Putri Wening adalah seorang gadis yang lemah lembut. Dia tinggal bersama ibu dan ayah angkatnya. Suatu hari Wening mendapati ayah angkatnya bersikap tidak wajar. Saat dia tau sikap ayahnya yang tidak baik, lantas dia pun ketakutan. Hingga dia langsung mencari sahabatnya untuk mencari jalan keluar.
Ayu Pratama teman Wening memberi saran agar dia menikah dan pindah dari rumah. Wening setuju, atas usulan Ayu dia membuat janji dengan seseorang yang diatur Ayu.
Tapi setelah bertemu orangnya, Wening kaget ternyata orang yang dipilih oleh Ayu adalah Paman Ayu, Max Pratama.
CEO terkaya dikota Jakarta.
Apakah mereka akan menikah dan hidup bahagia?
Apakah Wenning akan berhasil pergi dari rumah? Dan mendapatkan Suami yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon мυмυ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Max datang tepat waktu
Sementara diposisi Max, saat dia melihat ke arah meja. Dia melihat Rani memegang hapenya. Lalu dia pun menegur Rani. "Siapa suruh kamu sentuh Hapeku!bentak Max yang langsung mengambil hapenya dimeja.
"Aku cuma ingin melihat saja. Kenapa harus galak seperti itu." Jawab Rani dengan gelisah. Max tidak menghiraukan Rani, dia melihat panggilan masuk. Dan ternyata dari Wening. Max langsung mencoba menghubungi balik Wening.
Max mencoba menelepon Wening. Tapi tidak dijawab oleh Wening. Melihat itu Rani langsung bangun dari duduknya. "Kaka Max, cuma telepon biasa. Bisa jadi ... dia lagi main-main dimana, lalu salah tekan."ucap Rani dengan memegang tangan Max. Dia bersikap manja agar Max tidak marah dengannya.
Max dengan kasar langsung menepis tangan Rani. Hingga dia terlempar dan jatuh ke sopa. "Haaah."jerit Rani. "Kalau sampai dia kenapa-kenapa, tak ada yang bisa melindungimu."ucap Max dengan tegas. Lalu dia pun menghubungi Rama.
"Segera lacak GPS diponsel Wening."ucapnya dengan Rama. "Baik,ucap Rama diseberang. Setelah itu Max langsung pergi meninggalkan Rani, tanpa memperdulikan keadaan Rani.
Rani pun berteriak memanggil namanya. "Ka Max."panggil Rani. Tapi Max tidak memperdulikan panggilan itu.
Sementara itu dirumah Sinta. Ternyata yang masuk kekamar tersebut adalah Sinta. Saat membuka pintu Sinta langsung berkata. "Kenapa bisa lama sekali? Wening mana?ucapnya. Saat Sinta melihat keadaan kamar tersebut. Udara disekitarnya mendadak menghilang, pandangan matanya langsung kabur. Dadanya sesat seperti ditekan sesuatu.
Dia shok melihat pemandangan dikamar tersebut. Dia melihat foto-foto Wening dari kecil sampai besar. Sebuah manekin dengan memakai baju dalam Wening. Semua barang-barang Wening. Semua lengkap ada disitu. Sesaat dia mengingat apa yang dulu pernah Wening katakan.
Flashback
"Ma, dia selalu mengincarku. Waktu aku baru selesai mandi,aku lihat dia sentuh celanaku. Waktu aku mau tidur, dia masuk kamarku." Bu kenapa ibu selalu tidak percaya padaku? Aku kan anak kandung Ibu."
Flashback selesai
Mengingat itu, Sinta langsung tersadar dan menangis. Lalu dia berteriak memanggilnya. Wening! Wening! Wening kamu dimana?teriak Sinta. Wening yang mendengar suara Ibunya, langsung keluar dari tempat persembunyian dia.
"Hemmm Hemmm, Sinta yang mendengar itu langsung menghampirinya. "Wening! Jangan takut Wening, Ibu datang, jangan takut."ucapnya sambil berusaha membuka ikutan ditangannya.
Saat Sinta sibuk membuka ikatan tersebut, Wening melihat Anton masuk kedalam kamar. Wening mencoba memberi tahu Sinta, tapi Sinta tetap fokus membuka ikatan tersebut.
Anton yang melihat itu hanya bisa mengusap wajahnya. Lalu berjalan mendekati Sinta, lalu menarik pundak Sinta. Tanpa aba-aba dia langsung menampar Sinta.
Plakk ... akibat tamparan itu, Sinta langsung terjatuh ke lantai. Sinta langsung berteriak setelah ditampar. "Brengsek! Aku menikahimu sambil membawa Wening. Dia baru umur 8 tahun. Baru 8 tahun! Lepaskan Dia."ucap Sinta sambil menarik keras baju Anton
Anton hanya bisa tertawa. "Kalau berani lagi sentuh dia sedikit pun, aku habisi kamu."ucap Sinta. Anton yang mendengarnya langsung tertawa dan dengan keras mendorong Sinta kebelakang.
Dan tanpa sengaja Sinta menabrak meja. Perutnya menabrak sisi meja. Saat itu juga darah keluar dari kaki nya. Lalu dia pun akhirnya terjatuh ke lantai. Wening yang masih terikat hanya bisa berteriak.
