Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.
Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.
Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.
Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.
Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Dua Kutub Bertemu
"Hai!" sapa Bara pada Melodi yang duduk di pantri Alto Cafe. Melodi menaikkan kedua alisnya melihat pria yang merekamnya di pantai tadi pagi kini duduk di sampingnya.
"Oh, hai!" balas Melodi ramah.
"Keren lagunya," puji Bara to the point.
"Makasih," jawab Melodi.
"Oh, ya. Kenalin," kata Bara sambil mengulurkan tangan. Melodi mengangkat satu alisnya sambil menatap ke arah tangan Bara.
"Bara Baskara. Panggil aja Bara," kata Bara sambil tersenyum. Melodi tersenyum lalu menjabat tangan Bara.
"Melodi," kata Melodi. Bara mengerjapkan matanya.
"Nama asli atau nama panggung?" tanya Bara. Melodi tertawa.
"Nama aslinya Melodi Nada Asmara. Nama panggungnya Melodi," kata Bang Alto sambil berjalan mendekati Melodi. Bara menoleh, menatap Alto dengan tatapan tak percaya.
"Nih mocha lattenya," kata Bang Alto sambil menyodorkan secangkir mocha latte pada Melodi.
"Thanks," ucap Melodi lalu menyeruput minumannya.
Bara masih bengong, menatap Melodi yang sedang menikmati mocha latte.
"Serius?" tanya Bara lagi.
"Hm?"
Alto terlihat menahan tawa.
"Pada nggak percaya kan kamu punya nama secantik itu?" kata Alto lalu kembali masuk ke pantri.
"Hih! Awas ya! Besok aku nggak mau nyanyi disini lagi," kata Melodi mengancam. Alto hanya meringis sambil menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya. Melodi mendengus kesal.
Melodi kembali menatap Bara. Dia lalu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok pria yang datang bersama Bara.
"Nyari siapa?" tanya Bara pada Melodi.
"Eh? O-oh... Nggak. Kamu bukan orang sini ya?" tanya Melodi. Bara tersenyum.
"Kelihatan ya?" tanya Bara.
"Anak kota pasti," kata Melodi dengan nada sedikit meledek.
"Emang kenapa kalau anak kota?" tanya Bara.
"Artinya kamu baru liburan kesini," jawab Melodi lalu kembali meminum mocha lattenya.
"Eh, kamu nggak pesen minum?" tanya Melodi.
"Oh! Boleh. Yang recommended apa?" tanya Bara.
Melodi beranjak dari duduknya lalu mengambil buku menu. Bara melihat Melodi yang berbincang sebentar dengan Alto, membuat dahinya mengerut.
"Signature drink disini itu Alto Espresso sama Melodi Choco Latte," kata Melodi sambil menyodorkan daftar menu pada Bara.
"Alto Espresso dan Melodi Choco Latte?" tanya Bara heran. Melodi mengangguk.
"Kamu sama pemilik kafe ini... pacaran?" tanya Bara sambil membuka buku menu.
Melodi yang hampir meminum mocha lattenya seketika berhenti. Melodi menatap Bara yang sibuk membaca buku menu, memastikan bahwa pria di sebelahnya tidak sedang bercanda. Sedetik kemudian tawanya pecah. Bara menoleh, mengerutkan alis sambil menatap Melodi yang tertawa lepas.
"Eh? Salah ya?" tanya Bara bingung.
Melodi masih tertawa sambil melambai-lambaikan tangannya. Alto berjalan mendekat sambil mengacak rambut Melodi.
"Jangan bikin pelanggan takut," kata Alto.
"Hih! Berantakan, kan?" kata Melodi sambil menata lagi rambutnya perlahan.
"Lhah? Emang udah berantakan dari tadi. Aku cuma rapiin aja," kata Alto.
Bara menatap Melodi dan Alto bergantian sambil mengerjapkan kedua matanya. Alto menoleh ke arah Bara.
"Maafin adek saya yang emang agak kurang dikit sopan santunnya," kata Alto.
"Bang Alto!"
Bara menutup mulut dengan satu tangannya. Tak percaya.
"Udaaah... Kamu ke depan lagi aja sana! Nyanyiin lagu favoritku," perintah Alto.
"Maleees," kata Melodi lalu meminum mocha lattenya.
"Ntar aku bayar," kata Alto.
Bara menatap kedua kakak beradik itu. Perdebatan kecil yang terdengar ramai itu justru membawa kehangatan yang membuat sudut bibirnya ikut terangkat.
"Aku udah kenyang sama mocha latte,"
"Kalau gitu, aku bayarin kos,"
"Serius?"
Alto mengangguk.
