Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Di area pemakaman, bapak bapak yang di pimpin oleh Pak Umar mulai mengambil posisi masing masing dan mulai membacakan segenap doa dan tahlil di depan pusara Pak Harto. Semua tampak khusyuk berdoa termasuk Theo dan Pak Wibowo. Namun ditengah kekhusyukan, tanpa sengaja Theo menoleh dan melihat ada sosok aneh yang sedari tadi memperhatikan mereka semua dari kejauhan.
Theo terus menatap lurus memperhatikan orang dengan baju serba hitam itu berdiri tak jauh dari area pemakaman. Meskipun pencahayaan disana agak kurang baik, namun Theo bisa melihat laki laki itu dengan lumayan jelas. Laki laki tua dengan pakaian serba hitam itu tampak memiliki muka keriput, dengan tatapan tajam menatap tepat ke arah rombongan yang sedang berdoa di depan pusara Pak Harto. Meskipun ada sedikit ketidak nyamanan dalam benak Theo, namun Theo mencoba mengabaikan sosok laki laki tua itu dan kembali fokus memanjatkan doa untuk sang kakek hingga selesai. setelah serangkaian doa sudah selesai di panjatkan, Pak Wibowo kemudian mengajak seluruh rombongan untuk ke kediaman Pak Harto.
.
.
.
Sinar matahari pagi perlahan merayap naik, membiaskan cahaya keemasan di balik rimbunan pohon dan atap rumah tua peninggalan almarhum Pak Harto. Tak lama berselang, rombongan bapak-bapak yang dipimpin langsung oleh Kyai Umar dan Pak Wibowo tiba di halaman rumah duka setelah selesai berziarah ke pemakaman.
Suasana di bawah tenda duka seketika hidup. Para warga yang mengenakan baju koko dan peci tampak duduk bersila serta menempati kursi-kursi yang telah disiapkan. Mereka mulai menikmati hidangan hangat berupa kopi tubruk, teh manis, dan aneka jajanan pasar yang disajikan oleh pihak keluarga.
Di tengah obrolan santai yang diselingi gelak tawa kecil untuk mencairkan suasana duka, Kyai Umar menepuk pelan pundak Pak Wibowo, lalu mengarahkan pandangannya kepada Theo dan Tiara yang berdiri tak jauh dari sana.
"Alhamdulillah, kebersamaan warga di sini tidak akan pernah luntur untuk keluarga Pak Harto," ucap Kyai Umar ramah, disambut anggukan setuju dari para bapak-bapak lainnya.
"Terimakasih banyak Pak, sudah sangat baik dengan keluarga kami." jawab Pak Wibowo tampak haru dengan kekompakan para warga.
"sudah sewajarnya kami sebagai warga sangat menghormati dan menghargai jasa serta kebaikan Pak Harto. Hanya ini yang bisa kami lakukan untuk membalas jasa dan kebaikan beliau Pak." jawab Pak Umar dan kembali disertai anggukan setuju dari para Warga.
Melihat pemandangan itu, hati Theo terasa hangat. Pagi ini menghadirkan nuansa yang begitu kontras namun menenangkan; di tengah duka mendalam atas kepergian sang kakek, terselip kehangatan luar biasa dari ketulusan para tetangga. Tiara, yang berdiri di samping Theo sambil merapikan cangkir kotor, turut tersenyum kecil merasakan sambutan hangat masyarakat Desa Bojasari yang begitu membumi.
Bagi Theo dan Tiara—yang terbiasa hidup dalam hiruk-pikuk dan kesendirian kota besar—suasana pagi ini menumbuhkan secercah ketenangan baru. Perlahan tapi pasti, keraguan di kepala Theo mulai mencair. Benih-benih keputusan untuk benar-benar meninggalkan ibu kota, menempati rumah warisan ini, dan menetap di Desa Bojasari mulai bersemi di dalam hatinya.
.
.
.
Tujuh hari berlalu sejak Pak Harto berpulang. Lantunan doa dari pengajian malam ketujuh baru saja usai, menyisakan keheningan yang syahdu di ruang tengah rumah tua itu. Asap dupa yang tipis masih menari-nari di udara, seolah menjadi saksi bisu atas berkumpulnya keluarga besar yang kini duduk melingkar.
Pak Wibowo menarik napas panjang, menatap putranya dengan tatapan yang sarat akan harapan. "Theo, tujuh hari sudah Kakung meninggalkan kita. Wasiat beliau sudah jelas, dan Ayah sudah memikirkannya masak-masak. Hari ini, Ayah butuh jawaban pasti dari kamu."
Suasana ruangan mendadak hening. Bu Sri, yang duduk di samping Tiara, menatap Theo dengan mata yang masih menyiratkan kesedihan, namun ada binar permohonan di sana. "Le... Nenek sudah tua," suaranya parau, "Rumah ini akan terasa sangat sepi tanpa kehadiran Kakung. Nenek hanya berharap ada keluarga yang menemani Nenek di sini, melanjutkan apa yang sudah Kakung rintis."
