Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
"Papi Mami Kamu itu orang berbunya kalau butuh duitan kamu tinggal minta."
Samudra terbeliak ketika mendengar sautan Sherin bahwa dia lebih butuh kelamin laki-laki dibandingkan apapun di dunia ini.
"Rusak kamu!"
"Cantik, aku cantik dan diingini. Bilang aja Om inginkan?"
Untung Nismara segera turun, sehingga tangan Sherin yang tengah menjulur ke lelaki lakiannya dia tarik dengan cepat. Setelah itu Sherin melesat ke ruangan lain.
Samudra bukan sengaja menyembunyikan kejadian itu pada Nismara. Sebenarnya dia pun ingin sekali bercerita, namun Nismara selalu mengelak setiap diajak bicara mengenai anak gadisnya itu. Samudra harus memikirkan cara yang tepat dan bicara di waktu yang tepat pula supaya Nismara tahu tentang kelakuan Sherin, tanpa harus membuat kekasihnya berprasangka padanya.
Sementara itu Samudra sebisa mungkin menghindar dari Sherin, dia takut jika gadis cantik berkulit putih itu berbuat nekat dan malah memfitnahnya. Namun belum sempat dia menemukan waktu untuk bicara pada Nismara, Sherin sudah meninggal dunia.
Akhirnya Samudra berpikir bahwa masalah itu selesai, tidak perlu diperpanjang lagi. Toh Sherin juga sudah meninggal. Biarlah Nismara mengenal Sherin sebagai gadis yang suka membolos sekolah bukan sebagai perempuan kecil yang memuaskan om-om.
Dan kini Nismara telah menghilang. Samudra yakin pasti ada apa-apa di balik menghilangnya Nismara. Meskipun Miranti mati-matian berkata bahwa Nismara hanya sedang berlibur, tetapi laki-laki itu tidak percaya begitu saja. Mungkin akhirnya Nismara tahu yang sesungguhnya tentang putrinya, mungkin saja Nismara cek resi seperti halnya Gerald.
Terlalu banyak kemungkinan yang berseliweran di kepala Samudra. Yang pasti dia tidak percaya pada Miranti. Wanita itu terlihat menyembunyikan banyak sekali masalah. Itulah alasan dia menarik semua modal yang baru 3 bulan dia tanam di perusahaan Nismara. Dia berencana akan menjalin kerjasama kembali jika pimpinan perusahaan itu ada ditangan Nismara lagi.
Sementara ini, biarlah dia bantu usaha sepupunya dulu, pemilik hotel bintang tiga yang baru saja dia tinggalkan. Di pertemuan tadi, sepupu dari pihak ibunya itu membeberkan idenya untuk mengolah kebun buah yang sekaligus dapat dijadikan sebagai tempat rekreasi dengan lebih jelas. Samudra sangat tertarik dan mantap untuk menggelontorkan dana.
"Nismara, Nismara. Di mana kamu sekarang Sayang?" bibir Samudra berkomat kamit sendiri. Sesekali memukul setir dengan pelan, hanya sebagai penyalur kegelisahannya. Sebagai orang yang masih punya hati pada Nismara, Samudra merasakan getaran dari perempuan cerdas itu.
"Aku yakin Nismara pasti masih ada di kota ini, di suatu tempat. Tapi di mana Miranti sembunyikan Nismara?" Samudra berkata pada dirinya sendiri.
"Setelah urusan kebun buah beres, aku akan mulai menyelidiki keberadaan Nismara. Pasti aku akan temukan kamu, Sayang."
Keesokan harinya, Nismara terbangun. Sedikit terkejut, tetapi begitu sadar bahwa dia ada di kamar hotel atas kemauannya sendiri tadi malam, dia tersipu sekaligus lega.
Nismara melihat jam tangan yang digeletakkan begitu saja di nakas, sebelah tempat tidurnya. pukul sepuluh lebih, sudah begitu terlambat untuk turun dan mengambil jatah sarapan yang telah dia bayar satu paket dengan harga kamar. Semalam Nismara tidur larut gara-gara memikirkan Samudra dan Gerald.
Semalam, saat setelah Samudra berlalu, Nismara lagi-lagi hampir menabrak orang ketika berbalik badan. Dan orang yang hampir dia tabrak adalah seorang gadis dengan riasan sensual, satu tipe dengan gaya Tina. Setelah Gadis itu mengangguk pada Nismara, dia pergi ke arah yang sama dengan Samudra.
"Hmmmm..... aku yakin itu teman kencan Sam." desis Nismara, senyumnya miring penuh arti. Teringat dulu belasan tahun lalu, dirinya dan Gerald juga begitu. Melakukan hal yang sama seperti Samudra dan Gadis itu. Setelah selesai memenuhi g41rah biologisnya, selalu Gerald yang jalan dulu untuk melakukan check out di meja resepsionis. Sepuluh atau lima belas menit kemudian, Nismara baru menyusul. Mereka bertemu di tempat parkir.
"Ah, lelaki dalam hidupku emang nggak ada yang bener. Bahkan papa aku sendiri pun lebih brengsek dari pada Gege dan Samudra. Emang paling bener nggak menaruh hati pada lelaki, daripada mati mengenaskan mikirin laki-laki kayak Mama." Desah Nismara.
Dia turun dari ranjang, memakai bajunya yang tentu saja bau. Itu adalah baju yang sama yang Nismara pakai untuk nge- gym kemarin sore. Tidak sempat terpikir untuk beli baju dan semalam dia tidur hanya bercelana dalam.
