AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
"Kau... " Ari tak bisa berkata-kata.
Melihat putranya terpojok, Ria langsung pasang badan.
Ia maju satu langkah, menatap Al dengan pandangan menghina yang tajam.
"Ya, memang anakku masih sehat! Tapi kau tahu? Anakku itu kekurangan gizi selama hidupnya dengan orang tua miskinmu di desa! Jangan berlagak jadi pahlawan di sini!" kata Ria dengan tinggi hingga membuat perhatian beberapa orang di sekitar melihat ke arah mereka.
"Sana kau pulang saja ke rumah almarhum orang tuamu di kampung! Berpijak di bumi yang sama denganmu saja sudah membuatku muak!" ketus Ria lagi, melipat tangan di dada sembari memalingkan wajah.
"Muak?" Al terkekeh rendah.
"Nyonya Ria yang terhormat... daripada Anda sibuk mengurus dan mengutuk hidup saya, lebih baik Anda urus saja hidup suami Anda sendiri. Jaga dia baik-baik agar tidak keluyuran dengan wanita lain," kata Al dengan tenang.
Mata Ria membelalak. "Apa maksudmu?!"
"Setahun yang lalu, di sebuah hotel di pusat kota. Aku melihat suami Anda menggandeng wanita muda. Mesra sekali. Jadi, hati-hati, Nyonya. Jangan sampai Anda menjadi orang terakhir yang tahu," kata Al menikmati perubahan ekspresi di wajah Ria
"Apa?! Kau... kau... tidak mungkin! Suamiku tidak mungkin melakukannya! Dia pria setia! Kau pasti sengaja membual!" pekik Ria seketika. Ia terlihat panik.
Al menoleh ke arah Ari yang sejak tadi terdiam.
"Ari. Jaga ibu kamu baik-baik. Biar dia nggak langsung kena serangan jantung atau syok berat kalau nanti fakta yang sebenarnya terbongkar," kata Al dengan senyum sinis.
"Al! Jaga bicaramu! Jangan keterlaluan kamu!" teriak Ari dengan mata membulat.
"Kurang ajar kamu! Beraninya kau memfitnah suamiku di depan umum!" teriak Ria yang sudah gelap mata karena harga dirinya diinjak-injak.
Tanpa pikir panjang, Ria melepas salah satu sandal bersol tebal yang dipakainya. Dengan napas terengah-engah, ia mengayunkan tangannya, melempar sandal itu sekuat tenaga ke arah wajah Al.
"Rasakan ini, dasar pembohong!" jerit Ria.
Sret!
Amirul dengan refleks yang cepat langsung memiringkan kepalanya. Sandal itu melesat melewati telinganya, terbang lurus ke arah di belakangnya.
BUK!
"Oekkk... Mamaaa!!"
Suara keras mengenai seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun yang kebetulan sedang berlari di belakang Al. Membuat anak itu menjerit menangis
Sandal Ria telak mengenai pelipis bocah malang itu hingga ia terjatuh ke atas aspal.
"Astaga, Rio!" teriak seorang wanita yang langsung berlari histeris menghampiri anaknya.
Di sampingnya, sang ayah langsung menggendong anaknya yang menangis sesenggukan dengan darah tipis yang mulai menetes dari pelipisnya.
Tatapan pria itu tajam penuh amarah, tertuju pada Ria.
"Kamu... beraninya kamu melukai anakku!" geram ayah anak itu dengan suara yang menggelegar.
Ria seketika panik. Kesombongannya hilang dan berganti ketakutan.
"Eh, anu... bu-bukan begitu! Maksud saya, saya tidak sengaja... ta-tadi saya mau melempar anak haram itu!" tunjuk Ria dengan jari gemetar ke arah Al.
Mendengar pembelaan Ria yang kasar, amarah sang ayah justru semakin menyala. "Apa kamu bilang?! Mau melempar orang lain lalu anak saya yang jadi korban, begitu?! Waras kamu, hah?!"
"Bukan begitu, Pak! Ibu saya tidak bermaksud... " Ari mencoba menengahi dengan panik, memegang lengan ibunya yang mulai gemetar.
"Diam kamu! Jangan bela wanita tua gila ini!" bentak pria itu, memotong kalimat Ari dengan kasar.
"Apa pun alasannya, aku tidak terima! Kau telah melukai anakku sampai berdarah! Kau harus bertanggung jawab sekarang juga! Ikut aku ke kantor polisi!"
"Tidak mau! Ini murni kecelakaan! Ari, tolong Ibu, Nak!" jerit Ria, mulai menangis ketakutan saat pria itu melangkah mendekat.
Di tengah kepanikan Ria dan Ari, Al hanya berdiri beberapa meter dari sana. Ia melipat kedua tangannya di dada, menikmati pemandangan di depannya. Ia tersenyum miring
Al mengangkat tangannya, melambaikan jemarinya pelan ke arah Ari dan Ria penuh kemenangan .
"Selamat menikmati harimu, Nyonya Ria," bisik Al lirih.
Tanpa membuang waktu lagi, Al membalikkan badan.
Ia melangkah pergi dengan santai, meninggalkan Ria dan Ari yang kini di amukan ayah korban