran, Jeremy dan Ben.

--- TBC ---

1
Ana Al Sapri
haduh endingnya sedih bgt
Ana Al Sapri
semangat thor..mungkin byk yg Lom Baca novelmu...jgn patah semangat tuk berkarya
Ana Al Sapri
semangat ya othor..utk selalu berkarya walaupun sedikit yg kasih like..mungkin Lom baca karyamu....tp aku akan setiap baca novelmu ini..hehe
Hesti Pramuni
mmm...
udah tah kek?
Hesti Pramuni
hi thor...
salken from me..
Apri Yanie
pnasarann sama mr.j,sbnernya siapa.
Muliana Ana
curiga am opa opa de
Lilisdayanti
beni2 jangankan jremyi sedangkan aqu saja kaya mau jitak kepalamu pake panci dan belanga🤦🤦🤦🤦
Lilisdayanti
gatal tanganqu untuk ga koment,,,,,, kalau yg sewa itu memeng papanya angel,,astaga naga perdana pejarakan saja,,dan kasih keluar dari KK,,,pecat jadi orang tua,,dan di blexit dari dunia 😡😡😡😡
sasip
Keren.. 👍🏻
Yanti Jambi
wow keren thorr ingat Jermy dan Angel mati beneran ,untung gk.oohh Good ending yg hebat makasih thorr selamat berkarya moga sukses sll..di tunggu karya mu selanjut nya .😍😘
Yanti Jambi
sedih la thorr ko ending nya jd gini,bukan nya bahagia
Yanti Jambi
akhirnya sekian lama menunggu ,makasih lanjut
ayani
aku suka endingnya...walaupun aku udah baca sampai habis tp aku baca lagi critanya bagus...semangat author
Sekar Zua
suka binggo
Bhiwie
Kelanjutannya ada di Nov*lm*🤭
Samsuna
lega😧
Farrah
pasti iti bapaknya angel.... ckckckck....
Farrah
bgus say... aq dah ksih vote yah....👍🏻
Meta Lia
semangat,,,sukses,,,dan sehat sllu thooooor,,,!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!