Mungkin nanti dia akan balik ke kos untuk ganti baju dan membawa baju ganti. Nismara mendekati telepon interkom di atas natkas, lalu memencet sebuah nomor. Begitu tersambung dia bicara pada seseorang di ujung telepon untuk memesan makanan.
Sambil menunggu pesanannya datang, Nismara mengambil telepon genggamnya. Sudah lama dia tidak mengecek email dan menghubungi Miranti. Namun matanya tergoda oleh aplikasi pesan berwarna hijau. Ada panggilan dari Rizal, sepuluh kali! Wah, ada apa ya? Sejauh ini memang hanya Rizal yang tahu nomor teleponnya.
[ Kak Sofia jangan pulang dulu. Om Maryono lagi nunggu di rumah.]
Itu satu-satunya pesan yang dikirim oleh Rizal. Di kirim jam dua dini hari.
"Maryono gila! Untung aku memilih nginep di hotel." batin Nismara.
Pintu diketuk sehingga Nismara meletakkan telepon genggamnya begitu saja. Dia lebih memilih membukakan pintu karena tahu bahwa orang yang mengetuk pintunya adalah orang yang mengantar makanan untuknya.
Selesai makan, Nismara turun dan check out. Dia ada janji dengan Wei jam setengah satu, tidak mungkin dia bertemu Wei dalam keadaan porak-poranda begini. Masih ada sembilan puluh menit lebih. Sebelum ke mahkota Gym. Nismara berencana untuk membeli baju terlebih dahulu. Namun saat keluar hotel dia tiba-tiba berubah pikiran untuk kembali ke kost saja.
"Aku pastikan dulu kondisi di sana." kata Nismara seraya memencet nomor Rizal.
"Hallo, Kak Sofi." suara Rizal terdengar begitu panggilan diterima.
"Apakah di situ aman, Mas? Eh maksudku Om Mario masih ada di situ?"
"Mario siapa?"
"Eh, Maryono." Nismara menepuk jidat, dia malah menyebut nama panggilan di Mahkota Gym.
"Oh, aman sih Kak. Dia semalam nginep di sini dan pergi tadi jam sembilan. Kakak mau balik sekarang?"
"Iya , cuma mau ganti baju sih, soalnya aku ada kerjaan sebentar lagi."
"Okey, saya tunggu."
"Hah?" Nismara kurang paham dengan ucapan Rizal.
"Maksud saya, Saya mau jagain Kak Sofi di rumah eh maksudnya..... itu, eemmm......takut Om Maryono datang lagi gitu, Kak."
Nismara tertawa ringan. "Ya Oke oke, Mas. Makasih ya. Aku OTW sekarang."
Lima belas menit kemudian Nismara sudah sampai di rumah kost nya. Rizal terlihat duduk di teras. Ternyata dia benar-benar ingin menjaga sosok Sofia dari omnya sendiri.
"Seorang Bapak kos yang bertanggung jawab." desis Nismara dalam senyum tertahan.
Rizal juga tampak tersenyum dan membiarkan Nismara masuk ke dalam rumah yang dia sewakan. Sepuluh menit kemudian Nismara keluar lagi. Sudah berganti baju.
"Kak Sofi!" Rizal mendekat dan memindai tas Nismara yang tampak menggembung.
Nismara tersenyum dan mengerti gerakan mata yang cowok itu lakukan. "Aku mungkin akan nginep beberapa hari di rumah temen, Mas."
Rizal ikut tersenyum. "Maaf ya, Karena om saya jadi kakak nggak nyaman kos di sini. Nanti kalau ada uang saya kembalikan uang sewa Kak Sofi." katanya lirih.
"Loh, maksudnya gimana?"
Rizal masih menunduk, kakinya yang polos tanpa sandal bergerak-gerak cepat. "Maaf ya, Kak. Kayaknya Kakak lebih aman untuk cari kos lain." ucap Rizal hampir tidak terdengar. " Demi keselamatan Kakak sendiri."
Nismara tertegun. "Sebegitu mengerikan kah si Maryono?" Teriak Nismara, tentunya hanya dalam hatinya saja.
"Mu- mungkin Kak Sofi bisa menghindar hari ini, tapi besok?" Rizal mendesah, "Saya Nggak ingin Kakak jadi korban berikutnya."
"Korban apa maksudnya?"
Rizal bergerak-gerak gelisah. "Ya, pokoknya.,.. yang penting Kak Sofi jangan di sini, bahaya, Kak."
Nismara menghembus nafas kasar. "Okey."
Rizal menatap Nismara sekilas, dia balik lagi memandang tanah. "Maaf ya, Kak."
"Makasih ya, Mas. Udah peduli sama aku." Sahut Nismara tulus. "Untuk uang nggak usah dipikirin, gampang itu. Aku tinggal minta uang sama papi aku kok." Nismara tertawa, mencoba melucu agar situasi sedikit mencair.
"Tapi nanti akan saya kembalikan, Kak. Asal Kakak sabar ya, soalnya uangnya udah kepakai buat beli obat ibu."
"Udahlah, nggak apa-apa. Tapi masih ada sedikit bajuku di kamar, kalau boleh aku nitip dulu, Mas."
"Nggak ada barang berharga kan, Kak?"
"Nggak ada, cuma baju."
Rizal mengangguk.
Setelah urusan dengan Rizal selesai, Nismara bergegas pergi menggunakan taksi online seperti biasa, Nismara sampai ke mahkota Gym. Dua 10 menit tersisa dari jadwal yang Wei berikan, Nismara berencana untuk menunggu di cafe lantai tiga.
Ruangan tampak lenggang ketika Nismara masuk
teka teki nya dapat. suka banget.