"Awas ya kalau bohong!" kata Melodi sambil berjalan menuju panggung di teras kafe.
"Eh, aku ke depan dulu ya," pamit Melodi pada Bara. Bara mengangguk kikuk.
Bara menatap punggung Melodi yang berlalu.
"Kamu orang ke-sekian yang bilang kita pacaran," kata Alto sambil menatap Melodi dari jendela kaca. Bara menoleh. Dia dan Alto saling tatap.
"Kalau kamu berniat deketin dia," kata Alto sambil mengelap gelas.
"Dia bukan tipe cewek yang bisa dikekang," lanjut Alto.
"Jiwanya bebas. Itulah kenapa lagu-lagu ciptaannya selalu keren," tambah Alto.
Bara menoleh ke arah Melodi yang sudah menyanyikan verse awal lagu Iwan Fals - Yang Terlupakan. Suaranya yang khas memenuhi seluruh sudut kafe. Bara kemudian tertunduk.
'Jiwanya bebas,'
Bara kembali menatap Melodi yang sedang bernyanyi.
'Apa dia bisa membawa jiwa Kak Abas sebebas miliknya?'
***
Abas masih terdiam di dalam mobil. Dia menatap ke arah pelataran kafe yang masih ramai pengunjung. Dia menatap smart watchnya lalu menghela napas panjang.
"Apa yang dia lakukan di dalam?" gumam Abas tak sabar.
Abas memutuskan keluar dari mobil. Dia menoleh ke arah pantai yang memang terletak tak jauh dari kafe. Suara ombak terdengar samar. Abas menghadapkan tubuhnya ke arah pantai. Semilir angin pantai membelai wajahnya membawa aroma laut yang cukup menenangkan.
"Denting piano
kala jemari menari"
Bola mata Abas bergerak pelan mendengar suara yang sedang bernyanyi di kafe.
"Nada merambat pelan
di kesunyian malam saat datang rintik hujan
bersama sebuah bayang
Yang pernah terlupakan"
Abas membalikkan badan mengarah ke kafe. Dilihatnya gadis bergitar itu sudah kembali bernyanyi di panggung. Abas kembali terpaku mendengar petikan gitar yang dimainkannya.
"Hati kecil berbisik
untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda
seribu sesal di depan mata
Seperti menjelma
waktu aku tertawa
Kala memberimu dosa"
Kakinya bergerak. Namun sedetik kemudian Abas berhenti. Ragu-ragu.
"Rasa sesal di dasar hati, diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini?
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti"
Tangan Abas terkepal di samping tubuhnya. Lagi. Lagu yang gadis itu nyanyikan terasa menghujam hatinya. Abas merasa dadanya sesak. Tenggorokannya pun terasa sakit.
"Rasa sesal di dasar hati, diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini?
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti"
Airmatanya kembali menetes. Abas kembali membalikkan badannya ke arah pantai. Dia menunduk, menyeka airmatanya yang masih mengalir.
"Namun senyummu... tetap mengikuti"
Abas mendongak, mendengar suara tepuk tangan pengunjung kafe kembali memenuhi udara bercampur suara ombak dari kejauhan. Tenggorokannya masih terasa sakit akibat menahan tangis. Angin pantai kembali menyapa lembut wajah Abas yang mengeras. Abas memejamkan matanya lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Kenapa nggak masuk?" tanya sebuah suara yang cukup familiar, membuat Abas terkejut dan membuka matanya seketika.
Abas menoleh ke arah sumber suara di belakangnya. Gadis yang beberapa menit lalu bernyanyi di panggung kafe, kini berdiri di hadapannya. Abas terdiam.
"Temenmu lagi ngopi di dalam. Nggak ikutan?" tanya gadis itu sambil berjalan mendekat ke arah Abas dan menatap pantai. Abas masih diam, melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya lalu kembali menatap laut.
"Kalian berantem?" tanya gadis itu lagi, kali ini sambil menatap Abas.
Abas menatap gadis itu sesaat lalu kembali menatap pantai dalam diam. Dia sedang tak ingin dunianya diganggu saat ini.
"Hm hm... Hm hm hm hm hm hm..."
Abas dapat mendengar gadis di sampingnya itu menyenandungkan lagu ciptaannya. Abas menoleh perlahan ke arah gadis itu. Garis wajahnya tenang. Senyum tipis sedikit terkembang. Untuk pertama kalinya, Abas merasa tak begitu terluka saat mendengar Senja Dalam Diam.
'Dia... gadis seperti apa?'
***
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Hafal bagian reffnya🤭
eaaa....🤭
bener2 plot twist nya..
jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