"Ibu ... Anton yang melihat itu bukanya simpati malahan dia tertawa jahat. "Hahaha, sekarang kamu lagi ingin menjadi orang baik? Dia sudah berulang kali berbicara? Apa kamu pernah percaya padanya? Sekarang akibatnya sudah seperti ini." Hahaha ucap Anton kepada Sinta.
Sinta yang mendengar itu hanya diam, dia sadar apa yang Anton bilang itu benar. "Ini semua salahku."ucapnya lagi. "Ini semua salahku ... ini semua salahku huhuhu."ucap Sinta sambil menangis.
Wening hanya bisa menangis melihat Ibunya diperlakukan seperti itu. Anton langsung berdiri mendekat ke arah Wening. Sinta langsung menahan kaki Anton. Dia mencoba mencegah Anton.
"Wening maafkan Ibu. Cepat lari! Cepat lari Wening!teriak Sinta. Lalu dengan kasar Anton menendang tangan Sinta. Alhasil setelah itu Sinta pun pingsan.
Sekarang tersisa Wening, dia mencoba membuka ikutan tersebut. Dengan penuh usaha akhirnya ikatan itupun terlepas. Dia langsung membuang kain yang ada dimulutnya. Lalu berlari ke arah Ibunya.
"Ibu .... Ibu .... lalu dia mendorong Anton hingga dia terbentur ke tembok. Wening mencoba membangunkan Ibunya. "Bu ... huhuhu ... Bu ... bangun Bu sambil menggucang bahunya." Tapi Sinta tidak kunjung bangun.
Hahaha suara ketawa Anton menyadarkan Wening. "Jangan buang-buang tenaga lagi. Dia tidak akan bangun hahaha."ucap Anton mulai mendekati Wening.
Wening mundur kebelakang, hingga akhirnya dia terperangkap dibawah meja kamar. Saat itu Anton mulai mendekatinya. Perlahan kaki nya mendekati Wening.
Saat tangan Anton hampir menjangkau Wening. Seseorang mendobrak pintu kamar tersebut. Brakkk ... suara pintu kamar didobrak dari luar.
Munculnya sosok yang ditunggu oleh Wening. Max dengan nafas yang tersenggal senggal karena berlari. Dia muncul dengan Rama dan beberapa orangnya. Dia langsung berteriak.
"BERANI SENTUH DIA!ucap Max. Dia langsung berlari memegang Wening. Sementara para bodyguard langsung cepat membawa Sinta keluar untuk dibawah kerumah sakit. Sementara Anton yang kaget langsung membenarkan ikat pinggangnya. Karena tadi dia hampir saja membukanya.
Anton yang ketakutan langsung bersujud dan minta ampun. "Pak Pratama. Ampuni saya! Saya tidak .... belum sempat selesai Max sudah menendang dirinya hingga dia terpental menabrak tembok.
Brukkk .... bodyguard yang melihat itu langsung membawa Anton pergi. Sementara Rama sudah menuju rumah sakit, karena keadaan Sinta lebih parah. Dia pendarahan hebat.
Anton yang dibawa pun berteriak meminta maaf. Pak Pratama! Ampuni saya, Pak Pratama!rintih Anton. Max tidak memperdulikannya lalu menyuruh orangnya untuk membawa Anton pergi. Sepanjang ditarik Anton terus memohon tapi dia ada yang membantu.
Setelah semua pergi, Max mencoba menenangkan Wening. Dia memegang kedua bahu Wening. Wening terlihat gemetaran, Max mencoba menenangkannya. "Sudah aman, Wening. Sudah tidak ada apa-apa, jangan takut. Ada aku disini."ucap Max.
Wening panik dia terbata bata menanyakan Sinta. Ibuku? Bagaimana dengan ibuku." Tanyanya pada Max. "Dia sudah dibawa kerumah sakit. Aku antar kamu kesana."ucap Max. Wening hanya mengangguk. Lalu Max pun menggendong Wening keluar dari rumah itu. Wening langsung bersandar aman didada Max.
30 menit kemudian mereka sampai dirumah sakit ibunya ditangani. Mereka menunggu dikursi tunggu,beberapa saat kemudian Ibunya sudah keluar dari ruang operasi. Max dan Wening yang sedang duduk pun langsung berdiri.
Sang dokter pun menjelaskan keadaan Sinta. Keluarga Pasien ucap Dokter. Wening hanya mengangguk. "Ibunya selamat, tapi anak yang dikandungnya ... tidak selamat ucap dokter. Wening langsung mundur karena kaget. Max dengan sigap memeluk Wening.
"Wening ... Wening ... maafkan Ibu. Ibu minta maaf. Wening ... Wening."gumam Sinta dalam tidurnya. Wening hanya diam dan menangis melihat kondisi Ibunya.
Setelah itu dokter pun membawa Sinta ke ruang perawatan. Wening diam saja,tidak mengikuti arah dokter. Max langsung memeluknya dan bertanya. "Kamu ... mau pergi kesana melihatnya?ucapnya. Wening hanya menangis dan menggelengkan kepala.
"Aku ... aku tidak tahu. Bagaimana cara menghadapinya jika bertemu."jawabnya. "Kalau begitu, nanti saja. Aku sudah siapkan tim ahli. Dia akan mendapatkan perawatan terbaik. Jangan khawatir, dia akan baik baik saja." Lalu Max mengeratkan pelukannya, begitupun Wening dia bersandar di dada Max.