Bu Ani, ibu Theo, menggenggam tangan anaknya erat. "Nak, keputusan ini memang berat, tapi Ayah dan Ibu yakin ini yang terbaik. Bukan hanya soal peternakan, tapi soal menjaga amanah seseorang yang paling mencintaimu di dunia ini."
Theo terdiam. Pandangannya beralih ke Tiara, istri tercintanya, yang membalas tatapannya dengan senyum menguatkan. Tiara memberikan anggukan pelan, sebuah isyarat tanpa kata bahwa ia siap menjalani hidup apa pun yang Theo pilih.
Setelah menarik napas panjang dan mengumpulkan keberanian, Theo akhirnya bersuara. "Ayah, Ibu, Uti... setelah aku merenungkannya selama seminggu ini, dan setelah berdiskusi dengan Tiara, aku sudah memutuskan."
Theo menatap wajah-wajah penuh harap di hadapannya satu per satu. "Aku akan menerima amanah Kakung. Aku dan Tiara akan pindah ke sini, menetap di rumah ini, dan mengurus peternakan."
Ucapan Theo seolah melepas beban berat yang selama ini mengimpit dada mereka. Pak Wibowo mengembuskan napas lega dan segera memeluk putranya dengan erat. Bu Sri menangis haru seraya memeluk Theo, merasa doanya telah dijawab oleh Tuhan melalui kehadiran sang cucu.
Keputusan telah bulat. Di bawah atap rumah tua yang kokoh itu, sebuah lembaran baru dimulai. Theo sadar, ia tidak hanya sekadar pulang untuk tinggal, tetapi juga menerima tugas besar untuk menjaga rahasia-rahasia yang tersembunyi di balik dinding-dinding rumah tersebut—dan ia kini tidak sendirian, karena Tiara telah berjanji untuk terus berada di sisinya.
.
.
.
Suasana di halaman depan rumah warisan itu mendadak terasa haru ketika mobil Pak Wibowo bersiap untuk berangkat kembali. Setelah rangkaian tahlilan tujuh hari selesai dan keputusan besar telah diambil, saatnya bagi keluarga inti untuk kembali ke kediaman mereka yang terletak di lain desa dalam satu kota yang sama.
"Theo, Tiara, kalian jaga diri baik-baik di sini ya," pesan Pak Wibowo sambil menepuk pundak anak sulungnya dengan penuh kebanggaan.
Bu Ani turut memeluk Tiara erat-erat, menitipkan pesan agar saling menjaga. Tak ketinggalan, Kiki—adik Theo—langkahnya mendekati sang kakak dengan senyuman lebar khasnya.
"Tenang saja, Mas Theo, Mbak Tiara! Nanti tiap weekend Kiki pasti bakal rutin ke sini main, kangen juga sama suasana desa sekalian nengokin kalian," ucap Kiki ceria, berusaha mencairkan suasana perpisahan yang haru.
Setelah salam perpisahan dan lambaian tangan, mobil Pak Wibowo perlahan meninggalkan halaman rumah, membayangi debu tipis di jalanan desa. Theo dan Tiara berdiri berdampingan di teras, melepas kepergian keluarga kecil mereka.
Kini, kehidupan di rumah tua yang megah itu memasuki ritme barunya. Bu Sri kini resmi tinggal bersama Theo dan Tiara, mengisi hari-hari di rumah besar tersebut dengan ketenangan.
Menjelang sore hari, ketika rumah mulai sepi dan matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, Bu Sri memilih menyendiri sejenak di kamarnya. Langkah kakinya yang pelan membawanya mendekati salah satu dinding kamar. Di sana, tergantung sebuah bingkai foto berukuran sedang yang menampilkan potret mendiang suaminya—Pak Harto—semasa muda, tampak gagah mengenakan pakaian rapi dengan sorot mata yang tajam namun penuh wibawa.
Bu Sri berdiri terpaku di depan bingkai foto tersebut. Tangannya yang keriput terulur perlahan, menyentuh kaca bingkai dengan lembut, seolah tengah membelai wajah sang suami tercinta.
Sekejap, kenangan puluhan tahun bersama berkelebat di dalam benaknya—dari masa-masa awal membangun rumah tangga, membesarkan anak-anak, hingga perjuangan Pak Harto memimpin desa. Air mata hangat menetes perlahan di pipi keriputnya. Rasa kehilangan itu masih begitu nyata menusuk relung hatinya, namun di sisi lain, ada rasa syukur yang mendalam karena suaminya kini telah berpulang dalam kehormatan, meninggalkan warisan bukan hanya berupa rumah yang kokoh, tetapi juga cinta dan keteladanan yang diteruskan oleh cucu kesayangan mereka, Theo.
Suasana malam yang hening di dalam kamar mendadak berubah dingin. Bulu kuduk Bu Sri seketika meremang, membuat usapan lembutnya pada bingkai foto sang suami terhenti. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan saat telinganya menangkap suara asing di tengah kesunyian.
Dari balik kaca jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah pekarangan belakang, terdengar suara rintihan ,......
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